Gladys Chandra Wiguna atau biasa dipanggil Gadis adalah mahasiswi berbakat dari fakultas bergengsi Kota A. Wajah cantik dan sosok mungilnya menyembunyikan jiwa pemberani yang kuat.
Malam itu, saat ia pulang dari cafe, seorang pria memaksanya masuk mobil. Di dalamnya menanti Langit Mahesa seorang bisnis man yang memiliki perusahaan raksasa di kota A. Pria yang sudah memiliki istri, Bella Safira. Akankah Gadis kembali ke kehidupannya yang tenang? Ataukah cinta tak terduga tumbuh di antara mereka, menggoyahkan semua yang ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceriwis07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langit Tolong Aku
Hari ini adalah hari yang sangat dinanti. Hari pertama Gadis kembali duduk di bangku kuliah setelah sekian lama vakum.
Suasana di kampus masih sama, ramai dan penuh semangat anak muda. Namun cara ia datang hari ini sangatlah berbeda drastis.
Sesuai janji dan perintah Langit, Gadis kini diantar menggunakan mobil mewah yang berhenti tepat di depan gerbang fakultas. Di samping supir, dua orang pengawal berjas hitam pun turun dan berjalan mengapitnya dari kiri dan kanan layaknya seorang artis atau putri kerajaan yang sesungguhnya.
Rasanya agak aneh dan sedikit risih di hati Gadis.
Matanya tak sengaja menangkap tatapan teman-teman mahasiswa lainnya yang memandang ke arahnya dengan wajah heran dan penasaran. Bisik-bisik kecil terdengar di sana sini.
"Wah siapa itu? Kok gaya banget banget?"
"Iya tuh, biasanya kan biasa aja, kok sekarang kayak pejabat gitu?"
Gadis pun hanya bisa menunduk sedikit dan tersenyum canggung. Ia ingat betul, dulu ia berangkat kuliah hanya dengan menaiki angkot, berdesak-desakan, dan harus membayar ongkos pas-pasan. Sekarang segalanya berubah 180 derajat.
"Ah... malu banget sih diliatin orang banyak," gerutunya dalam hati. "Risih rasanya."
Tapi mau bagaimana lagi? Ini adalah syarat mutlak dari Langit. Daripada ia dilarang kuliah sama sekali dan dikurung di rumah terus, lebih baik ia terima saja diperlakukan seperti ini meski agak berlebihan menurutnya. Yang penting ia bisa belajar dan melihat dunia luar lagi.
"Nyonya, silakan..." ucap salah satu pengawal sopan sambil menahan pintu gedung.
"Iya makasih..." jawab Gadis pelan, memberanikan diri melangkah masuk dengan kepala tegak, berusaha terlihat percaya diri meski jantungnya berdegup kencang.
***
Matahari mulai condong ke barat, menandakan hari sudah sore. Aktivitas perkuliahan hari ini pun resmi usai.
Sesuai aturan ketat sang kekasih, Gadis tidak berjalan sendirian menuju halte atau menunggu angkot seperti kebiasaannya dulu. Ia langsung dijemput oleh mobil mewah dengan supir pribadi dan dua orang pengawal yang setia mengawasinya dari jarak dekat seharian penuh.
Meski awalnya merasa risih dan canggung diperhatikan banyak orang, tapi setidaknya hari ini berjalan lancar dan aman.
Sesampainya di halaman rumah utama, Gadis turun dari mobil dan berjalan masuk. Matanya langsung mencari sosok yang ia rindukan.
"Langit..." gumamnya.
Biasanya pria sudah pulang, tapi kali ini kosong.
Dengan rasa penasaran, Gadis mengambil ponselnya dan mencoba menelpon nomor Langit.
Tut... Tut... Tut...
Panggilan pertama tidak diangkat.
Panggilan kedua masih sama, hanya suara nada sambung yang terdengar.
Bahkan sampai panggilan ketiga kalinya, telepon itu tetap tidak tersambung dan tidak ada jawaban sama sekali dari sang Raja.
Wajah Gadis sedikit cemberut, tapi ia mencoba berpikir positif. "Pasti dia lagi sibuk banget atau lagi rapat penting kali ya," batinnya menenangkan diri.
"Yasudah..." ucapnya pelan. "Aku mandi dulu aja biar seger."
Gadis baru saja keluar dari kamar mandi, tubuhnya terasa segar dan wangi. Matanya langsung tertuju pada ponsel di atas meja yang layarnya menyala berkedip-kedip menandakan ada panggilan masuk.
Hatinya berdebar senang. Ia mengira itu pasti Langit yang akhirnya menelepon balik.
Namun...
Saat dilihatnya nama pemanggil, tertulis jelas HRD Perusahaan Winata.
Wajahnya langsung berseri-seri. "Wah panggilan interview! Akhirnya!" batinnya girang.
Dengan cepat ia menggeser tombol hijau dan mengangkatnya dengan nada ceria.
"Halo, selamat sore?" sapa Gadis antusias.
"Selamat sore, benar ini dengan Nona Gladys Chandra?" tanya suara di seberang sana.
Gadis terdiam sesaat. Ia tahu betul nama lengkap aslinya.
"Iya betul... Gladys Chandra," jawabnya pelan namun pasti, mengucapkan nama keluarga itu dengan hati-hati.
Sejak kecil ia berusaha keras menyembunyikan nama belakang itu. Ia tidak pernah menggunakan embel-embel WIGUNA dalam kehidupan sehari-hari, di kampus, maupun di mana pun. Ia ingin nama ibunya, nama besar itu, terlindungi dan tidak sembarangan didengar oleh orang lain.
"Baik Nona, kami ingin menawarkan Anda untuk bergabung. Bisa tidak sore ini juga kita bertemu?"
"Tentu bisa, di mana Buk?"
"Di Cafe di Jalan C. Saya akan berikan formulir dan bicarakan detailnya di sana."
"Oke siap! Saya segera ke sana!" jawab Gadis semangat.
Telepon pun ditutup. Wajahnya penuh semangat. Ia sama sekali lupa pada perjanjian atau larangan Langit. Ia terlalu bahagia karena kesempatan kerja ini datang begitu cepat.
"Aku harus siap-siap!" serunya pada diri sendiri.
Langkah kaki Gadis terdengar cepat menuruni tangga utama. Matanya memandang ke sekeliling halaman, mencari keberadaan supir maupun kedua pengawal yang biasanya sigap menjemputnya.
Tapi nihil. Tempat itu kosong melompong. Entah mereka sedang istirahat, sedang mengisi bensin, atau entah kemana, yang jelas tidak ada satu pun orang yang bertugas di sana saat ini.
Di satu sisi, Gadis merasa gelisah. Ia ingat janjinya pada Langit untuk tidak pergi sendirian. Tapi di sisi lain, ia tidak ingin membuat pihak HRD perusahaan Winata menunggu terlalu lama. Baginya ini kesempatan emas pertama kerja, tidak boleh sampai gagal karena masalah sepele.
"Ah sudahlah! Cuma sebentar kok, pasti aman," batinnya meyakinkan diri.
Dengan keberanian penuh, ia pun memutuskan untuk berangkat sendiri.
Ia berjalan leluasa menuju garasi. Kebetulan sekali, para satpam dan penjaga gerbang pun entah sedang berada di mana, tidak ada yang melihat atau menghentikan langkahnya.
Gadis pun langsung membuka pintu sebuah mobil hitam mewah. Itu adalah mobil pribadi kesayangan Langit yang memang sering dipakai pria itu, dan sekarang diperbolehkan untuk Gadis gunakan.
Tanpa pikir panjang, ia masuk ke dalam, menyalakan mesin, dan menginjak gas.
Mobil itu pun meluncur keluar dari gerbang rumah dengan mudahnya, membawa Gadis sendirian menuju lokasi pertemuan.
****
Pertemuan dengan pihak HRD akhirnya usai. Gadis keluar dari cafe dengan hati senang karena rencana kerjanya sudah di depan mata.
Baru saja ia masuk ke dalam mobil, ia teringat pada Langit. Saat dibukanya layar ponsel, jantungnya seakan berhenti berdetak.
Layar itu dipenuhi notifikasi. Puluhan panggilan tak terjawab dan ratusan pesan masuk semuanya dari Langit.
Isi pesan-pesan itu penuh kepanikan, ketakutan, dan rasa cemas yang luar biasa.
"Sayang kamu di mana?!"
"Jawab aku please!"
"Kenapa HP nggak diangkat?!"
"Aku takut banget sayang, tolong balas..."
Gadis langsung mencoba menelpon balik, namun sinyal di daerah itu sangat buruk karena hujan deras yang turun sejak tadi. Panggilan gagal tersambung.
"Ah kenapa sih sinyalnya jelek banget!" gerutunya panik. Ia memutuskan untuk segera pulang.
Namun malang tak dapat ditolak. Di tengah jalan, tepat saat hujan semakin lebat, mobil mewah itu tiba-tiba berhenti mendadak. Mesin mati total, mogok tak mau menyala lagi.
Gadis benar-benar panik setengah mati. Tangannya gemetar mencoba menstarter mesin lagi dan lagi.
Tiba-tiba...
Trrrttt... Trrrttt...
Ponselnya bergetar keras. Nama Langit terpampang besar di layar.
Dengan tangan gemetar ia segera menggeser tombol hijau dan mengangkatnya.
"Halo Langit?!"
"Sayang! Kamu di mana sekarang?!" terdengar suara Langit di seberang sana, napasnya memburu dan nadanya sangat panik, terdengar seperti sedang berlari atau mengemudi dengan sangat cepat.
"Aku... aku habis dari cafe di Jalan C, Langit! Tapi mobilnya mogok! Nggak bisa jalan sama sekali!" jawab Gadis terbata-bata air mata mulai menetes.
"Oke! Kirim lokasi kamu sekarang juga! Segera!" perintah Langit tegas.
Gadis dengan cepat mengirimkan titik lokasinya melalui GPS. Sambungan telepon tetap tidak diputuskan, mereka masih terhubung.
Namun detik berikutnya...
Dari arah berlawanan, muncul sekawanan motor berhenti tepat memblokir jalan di depan mobil Gadis. Banyak pria bertopeng dan berbadan besar turun dengan wajah garang.
"Langit! Langit! Ada banyak orang di sini!" jerit Gadis histeris. "Mereka pakai motor! Mereka mukul pintu kaca! Aaku takut!"
Dari seberang telepon, Langit bisa mendengar dengan jelas suara dentuman keras.
DOK! DOK! DOK! DOK!
Suara pukulan benda keras menghantam kaca mobil itu bertubi-tubi.
"Oke kamu tenang! Sayang dengerin aku!" teriak Langit berusaha menenangkan meski hatinya hancur mendengar suara itu.
Gadis terlalu ketakutan hingga tak bisa menjawab, hanya isak tangis yang terdengar.
"Sayang... dengarkan aku baik-baik," suara Langit terdengar sangat tenang namun penuh kekuatan. "Jangan takut. Tutup matamu pelan-pelan, tutup telingamu, dan panggil nama aku. Terus panggil nama aku, oke? Aku janji aku akan datang ke sana sekarang juga!"
"Oke..." isak Gadis pelan, matanya terpejam rapat mencoba mengikuti kata-kata kekasihnya.
Di luar, orang-orang asing itu semakin beringas.
"KELUAR! HEH KELUAR DARI SITU!" teriak mereka sambil terus memukuli kaca dengan benda tajam dan tumpul.
Tapi mereka tidak tahu. Inilah yang sudah diantisipasi dan diperhitungkan sempurna oleh Langit jauh hari sebelumnya.
Kaca mobil itu bukan kaca biasa. Itu adalah kaca khusus bulletproof dan didesain sangat kuat, mampu menahan benturan keras, pukulan benda tajam maupun tumpul sekalipun. Kaca itu menjamin keselamatan orang di dalamnya tetap aman dan terlindungi dalam waktu yang cukup lama, memberi kesempatan baginya untuk datang dan menyelamatkan wanitanya.
Di dalam mobil, Gadis duduk meringkuk ketakutan di kursi. Matanya terpejam sangat rapat, kedua tangannya menutup telinga kuat-kuat seolah ingin memisahkan dirinya dari dunia luar yang menyeramkan itu.
"Langit... tolong aku... Langit cepatlah datang... aku takut..." gumamnya terus menerus dengan suara bergetar, air mata membasahi pipinya tanpa henti.
Ia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi di luar sana.
Tapi kenyataannya, situasi sudah berubah total.
Seorang pengendara motor berwarna hijau muncul begitu saja bagaikan kesatria penolong. Dengan helm full face yang menutupi seluruh wajahnya, pria itu bertindak sangat cepat dan brutal.
Hanya dalam hitungan menit, kelima penjahat yang tadi garang itu sudah babak belur habis dipukuli. Mereka berteriak kesakitan dan lari tunggang langgang, kocar-kacir, tak berani melawan kekuatan yang jauh di atas mereka.
Suasana jalanan kembali hening, hanya tersisa suara hujan.
Pria itu yang tak lain adalah Langit sendiri berjalan mendekati mobil tempat Gadis bersembunyi.
Tok.. Tok..
Ia mengetuk kaca jendela dengan pelan.
Namun di dalam, Gadis justru makin ketakutan. Badannya gemetar hebat. Ia mengira itu adalah teman-teman dari orang jahat tadi yang datang mencari dia.
Dengan tangan gemetar, ia meraba ponsel yang sambungannya masih tersambung.
"Langit... Langit kau masih di sana?" bisiknya terbata-bata.
"Ya Sayang, ini aku. Buka pintunya," terdengar suara tenang dari seberang.
"Nggak berani... di luar masih ada mereka... mereka garang," jawab Gadis menangis.
"Dengar aku... buka kacanya pelan-pelan. Itu aku, bukan mereka."
Dengan hati-hati dan penuh keraguan, tangan mungil itu perlahan menurunkan kaca jendela sedikit.
Mata Gadis terangkat takut-takut. Dan apa yang dilihatnya membuat napasnya tercekat.
Pria di depannya melepaskan helm besar itu. Wajah tampan, tatapan teduh, dan senyum khawatir sang kekasih terlihat jelas di sana.
"LANGIT?!" teriak Gadis kaget sekaligus lega.
Tanpa pikir panjang, ia langsung membuka pintu mobil dan melompat keluar. Dengan sekuat tenaga ia menerjang tubuh pria itu, memeluknya seerat mungkin seakan ingin meleburkan diri ke dalam sanubari sang kekasih.
"Hahaha..."
Langit tertawa pelan namun tangannya sigap dan kuat menopang tubuh mungil itu agar tidak terjatuh atau terpeleset karena tanah yang licin. Ia mengunci pelukan wanita itu erat-erat, memastikan wanitanya sudah kembali aman dalam genggamannya.
"Udah aman Sayang... udah aman. Semuanya lari. Aku di sini..." bisik Langit lembut, mengecup rambut basah Gadis berkali-kali.