NovelToon NovelToon
Kisah Sang Penguasa

Kisah Sang Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Spiritual / Misteri
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Blueria

Dengan kecerdasan aku menantang jalan ku sendiri. Aku bukanlah pahlawan atau penjahat besar tapi aku ada untuk keluargaku sendiri.

Dengan segala yang kumiliki aku menantang takdir, langit dan bumi dan menjadi penguasa dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 — Perbincangan Keluarga

Setelah kerumunan benar-benar bubar dan suasana jalanan kembali sunyi, Wang Yan tidak terburu-buru memeriksa barang-barang yang baru saja ia ambil.

Dengan gerakan tenang, ia memasukkan seluruh hasil rampasan: kantong penyimpanan, belati, hingga perhiasan Hong Jigong ke dalam cincin ruang perunggunya.

Ia melangkah mendekati Huo Ting yang masih berdiri tegak dengan aura yang perlahan mulai ia tekan kembali.

“Kerja bagus, Paman,” puji Wang Yan tulus.

“Paman, benar-benar hebat. Meskipun Paman sudah lama tidak terjun dalam pertarungan, gerakan Paman tadi sangat efisien. Tanpa senjata pun, Paman berhasil membuat ahli lautan spiritual lapisan ketujuh itu terdesak.”

Huo Ting menatap tuan mudanya itu dengan pandangan yang rumit. Ada ribuan pertanyaan yang ingin ia lontarkan, terutama tentang dari mana kekuatan brutal itu berasal. Namun, ia hanya menghela napas panjang dan mengabaikan rasa penasarannya. Baginya, keselamatan Wang Yan adalah prioritas di atas segala logika dunia kultivasi.

Wang Yan menyadari perubahan ekspresi pamannya. Ia berhenti tepat di samping Huo Ting, menatap puing-puing gerbang rumah mereka.

“Paman... apakah Paman tidak ingin bertanya tentang api hitam barusan?” tanya Wang Yan pelan.

“Seharusnya kemampuan itu tidak mungkin dimiliki oleh seorang praktisi Lautan Spiritual sepertiku.”

Wang Yan tahu ini adalah pertama kalinya ia memperlihatkan kartu as yang telah ia simpan selama enam tahun, sejak ia tahu bahwa kemampuan inilah yang membuatnya mampu melumpuhkan Feng Bo.

Selama ini, ia selalu memasang kertas mantra formasi penyegel di kamarnya adalah untuk merahasiakan rahasianya. Rahasia yang tidak ingin ia ungkapkan bahkan pada keluarganya. Namun hari ini, situasi memaksanya untuk menyingkap 'salah satu tabir rahasianya'.

Huo Ting terdiam sejenak, lalu ia menepuk bahu Wang Yan dengan mantap. Sikapnya kembali santai.

“Yan'er, setiap orang punya rahasia untuk bertahan hidup. Jika kau merasa belum waktunya bicara, Paman tidak akan memaksa,” jawab Huo Ting tenang.

“Tugas Paman adalah menjagamu, Yue’er, dan harta peninggalan ayahmu yang diincar serigala-serigala Keluarga Hong itu. Selama kau berada di jalan yang benar, itu sudah cukup bagi Paman.”

Wang Yan tersenyum tipis. Kepercayaan pamannya memberinya ruang napas yang ia butuhkan. Tanpa banyak bicara lagi, mereka berdua mulai memindahkan potongan kayu besar dari gerbang yang hancur, menutup jalan masuk rumah mereka untuk sementara waktu.

Setelah merapikan sisa-sisa kayu gerbang sebisa mungkin, Wang Yan dan Huo Ting melangkah masuk ke dalam rumah. Begitu pintu tertutup, sosok kecil langsung melesat mendekati mereka.

Lin Yue berdiri di sana dengan mata berbinar-binar, wajahnya memerah karena antusias. Ia tampaknya telah menyaksikan seluruh kejadian dari balik celah jendela sejak awal hingga akhir.

“Yan’ge! Itu tadi luar biasa!” seru Lin Yue sambil mengepalkan tangannya di depan dada.

“Aku melihat bagaimana kau memukul si sombong itu sampai ompong! Rasanya puas sekali melihat wajahnya hancur setelah semua hinaan yang dia ucapkan.”

Wang Yan tidak bisa menahan tawa melihat reaksi adiknya. Ia mengulurkan tangan, mengacak rambut seputih susu Lin Yue yang sedikit berantakan karena terlalu asyik mengintip tadi.

“Kau bukannya takut, malah menonton dengan semangat seperti itu?” goda Wang Yan.

“Takut? Untuk apa?” Lin Yue membusungkan dadanya kecil.

“Aku tahu Yan’ge dan Paman pasti bisa menghajar mereka. Apalagi saat Paman menghantam si jubah hitam itu, gerakannya sangat cepat! Aku bahkan tidak bisa melihat kaki Paman bergerak.”

Huo Ting yang tadinya masih memasang wajah kaku pun akhirnya luluh. Ia tersenyum lebar melihat kejenakaan Lin Yue.

“Paman ini memang sudah tua, Yue’er, tapi kalau cuma menghadapi tikus-tikus Keluarga Hong, tulang-tulang tua ini masih cukup kuat.”

“Tapi Yan'ge, cara kakimu bergeser tadi... itu sangat keren!” lanjut Lin Yue lagi, kali ini ia mencoba menirukan gerakan menghindar, menyerang serta memukul Wang Yan dengan sedikit kikuk, yang justru membuat suasana rumah yang sempat tegang menjadi cair seketika.

Wang Yan tersenyum tipis diselingi rasa terkejut karena adiknya ini bisa melihat gerakan cepatnya yang tidak bisa dilihat oleh Hong Jigong, bahkan bisa memeragakan semua gerakannya walau sedikit kikuk.

Rasa terkejut diiringi bangga itupun menjadi rasa lega. Melihat adiknya tidak trauma dengan kekerasan yang terjadi di depan mata kepalanya sendiri. Bagi seorang kultivator, mental seperti inilah yang dibutuhkan untuk bertahan hidup.

“Sudah, ayo masuklah. Bantu Paman menyiapkan air atau apa pun yang bisa kita minum, mari lanjutkan makan pagi kita.” ujar Wang Yan lembut.

Lin Yue mengangguk patuh dan segera berlari menuju dapur, meninggalkan Wang Yan dan Huo Ting yang kini saling bertukar pandang dengan raut yang kembali serius.

“Jadi, Yan’er,” ujar Huo Ting sambil sedikit condong ke depan dengan nada jenakanya.

“Kau sudah berhasil meyakinkan seluruh penduduk kota dan rumor ini pasti akan menyebar ke Keluarga Hong bahwa aku adalah seorang ahli Lautan Qi. Tapi kau tahu, Pamanmu ini hanyalah orang tua di lautan spiritual lapisan kedelapan. Bagaimana cara kita mendapatkan kultivator Lautan Qi yang asli jika mereka datang dengan pedang terhunus?”

Lin Yue yang baru saja datang membawa nampan berisi tiga cangkir teh langsung duduk dengan antusias. Ia menatap kakaknya tanpa berkedip. Baginya, apa pun yang keluar dari mulut kakaknya sekarang adalah kebenaran mutlak.

Wang Yan menyesap tehnya perlahan. Ia tidak langsung menjawab, melainkan membiarkan keheningan menyelimuti ruangan sejenak. Ia tidak mungkin menjelaskan tentang hakikat Teknik Kultivasi Penipu Langit yang ia miliki itu adalah rahasia yang akan ia beritahukan suatu hari nanti, jika kitab agung penipu langit tidak berbahaya.

“Paman tidak perlu pusing memikirkan hal itu,” jawab Wang Yan akhirnya dengan nada yang sangat tenang.

“Status 'Ahli Lautan Qi' yang kusematkan pada Paman tadi adalah investasi waktu. Itu adalah gertakan yang akan membuat Keluarga Hong berpikir dua kali sebelum menyerang kita.”

Wang Yan meletakkan cangkirnya kembali ke meja. Matanya menatap lurus ke arah Huo Ting, menunjukkan keseriusan yang tidak menyisakan ruang untuk keraguan.

“Jangan khawatir tentang siapa yang akan menjadi ahli Lautan Qi yang sebenarnya di rumah ini untuk melindungi kita semua. Karena dalam waktu dekat, orang itu adalah aku.”

Huo Ting terdiam. Ia bisa merasakan bahwa kepercayaan diri Wang Yan bukan berasal dari kesombongan masa muda, melainkan dari sebuah kepastian yang entah bagaimana telah ia genggam. Meskipun ia tidak tahu apa rahasia yang disembunyikan Wang Yan selama dua hari, hasil nyata di depan mata, lompatan kultivasi yang tidak masuk akal adalah bukti yang tidak bisa dibantah olehnya.

“Yan’er, kau benar-benar yakin bisa melompati jurang pemisah antara ranah Lautan Spiritual dan Lautan Qi dalam waktu singkat?” bisik Huo Ting.

“Aku akan berusaha sebaik mungkin Paman...” balas Wang Yan ringan.

Huo Ting terdiam cukup lama setelah mendengar pernyataan Wang Yan. Meskipun kemajuan tuan mudanya yang diluar nalar logika kultivasi, ada satu ganjalan besar yang mulai menghantui pikirannya.

Meraih lapisan demi lapisan di ranah Lautan Spiritual adalah satu hal, namun menembus ke ranah Lautan Qi adalah urusan yang sepenuhnya berbeda.

Dalam hukum kultivasi yang ia ketahui, di lapisan kesepuluh Lautan Spiritual, seorang kultivator harus mampu menciptakan Pohon Spiritual di dalam pusat dantian.

Pohon inilah yang akan menjadi penyaring utama untuk mengubah energi kasar menjadi Qi cair yang murni. Tanpa pohon itu, seseorang akan tertahan selamanya di lapisan kesepuluh lautan spiritual, tidak peduli seberapa banyak sumber daya yang di konsumsi.

Huo Ting menatap wajah Wang Yan dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia teringat akan orang tua Wang Yan, Wang Guru dan Yan Xueying.

Sebelum Wang Yan dilahirkan, sebelum tragedi menimpa kedua orang tuanya. Huo Ting mengenal Kedua orangtuanya, mereka berdua adalah orang baik yang membantunya bangun dari keterpurukan hidup di dunia.

Kedua orang tua Wang Yan adalah sosok yang sangat cerdas dan cukup hebat dalam berkultivasi, namun entah mengapa mereka berdua tertahan di lapisan kesepuluh lautan spiritual tanpa pernah bisa membentuk Pohon Spiritual, meninggal secara misterius dalam keserakahan tuan kota Qingshi sebelumnya, di Kota Qingshi lama.

Bagi kebanyakan kultivator, Pohon Spiritual adalah masalah garis darah atau warisan biologis. Jika orang tua tidak memilikinya, kemungkinan besar keturunannya pun tidak akan memiliki juga.

“Yan'er,” puji Huo Ting dengan suara yang sedikit lebih berat.

“Semangatmu adalah kekuatanmu. Tapi kau harus tahu, menembus Lautan Qi bukan hanya soal menumpuk energi. Ada ambang pintu bernama Pohon Spiritual yang harus kau lewati, ...”

Huo Ting sengaja tidak melanjutkan kalimatnya, namun pesannya tersampaikan dengan jelas. Ia tidak ingin menghancurkan harapan Wang Yan, tetapi ia juga tidak ingin tuan mudanya itu frustrasi jika nantinya ia menemui dinding yang tidak bisa ditembus oleh harta atau sumber daya apa pun.

Wang Yan menyadari kekhawatiran yang tersirat dari nada bicara pamannya. Ia tahu apa yang dipikirkan Huo Ting, bahwa secara teori, ia tidak memiliki benih untuk menumbuhkan Pohon Spiritual tersebut, kisah kedua orang tuanya yang selalu diceritakan oleh pamannya sejak kecil.

Namun, alih-alih terlihat cemas atau ragu, Wang Yan justru membalas tatapan pamannya dengan sebuah senyuman tenang sejenis senyuman yang biasanya ia miliki saat berhasil membedah logika rumit dalam sebuah transaksi ataupun dalam buku-buku klasik.

“Paman, hukum dunia ini mungkin kaku bagi mereka yang mengikutinya, tapi aku akan mencoba menantangnya.” ujar Wang Yan santai sambil berdiri dari kursinya. Dengan Kitab Agung Penipu Langit, ia percaya dia bisa melawan takdir itu.

...

1
BlueHeaven
*Seharusnya Hukum Dinasti
Ajipengestu
Lanjut💪
Author Lover's
Belum ngontrak ni thor?
BlueHeaven: makasih ya💪👋
total 3 replies
Nanik S
Wang Bo... apa lupa Ingatan
BlueHeaven: Bisa dikatakan seperti itu bang, ingatannya Feng Bo terpecah karena suatu hal yang akan di ceritakan alasannya dalam Arc besar.
total 1 replies
Nanik S
Hadir
BlueHeaven: Absen terus💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!