Dikhianati. Ditinggalkan. Dipisahkan dari anaknya.
Sekar kehilangan segalanya karena cinta yang mendua.
Saat ia bangkit dan menemukan dirinya kembali, seseorang dari masa lalu hadir, membawa kesempatan kedua yang tak pernah ia duga.
Tapi setelah semua yang terjadi
masih beranikah Sekar mencintai lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Malam itu, setelah semua aktivitas selesai dan rumah mulai kembali tenang, Sekar akhirnya berada di tempat yang paling ia rindukan selama ini, di samping Sea, di atas satu tempat tidur yang sama. Lampu kamar dibuat redup, menyisakan cahaya lembut yang menenangkan.
Sea berbaring menghadap Sekar, matanya masih terbuka, seolah tidak ingin melewatkan satu detik pun. Sekar tersenyum, lalu mulai bercerita tentang hal-hal ringan, tentang masa kecil Sea yang penuh tawa, tentang kenangan-kenangan kecil yang mungkin sudah mulai pudar dari ingatan anak itu. Suaranya pelan, hangat, mengalir seperti alunan yang menenangkan. Ia tidak membahas hal-hal menyakitkan. Tidak menyinggung perpisahan. Tidak juga menanyakan apa yang selama ini terjadi. Ia hanya ingin Sea merasa… dicintai, tanpa syarat, tanpa tekanan.
Dan perlahan, di tengah cerita yang terus mengalir, napas Sea mulai teratur. Matanya terpejam, tubuh kecil itu akhirnya benar-benar terlelap. Sekar terdiam sejenak, menatap wajah anaknya dalam-dalam. Tangannya terangkat pelan, mengusap rambut Sea dengan hati-hati, seolah takut membangunkannya. Di saat itulah, sesuatu di dalam dada Sekar runtuh bukan dengan suara, tapi dengan rasa yang begitu dalam. Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan lagi, mengalir pelan di pipinya, jatuh satu per satu ke bantal.
Ia bangkit perlahan, memastikan Sea tetap tertidur nyenyak, lalu duduk di tepi ranjang. Kedua tangannya terangkat, gemetar, seperti seseorang yang sudah terlalu lama memendam dan akhirnya tidak lagi punya kekuatan untuk menahan. Dalam diam yang sunyi, Sekar mengadukan semuanya kepada Allah.
Tentang lelahnya yang tidak pernah benar-benar selesai. Tentang sakit yang ia pendam tanpa suara.Tentang ketakutan yang terus menghantui, takut kehilangan lagi, takut tidak cukup kuat, takut tidak mampu menjadi tempat pulang yang layak bagi anaknya.
“Ya Allah…” suaranya lirih, nyaris tidak terdengar. “Aku nggak tahu harus mulai dari mana lagi…” Air matanya semakin deras.
“Aku cuma mau anakku… utuh… bahagia…”
Ia menunduk, tangannya menutup wajahnya, mencoba menahan isak yang akhirnya pecah juga.
“Aku sudah kehilangan terlalu banyak waktu… jangan ambil dia lagi dariku…”
Doa itu tidak panjang, tidak tersusun rapi. Tapi setiap kata yang keluar terasa begitu jujur, begitu dalam, seperti bagian dari hatinya yang selama ini terkunci akhirnya menemukan jalan keluar.
Beberapa saat kemudian, Sekar menghapus air matanya, menarik napas panjang, lalu kembali berbaring di samping Sea. Ia mendekat, memeluk anaknya dengan hati-hati, seolah memastikan bahwa semua ini nyata.
Di dalam pelukan itu, Sekar menutup matanya. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama di antara luka, takut, dan harapan yang masih rapuh ia merasa sedikit lebih tenang.
***
Pagi itu rumah baru Sekar sudah dipenuhi aroma masakan dari dapur catering yang sejak subuh bekerja tanpa henti. Meja-meja panjang tertata rapi, dipenuhi berbagai hidangan dari lauk hangat, jajanan pasar, hingga minuman segar yang berjejer menggoda. Suasana yang seharusnya membahagiakan itu sempat membuat Sekar berdiri diam beberapa detik di tengah ruang tamu, menatap sekeliling dengan perasaan yang sulit ia jelaskan. Ini rumahnya. Ini pencapaiannya. Tapi di balik semua itu, ada satu hal yang jauh lebih penting dari sekadar rumah Sea.
Perhatian Sekar langsung tertuju pada putrinya yang duduk di dekat meja makan. Awalnya ia hanya memperhatikan dari jauh, tersenyum kecil karena akhirnya bisa melihat Sea berada di rumahnya sendiri. Namun perlahan, senyum itu memudar. Cara Sea makan… berbeda. Anak itu makan dengan cepat, hampir tergesa, tangannya bergerak tanpa jeda, seolah takut makanan itu akan diambil sebelum ia selesai. Bahkan beberapa kali Sea memasukkan makanan terlalu banyak ke dalam mulutnya sekaligus.
Sekar terdiam. Dadanya seperti diremas sesuatu yang tidak terlihat.
Lita yang sejak tadi berdiri di sampingnya, ikut memperhatikan, lalu berbisik pelan, “Kar…”
Sekar tidak menjawab, matanya masih terpaku pada Sea.
“Kayaknya… dia sering nahan lapar,” lanjut Lita hati-hati. “Makanya jadi kayak gitu.”
Kalimat itu tidak keras. Bahkan diucapkan dengan sangat pelan. Tapi bagi Sekar, rasanya seperti dihantam sesuatu yang begitu berat tepat di dadanya. Sekar menunduk sebentar, menahan napasnya yang mulai tidak teratur. Ia ingin mendekat, ingin memeluk Sea, ingin berkata bahwa sekarang semuanya akan baik-baik saja… tapi ia tahu ia tidak boleh membuat anak itu merasa diawasi atau dipermalukan. Jadi ia hanya berdiri di sana, memaksakan diri tetap tenang, sementara di dalam dirinya, rasa bersalah dan sakit bercampur menjadi satu. “Maaf…” bisiknya sangat pelan, hampir tidak terdengar, entah untuk siapa, untuk Sea, untuk dirinya sendiri, atau untuk waktu yang telah hilang.
Acara syukuran tetap berjalan. Tamu mulai berdatangan, keluarga besar Sekar, keluarga Lita beserta suami dan anak-anaknya yang membawa suasana lebih hidup, tetangga kanan kiri yang penasaran dengan rumah baru itu, hingga ibu-ibu pengajian yang datang dengan senyum hangat dan doa-doa yang tulus. Rumah itu mendadak penuh, suara tawa dan obrolan bersahutan, menciptakan suasana yang hangat dan ramai.
Sekar berusaha hadir di tengah-tengah mereka semua. Ia menyapa, tersenyum, menerima ucapan selamat, bahkan sesekali tertawa kecil. Tapi sesekali, matanya tetap mencari satu sosok kecil di antara keramaian itu memastikan Sea baik-baik saja, memastikan anak itu tidak merasa sendirian.
Dan setiap kali melihat Sea masih duduk diam dengan piringnya, hati Sekar kembali teriris pelan.
Acara berlangsung cukup lama hingga akhirnya satu per satu tamu mulai pamit. Rumah yang tadinya ramai perlahan kembali lengang. Sisa-sisa suara percakapan menghilang, menyisakan keheningan yang jauh lebih nyaman.
Sekar baru saja menarik napas lega ketika suara salam terdengar dari depan.
“Assalamu’alaikum…”
Sekar menoleh. Dan untuk sesaat, ia benar-benar tidak mengenali siapa yang berdiri di ambang pintu itu. Seorang lelaki dengan penampilan rapi, kemeja bersih, rambut tertata, wajah yang terlihat lebih dewasa dan tenang. Tidak ada lagi kesan berandal seperti dulu.
Sampai akhirnya lelaki itu tersenyum lebar. “Saya telat ya?” katanya santai.
Sekar terdiam sejenak. Lalu matanya membesar sedikit. “…Damar?”
Lelaki itu tertawa kecil. “Alhamdulillah masih dikenali.”
Dari dalam, ibu Sekar yang mendengar suara itu langsung mendekat. Namun begitu melihat sosok di depan pintu, ia justru berhenti sejenak, menatap dengan ekspresi kaget yang tidak ditutup-tutupi. “Ini… Damar?” tanyanya, benar-benar tidak percaya.
Damar mengangguk cepat, lalu mendekat dengan sopan. “Iya, Bu… yang dulu…” Ia berhenti sejenak, lalu tersenyum jahil. “…yang pernah disabet pakai sapu lidi karena nekat mau ngapelin Sekar.”
Suasana yang tadi tenang langsung pecah oleh tawa kecil.
Ibu Sekar spontan menutup mulutnya, antara malu dan tidak menyangka masa lalu itu akan disebutkan terang-terangan. “Ya Allah… kamu masih ingat itu?”
Damar mengangguk mantap. “Gimana mau lupa, Bu. Itu pengalaman paling… berkesan.”
dan berulang terus kejadiannya.. dari Sekar di sakiti si Aji & Mila.. terus berusaha legowo demi kepentingan Sea.. dan terus aja MAU di manfaatin terus sama si Aji dan keluarga nya atas nama Sea.....
yg ada malah gampang di bodohin melulu 😤
Saat tersakiti, terus bangkit, tapi ujung-ujungnya mau aja terus di gituin lagiiii.... hadeuhhhh.. cape bacanya juga bolak-balik terus demi kepentingan nya Sea 🤦♀️🤣
.Damar 🤩🤗