Celina Andreas dijuluki sebagai bawang merah begitu tergila-gila dengan seorang pria sehingga berbagai cara ia lakukan buat menaklukkan hati sang pria incarannya. Meskipun pria itu mencintai adik tirinya.
Berhasilkah Celina menjadi istrinya atau cintanya hanya bertepuk sebelah tangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 10
Celina akhirnya berangkat seorang diri ke luar negeri, ia begitu senang dapat melakukan liburan meskipun tanpa suaminya. Di sana sahabatnya sudah menunggunya.
Setelah melakukan perjalanan berpuluh-puluh jam, sampai juga Celina di kota tujuan. Di bandara Celina disambut keluarga kecil sahabatnya. Celina memberikan pelukan kepada sahabat dekatnya yang selalu mendengarkan seluruh curahan hatinya. Bukan hanya sahabatnya saja yang ditinggal di negara itu tetapi ada sepupunya yaitu keponakan dari ibu kandungnya. Jadi, Celina tak merasa kesepian jika berada di sana.
"Dia benar-benar tidak ikut?" tanya Yura, 27 tahun, dia pikir suaminya Celina hanya menggertak saja ternyata benar-benar menolak liburan bersama sahabatnya itu.
"Kamu tahu sendiri, dia tidak mencintaiku jika dia ikut tentunya akan membuatnya bosan," jawab Celina.
Yura menghela napas. Dia memang mengetahui semua alasan Celina memaksa Azka menikahi wanita itu.
"Jangan membahas dia lagi, aku ke sini ingin menikmati liburan!" kata Celina.
"Ya sudah, ayo kami antar ke penginapan!" ajak Delon, suaminya Yura.
Mereka pun berangkat ke hotel terdekat tak jauh dari kediamannya Yura. Begitu sampai, Celina memesan kamar.
Yura sebenarnya ingin Celina menginap di rumahnya, tetapi Celina menolaknya dengan alasan dia segan kepada Delon.
Lagian juga Celina mau menyempatkan berkunjung ke rumah sepupunya yang waktu tempuh perjalanan cuma 1 jam dari kediamannya Yura.
"Beristirahatlah, nanti sore kami akan menjemputmu lagi dan kita makan malam bersama!" kata Yura.
Selepas Yura dan keluarga kecilnya meninggalkan hotel. Celina menjatuhkan tubuhnya di ranjang. Perjalanannya sangat melelahkan, walaupun begitu dia tetap senang.
"Apa yang sedang dilakukannya di sana, ya? Apa mungkin dia dan Elma jadi leluasa bertemu?" gumam Celina sembari menatap langit-langit kamar.
"Sudahlah, biarkan saja. Ada Mama Andin yang selalu mengawasinya, pastinya mereka tak dapat bertemu dan mengobrol dengan santai!" lanjutnya bermonolog.
Meskipun Celina tak selalu berada di dekat suaminya tetapi orang suruhan dirinya dan kedua orang tuanya Azka bekerja sangat rapi dan baik. Mereka memberikan informasi yang tepat sehingga Azka dan Elma tak mudah berselingkuh.
Celina bangkit dan duduk sejenak lalu melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Selang 30 menit, Celina keluar dan telah memakai handuk kimono. Ponselnya berdering tertera nama suaminya, Celina sesaat menatap layar ponselnya. Ia tak percaya Azka menghubungi dirinya.
Celina kemudian menjawab panggilan tersebut, "Halo..!"
"Apa kau sudah sampai?" tanya Azka dari kejauhan.
"Aku baru sampai dua jam lalu," jawab Celina.
"Baiklah, kalau begitu. Selamat menikmati waktu liburanmu!" kata Azka.
"Selamat juga bersenang-senang dengannya!" balas Celina menyindir.
"Apa maksudmu, Celin?" tanya Azka lagi.
"Lupakan saja, aku mau istirahat. Sampai jumpa!" Celina menutup ponselnya.
Celina melemparkan ponselnya di atas ranjang. "Azka, kau dan dia tidak akan pernah aman meskipun aku di sini. Kau pikir, kalian bisa bersenang-senang!" ia menampilkan senyum seringai.
Tak lama setelah Celina menerima telepon dari suaminya, sebuah pesan dan foto masuk. Tampak Azka dan Elma sedang mengobrol di salah satu kafe.
"Kau belum tahu bagaimana wujud wanita pujaanmu itu? Jika kau sudah mengetahuinya yakinlah kau akan berterima kasih kepadaku!" gumam Celina seringai menatap foto tersebut.
Sementara dilain tempat dan waktu, Azka menikmati waktu leluasanya bersama Elma karena ia berpikir kalau istrinya tak mungkin tiba-tiba muncul. Namun, kenyataannya bukan istrinya yang datang tetapi Andin.
Wanita paruh baya itu datang seorang diri, ia lalu menghampiri putranya dan tentunya membuat Azka dan Elma terkejut. Keduanya kemudian bergegas berdiri menyambutnya.
"Mama... Kenapa di sini?" Azka bertanya dengan terbata-bata.
"Mama tadi dari rumah teman disekitar jalanan sini. Nah, kebetulan sekali Mama lihat mobil kamu ada di parkiran kafe ini. Jadi, Mama pikir lebih baik singgah saja!" jawab Andin berbohong.
"Tapi, ini sudah malam, Ma. Biasanya Papa tidak mengizinkan Mama keluar di atas jam delapan malam?" tanya Azka lagi.
"Itu 'kan dulu, Mama juga keluar bukannya terlalu lama dan jauh. Jadi, Papa kamu mau memberikan izin," jawab Andin.
Azka manggut-manggut.
Andin lalu menoleh ke arah Elma. "Kenapa dia ada di sini? Kalian janjian?" tudingnya.
Elma tak mampu menjawab.
"Azka, kamu 'kan sudah menikah dengan Celina. Tolong jaga perasaan istrimu, jangan seperti ini!" Andin menasehati putranya dengan lembut namun menyindir Elma.
"Aku dan Elma tidak ada hubungan apa-apa, Ma. Kebetulan kami bertemu di sini!" Azka memberikan alasan yang bohong.
"Memangnya Elma ada keperluan apa di sini?" Andin menatap ke arah Elma yang berdiri dihadapannya.
"Tadi menemui teman, Tante!" Elma tampak terbata-bata.
"Apa temanmu sudah pulang?" tanya Andin lagi sambil celingak-celinguk memperhatikan sekitarnya.
"Sudah, Tante. Sekitar tiga puluh menit lalu," jawab Elma.
"Oh, begitu. Ya sudah sana kamu pulang, mau apa lagi di sini?" usir Andin namun tetap memasang wajah manis.
"Ini mau pulang, Tante!" Elma meraih tasnya dan menentengnya.
"Sudah sana pulang, nanti orang tuamu mencarimu. Lagian kalian memiliki hubungan ipar, apa kata orang-orang melihat kalian berduaan seperti ini?" sindir Andin.
"Kalau begitu aku pamit pulang, Tante!" ucap Elma mencoba meraih dan mengecup punggung tangannya Andin tetapi wanita itu segera memundurkan langkahnya.
"Iya, hati-hati!" kata Andin.
Elma kemudian berlalu.
"Silahkan duduk, Ma!" Azka mempersilakan.
Andin duduk dihadapan putranya, ia lalu memesan sebotol air mineral. Tak ada obrolan, tampak hening. Azka tampak gelisah, matanya sesekali ke arah parkiran.
"Azka, ada apa?"
"Tidak ada, Ma."
"Pasti ada yang kamu sembunyikan?" Andin berusaha menerka.
"Tidak ada yang ku sembunyikan, Ma!" bantah Azka.
"Apa kamu sudah menghubungi istrimu?" tanya Andin.
"Sudah, Ma. Baru beberapa menit lalu aku meneleponnya," jawab Azka.
"Kamu tidak berniat untuk menyusulnya?" tanya Andin lagi.
Azka menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana jika Celina di sana bertemu pria asing dan menyukainya?"
"Biarkan saja, bukankah itu memang lebih baik."
"Ya, memang baik buat Celina karena dia menemukan pria yang benar-benar menyukainya. Tapi, kamu sudah berhasil membuat malu keluarga jika berpisah dengannya!" tukas Andin.
"Ma, aku tidak menyukai Celina. Biarkan dia menemukan kebahagiaannya!" kata Azka.
"Bagaimana jika kebahagiaannya itu kamu? Apa kamu benar-benar mau meninggalkannya?"
"Ma, jangan paksa aku bertahan!" mohon Azka.
"Sesuatu yang menurutmu bukan baik, malah itu yang terbaik. Jangan menilai orang dari sampulnya saja, coba dekati dan selami hatinya. Pasti kamu akan menemukan sesuatu yang tulus darinya!" Andin memberikan nasihat.
Azka terdiam.
"Kami menginginkan cucu. Jadi, kami berharap Celina bisa segera mengandung!" pinta Andin.
Azka sedikit syok dengan permintaan ibunya.
"Jadi, mulai sekarang bukalah hatimu sedikit saja!" mohon Andin.
"Ya, Ma. Aku akan belajar membuka dan mencintainya!" ucap Azka terpaksa.