Sinopsis Novel – Kelas Penyihir IX B
Rifky adalah seorang anak manusia biasa yang tiba-tiba terjebak di dunia sihir dan masuk ke sebuah sekolah misterius bernama Sekolah Sihir IX B. Di sana ia bertemu dengan Wida, seorang penyihir baik hati yang kemudian menjadi sahabatnya. Bersama Zahira, Oliv, Deni, Rais, Gofirr, dan teman-teman lainnya, Rifky mulai menjalani kehidupan baru penuh keajaiban, latihan sihir, dan petualangan yang tak terduga.
Namun kehidupan di sekolah itu tidak selalu aman. Tiga murid berbahaya, Mila, Diva, dan Eva, diam-diam merencanakan sesuatu yang gelap. Ketika Rifky tanpa sengaja menyentuh sebuah kristal sihir kuno, kekuatan misterius bangkit di dalam dirinya. Kekuatan itu membuat banyak orang terkejut, bahkan kepala sekolah sihir, Nenek Misel.
Kini Rifky harus belajar mengendalikan kekuatan yang tidak ia mengerti, sambil menghadapi ujian sihir, rahasia masa lalu, dan ancaman dari musuh yang ingin merebut kekuatannya. Petualangan, persahabatan, dan misteri besar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifky Hemuto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13-Serangan di Malam Hari
Malam itu sekolah sihir terasa sangat sunyi.
Angin berhembus pelan melewati menara-menara batu yang tinggi. Cahaya bulan menyinari halaman sekolah yang luas, membuat bayangan pohon-pohon tampak panjang dan menyeramkan.
Sebagian besar murid sudah tidur di asrama mereka.
Namun di asrama kelas IX B, beberapa murid masih terjaga.
Rifky duduk di tempat tidurnya sambil menatap tangannya.
Cahaya biru dari kristal sihir itu masih muncul sesekali.
"Aku masih tidak percaya..." gumamnya.
Deni yang duduk di ranjang sebelahnya berkata pelan,
"Jujur saja... aku juga."
Rais yang sedang makan roti di sudut kamar ikut bicara.
"Menurutku itu keren."
Candra langsung menimpali,
"Kalau aku punya kekuatan seperti itu, aku pasti sudah jadi legenda sekolah."
Gofirr yang sedang membaca buku sihir berkata tanpa menoleh,
"Atau kamu malah menghancurkan sekolah."
Semua tertawa kecil.
Namun Rifky masih terlihat gelisah.
"Bagaimana kalau aku tidak bisa mengendalikan kekuatan ini?"
Deni mencoba menenangkan.
"Tenang saja. Kita akan membantumu."
Rifky tersenyum sedikit.
Ia beruntung memiliki teman-teman seperti mereka.
Namun tiba-tiba-
BOOOM!
Suara ledakan keras terdengar dari luar.
Seluruh kamar langsung terdiam.
"Apa itu?!" tanya Candra.
Rais berdiri.
"Itu dari halaman sekolah!"
Kekacauan di Halaman
Para murid IX B berlari keluar asrama.
Ketika mereka tiba di halaman sekolah, mereka melihat sesuatu yang mengejutkan.
Beberapa makhluk bayangan berkeliaran di halaman.
Makhluk itu berbentuk seperti serigala hitam dengan mata merah menyala.
Beberapa murid lain dari kelas berbeda terlihat panik.
"MAKHLUK SIHIR!"
"Lari!"
Wida, Zahira, dan Oliv juga berlari dari arah asrama putri.
Wida langsung melihat Rifky.
"Apa yang terjadi?!"
Rifky menggeleng.
"Kami juga baru keluar."
Tiba-tiba salah satu makhluk bayangan melompat ke arah mereka.
"AWAS!" teriak Zahira.
Wida langsung mengangkat tongkatnya.
"Aqua Slash!"
Gelombang air mengenai makhluk itu hingga terpental.
Namun makhluk itu bangkit lagi.
"Makhluk itu kuat!" kata Oliv.
Deni mencoba menyerang.
"Flare Spark!"
Percikan api mengenai makhluk itu.
Makhluk itu akhirnya menghilang menjadi asap.
Namun masih ada banyak makhluk lain di halaman.
Pertarungan Malam
Rais langsung berubah ke mode raksasanya.
"Serahkan yang besar padaku!"
Ia menghantam satu makhluk bayangan dengan pukulan keras.
BOOOM!
Makhluk itu hancur.
Candra mencoba membantu.
"Mini Fire!"
Api kecil keluar dari tongkatnya... lalu padam sendiri.
Semua orang menatapnya.
Candra berkata pelan,
"Hmm... mungkin belum waktunya."
Zahira menghela napas.
Sementara itu Gofirr mencoba membaca mantra dari bukunya.
"Terra Cage!"
Tanah di bawah makhluk bayangan berubah menjadi perangkap batu yang menjepitnya.
"Berhasil!" katanya senang.
Namun tiba-tiba-
Makhluk bayangan baru muncul dari bayangan pohon.
Jumlahnya semakin banyak.
"Ini tidak normal..." kata Oliv.
Wida mulai curiga.
"Makhluk seperti ini biasanya tidak muncul di sekolah."
Zahira berkata pelan,
"Berarti ada seseorang yang memanggil mereka."
Semua orang langsung memikirkan nama yang sama.
Mila.
Dalang di Balik Serangan
Di atas salah satu menara sekolah...
Tiga sosok sedang berdiri.
Mereka adalah Mila, Diva, dan Eva.
Mila mengamati halaman dengan senyum tipis.
"Seru sekali."
Eva tertawa kecil.
"Lihat mereka panik."
Diva berkata dingin,
"Tujuan kita bukan mereka."
Mila mengangguk.
"Benar."
Ia menatap langsung ke arah Rifky yang sedang bertarung di halaman.
"Tujuan kita adalah dia."
Eva bertanya,
"Kapan kita mulai?"
Mila menjawab tenang,
"Sekarang."
Serangan Langsung
Tiba-tiba Mila melompat turun dari menara.
Diva dan Eva mengikuti.
Mereka mendarat di tengah halaman.
Para murid langsung terkejut.
"MILA!"
Wida mengangkat tongkatnya.
"Kalian lagi!"
Mila tersenyum santai.
"Tenang saja."
Ia menunjuk ke arah Rifky.
"Kami hanya datang untuk mengambil sesuatu."
Rifky langsung mengerti.
"Kekuatan kristal."
Eva mengangguk.
"Pintar."
Deni berdiri di depan Rifky.
"Kalian harus melewati kami dulu."
Candra juga ikut berdiri.
"Ya! Walaupun aku mungkin kalah cepat."
Mila mengangkat tongkatnya.
"Kalau begitu... kita mulai saja."
Namun sebelum ia sempat menyerang-
Suara keras terdengar dari belakang.
"CUKUP!"
Semua orang menoleh.
Di sana berdiri Kepala Sekolah Misel.
Jubahnya berkibar tertiup angin.
Matanya bersinar tajam.
Makhluk bayangan di halaman langsung menghilang satu per satu.
Mila terlihat kesal.
"Hmm... datang juga."
Misel berkata dengan suara dingin,
"Kalian sudah melanggar aturan sekolah terlalu jauh."
Eva berbisik pada Mila,
"Sepertinya kita harus mundur."
Mila menatap Rifky sekali lagi.
Lalu ia tersenyum misterius.
"Baiklah."
Ia berbalik pergi bersama Diva dan Eva.
"Permainan ini belum selesai."
Mereka menghilang ke dalam kegelapan malam.
Halaman sekolah kembali sunyi.
Namun Misel masih menatap Rifky dengan wajah serius.
Ia berkata pelan,
"Mulai sekarang... kamu dalam bahaya."
Rifky menelan ludah.
"Kenapa?"
Misel menjawab dengan tenang namun tegas.
"Karena kekuatan yang ada di dalam dirimu... sedang diburu."
Angin malam kembali berhembus.
Dan petualangan kelas IX B menjadi semakin berbahaya.