Jangan lupa follow Ig noer_azzura16 for visualnya ya.
Diandra menjadi sugar baby seorang pria dingin selama tiga tahun lebih ketika dia berada di luar negeri. Selain nama dan nomor ponselnya, Diandra sama sekali tidak tahu apapun tentang pria itu.
Namun, tiba-tiba ayahnya menyuruhnya kembali, setelah mengasingkannya selama 7 tahun, ketika adik tirinya akan bertunangan.
Diandra yang memang punya dendam pada ayahnya dan keluarga baru ayahnya itu. Memutuskan kembali, ada dendam yang harus dia tuntaskan.
Namun, siapa sangka. Jika tunangan sang adik tiri, ternyata adalah seseorang yang mengenal Diandra luar dan dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14- MCI 14
Kehadiran Diandra sungguh mencuri perhatian semua orang. Tentu saja, dia mantan penyanyi klub malam paling terkenal di Madrid. Masalah mengatur gestur tubuh agar terlihat anggun dan menawan sama sekali tidak sulit baginya.
"Diandra, kamu ini tidak sopan. Kenapa berjalan di depan. Berjalanlah di belakang ayahmu!"
Sesungguhnya Kamila tidak sedang menasehati Diandra. Percayalah jika wanita paruh baya itu hanya tidak ingin Diandra terlalu mencuri perhatian.
"Diandra!" panggil Romi.
Dan sayangnya, pria tua yang sayangnya lagi adalah ayah kandung Diandra itu otaknya seperti sudah di cuci oleh Kamila. Apapun yang dikatakan Kamila pasti di anggap sebuah petuah yang sering kali memang harus dia ikuti.
Diandra hanya berbalik menoleh alakadarnya pada sang ayah.
"Ayah, aku hanya ingin membantumu. Aku ingin semua orang bisa melihat kalau putri sulung ayah memang tidak mengecewakan!" jawab Diandra.
Romi mengernyitkan keningnya. Memang kalau diperhatikan, penampilan Diandra yang paling memukau di antara Kamila bahkan Genelia.
"Aku hanya ingin membuat ayah bangga! jika itu salah, baiklah aku akan mundur saja..."
"Tidak, tidak Diandra. Kamu bisa berjalan di samping ayah!"
Mata Kamila melotot, sudah hampir keluar malah. Romi membiarkan Diandra berjalan di sampingnya. Genelia mendengus kesal.
"Aku sudah bilang pada ibu, aku harus tampil maksimal. Ibu malah melarang ku membeli gaun yang mahal!" bisik Genelia pada Kamila.
"Kamu kan tahu, nyonya Siska tidak suka wanita yang mencolok. Sudah, biarkan saja dia kali ini. Toh yang akan di perkenalkan pada semua orang nanti oleh keluarga Mahendra adalah kamu, calon menantu mereka!" kata Kamila menenangkan Genelia.
Diandra tersenyum, dia bahkan melirik sekilas ke arah Genelia. Lalu merangkul lengan ayahnya.
"Baiklah, kalau ayah bilang begitu!" kata Diandra yang merangkul lengan ayahnya dan berjalan beriringan dengan sang ayah.
'Kalau tidak untuk memperkenalkan diriku pada semua orang. Sungguh kesal menggandeng ayahnya Genelia seperti ini!' batin Diandra.
Kehilangan kasih sayang dari sang ayah sejak kehadiran Kamila dan Genelia membuatnya menjadi tak lagi respek pada sang ayah.
"Selamat malam tuan Romi, ini pasti Diandra ya?"
Benar saja, beberapa pengusaha ternama yang sudah senior segera menyapa Romi karena Diandra ada di samping Romi.
"Mirip sekali dengan mendiang nyonya Jessica"
"Benar, mereka punya aura yang sama, aura bangsawan!"
Romi tersenyum senang. Hidungnya sudah kembang kempis mendapatkan pujian itu. Padahal pujian itu untuk Diandra.
"Iya, dia Diandra!"
"Lama tidak terlihat?" tanya salah satu nyonya .
"Dia... dia kuliah di luar negeri!" kata Romi yang langsung berbohong untuk menjaga harga dirinya.
Diandra menoleh ke arah sang ayah. Tatapan matanya jelas-jelas ingin mengatakan ayahnya sedang berbohong. Tapi Romi berbisik pada Diandra.
"Begitu saja, daripada semua orang tahu kamu jadi pelayan restoran di luar negeri!"
Diandra menaikkan kedua alisnya. Dia tak bisa berkata-kata. Ayahnya menyelamatkan reputasinya sendiri.
'Memangnya siapa yang buat aku jadi pelayan disana?' batin Diandra kesal.
Diandra menarik tangannya dari siku Romi.
"Diandra..."
"Aku haus, mau cari minum!" kata Diandra yang langsung meninggalkan ayahnya dan beberapa orang yang sedang menyapa arahnya itu.
Diandra mendengus kesal, ayahnya benar-benar bermuka dua. Dia mengatakan menguliahkan Diandra di luar negeri. Itu benar-benar terdengar menjijikan bagi Diandra.
Diandra meraih gelas minuman yang ada di atas meja. Ada banyak jenis minuman, Diandra memilih segelas Mojito. Mojito yang disajikan dalam gelas tinggi transparan highball glass, hingga lapisan isinya terlihat cantik. Di dasar gelas, daun mint segar dan potongan jeruk nipis terlihat menyegarkan. Ya, cocok untuk Diandra yang merasa kesal saat ini.
'Benar-benar orang tua yang pintar merusak mood!' batin Diandra.
"Diandra!"
Sebuah suara membuat Diandra menoleh.
"Max..." ucapan Diandra terhenti.
Karena yang muncul bukan hanya Max. Ada Raez, Siska, Amalia dan seorang pria yang mungkin saja ayahnya Max.
"Max, kamu kenal Diandra?" tanya Amalia.
Diandra meletakkan gelas itu di atas meja dengan sedikit gugup.
'Ya ampun, pahit pahit pahit! jangan lihat aku!' Batin Diandra berharap Raez sama sekali tidak menatapnya.
"Ibu, dia Diandra. Yang aku ceritakan pada ibu, gadis yang aku suka di Madrid!"
"Oh jadi dia!" kata Amalia terlebih terkejut tapi wajahnya menunjukkan terkejut yang senang begitu.
Max segera menghampiri Diandra. Sementara Raez, terlihat jelas pria itu tatapannya sudah seperti mau makan orang.
Dan karena melihat penampilan Diandra. Max refleks saja meraih tangan Diandra.
"Kamu cantik sekali. Seperti biasanya!"
"Terima kasih!"
"Aku kenalkan pada ayah dan ibuku!"
Max main tarik saja tangan Diandra. Membuat Diandra agak terkejut, dan membuat tangan pamannya itu terkepal kuat di belakang.
"Ayah, ibu, nenek, dia Diandra. Temanku!" kata Max.
"Selamat malam!"
"Kamu pasti sudah belajar cara berpakaian dari Genelia kan? begini lebih baik!" tegur Siska.
Diandra hanya diam. Dia memang tidak mau membuat masalah di depan Max. Max itu teman yang baik. Selalu ada saat Diandra kesulitan dan merasa sendirian di Madrid.
"Kamu memang cantik sekali nak, Max sudah banyak cerita tentang temannya yang sangat mandiri dan hebat. Bibi tidak menyangka itu kamu!" kata Amalia yang sepertinya orangnya memang positif thinking.
"Kamu kerja dimana nak? kalau belum bekerja, bagaimana kalau jadi sekertaris Max. Supaya dia tidak malas-malasan ke kantor!" kata Pram, ayah Max.
Amalia tersenyum senang.
"Benar, begitu juga boleh. Max jadi punya alasan untuk setiap kali datang ke kantor kan?"
Max tampak malu. Sementara Diandra merasa ketar-ketir. Meski dia tidak menatap Raez, tapi sepertinya ada aura gelap di sampingnya, di tempat dimana Raez berdiri. Yang bisa setiap saat mencekikknya.
"Selamat malam bibi! kak Amalia, kak Pram, Kak Dave!" Genelia menyapa semuanya dengan manis.
Genelia menoleh ke arah Diandra. Dia merasa heran sekaligus kesal sekali. Melihat Diandra yang dirangkul hangat dan akrab oleh Amalia.
"Selamat malam Genelia sayang, kemarilah!" kata Siska yang meraih tangan Genelia supaya mendekat padanya dan Raez.
"Kak Diandra..."
"Kamu belum tahu, dia temannya Max!" kata Amalia.
Genelia makin kesal saja melihatnya.
'Kok bisa sih, dia kenal keluarga Mahendra. Dia menyebalkan sekali. Jangan bilang dia mau bersaing menjadi menantu keluarga Mahendra?' batin Genelia dengki sekali pada Diandra.
Padahal, dengki itu tanda tak mampu. Siapa yang akan bersaing menjadi menantu keluarga Mahendra. Diandra bahkan tidak pernah berpikir akan punya hubungan dengan Max. Yang ada, dia akan berusaha menggagalkan pernikahan Genelia dengan Raezwell Dave Mahendra.
***
Bersambung...
Ternyata Raez sudah tau jika Diandra berbohong soal hamil palsu.. 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ucapan Diandra bikin ngakak.. Raez lagi esmosi, bisa² nya di ngelece..🤣🤣🤣🤣🤣
Takdir mereka di tangan author, aku mah pasrah aja bacanya 🤣