Aldi Mahendra seorang pemuda yang hidup sebatang kara, dia dari usia empat tahun hidup di jalanan. Hingga akhirnya bertemu seorang kakek yang mengangkatnya menjadi cucunya. Aldi di sekolah hingga lulus SMK, kini dia bekerja sebagai kuli panggul di pasar.
Walaupun uangnya tak seberapa tapi bisa untuk makan setiap hari, apalagi pekerjaan untuk lulusan SMK itu sedikit susah. Aldi di pandang rendah oleh siapapun hingga saat ini berusia 19 tahun dia tetap berusaha hidup di setiap gempuran ombak yang besar datang di kehidupannya.
Semua berubah ketika mendapatkan sebuah cincin merah delima, kehidupannya berubah menjadi lebih baik lagi tapi sesuatu keanehan di kedua matanya membawa dia kedalam dunia yang seharusnya tidak terjadi.
Perjalanan kota maupun di desa menjadi tolak ukur bagi pengalaman Aldi menjadi lebih berani lagi, seperti bentuk tubuhnya yang tinggi dan kekar dengan wajah tegasnya mulai terlihat dalam perjalanan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D.P. Auzora., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjual Emas Batangan
Keramaian di toko emas itu nyata dengan bisik-bisik semua orang yang tadi menghina sekarang penasaran akan identitas pemuda yang berdiri tegap. Wanita muda yang tadi menghina Aldi wajahnya memerah karena malu dan beberapa orang lainnya sedikit malu.
Langkah kaki terdengar elegan di setiap langkahnya, kaki jenjang yang sempurna begitu bersih putih mulus kini berjalan mendekat ke arah Aldi.
"Apakah kamu yang memiliki emas batangan tadi?," tanya seorang wanita muda sangat cantik.
"Iya betul mbak," balas Aldi.
"Mari kemeja kita berdiskusi tentang harga yang pas," ujar wanita itu.
Aldi mengikuti dari belakang dengan jalan santai sambil sedikit menundukkan kepalanya karena belum terbiasa bertemu dengan banyak orang.
"Gini pak, saya sudah kontek ahli emas dan mereka bilang ini emas murni asli," setelah duduk wanita muda itu memulai percakapan terlebih dahulu.
"Beratnya 1.200 gram lalu harga emas satu gramnya 2.9 juta jadi saya cuman berani memasang harga di 3.3Miliar. kalau bapak berkenan saya bisa transfer sekarang juga," lanjut wanita itu menjelaskan semuanya.
Aldi yang mendengar jumlah uang yang begitu besar membuat dirinya membeku sesaat, dia tidak bisa berbicara detik itu juga. Aldi sangat tidak menyangka jika harganya tembus miliaran.
"Maaf mbak saya tidak memiliki atm, tapi jika boleh saya meminta bantuan untuk membuatnya biar bisa menyimpan uang itu," balas Aldi, suaranya sedikit bergetar.
"Bisa pak, kalau begitu mari kita ke bank sebelah," ucap wanita muda itu.
"Ohh iya lupa, saya manager disini nama saya Sinta pak," wanita itu memperkenalkan dirinya lalu mengulurkan tangannya.
"Nama saya Aldi Mahendra mbak," balas Aldi, dia berjabat tangan dengan wanita muda itu.
Sinta merasakan begitu kasar telapak tangan Aldi, dia sadar jika Aldi seumuran dengannya. Kini mereka pergi menuju ke bank sebelah toko emas itu itu.
Keberuntungan Aldi seperti tidak habisnya, toko emas dekat dengan kostan milik Niko lalu bank juga dekat jadi tidak kebingungan harus bagaimana.
Mereka berjalan kaki berdua dengan pasang mata semua orang sedikit bingung wanita yang sangat cantik berjalan berdua dengan pria muda berpakaian kampungan, senyum sinis setiap orang tampak jelas Aldi pahami.
Sinta juga melihatnya membuat dia sedikit risih dengan pandangan orang kota yang selalu memandang rendah orang desa, dia ingin sekali menegur orang yang memandang sinis Aldi.
"Usiamu berapa sih Al?," Sinta jalan sedikit lambat agar bisa berdampingan langsung tidak jauh, dia bertanya kepada Aldi.
"Saya baru 19 mbak," balas Aldi.
"Lah seumuran kita Al," ucap Sinta.
"Hmmm iya mbak," Aldi sedikit canggung dengan wanita berpakaian rapi dan sangat mewah baginya.
"Jangan panggil mbak, panggil saja Sinta," ujar Sinta, dia sesaat memandang wajah Aldi.
"Iya Sinta," balas Aldi, sedikit gugup.
Lalu mereka berdua sampai di bank rakyat mandiri, Sinta membawa masuk kedalam lalu dia meminta bantuan kepada seseorang pegawai untuk membuat ATM yang limitnya lima miliar.
Pegawai itu sangat senang akan ada nasabah prioritas membuat dia memanggil kepala cabang bank itu, tidak berselang lama kepala cabang itu datang.
"Loh Sinta ternyata," ujar wanita muda.
"Ternyata kamu Sofi," balas Sinta.
"Kamu yang mau buat ATM prioritas itu?," tanya Sofi kepada Sinta.
"Bukan Sof, tapi pelangganku ini yang mau buat," balas Sinta, lalu menunjuk kepada Aldi berdiri santai.
Sofi melihat dari ujung kaki hingga kepala, penampilan sederhana cukup tampan di tambah bentuk tubuh sangat ideal bagi seorang pemuda.
"Baiklah, mari masuk biar aku yang bantu," ucap Sofi.
"Ayo Al ikut," ajak Sinta.
Aldi tersenyum lalu ikut masuk kedalam. Proses pembuatan ATM BRM itu cukup lama karena prioritas jadi keamanan data maupun lainnya harus di siapkan dengan baik.
Satu jam kurang akhirnya ATM BRM berwarna hitam gold begitu menyala indah di depan Aldi, untuk pertama kalinya dia memiliki ATM.
"Ini mas kartunya, dan pin Atmnya jangan sampai hilang simpan atau foto saja nanti," ujar Sofi, dia duduk perlahan lalu memberikan kartu itu.
"Terimakasih mbak atas bantuannya," balas Aldi.
"Al nomor rekeningmu sini biar aku transfer uangnya tadi," seru Sinta, lalu dia melihat nomor rekening Aldi.
"Nah ini sudah ya," Sinta menunjukkan nominal sangat banyak membuat Aldi bingung membacanya.
"Oke terima kasih," balas Aldi.
"Bisa meminta tolong tidak ajarin aku cara tariknya?," Aldi berkata pelan.
Sinta dan Sofi saling pandang karena baru kali ini ada orang belum bisa memakai ATM mungkin karena tinggal di desa beberapa orang tidak bisa.
"Mari mas saya ajari," ajak Sofi, dia berdiri perlahan.
Aldi ikut berdiri lalu mereka berdua berjalan keluar ruangan.
Setelah sampai Sofi menjelaskannya secara perlahan, lalu meminta Aldi mempraktekkan secara langsung.
Aldi melalukan semua arahan Sofi lalu menekan jumlah yang ingin di tarik Aldi, dia mencoba menarik uangnya satu juta.
Aldi sangat cepat memahami bagaimana cara menarik uang dari ATM setelah paham mereka kembali masuk kedalam ruangan tadi.
"Mbak saya mau ambil uang tunai lima puluh juta bisa gak?," tanya Aldi.
"Bisa mas, biar saya bantu," balas Sofi.
Sofi membawa ATM Aldi setelah beberapa menit kemudian dia kembali dengan segepok uang lima puluh juta.
"Ini uangnya mas," ucap Sofi.
"Terima kasih mbak," balas Aldi.
"Sama-sama. Jangan panggil mbak mas aku seumuran dengan Sinta juga," ujar Sofi, dia tidak menyangka pemuda di depannya memiliki uang begitu banyaknya.
Walaupun Sofi memiliki banyak uang tapi baru kali ini melihat seorang pemuda desa berpenampilan sederhana memiliki banyak uang dan itu pertama kali membuat ATM.
"Saya pamit dulu ya Sinta, Sofi ?," Aldi berpamitan.
"Iya Al, nih nomor ponselku. Nanti kalau punya emas batangan atau emas lainnya hubungi aku langsung saja," ujar Sinta, dia memberikan kartu nama sekaligus nomor ponselnya.
"Iya," balas singkat Aldi, lalu keluar dari ruangan itu perlahan.
Aldi berjalan menuju kostan milik Niko dengan langkah sedikit berhati-hati takut karena ini pertama kalinya dia kekota, walaupun dulu pernah hidup di jalanan tapi selalu berpindah-pindah tapi sekolah tetap sama.
Sinta duduk santai di ruangan Sofi yang sedang sibuk dengan pekerjaannya, Sinta yang mau pulang namun di minta Sofi untuk menunggu dirinya sebentar.
Sofi akhirnya selesai tepat waktu, kini dia berjalan duduk di dekat Sinta.
"Kangen banget aku sama kamu Sinta," ujar Sofi, dia memeluk Sinta.
"Aku juga Sof, lama kita tidak bertemu setelah lulus sekolah," balas Sinta.
"Hmmm iya, tapi tadi siapa sih kok buka rekening bank banyak banget uangnya?," tanya Sofi yang penasaran.
"Aku aja tadi kaget kok dia datang membawa emas batangan murni ke toko emas milik ayahku, jadi aku turun karena pegawaiku takut salah menilainya," balas Sinta.
"Di lihat-lihat sih kayak orang desa baru datang kekota," ujar Sofi.
"Sepertinya begitu," balas Sinta.
"Ehem.. ehem.. baru kali ini aku liat kamu kasih nomermu ke cowok," Sofi berkata lalu dia mencolek sahabatnya itu.
"Ish apaansih, kan buat bisnis secara langsung," ujar Sinta, dia sedikit bingung mencari alasan.
"Buat bisnis kok pipimu memerah begitu. Aku ini sahabat lamamu jadi tau kenapa kamu kasihkan nomor pribadimu sendiri," balas Sofi.
"Cakep dan kekar sekali tubuhnya," lanjut Sofi, dia sedikit melamun mengingat tadi waktu menjelaskan bagaimana cara menggunakan ATM.
"Dih apaansih Sof, jangan begitulah," Sinta mendorong pelan Sofi dengan wajahnya memerah karena menahan perasaan malu.
Sofi dan Sinta kini duduk diam tidak ada percakapan lagi seperti sebelumnya. Mereka hanya terdiam menyangga dagunya memikirkan sesuatu yang belum pernah mereka rencanakan sebelumnya.
Aldi akhirnya sampai di kostan milik Niko, dia masuk kedalam dengan perlahan. Namun ketika Aldi masuk kedalam dia di tabrak oleh seseorang hingga orang itu hampir terjatuh.
Aldi menangkap wanita yang menabrak dirinya tadi, pandangan mereka begitu cukup lama. Sama-sama kebingungan dan wajah mereka memerah karena malu.
"Maaf mas," ujar Wanita itu.
"Ehem.. ehem..," suara pria yang sedang berdiri canggung melihat kejadian tadi.
"Kak maaf kak jangan kejar aku," wanita itu bersembunyi di balik tubuh besar Aldi.
Aldi yang melihatnya sedikit kebingungan dengan keributan merek berdua apalagi wajah wanita itu tidak asing bagi dirinya. Seperti pernah bertemu dan pernah bermain bersama waktu di desa dulu tapi siapa.
°°°°°
Ceritanya udah bagus, hanya tinggal memperbaiki peletakkan tanda baca.