Semua orang menganggap aku halu. “Mana mungkin, Bima, aktor tampan yang disukai semua perempuan di Indonesia mengajakmu menikah?” kata sahabatku, sambil tertawa terbahak-bahak. Tapi kemudian dia diam melihat pesan yang dikiimkn Bima kepadaku, ingin serius menikah denganku. Aku memang mencintainya, tapi apakah aku layak hidup dengan seorang aktor tampan, padahal aku hanyalah perempuan biasa yang tidak punya apa-apa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 – Bima
Bab 13 – Bima
“Soriii!” Dian Sastrowardoyo datang terburu-buru, cuma memakai blouse linen putih oversize yang agak sedikit turun sebelah di salah satu bahunya, sehingga dengan dalaman tanktop hitamnya terlihat. “Sori Bang, tadi agak molor meetingnya,” katanya sambil cipika cipiki dengan Bang Jaka dan Mas Yandi, kameraman andalan Bang Jaka.
“Meeting terus lu!” Bang Jaka menggodai.
“Halo, apa kabar kamu!” kata Dian sambil menjabat tanganku.
“Halo, baik, Mbak,” jawabku tersenyum. Aku memang pernah bertemu dengannya, sekali. Waktu itu ada audisi untuk filmnya yang berjudul ‘Aruna dan Lidahnya’. Tapi karena kepentingan investor, akhirnya Nicholas Saputra yang terpilih. Tentu saja, saat itu aku masih jauh untuk bersaingan dengan aktor sekelas Nicho. Apalagi aku masih dianggap sebagai aktor “sinetron”.
“Sekarang keren loh dia. Gila, filmnya nggak ada yang di bawah sejuta penonton!” Dian menepuk tangannya ke lenganku.
“Ah, bisa aja,” jawabku tersenyum.
“Meeting apa sih, lo tadi?” tanya Bang Jaka santai, sambil menunggu Dian duduk di kursi dan menyimpan tumbler besar di atas meja.
Kami meeting di rumahnya Bang Jaka yang ada di BSD. Rumahnya besar, sebagian besar berhias dekorasi horror. Gelap dan merah.
“Ada investor yang pengen bikin remake film Korea. PH gue sama PH-nya mbak Shanti nanti mungkin yang garap,” jelas Dian dengan semangat.
“Sutradaranya siapa?” tanya Bang Jaka.
“Ada lah, sutradara baru,” kata Dian menggelengkan kepala, seperti tidak ingin memberitahukannya. “Ntar kamu yang main, yah!” kata Dian menatapku sambil menaikkan kedua alisnya.
“Gampang,” kataku tersenyum sambil memberikan dua jempol.
“Sibuk dia, jadwalnya susah! Mau nikah!” Mas Yandi nyeletuk asal. Umurnya tidak jauh dari Dian Sastro.
“Oh, iya?” Dian melotot menatapku.
“Doain aja.”
“Gosip!” kata Bang Jaka.
“Gosip itu biasanya bener. Kapan? Biar gue kosongin jadwal gue!” kata Dian lagi.
“Eh, kita ke sini mau coba reading, kan?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.
Semua langsung heboh menggodaiku, karena tahu bahwa aku berusaha mengalihkan pembicaraan tentang pernikahan. Karena Dian tidak bisa lama-lama, akhirnya kami mulai reading. Membaca naskah draft pertama yang dibuat oleh Bang Jaka. Reading berjalan lancar, sampai Naya meneleponku. Aku permisi break sebentar untuk mengangkat telepon.
“Cieee, dari calonnya ya?” teriak Dian centil.
Aku meresponnya hanya dengan senyuman, lalu keluar dari ruang tamu, lalu berdiri di teras yang pintunya terbuat dari jati yang berukiran khas Jawa. “Halo?” aku menjawab telepon dari Naya.
“Kak, sori. Aku ganggu nggak telepon malem-malem?” tanya Naya terdengar serius.
“Nggak. Ada apa?”
“Aku…,”
“Ya?”
Naya terdiam.
“Kenapa?” tanyaku tahu bahwa terakhir kali kami teleponan tidak berakhir dengan baik.
“Aku mau minta maaf, kemaren marah sama kakak.”
“Oke.”
“Kok oke?”
“Iya. Oke, kamu minta maaf. Terus?”
“Nggak dimaafin?”
“Oh. Iya. Aku maafin,” kataku sambil menepuk jidat. Tidak terbiasa bicara sama perempuan secara romantis. Si bodoh, kataku dalam hati.
“Aku kemaren lagi sibuk, terus juga lagi dapet.”
“Iya, aku juga ngerti. Sori aku nanyain terus. Aku harusnya nunggu sampe kamu siap.” Walau aku ingin kepastian dengan cepat, kataku dalam hati.
“Iya, soal itu…,”
“Kenapa?”
“Aku udah bilang sama mama.”
“Oh ya?” kataku sambil melotot senang. “Terus?”
“Papa sama mama, minta kakak dateng ke rumah besok. Bisa nggak? Eh tapi, kalau nggak bisa juga nggak apa-apa kok, Kak! Kapan kakak bisanya aja,” Naya nyerocos cepat.
“Bisa kok,” kataku tanpa mengingat ada acara apa besok.
“Serius?”
“Iya. Bisa. Jam berapa?”
“Terserah kakak aja.”
“Makan siang?”
“Boleh.”
“Oke. See you,” kataku lalu menutup telepon sambil tersenyum senang. Aku berpaling lalu teriak kaget, “Aaaah!” ternyata ada Dian di ambang pintu. Rambut panjang dan senyumannya, membuatnya dia terlihat seperti hantu di teras gelap dan horror ini.
“Cieee! Seneng banget!”
“Astagfirullah alazim! Mbak ngangetin aja!” aku mengusap dadaku.
“Sori, aku nggak bisa lama. Duluan ya!” Dian menepuk lenganku, lalu dadah dan pergi masuk ke mobilnya.
Aku kembali ke ruangan, menemui Bang Jaka dan Mas Yandi. Kami mereview ulang hasil reading tadi. Mereka suka dengan chemistry aku dan Dian, tapi sayang sekali jadwalnya Dian kemungkinan besar tidak cocok dengan jadwal syuting.
--
Jam 11 malam, aku tiba di rumah. Setelah turun dari mobil, aku minta maaf dan menyuruh Pak Mardi istriahat. Sambil duduk bersandar di kursi depan televisi, aku menelepon Celsi.
“Sumpah ya, malam minggu begini, telepon malem-malem, awas kalau nggak penting!” Celsi langsung nyerocos kesal.
Celsi sudah minta waktu untuk bersama suaminya, malam minggu ini. Dan aku salah telah menghubunginya, “Ini penting kok,” kataku.
“Ada apa?”
“Besok, jadwal aku apa ya?”
“Nggak ada.”
“Serius!” kataku sambil duduk tegak karena senang.
“Iya, kan ibu kamu minta besok dikosongin, soalnya ada acara ulang tahun keponakan kamu!”
“Astaga!” aku merebahkan kepala di kursi. “Aku lupa.”
“Elu mah, jadi om, nggak perhatian banget sama keponakannya.”
“Aduh, gimana ya? Acaranya sore kan? Aku ada acara dadakan besok siang.”
“Acara apa?” Celsi heran.
“Naya tadi nelepon, minta aku dateng kenalan sama orang tuanya.”
“SERIUS!” Celsi teriak sampai aku harus menjauhkan ponsel dari telingaku.
“Buset, toa banget lu!”
“Jadi elu udah diterima Naya?”
“Nggak tau,” aku menutup mata dengan lengan kiriku, sementara tangan kananku masih memegang ponsel ke telingaku.
“Hah? Nggak tau gimana?”
“Dia cuma minta aku ketemu orang tuanya, gitu aja. Mungkin kalau orang tuanya approved, dia mau kali?”
“Heeemmm, terserah elu aja deh. Gue nggak ngerti!”
“Jadi, besok tolong ya, bantuin gue bilang sama ibu, kalau gue bakalan telat ke acara keluarga.”
Terdengar Celsi menghela napas panjang sekali sampai suaminya yang ada di sebelahnya bertanya ada apa? Celsi menceritakannya sebentar, lalu kembali bicara padaku, “Oke.”
“Tapi…,” aku bicara ragu.
“Apa lagi?”
“Aku besok pake baju apa?” tanyaku, tapi sambungan telepon malah terputus.
--
GPS bergerak mengarahkan mobilku ke pemukiman rumahnya Naya. Ternyata rumahnya Naya terletak di pemukiman padat, yang jalanannya hanya pas untuk dua mobil. Benar-benar pas. Keringat besar mengalir di pelipis Pak Mardi yang mengendarai mobilku yang terlalu besar untuk daerah perumahannya itu.
“Pak, apa kita parkir di depan komplek aja?” tanyaku khawatir mobil masuk ke selokan, ketika papasan dengan mobil lain.
“Ntar, Den ke sini naik apa?”
“Naik ojek aja.”
“Ya elah, punya mobil, malah naik ojek,” Pak Mardi terkekeh. “Ini udah bentar lagi sampe loh, Den!”
Titik rumah Naya terlihat tinggal 100 meter lagi di sebelah kiri.
Aku menelan ludah. Semua peran sudah aku lakukan. Monolog di hadapan orang banyak, ketemu Presiden atau artis luar negeri juga sudah pernah. Tapi aku tidak pernah segugup ini.
“Kayaknya rumahnya itu, Den!” Pak Mardi menunjuk ke rumah putih dua lantai sederhana, dengan garasi kecil di sebelahnya.
“Kayaknya iya,” kataku melihat papa mamanya Naya dan Naya berdiri di depan pintu pagar. AC mobil dingin sekali, tapi aku merasa gerah dan keringetan!