Nyx Morrigan, gadis yang terbuang dari keluarga konglomerat Beckham, Di usia ke-19 tahun Pelariannya membawanya bertemu Knox Lambert Riccardo, mahasiswa teknik sekaligus petarung jalanan.
Di bawah atap apartemen mewah Knox, rahasia Nyx perlahan terkuak, mengubah hubungan menjadi ikatan emosional yang intens.
Saat identitas asli Nyx terungkap, Knox justru menjadi pelindung utama dari kekejaman Dari keluarga nya.
Ketegangan memuncak ketika nama "Morrigan" ternyata menyimpan rahasia darah yang lebih besar dari sekadar skandal keluarga Beckham.
Di tengah konflik identitas, pengkhianatan keluarga, dan dunia yang berbahaya, Nyx harus memilih antara terus bersembunyi atau menyerahkan hatinya sepenuhnya kepada Knox.
Sebuah kisah tentang pencarian rumah, Untuk Rasa Sakit, dan penyembuhan luka.
.
Happy reading dear 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#33
Kafetaria fakultas teknik siang itu dipenuhi oleh aroma kopi saring, burger berminyak, dan kebisingan khas mahasiswa yang sedang berdebat tentang algoritma. Di sebuah meja sudut yang sedikit terisolasi, Knox duduk berhadapan dengan Nyx. Di depan Knox terdapat sepiring besar pasta carbonara, sementara Nyx hanya mengaduk-aduk salad buahnya dengan lesu.
Kejadian di pelataran kampus satu jam yang lalu masih menyisakan getaran di udara. Namun, Knox—dengan kemampuan adaptasi mentalnya yang luar biasa—tampak seolah tidak terjadi apa-apa. Ia baru saja menyuap sesendok besar pasta sebelum matanya yang biru berkilat jenaka menatap Nyx.
"Kau tahu, Baby kita nanti..." Knox memulai kalimatnya dengan nada santai, seolah sedang membicarakan cuaca.
Nyx nyaris tersedak potongan apelnya. Ia meletakkan garpunya dengan bunyi denting yang tajam. "Knox! Bisakah kau berhenti membahas 'Bayi Kita', Honey? Demi Tuhan, orang-orang bisa mendengar mu!"
Knox terkekeh, bahunya berguncang pelan. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi plastik kafetaria yang keras, melipat tangan di dada, menatap Nyx dengan tatapan memuja yang tak ditutup-tutupi. "Kenapa? Itu terdengar sangat manis di telingaku. 'Bayi Riccardo-Morrigan'. Terdengar seperti nama pemilik maskapai penerbangan dunia."
"Masalahnya, Knox," Nyx berbisik tajam, mencondongkan tubuhnya ke depan. "Kita menggunakan pengaman. Setiap. Saat. Jadi, secara biologis dan logis, tidak ada bayi. Berhenti memberi harapan palsu pada dirimu sendiri atau mencoba membuat serangan jantung pada David Beckham."
Knox tidak terlihat kecewa sedikit pun. Ia justru memajukan wajahnya, menantang tatapan Nyx. "Pengaman memiliki tingkat kegagalan 1%, Nyx. Dalam dunia teknik, 1% adalah variabel yang cukup besar untuk menciptakan sebuah keajaiban. Tapi lupakan soal probabilitas itu sejenak... Aku hanya sedang membayangkan, kalau 'dia' benar-benar ada, kira-kira akan mirip siapa?"
Nyx memutar bola matanya, namun ia tidak bisa menyembunyikan rona merah di pipinya. "Tentu saja mirip aku. Aku tidak mau dia mewarisi sifat mesum mu."
"Oh, aku tidak keberatan dia cantik sepertimu," sahut Knox lembut. Ia terdiam sejenak, matanya menelusuri setiap lekuk wajah Nyx—mulai dari tulang pipinya yang tinggi, hidung yang sedikit lancip, hingga mata kelabu yang dalam. "Tapi kalau kupikir-pikir lagi... aku melihat David Beckham tadi. Dan aku melihatmu."
Suasana meja itu mendadak berubah. Knox memiringkan kepalanya, seolah sedang memecahkan rumus paling rumit di kepalanya. "Aku lihat kau memang tidak mirip ayahmu, Sayang. Sama sekali tidak."
Suapan salad yang baru saja menyentuh bibir Nyx terhenti seketika. Garpu itu menggantung di udara. Tangan Nyx membeku.
Nyx perlahan menurunkan garpunya kembali ke piring. Keheningan yang dingin mendadak menyelimuti meja mereka, memutus segala kebisingan di kafetaria itu dari indra pendengaran Nyx. Ia menatap Knox dengan pandangan yang kosong, namun tajam.
"Kau melihatnya?" suara Nyx terdengar datar, nyaris berbisik. "Kau juga menyadarinya?"
Knox mengangguk pelan, ekspresi jenakanya memudar berganti dengan keseriusan seorang pria yang tajam dalam observasi. "Secara anatomi, tidak ada satu pun fitur wajahnya yang turun padamu. Dia berambut gelap, kau pirang gelap alami. Matanya cokelat tua, matamu kelabu baja. Bahkan struktur tulang rahangnya... David memiliki wajah yang cenderung bulat, sementara kau memiliki garis wajah yang sangat tegas. Seperti..."
"Seperti Christian Morrigan?" potong Nyx dengan suara bergetar.
Nyx menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya yang kaku. "Aku memang tidak punya kemiripan dengan ayahku, Knox. Sejak kecil, aku selalu bertanya-tanya mengapa aku terlihat seperti orang asing di rumah itu. Brilian mirip dengannya. Laura, meski cantik, memiliki mata David. Tapi aku? Aku selalu dianggap 'anak buangan' bukan hanya karena aku anak simpanan, tapi karena setiap kali David melihatku, dia melihat sesuatu yang tidak dia kenali."
Nyx menatap tangannya yang mengepal di atas meja. "Tadi dia bilang dia ragu aku darah dagingnya atau bukan. Awalnya aku marah, tapi setelah melihat Christian Morrigan di pesta gala semalam... aku mulai merasa bahwa keraguan David mungkin adalah satu-satunya kebenaran yang pernah dia ucapkan."
Knox mengulurkan tangannya di atas meja, menggenggam jemari Nyx yang dingin, meremasnya dengan mantap untuk memberikan kekuatan.
"Dengarkan aku, Nyx," ucap Knox dengan nada rendah yang menenangkan. "Siapa pun ayahmu, itu tidak mengubah siapa kau di mataku. Tapi jika benar kau adalah putri Morrigan yang disembunyikan, maka dunia ini akan menjadi jauh lebih berbahaya. Christian Morrigan bukan pria yang membuang anaknya tanpa alasan. Jika dia menjauhkan mu, dia sedang melindungi mu dari sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar makian David Beckham."
Nyx mendongak, matanya bertemu dengan mata biru Knox yang penuh perlindungan. "Lalu kenapa dia begitu dingin padaku semalam? Dia menatapku seolah aku adalah kuman yang mengganggu pestanya."
Knox tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengandung banyak arti. "Mungkin itu cara seorang raja melindungi bidaknya. Dia tidak bisa menunjukkan kasih sayang di depan musuh-musuhnya. Di dunia bawah tanah, kasih sayang adalah kelemahan yang bisa dieksploitasi."
Nyx terdiam, mencerna setiap kata Knox. Pikirannya melayang pada ibunya, Agnesia, yang gila di rehabilitasi, dan Christian yang tidak mengenalnya. Semua orang di hidupnya sedang memainkan peran dalam sebuah drama besar, dan ia hanyalah penonton yang dipaksa ikut bermain.
"Sudahlah," Nyx mencoba mengalihkan pembicaraan, meski hatinya masih bergejolak. "Jangan bahas itu lagi. Terlalu berat untuk makan siang."
"Baiklah," Knox kembali ke mode santainya, namun ia tidak melepaskan genggaman tangannya. "Kita kembali ke topik awal. Jadi, kau lebih suka bayi laki-laki atau perempuan? Aku pribadi ingin laki-laki, agar aku bisa mengajarinya cara membongkar mesin dan cara memikat gadis sastra yang galak sepertimu."
Nyx mendengus, kali ini benar-benar tersenyum. "Kau benar-benar tidak bisa berhenti, ya? Makan pastamu, Knox. Sebelum aku benar-benar membuatnya jadi 'bayi' yang menangis karena kelaparan."
Knox tertawa, kembali menyuap pastanya dengan semangat. Di balik candaannya, Knox sudah membulatkan tekad: ia akan menyelidiki hubungan antara Agnesia dan Christian Morrigan lebih dalam. Ia tidak akan membiarkan Nyx menjadi pion dalam permainan siapa pun. Jika dunia ingin mengambil Nyx darinya, maka dunia harus berhadapan dengan seluruh kekuatan klan Riccardo.
Malam itu mungkin masih jauh, namun benih-benih kebenaran mulai tumbuh di antara mereka, di antara suapan pasta dan rahasia yang mulai terkuak satu per satu. Dan Nyx, untuk pertama kalinya, mulai meragukan apakah 'pengaman' yang mereka gunakan benar-benar bisa menahan takdir yang sedang mendekat.
semangattt thorr
semangaattt💃