NovelToon NovelToon
Rumah Murah Di Desa Arwah

Rumah Murah Di Desa Arwah

Status: sedang berlangsung
Genre:Rumahhantu / Horor / Misteri
Popularitas:928
Nilai: 5
Nama Author: Na-Hyun

Niatnya mencari kontrakan murah.
Yang didapat justru desa yang dipenuhi hantu.

Endric belum sempat beradaptasi, sudah diajak berbicara oleh pocong. Ia juga belum sempat kabur, tetapi jalan di desa itu terus berputar tanpa arah. Belum sempat bersantai, namanya malah sudah masuk dalam daftar tumbal.

Di desa itu, aturan hidupnya sederhana, jangan pernah keluar malam, jangan menjawab saat dipanggil, dan jangan bersikap terlalu akrab dengan warga karena belum tentu mereka manusia.

Untungnya, Endric memiliki “teman”. Sayangnya, temannya adalah pocong.

Sekarang pilihannya hanya dua, kabur, yang hampir pasti gagal, atau bertahan sambil berpura-pura waras di desa paling tidak normal yang pernah ia temui.

Dan yang jadi masalahnya, besok malam adalah gilirannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehadiran Ningsih

Langkah di sebelah Endric tidak berbunyi. Padahal tanah yang mereka pijak jelas berkerikil. Setiap langkah Endric sendiri terdengar pelan, berderak halus. Namun orang di sampingnya berjalan tanpa suara.

Endric melirik. Seorang pria dengan wajah pucat dan mata kosong berjalan di sampingnya. Saat kakinya menginjak tanah, tidak ada bekas yang tertinggal.

“Ndhul,” bisik Endric.

“Iya.”

“Yang ini bukan warga, ya?”

Gandhul tidak menoleh. “gak semuanya.”

Endric menelan ludah. Ia mencoba fokus ke depan, tetapi semakin lama semakin banyak hal yang terasa aneh. Beberapa orang berjalan terlalu kaku, ada yang langkahnya tidak sinkron, bahkan ada yang kakinya tidak benar-benar menyentuh tanah.

“Anjir... gue jalan bareng siapa, sih,” gumamnya pelan.

“Campur,” jawab Gandhul. “Manusia, hantu, sama yang setengah.”

Endric langsung menegang. “Setengah apaan?”

Gandhul meliriknya. “Yang belum selesai.”

Endric memutuskan tidak bertanya lagi. Semakin dekat ke balai desa, udara terasa semakin berat, dingin, tetapi bukan dingin biasa. Lebih seperti tekanan, seperti sesuatu yang besar sedang menunggu.

Lampu balai desa sudah menyala, tetapi cahayanya berbeda. Lebih redup, lebih kuning, dan berkedip pelan.

Endric berhenti di pinggir lingkaran, seperti kemarin. Namun kali ini lingkarannya lebih besar dan lebih rapat.

“Posisi sama,” kata Gandhul.

Endric mengangguk. “Gue masuk lagi?”

“Iya.”

Endric menarik napas dalam, lalu melangkah masuk. Setiap langkah terasa lebih berat. Tatapan warga kembali mengarah padanya, tetapi kali ini tidak semuanya terlihat hidup. Ada yang matanya terlalu kosong, ada yang senyumnya tidak bergerak, bahkan ada yang tidak berkedip sama sekali.

Endric berdiri di tengah dan berusaha santai, walau jantungnya hampir lepas.

“Mainkan,” bisik Gandhul.

Endric langsung menguap lebar. “Ah... ngantuk, cok,” katanya keras.

Beberapa warga langsung menoleh. Ekspresi mereka berubah sedikit, tampak bingung.

Endric melanjutkan, “Ini lama ndak, sih? Gue ada urusan besok.”

Gandhul hampir tertawa, tetapi menahan diri.

Pak Wakhid melangkah maju. Wajahnya masih tersenyum, tetapi matanya tidak.

“Mas Endric,” katanya.

“Iya, Pak.”

“Mas tampak santai.”

Endric mengangguk. “Ya santai aja, Pak. Mau diapain juga?”

Beberapa orang di sekitar mulai berbisik pelan. Tidak jelas, tetapi nadanya berbeda, seperti tidak suka.

Gandhul berbisik, “Bagus.”

Endric melanjutkan,

“Kalau mau cepat, ya cepat aja, Pak. Gue gak suka lama-lama.”

Pak Wakhid diam sebentar, lalu tersenyum lagi, tetapi kali ini lebih tipis. “Mas... menarik.”

Endric mengangkat bahu. “Ya biasa aja, Pak.”

Tiba-tiba suara berat itu muncul lagi. “Diam.”

Semua langsung sunyi.

Pria tua itu kembali muncul. Langkahnya pelan, tetapi setiap langkah terasa seperti menghantam udara. Endric langsung merasakan tekanan itu lagi, lebih kuat dari sebelumnya.

“Waduh...” bisiknya.

“Fokus,” kata Gandhul.

Pria itu berdiri di depan Endric dan menatapnya lama, lebih lama dari kemarin. Endric berusaha santai, bahkan menggaruk kepalanya seperti bosan.

“Cepat, Pak. Gue laper,” katanya.

Beberapa warga langsung bereaksi. Ada yang menggerakkan kepala, ada yang bergumam, seperti marah.

Gandhul berbisik pelan, “Lo nekat banget, rek.”

Endric menelan ludah, tetapi tetap mempertahankan ekspresi. Pria tua itu tidak marah, tidak tersenyum, hanya mengamati.

“Tidak takut,” katanya pelan.

Endric langsung menjawab,

“Takut mah pasti, Pak. Tapi ya gimana lagi.”

Pria itu mengangguk kecil. “Tidak patuh.”

Endric tersenyum tipis. “Kalau patuh terus, hidup membosankan.”

Beberapa warga mulai bergerak tidak nyaman, seperti terganggu.

Gandhul berbisik, “Bagus... bagus...”

Pria tua itu mengangkat tangan. Semua langsung diam lagi. Ia mendekat satu langkah dan kini sangat dekat dengan Endric.

“Mas Endric,” katanya.

“Iya, Pak.”

“Kalau kami beri pilihan...”

Endric langsung menegang, tetapi tetap tersenyum. “Pilihan apa, Pak?”

Pria itu menatapnya dalam. “Tenang... atau selesai.”

Endric terdiam. Kalimat itu langsung terngiang di kepalanya, tentang versi dirinya, tentang tenang dan selesai. Ia menarik napas pelan, lalu menjawab,

“Kalau boleh, saya pilih... pulang.”

Sunyi.

Semua diam selama beberapa detik.

Lalu terdengar suara yang bukan tawa dan bukan marah, tetapi sesuatu di antaranya. Aneh dan tidak manusia.

Gandhul berbisik, “Jawaban bagus.”

Pria tua itu menatapnya lebih lama, lalu untuk pertama kalinya tersenyum tipis, tetapi cukup jelas.

“Mas belum mengerti.”

Endric mengangguk. “Iya, Pak. Makanya saya belajar.”

Pria itu tidak menjawab. Ia mundur satu langkah, menoleh ke Pak Wakhid, lalu berkata, “Lanjutkan.”

Pak Wakhid langsung bergerak. Ia mengangkat tangan, dan lingkaran itu berubah, menyempit, mengelilingi Endric lebih dekat.

Endric menelan ludah. “Ini kenapa makin dekat...” bisiknya.

“Proses,” jawab Gandhul.

Tiba-tiba dari kerumunan, beberapa orang keluar. Mereka berbeda dari yang lain. GeEndricnnya tidak normal, lebih patah dan kasar, dan mata mereka kosong total.

Endric langsung mengenali.

“Yang ini...”

“Yang gagal,” kata Gandhul pelan.

Endric membeku.

Mereka berjalan mendekat dan mengelilingi Endric satu per satu, seperti memeriksa, seperti mencium. Endric menahan diri untuk tidak mundur, tetapi tangannya mulai gemetar.

Kuku itu berdenyut lebih kuat.

Tok... tok... tok...

Salah satu sosok berhenti di depannya. Wajahnya rusak, tetapi masih bisa tersenyum. Ia mendekat sangat dekat, lalu berbisik,

“...Sudah dekat...”

Endric menahan napas.

Gandhul berbisik cepat, “Jangan jawab.”

Endric diam. Sosok itu menyentuh tangannya, tepat di kuku hitam itu. Endric langsung merasakan sensasi dingin menjalar.

Dan kuku itu bergerak, memanjang lagi sedikit. Endric menggigit bibirnya, menahan.

“Bagus...” bisik sosok itu, lalu mundur.

Sosok lain mendekat, mengendus seperti hewan. “Belum siap...” katanya.

Endric langsung merasa sedikit lega, tetapi belum selesai. Sosok ketiga mendekat, berhenti, dan menatap Endric sangat lama. Lalu berkata pelan,

“Cocok.”

Endric langsung menegang. “Anjir...” bisiknya.

Lingkaran itu berhenti. Semua kembali diam. Pak Wakhid maju dan menatap pria tua itu.

“Sudah.”

Pria tua itu mengangguk pelan, lalu menatap Endric dengan tatapan yang lebih dalam dari sebelumnya. “Mas Endric,” katanya.

Endric menelan ludah. “Iya, Pak.”

Pria itu membuka mulut, tetapi sebelum ia bicara, suara lain muncul dari belakang. Suara perempuan, pelan tetapi jelas.

“Dia bukan milik kalian.”

Semua langsung menoleh. Endric ikut menoleh, dan jantungnya langsung berhenti sejenak.

Di pinggir lingkaran, Ningsih berdiri. Namun wajahnya berbeda, lebih gelap dan lebih dingin. Matanya tidak seperti tadi di hutan, lebih dalam dan lebih kosong.

Gandhul langsung berbisik,

“Rek.”

Endric menelan ludah. “Kenapa?”

Gandhul menjawab pelan, “Kayaknya... itu bukan Ningsih.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!