NovelToon NovelToon
Ramalan Cinta Yang Terkunci

Ramalan Cinta Yang Terkunci

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi Wanita / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:437
Nilai: 5
Nama Author: Jasmine Oke

Judul: RAMALAN CINTA YANG TERKUNCI

Sub-judul: Takdir bukan untuk diubah, tapi untuk dijalani.

~~~~~~ ~~~~~~~ ~~~~~~~~

Langit malam yang gelap dengan bulan berwarna merah darah (Gerhana). Di kejauhan, siluet kota tua dengan arsitektur menara yang tinggi dan misterius.

▪︎Objek Utama:

- Di tengah, terdapat sebuah gembok antik yang besar dan berkarat, namun terbuat dari emas murni yang berkilau samar.

- Gembok itu terbelah dua, dan dari celah di antara keduanya memancarkan cahaya yang sangat terang, perpaduan antara warna Perak (Elara) dan Merah Gelap (Kael).

- Sebuah kunci tua melayang di udara, tepat di atas gembok, seolah baru saja membukanya atau hendak menguncinya.

.
.
.
.
.
.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jasmine Oke, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Harmoni di Tengah Badai

Bab 11, di mana cerita memasuki fase baru setelah konflik besar mereda.

▪︎▪︎▪︎

RAMALAN CINTA YANG TERKUNCI

Bab 11: Harmoni di Tengah Badai

Hari-hari setelah kembalinya mereka dari Benteng Kegelapan terasa seperti mimpi yang indah. Kota Lunaria perlahan kembali ke rutinitasnya, namun ada perbedaan besar yang terasa di udara. Keseimbangan yang sempat goyah kini kembali tegak, bahkan lebih kuat dari sebelumnya.

Energi gelap yang dulu sering menghiasi sudut-sudut jalanan perlahan menghilang, digantikan oleh cahaya lembut yang memancar dari pusat kota. Semua orang tahu, perubahan ini terjadi karena adanya pasangan muda yang telah menyatukan dua kekuatan terbesar dalam sejarah sihir: Cahaya dan Kegelapan.

Di Kedai Bintang Jatuh, suasana pagi itu sangat hidup. Namun bukan karena pengunjung yang ramai, melainkan karena percakapan hangat yang terjadi di ruang tengah.

Darian, yang kini sudah tidak lagi mengenakan jubah kebesarannya yang gelap, duduk di sofa sambil memegang cangkir teh hangat. Wajahnya terlihat jauh lebih muda dan tenang dibandingkan saat ia menjadi Pemimpin Sekte. Tidak ada lagi aura menakutkan yang mengelilinginya.

"Jadi... kalian benar-benar akan tinggal di sini?" tanya Darian, menatap Kael yang sedang membantu Elara merapikan buku-buku di rak.

Kael mengangguk sopan. "Ya, Tuan. Kedai ini adalah rumah Elara. Dan di mana pun Elara berada, di situlah rumahku."

Elara yang mendengarnya tersenyum malu, pipinya merona merah muda. Sejak segel di hati mereka terbuka dan jiwa mereka menyatu, Kael menjadi jauh lebih ekspresif dan hangat. Dinginnya es yang membekukan hati Kael telah mencair sepenuhnya, digantikan oleh api cinta yang membara namun stabil.

"Bagus," sahut Darian sambil tersenyum tipis. "Aku lega melihatmu bahagia, Elara. Selama ini aku takut... takut jika pilihan yang kuambil dulu justru menghancurkan masa depanmu. Tapi melihat kalian berdua sekarang... aku tahu segalanya terjadi karena alasan yang benar."

"Ayah..." Elara berjalan mendekat, lalu duduk di samping ayahnya, menggenggam tangan besar itu yang kini terasa begitu hangat dan damai. "Terima kasih. Terima kasih sudah melindungiku selama ini, meski caranya berbeda. Dan terima kasih sudah mau berubah."

Darian mengelus kepala putrinya pelan. "Ayah yang harusnya minta maaf. Maaf karena membuatmu tumbuh tanpa kasih sayang orang tua. Maaf karena membuatmu merasa kesepian begitu lama."

"Itu sudah berlalu, Yah. Sekarang kita punya banyak waktu untuk memperbaikinya," kata Elara lembut.

Namun, di tengah kehangatan itu, Kael tiba-tiba berhenti bergerak. Tangannya yang sedang memegang sebuah buku terhenti di udara. Alisnya terkerut sedikit, dan matanya yang merah gelap itu menyipit, seolah sedang mendengarkan sesuatu yang tidak bisa didengar oleh orang lain.

"Kael? Ada apa?" tanya Elara menyadari perubahan sikap kekasihnya.

Kael menggeleng pelan, namun wajahnya tampak serius. "Tidak apa-apa. Hanya... aku merasa ada sesuatu yang aneh. Seperti ada mata yang mengawasi kita dari jauh. Tapi energinya samar, sangat samar."

"Mungkin sisa-sisa pengikut Sekte yang masih bersembunyi?" tebak Darian yang langsung waspada. Aura pelindungnya mulai aktif kembali meski tidak terlihat.

"Mungkin," jawab Kael pelan. "Atau mungkin bukan. Rasanya berbeda. Lebih dingin... dan lebih tua."

Nenek Mara yang sejak tadi diam mendengarkan, kini menghela napas panjang. Ia duduk di kursi goyangnya sambil memainkan manik-manik kayu di tangannya.

"Kalian jangan merasa aman terlalu cepat," ucap Nenek Mara dengan nada bijaknya yang khas. "Dunia sihir itu luas, anak-anakku. Hanya karena satu musuh sudah kalah, bukan berarti bahaya sudah hilang. Kekuatan sebesar yang kalian miliki sekarang... ibarat lentera besar di malam gelap. Ia menerangi, tapi ia juga akan menarik serangga-serangga malam untuk datang mendekat."

"Nenek maksudnya?" tanya Elara.

"Artinya, perjalanan kalian belum selesai," jelas Nenek Mara. "Kalian baru saja membuka pintu. Sekarang, kalian harus belajar bagaimana cara berjalan dengan kekuatan itu tanpa tersandung. Kalian harus belajar mengendalikannya, memperdalam ikatan kalian, dan mempersiapkan diri untuk hal-hal yang lebih besar yang akan datang."

Kael berjalan mendekati Elara, lalu duduk di sebelahnya, menggenggam tangan gadis itu erat-erat.

"Nenek benar," kata Kael. "Aku merasakannya juga. Ada perubahan besar yang akan terjadi di dunia sihir ini. Bukan hanya di Lunaria, tapi mungkin di seluruh dunia luar."

"Dunia luar?" tanya Elara heran. "Bukankah Lunaria adalah satu-satunya tempat di mana sihir ada?"

Darian menggeleng. "Tidak, Elara. Lunaria hanyalah sebuah pulau, sebuah tempat perlindungan. Di luar lautan yang luas, ada daratan lain. Ada komunitas penyihir lain yang mungkin memiliki cara pandang, hukum, dan kekuatan yang berbeda dengan kita. Beberapa ramalan kuno menyebutkan bahwa saat Kunci dan Gembok bersatu, gerbang antara dunia akan terbuka."

Mata Elara membelalak tak percaya. "Jadi... mungkin ada orang lain seperti kami di luar sana?"

"Atau mungkin... ada yang datang mencari kami," sambung Kael dengan tatapan tajam. "Dan kita harus siap."

Meskipun ancaman itu terasa samar dan jauh, suasana hangat pagi itu kini berubah menjadi penuh antisipasi. Mereka menyadari bahwa kisah mereka bukan hanya tentang cinta segitiga atau pertarungan melawan ayah kandung. Kisah mereka lebih besar dari itu. Mereka adalah simbol perubahan.

"Untuk saat ini," Elara mengambil napas dalam-dalam, lalu tersenyum menenangkan, "Kita nikmati dulu hari ini. Besok adalah urusan besok. Selama kita bersama, aku tidak takut pada apa pun."

Kael tersenyum, menempelkan dahinya ke dahi Elara. "Benar. Bersamamu, aku merasa tak terkalahkan."

Darian dan Nenek Mara saling pandang, lalu tersenyum melihat kedekatan kedua anak muda itu. Api cinta mereka memang nyata, dan api itu cukup terang untuk menerangi jalan mereka yang masih panjang dan berliku.

Sore harinya, setelah Darian pamit undur diri untuk melaksanakan tugas perbaikan energi alam yang diberikan oleh Dewan, Elara dan Kael memutuskan untuk berjalan-jalan ke tepi danau di pinggir kota.

Danau itu tenang, airnya jernih memantulkan langit biru dan awan putih. Mereka duduk di atas rumput hijau yang lembut, menikmati hembusan angin yang sepoi-sepoi.

"Elara," panggil Kael pelan.

"Ya?"

"Apakah kau menyesal?"

"Menyesal soal apa?"

"Menyesal telah membuka kunci itu. Sekarang hidupmu penuh bahaya, tanggung jawab besar, dan mungkin akan ada banyak rintangan yang datang. Jika kau tidak bertemu denganku, mungkin kau akan hidup tenang sebagai peramal biasa."

Elara menoleh, menatap wajah tampan Kael yang disinari matahari sore. Ia menggeleng tegas.

"Tidak pernah sekalipun aku menyesal, Kael. Justru aku bersyukur. Sebelum bertemu kamu, aku hidup tapi tidak benar-benar 'hidup'. Hatiku kosong. Sekarang... setiap detik terasa berharga."

Elara memejamkan mata saat Kael mengusap pipinya dengan ibu jari yang hangat.

"Kau tahu?" bisik Kael. "Sejak ikatan kita sempurna, aku bisa mendengar apa yang kau pikirkan sedikit demi sedikit. Aku bisa merasakan apa yang kau rasakan."

"Benarkah?" Elara terbawa suasana. "Jadi kau tahu kalau aku sangat mencintaimu?"

"Sangat tahu," jawab Kael dengan senyum menggoda. "Dan rasanya... luar biasa. Mencintaimu adalah hal termudah yang pernah kulakukan dalam hidupku."

Mereka saling mendekat, bibir mereka hampir bersentuhan, ketika tiba-tiba...

PRANG!

Suara pecahan kaca terdengar dari arah kota. Bukan suara biasa, tapi suara yang disertai dengan gelombang kejut yang membuat air danau beriak hebat.

Kael dan Elara langsung berdiri serentak, menoleh ke arah pusat kota.

Di langit, tepat di atas Menara Dewan, muncul sebuah celah hitam besar yang berputar-putar. Itu bukan awan, dan bukan juga sihir lokal. Itu adalah sebuah portal. Dan dari dalam celah hitam itu, terlihat puluhan mata bersinar yang menatap ke bawah dengan tatapan lapar dan agresif.

"Mereka datang..." bisik Kael, tangannya secara refleks mencabut pedang bayang yang selalu ia bawa. "Lebih cepat dari perkiraanku."

Elara memegang lengan Kael, napasnya tertahan. "Siapa mereka, Kael?"

"Aku tidak tahu," jawab Kael, matanya tajam menatap fenomena aneh di langit. "Tapi satu hal yang pasti... Mereka datang untuk kita."

Badai baru benar-benar dimulai. Dan kali ini, musuhnya bukan hanya sekelompok orang, melainkan sesuatu yang mungkin berasal dari dunia lain.

°

°

°

(Bersambung ke Bab 12...)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!