Mati di puncak gunung Goma justru terbangun di dasar neraka sebagai tengkorak rapuh tanpa daging. Demi kembali ke panti asuhan tempat ia dibesarkan Goma mulai membantai iblis dan memangsa tubuh mereka. Setiap nyawa yang ia telan menumbuhkan otot serta kulit baru di atas tulangnya. Ini bukan hanya tentang bertahan hidup namun tentang pendakian berdarah dari dasar jurang menuju singgasana para dewa yang telah menghina takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga Sebuah Rahasia
Episode 18
Aku masih berdiri mematung di lorong gelap rak nomor 402 sektor timur Aula Pengetahuan. Tangan kanan ku yang sudah memiliki otot otot padat serta kulit metalik yang keras masih menggenggam pinggiran buku tua berjudul Antologi Jalur Antar Alam itu. Di bawah cahaya ungu redup yang terpancar dari kristal esensi di langit-langit aku bisa melihat dengan jelas bagaimana segel energi berwarna merah tua mengunci halaman halaman penting di bagian tengah buku tersebut. Segel itu terlihat seperti jalinan urat nadi halus yang terus berdenyut seolah olah buku ini adalah mahluk hidup yang sedang menjaga rahasianya sendiri dengan sangat ketat.
Dug... dug... dug...
Jantung esensi ku berdetak sedikit lebih kencang di dalam rongga dadaku. Aku bisa merasakan aliran esensi darah hitamku mulai memanas karena rasa penasaran yang bercampur dengan kemarahan. Sebagai seorang pendaki aku paling benci saat aku sudah berada sangat dekat dengan puncak namun tiba tiba ada dinding es vertikal yang tidak memiliki celah sama sekali untuk dipijak. Segel buku ini adalah dinding es tersebut. Ia berdiri tegak di antara aku dan harapanku untuk melihat kembali panti asuhan tempat aku dibesarkan.
"Tuan Goma jangan mencoba memaksanya terbuka menggunakan kekuatan fisik," suara Kharis terdengar sangat cemas dari balik jubahku. "Segel itu dipasang menggunakan esensi dari para tetua iblis. Jika kau menariknya terlalu keras segel itu akan meledak serta menghancurkan tanganmu sekaligus menghapus isi buku itu selamanya."
Aku mengendurkan genggamanku pada sampul kulit mahluk laut tersebut. Aku menarik napas panjang melalui paru paru semu ku merasakan sensasi udara dingin perpustakaan memenuhi dadaku. Aku tidak ingin kehilangan tangan yang baru saja ku satukan dengan susah payah ini. Aku memfokuskan pandangan mataku menggunakan Eyes of the Abyss.
[ SISTEM: MEMINDAI STRUKTUR SEGEL ESENSI ]
[ SISTEM: TIPE SEGEL: BLOOD LOCK (KUNCI DARAH) ]
[ SISTEM: PERSYARATAN PEMBUKAAN: ESENSI DARAH MAHLUK KELAS BANGSAWAN ATAU KUNCI DIGITAL DARI PENGELOLA AULA ]
[ SISTEM: PERINGATAN: SISA WAKTU AKSES ANDA ADALAH 25 MENIT ]
Darah bangsawan. Di mana aku bisa mendapatkan darah mahluk kelas atas dalam waktu singkat seperti ini di tempat yang penuh dengan penjaga golem raksasa.
Aku membolak balik halaman depan yang tidak tersegel dengan sangat lambat. Aku mencoba membaca setiap baris tulisan kuno yang ada di sana berharap ada celah kecil yang bisa ku manfaatkan. Di halaman sepuluh aku menemukan sebuah ilustrasi tentang Gerbang Dimensi. Gambar itu menunjukkan sebuah lingkaran besar yang terbuat dari obsidian yang diletakkan di titik tertinggi Gehenna. Di bawah gambar itu terdapat catatan kaki yang ditulis dengan tinta yang hampir pudar.
Hanya sang pemilik kunci yang mampu menatap cahaya Terra tanpa menjadi abu.
"Kharis apa kau tahu siapa yang disebut sebagai pemilik kunci di kota ini."
Kharis melayang keluar dari bahuku kemudian hinggap di atas rak buku yang berdebu. Ia tampak sedang menggali memori lamanya yang sudah mulai kabur. "Setahuku kunci itu bukan berupa benda fisik Goma. Itu adalah sebuah garis keturunan. Hanya iblis yang memiliki koneksi darah dengan dunia atas yang bisa membuka jalur tersebut. Dan iblis seperti itu biasanya tinggal di Distrik Inti tempat para Raja Iblis bernaung."
Aku menutup buku tersebut dengan suara pelan. Pluk. Suaranya bergema di antara rak rak buku yang sunyi. Aku menyadari bahwa perjalanan ini tidak akan semudah memenangi pertandingan di arena. Memiliki otot dan kulit yang kuat hanyalah modal dasar agar aku tidak mati di jalanan. Namun untuk menembus rahasia dimensi aku membutuhkan lebih dari sekadar kekuatan fisik. Aku membutuhkan pengaruh dan kedudukan.
Aku mulai berjalan kembali menyusuri lorong lorong aula yang sangat megah ini. Aku memperhatikan iblis iblis lain yang sedang membaca. Sebagian besar dari mereka memiliki wajah yang sangat tenang serta mengenakan pakaian yang terbuat dari bahan yang sangat mahal. Mereka tidak peduli dengan keberadaan ku yang mengenakan jubah compang camping. Bagi mereka aku hanyalah petarung liar yang sedang mencoba mencari peruntungan melalui buku buku murah.
Tiba tiba langkahku terhenti di depan sebuah meja besar di tengah ruangan. Di sana seorang iblis tua dengan jubah putih yang sangat panjang sedang duduk sambil menulis di atas gulungan kulit menggunakan pena yang bercahaya keemasan. Ia adalah sang Pustakawan Agung mahluk yang memberikan lencana akses padaku tadi. Namun kali ini ia tidak terlihat dingin. Ia tampak sedang memperhatikan gerak gerik ku sejak tadi.
"Kau menghabiskan waktu lima belas menit hanya untuk menatap segel pada buku Antologi Jalur Antar Alam Goma," ucap iblis tua itu tanpa mengalihkan pandangannya dari gulungan kulit di depannya.
Aku terkejut karena ia mengetahui namaku serta apa yang aku lakukan di pojok ruangan yang gelap tadi. "Aku hanya mencari jalan pulang Tua Bangka."
Iblis tua itu berhenti menulis. Ia mengangkat kepalanya memperlihatkan wajah yang sangat bijaksana namun menyimpan kekuatan yang sangat besar di balik kerutan kulitnya. Matanya berwarna putih polos tanpa ada pupil sedikit pun namun aku merasa ia bisa melihat hingga ke dasar jiwaku.
"Pulang ya. Kata yang sangat langka di Gehenna ini. Sebagian besar mahluk di sini hanya ingin naik kasta atau ingin menghancurkan musuh mereka. Tapi kau kau ingin kembali ke tempat yang penuh dengan kelemahan itu."
"Tempat itu bukan tempat yang lemah. Di sana ada orang orang yang berharga bagiku," jawabku dengan nada bicara yang tegas.
Iblis tua itu tersenyum tipis. "Keinginanmu sangat murni namun dunia ini tidak bekerja berdasarkan kemurnian hati. Segel di buku itu tidak akan pernah terbuka untuk petarung liar sepertimu kecuali kau memiliki lencana Bangsawan Oksidian atau kau memenangkan Turnamen Raja Iblis yang diadakan setiap seratus tahun sekali."
"Aku tidak punya waktu seratus tahun. Aku butuh lokasinya sekarang."
Iblis tua itu menarik napas panjang. Ia meletakkan penanya kemudian melambaikan tangannya memberikan isyarat agar aku mendekat. Kharis segera bersembunyi di balik rambutku merasa terancam oleh aura mahluk tua ini.
"Dengarkan aku Goma. Karena kau adalah mahluk pertama dalam seribu tahun yang mencari buku itu aku akan memberimu sebuah petunjuk gratis. Buku yang kau baca itu hanyalah salinan. Buku aslinya disimpan di dalam istana Lord Valos orang yang petarungnya baru saja kau bunuh di arena tadi."
Aku tertegun mendengarnya. Lord Valos. Mahluk yang baru saja mengirimkan pembunuh bayaran padaku ternyata memegang kunci informasi yang kucari selama ini. Takdir benar benar sedang mempermainkan aku.
"Lord Valos mengoleksi sejarah dimensi karena ia bermimpi untuk menginvasi dunia manusia suatu hari nanti. Jika kau ingin tahu lokasi pintu itu maka kau harus masuk ke dalam istananya. Tapi aku sarankan kau lupakan saja niat itu. Masuk ke istananya berarti menyerahkan jiwamu untuk dijadikan koleksi di dinding ruang tamunya."
Aku mengepalkan tangan kananku yang sudah diperkuat oleh esensi jantung Blood Vulture. Rasa panas kembali menjalar ke seluruh pembuluh darah hitamku. Jika informasi itu ada di tangan musuhku maka itu justru memudahkan tujuanku. Aku tidak perlu lagi merasa sungkan untuk menghancurkan tempat itu.
"Terima kasih atas informasinya Tua Bangka. Aku akan mengingat ini," ucapku sambil berbalik untuk pergi.
"Waktumu masih sisa sepuluh menit Goma. Kau tidak ingin mencari buku lain tentang cara memperkuat otot atau sihir esensi."
"Tidak perlu. Aku sudah memiliki semua yang ku butuhkan untuk mendaki ke istana itu," jawabku tanpa menoleh kembali.
Aku berjalan keluar dari Aula Pengetahuan dengan langkah kaki yang jauh lebih cepat dari sebelumnya. Setiap dentuman kakiku di atas lantai kristal aula memberikan resonansi kekuatan yang berbeda. Aku merasa tujuanku sekarang sudah sangat jelas. Aku tidak lagi berjalan tanpa arah di kota besar ini. Aku memiliki target dan target itu adalah kepala Lord Valos.
Begitu aku melewati gerbang besar perpustakaan aku melihat dua golem raksasa yang masih berdiri diam. Aku menatap mereka dengan pandangan yang berbeda. Aku tidak lagi melihat mereka sebagai ancaman melainkan sebagai tantangan yang harus ku lewati suatu saat nanti jika aku ingin menguasai kota ini.
"Tuan Goma apa kau benar benar akan menyerang istana Lord Valos. Itu adalah bunuh diri!" Kharis berteriak setelah kami berada cukup jauh dari jangkauan pendengaran para golem.
"Aku tidak bilang akan menyerang secara frontal Kharis. Aku adalah seorang pendaki. Aku akan mencari celah di dinding istananya aku akan mencari waktu di mana penjaganya sedang lengah dan aku akan merayap masuk ke jantung pertahanan mereka tanpa mereka sadari."
Aku melihat ke arah langit ungu Gehenna yang kini mulai diselimuti oleh awan hitam yang tebal. Aku merasa badai besar akan segera datang. Namun bagiku badai adalah teman terbaik. Di tengah badai penglihatan dan pendengaran musuh akan berkurang dan itulah saat yang paling tepat untuk melakukan pendakian maut.
Ibu Widya ternyata jalan pulang itu dijaga oleh mahluk kejam. Tapi jangan khawatir. Aku akan merobek jantungnya serta mengambil kembali peta itu demi dirimu.
Aku berjalan menuju distrik kumuh di pinggiran kota untuk mencari tempat persembunyian yang lebih aman. Aku butuh satu hari lagi untuk menyempurnakan integrasi logam Black Iron di tulangku agar aku bisa bergerak dengan fleksibilitas maksimal. Pendakianku menuju istana Lord Valos akan dimulai esok hari saat cahaya ungu Gehenna berada di titik paling redup.
Dunia ini mungkin memiliki raja dan bangsawan namun mereka lupa bahwa aku adalah mahluk yang lahir dari rasa sakit dan pengkhianatan. Aku akan menunjukkan kepada mereka bahwa seorang pendaki tidak membutuhkan izin untuk mencapai puncak. Aku hanya membutuhkan tekad dan tangan yang cukup kuat untuk mencengkeram nasibku sendiri.