NovelToon NovelToon
JODOH, YANG DIJODOHKAN

JODOH, YANG DIJODOHKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anna ceriya

Selama lebih dari tiga dekade, persahabatan antara Keluarga Lenoir dan Hadinata telah menjadi tonggak dalam kehidupan kedua keluarga. Dari berbagi suka duka hingga merencanakan masa depan bersama, ikatan mereka semakin mengakar dalam setiap aspek kehidupan. Untuk memperkokoh hubungan yang sudah terjalin erat itu, kedua kepala keluarga memutuskan untuk mengikatkan anak-anak mereka melalui perjodohan—suatu langkah yang dianggap akan menyatukan kedua keluarga menjadi satu kesatuan yang lebih kuat.

Aslan Noah Lenoir 28 tahun Pewaris Lenoir Group Dari Paris dan Alana Hadinata 20 tahun berdarah Campuran dari sang ibu ( Helena dubois ) terpaksa harus menjalani rencana perjodohan yang tidak mereka inginkan, gaya hidup mereka yang berbeda sering kali membuat Alana merasa terjebak dalam permainan Aslan yang vulgar dan penuh tantangan.
____

Bisakah dua hati yang terpaksa bertemu menemukan kedekatan yang tulus?
Ataukah perjodohan ini hanya akan menjadi beban dan merusak persahabatan keluarga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna ceriya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13. PERTEMUAN PERTAMA

Keheningan yang manis di antara mereka akhirnya terpecah oleh pertanyaan yang keluar dari bibir Aslan. Ia menatap Alana dengan rasa ingin tahu yang masih membara, bercampur dengan kebingungan yang wajar.

"Alana," panggil Aslan pelan, matanya menatap manik mata gadis di hadapannya. "Jika boleh aku bertanya... kenapa kamu ada di Paris hari ini? Aku pikir kamu sedang sibuk dengan magang mu di Lausanne, Swiss. Ayahku bilang kamu harus pergi ke sana lebih awal karena keadaan darurat."

Alana tersentak sedikit, lalu tersenyum tipis, jari-jarinya bermain-main dengan pinggiran gelas jus di hadapannya. "Ah, itu benar. Aku memang sudah berada di Lausanne selama tiga minggu terakhir. Dan benar juga, itu sangat sibuk—bahkan bisa dibilang melelahkan. Tapi hari ini, aku sedang menikmati cuti singkat ku. Aku datang ke Lyon untuk mengunjungi nenekku, dan hari ini kami memutuskan untuk jalan-jalan sebentar ke Paris."

Belum sempat Aslan menanggapi, sebuah suara ramah dan sedikit heran terdengar dari samping mereka. "Oh, jadi inilah alasan kenapa kamu duduk di sini sendirian, Nak?"

Keduanya menoleh serentak. Di sana berdiri Nenek Aretha, ditemani oleh seorang wanita paruh baya lainnya yang tersenyum ramah. Mata Nenek Aretha membelalak saat melihat Aslan yang sedang duduk di hadapan cucunya. Wajah wanita tua itu tampak bingung, alisnya terangkat tinggi.

"Tunggu sebentar... bukankah ini anak muda yang menabrak mu tadi siang, Alana?" tanya Nenek Aretha, matanya bergantian menatap Aslan dan Alana. "Kenapa dia ada di sini? Dan kenapa kalian berdua terlihat seperti sedang mengobrol dengan sangat akrab? Apa yang terjadi?"

Alana segera berdiri, merapikan gaunnya, lalu tersenyum canggung namun penuh semangat. Ia meraih lengan neneknya dengan lembut. "Nenek, duduklah sebentar. Biarkan aku menjelaskan semuanya."

Nenek Aretha dan temannya duduk di kursi kosong di dekat mereka. Alana menarik napas panjang, lalu mulai bercerita dengan antusias. Ia menjelaskan tentang perjodohan yang direncanakan oleh orang tua mereka Samuel dan Marcell. tentang rencana pertemuan di Bali yang harus dibatalkan karena panggilan magang Alana, dan tentang kebetulan yang luar biasa ini. bahwa pria yang menabraknya di pusat perbelanjaan tadi siang tidak lain adalah Aslan Noah Lenoir, calon suami yang telah dipilihkan untuknya.

Mata Nenek Aretha semakin membelalak lebar mendengar penjelasan itu. Ia menatap Aslan dari ujung kepala hingga ujung kaki, kali ini dengan tatapan yang jauh lebih hangat dan penuh minat. Senyuman lebar perlahan terukir di wajahnya yang keriput namun anggun.

"Oh, mon Dieu! (Ya Tuhan!)" seru Nenek Aretha sambil menutup mulutnya dengan tangan, matanya berbinar-binar. "Jadi ini adalah takdir, ya? Tabrakan tadi siang bukanlah sekadar kecelakaan biasa, tapi cara Tuhan mempertemukan kalian berdua? Sungguh kisah yang indah! Seperti dalam novel-novel romantis yang biasa aku baca." Nenek Aretha tertawa renyah, rasa bingungnya kini berubah menjadi kegembiraan yang luar biasa. "Aslan, ya? Namamu yang gagah itu cocok sekali dengan wajahmu. Senang sekali akhirnya bertemu denganmu, Nak. Samuel sering sekali bercerita tentangmu dan ayahmu."

Aslan tersenyum ramah, lalu membungkuk sedikit memberi hormat kepada Nenek Aretha dan temannya. "Senang bertemu dengan Anda juga, Nyonya maaf, Nenek Aretha. Saya juga tidak menyangka takdir akan seindah ini. Saya sangat menyesal sekali lagi tentang tabrakan tadi siang, tapi saya harus mengakui... saya sangat bersyukur karena hal itu terjadi, sehingga saya bisa bertemu dengan Alana secara langsung."

Pujian tulus dari Aslan membuat pipi Alana merona merah samar. Ia membuang muka, menyembunyikan senyum malu-malu di balik wajahnya.

Setelah berbincang sebentar dengan Nenek Aretha dan temannya, malam semakin larut. Nenek Aretha mulai terlihat mengantuk, dan Aslan dengan sigap menawarkan diri untuk mengantarkan mereka kembali ke Lyon.

"Tidak perlu repot-repot, Nak," kata Nenek Aretha dengan lembut. "Kami bisa naik kereta api terakhir atau memesan taksi. Jarak dari Paris ke Lyon itu cukup jauh, lho."

Aslan menggeleng tegas, senyumnya tetap lebar dan penuh keyakinan. "Tidak masalah sama sekali, Nenek. Saya tidak keberatan sama sekali. Lagipula, malam ini jalanan tidak terlalu macet, dan saya merasa lebih tenang jika bisa mengantarkan Anda dan Alana sampai ke depan pintu rumah Anda dengan selamat. Biarkan saya melakukan ini sebagai bentuk permintaan maaf saya atas keteledoran saya tadi siang, dan juga sebagai bentuk penghormatan saya kepada Anda."

Melihat ketulusan di mata Aslan, Nenek Aretha akhirnya mengangguk setuju dengan senyum bahagia. "Baiklah, Nak. Jika kamu bersikeras, kami akan menerimanya dengan senang hati. Terima kasih banyak, Aslan."

 

Perjalanan menuju Lyon memakan waktu sekitar dua jam. Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil itu hangat dan akrab. Nenek Aretha yang duduk di kursi belakang tertidur pulas karena kelelahan, menyisakan Aslan dan Alana yang duduk di depan. Mereka berbicara tentang banyak hal—tentang kecintaan Alana pada dunia medis, tentang tekanan yang ia rasakan selama magang di Swiss, tentang kecintaan Aslan pada arsitektur, tentang perubahan yang ia alami dalam hubungannya dengan ayahnya, dan tentang harapan-harapan mereka untuk masa depan.

Aslan mengemudikan mobilnya dengan hati-hati dan tenang, meskipun sebenarnya ia sudah sangat lelah setelah seharian beraktivitas dan perjalanan bolak-balik dari Le Marais ke pusat kota Paris, lalu ke Lyon. Namun, melihat Alana di sampingnya, mendengar suaranya yang lembut dan tawa kecilnya yang menawan, rasa lelah itu seakan hilang tak berbekas. Ia tidak peduli berapa lama ia harus mengemudi, asalkan ia bisa menghabiskan waktu lebih lama bersama gadis di sampingnya ini.

Akhirnya, mereka tiba di depan rumah tua yang indah dan megah milik Nenek Aretha di Lyon. Aslan segera mematikan mesin mobilnya dan turun untuk membukakan pintu bagi Nenek Aretha dan Alana.

"Terima kasih banyak untuk perjalanannya, Aslan," ucap Nenek Aretha sambil tersenyum lebar, matanya masih setengah terpejam karena mengantuk. "Kamu adalah anak yang sangat baik dan sopan. Datanglah berkunjung lagi kapan saja, ya."

"Tentu, Nenek. Terima kasih juga sudah menerima saya," jawab Aslan ramah. Ia kemudian menatap Alana. "Hati-hati, Alana. Istirahatlah yang cukup."

Alana mengangguk, tersenyum tipis. "Terima kasih, Aslan. Hati-hati juga di perjalanan kembali nanti."

Saat Alana berbalik hendak membantu neneknya masuk ke dalam rumah, Aslan melihat kesempatan itu. Dengan gerakan yang cepat dan diam-diam, saat Alana meletakkan tangannya ke saku gaunnya untuk mengambil kunci rumah, ponsel Alana yang tergeletak di atas meja kecil di dekat pintu masuk—yang tadi ia letakkan saat turun dari mobil—terlihat jelas.

Dengan sigap dan hati-hati, agar tidak diperhatikan oleh Alana yang sedang sibuk menopang neneknya, Aslan mengambil ponsel itu dengan cepat. Ia menekan tombol daya, membuka kunci layar—yang kebetulan Alana belum mengunci ulang sejak tadi. Jari-jarinya bergerak cepat, membuka menu kontak, dan menambahkan nomor teleponnya sendiri dengan nama "Aslan Lenoir" di dalamnya. Setelah selesai, ia dengan cepat mengembalikan ponsel itu ke tempat semula seolah tidak terjadi apa-apa.

Hanya beberapa detik, dan misi rahasia itu selesai. Aslan tersenyum puas dalam hati. Kini, ia memiliki cara untuk menghubungi Alana kapan saja. Tidak ada lagi jarak atau batasan yang bisa memisahkan mereka, setidaknya dalam komunikasi.

"Sampai jumpa lagi, Alana," ucap Aslan pelan, namun penuh makna, saat Alana dan Nenek Aretha akhirnya masuk ke dalam rumah dan menutup pintu.

Aslan berdiri di sana sejenak, menatap pintu rumah yang sudah tertutup, sebelum akhirnya kembali ke mobilnya. Hatinya terasa penuh dan hangat. Meskipun ia harus menempuh perjalanan dua jam kembali ke Paris sendirian dalam keadaan lelah, ia tidak peduli. Ia telah mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga: sebuah pertemuan, sebuah pengakuan, dan sebuah harapan baru yang kini tersimpan rapi di dalam ponsel Alana Hadinata.

1
Mia Camelia
lanjut thor👍
Anna ceriya: terimakasih atas support nya kaka🙏💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!