Elfa adalah seorang gadis 17 tahun, dia siswi berprestasi di sekolah, Elfa sangat cantik, pintar dan polos. Hanya satu kekurangannya dia bukan anak orang kaya. Dia hidup bersama ibunya yang hanya seorang tukang cuci. Elfa masuk ke sekolah itu melalui jalur beasiswa.
Elfa bukan hanya pintar dan cantik tapi dia adalah kekasih seorang Aditya siswa paling tampan di sekolah dan idola semua siswi.
Elfa terlalu mencintai Aditya, ia akan melakukan apa saja untuk Aditya. Hingga satu malam dengan kata sebagai bukti cinta. Elfa menyerahkan kesuciannya kepada Aditya.
Dari kejadian satu malam itu , Elfa hamil anak Aditya. Ia mengatakan pada Aditya tentang kehamilannya tapi Aditya memaksa Elfa mengugurkan kandungannya.
"Gugurkan kandunganmu, jangan berharap aku akan bertanggung jawab. Kau sadar? Kita ibarat langit dan bumi. tidak akan mungkin bersatu" Ucap Aditya
Seluruh tubuh Elfa bergetar "aku bersumpah ....!!! kau tak akan pernah mendengar suara tangisan bayi dalam hidup mu "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvy Anggreny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Elfa menatap Steven yang sedang tersenyum padanya.
"Kamu harus tahu Ayah Steven---..." kata kata ibu Steven.
"Steven, apa maksud ibumu ?"
Steven menghela nafas panjang " Sayangg, Seperti itulah perjalanan hidup setiap orang, aku selalu bilang gitu kan?. Sampai hari aku tidak tahu siapa Ayahku. Tapi begitu aku mengatakan akan menikah denganmu dalam minggu ini. Ibuku langsung ingin memberitahukan siapa Ayah ku. Kamu hebat sekali sayang.." Kata Steven dengan cueknya.
"Stev...ini serius, kenapa kamu... terlihat santai ?" Elfa terlihat khawatir.
"Sayang dengar, dulu......saat aku kecil. aku memang penasaran siapa pria yang telah menjadi ayahku? Ibu tidak pernah ngomong apapun, aku selalu menunggu ibu mengatakan tentang pria itu. Tapi ibu diam dan aku juga tidak ingin menyakiti ibu..... dengan bertanya siapa ayahku " Steven menatap langit langit ruangan kerja Elfa, menghela nafas panjang lagi.
"Akhirnya rasa penasaran itu berganti dengan rasa tidak ingin tahu sama sekali. Aku tu cuma berpikir untuk menikmati hidupku bersama ibu..." Steven menatap Elfa
"Lalu, kamu datang ke kampung kita, Aku langsung suka, kamu pun masuk ke dalam hati ibu, dan ibu jatuh hati padamu. Hehehe...ya, ibu jatuh hati sama kamu sayang, kemudian ibu melihat perutmu semakin hari semakin membesar. Ibu pun tahu, apa yang kamu alami, lalu.. ibu melarang aku agar tidak bicara apapun sama kamu,sayang.."
"Sungguh ?"
"Ya... Kata ibu.. Dengar nak, jangan pernah mengingatkan dia dengan hal-hal yang tidak penting, jangan bicara hal yang menyakiti dan mengingatkan pada luka nya..." Kata Steven, ia melihat Gavin ikut mendengarkan ceritanya
"Hingga Jagoanmu lahir, Gavin semakin besar dan saat Gavin meminta aku menjadi Ayah nya..". Gavin tersenyum.
Elfa tersenyum, ia tidak tahu, kalau Gavin pernah meminta Steven--- menjadi ayahnya.
"Ya aku senang, dari situlah aku berpikir, Jagoanku harus tahu tentang pria itu. Aku minta kamu mengatakan semuanya dan aku yang aku suka dari mu, kamu tidak mau orang lain yang menceritakan tentang Gavin. Yaaa... walaupun proses nya kayak gini. Gavin banyak tahu di usia yang terlalu muda. Tidak seperti aku, aku harus tahu saat aku akan menikah. Ibuku keterlaluan sekali kan... ?"
" Hahaha .. Ayah, nenek bukan tidak ingin mengatakan pada ayah, nenek menunggu ayah bertanya... Ayah tidak berani kan? Tidak seperti aku, aku bertanya pada nenek dan ibu., walaupun nenek juga melarang ku.."
"Lalu apa alasan kamu tidak bertanya pada ibumu ?" Tanya Elfa
" Entahlah sayang, aku hanya tidak ingin menyakiti ibu. tapi aku yakin, ibu pasti punya alasan untuk diam"
"Tapi kamu meminta aku mengatakan yang sebenarnya pada Gavin, Stev.. Apakah kamu juga tidak berpikir itu menyakiti aku ?"
"Ya..aku tidak mau Jagoanku seperti aku... menerka dan menebak. Setiap malam, aku melukis wajah yang tidak jelas dalam tidur malam ku. Tidur dengan rasa penasaran, Mungkin Efeknya tak nampak padaku sekarang. Karena aku sudah berubah wujud menjadi laki-laki dewasa, tapi aku tahu rasanya seperti apa. Melihat anak anak lain punya ayah tapi kita tidak, dan kamu tahu jagoan, ayah bukan tidak berani. Ayah pernah melihat nenek menangis dalam kamar dan memandang foto yang tidak pernah ayah lihat, entah di mana nenek menyembunyikan foto itu sekarang..."
"Tapi harusnya aku kayak ayah saja, aku tidak perlu tahu siapa dia.."
"Jagoan...just enjoy it, kita punya jalan cerita masing masing..dan kamu harus tahu agar kamu tidak melakukan hal yang sama lagi, kamu harus tahu pria yang menyakiti ibumu, mengetahui Seberapa besar dosanya dan kamu jagoan harus membela ibumu.. jangan seperti ayah yang bersembunyi di balik rasa kasihan pada nenek.. Diam dalam rasa penasaran "
Kemudian Elfa berjalan mendekati Steven, ia duduk di antara kedua pria itu, menggenggam tangan mereka
"Dan ibu ingin kita datang besok.."
"Sayang.... seminggu lagi, aku akan menjadi suami mu.."
Steven menatap Elfa...
____
Beberapa hari kemudian...
Aditya menelan ludah, memandang gelisah ke arah gerbang sekolah, bahkan waktu sudah menunjukkan jam pulang sekolah. Jantung Aditya berpacu cepat, setiap kali ia melihat anak laki laki berjalan ke arah pintu gerbang. Tapi lagi lagi yang ia tunggu tak nampak sama sekali
Ia ingat bagaimana anak itu menatapnya, tak ada raut bahagia. Tiba-tiba Aditya melihat Tasya berjalan keluar menuju arah gerbang.
"Tasya... sayang ..."
"Paman....!? "
"Tasya, kalian udah pulang sekolah?"
"Iya paman, apakah paman yang menjemput Tasya? Soalnya Mami sedikit terlambat menjemput Tasya..."
"Ee..ti..e iya sayang, paman jemput Tasya, kalian bener udah pulang semua. Di dalam, anak anak kelas lain juga udah pulang?"
Kening Tasya berkerut " Semua sudah pulang, Tasya keluar paling akhir karena Tasya masih tunggu Mami..."
"Tasya.... Tasya...tunggu..." kedua teman Tasya berlarian memanggil nama Tasya.
"Eh kenapa....? "
"Kamu tahu nggak, hari minggu ini Pak Steven menikah "
"Apa.. kamu serius, siapa yang bilang..?"
"Tante aku, Tante aku patah hati banget.. Hahaha.. Sekarang masih menangis ".
" Ya ampun, oh pantes aja Gavin tidak kelihatan..."
"Tasya, kamu selalu memperhatikan Gavin, Jangan jangan.....Hahaha....?"
"Apaan sih..? Aku nggak punya pikiran kayak gitu ya, Aku cuman merasa dekat aja sama Gavin, seperti... Keluarga.."
Aditya terhenyak mendengar itu, Tasya saja punya ikatan batin dengan Gavin tapi kenapa dia selama ini kehilangan ikatan itu, anaknya hidup tapi dia tidak pernah tahu.
"Ehh...tapi bukannya Pak Steven itu.... ayahnya Gavin yah ?"
"Emang ayah Gavin, hari minggu ayah dan ibunya menikah..."
Aditya memasang telinga, mereka tidak tahu apa yang terjadi, mereka hanya mengatakan apa yang mereka dengar dan lihat, dan setiap kali mereka menyebutnya nama Ravi, Aditya merasakan kehangatan.
"Pernikahan?" Batin Aditya, seperti ada yang menghantam dadanya, Aditya refleks memegangnya. ada sesuatu yang membuat seluruh tubuhnya lemah.
Apakah dia masih memiliki sisa rasa itu? Elfa adalah cinta pertama Aditya, Elfa adalah cinta buta Aditya.
"Tidak.. tidak.. Itu sudah sangat lama, Sekalipun perasaan itu masih ada, aku tidak menginginkannya. Aku punya Chelsea. aku yakin ini hanya debaran biasa " Batin Aditya meragu. Aditya melihat ketiga remaja itu lagi..
"Tapi Tasya, aku kok nggak lihat kesamaan wajah Gavin dan pak Steven--- ya..?"
"Pak Steven dan Gavin itu emang bukan ayah dan anak kandung, pak Steven--- ayah sambung saja"
"Kamu sok tahu banget..." Ujar Tasya.
"Iih emang Tasya, Tante aku kan guru juga, naksir berat sama Pak Steven. Tapi dia kaget pas pak Steven bilang dia udah punya anak. Dan anaknya di sekolah ini juga "
"Terus...?"
"Kalian tahu kan, jiwa detektif Bu Ani tante aku itu... Dia mencari tahu siapa anaknya, na ketahuan lah kalau Gavin anak pak Steven--- dan nggak hanya itu saja, nggak tahu gimana ceritanya,tante bisa tahu. Pak Steven--- hanya ayah sambung.."
Tasya tertawa
"Pernikahan pak Steven heboh karena tante aku nangis seharian di ruang guru"
Ketiga remaja itu tertawa keras..
" Aku kan pernah ngomong, kalau Gavin itu mirip paman aku. ini paman aku " Aditya tersenyum tipis.
Ketiga gadis remaja itu kompak melihat ke arah Aditya. Kedua teman Tasya terkejut. Mereka berdiri tidak jauh dari tempat Aditya sehingga Aditya bisa mendengar semuanya.
"Tasya.. Dia beneran paman kamu ? " Tanya teman Tasya
"Hmm...."
"Wajahnya mirip banget sama Gavin, kayak kembar. emang ada ya, nggak punya hubungan darah tapi memiliki wajah yang sama...?"
"Kata Mami, di dunia luar sana, wajah kita ini juga mirip sama orang lain. "
"Iya, aku juga tahu Tasya.. tapi itu kan mirip salah satu dari wajah saja. Kayak...mirip hidung, mata, bibir. Tapi paman kamu sama Gavin nggak... mereka kayak foto copy wajah.."
Aditya yang mendengar pembicaraan anak-anak itu, semakin merasakan tubuhnya menegang. Hari ini dia betul-betul di kejutkan dengan kabar yang membuatnya kesulitan bernapas. Pernikahan Elfa dan kesamaan wajah Aditya dan Gavin.
Bahkan anak kecil pun bisa melihat kesamaan itu. Aditya ingat saat ia ke kampung Elfa, seorang anak bernama indra bahkan mengatakan kalau Aditya memiliki wajah yang sama persis dengan Aditya.
"Tuhan.. Engkau menunjukkan banyak dosaku pada anak itu, apakah setiap kali dia melihat wajahku.. Dia juga membenci aku ?" Batin Aditya lagi.
Tiba-tiba ia merasa malu, merasa lebih kotor dari penjahat di luar sana. Dia yang pernah membuang darah dagingnya, tanpa merasa bersalah meminta Elfa menggugurkan kandungannya. Dan sekarang dia berdiri menunggu seperti orang bodoh, apa yang ia harapkan? sebuah pelukan dari anak yang ia buang. Atau dia berharap Gavin berdiri di depannya dan memanggil ayah..
Aditya tertawa hambar, ia menertawakan dirinya sendiri "Kamu bodoh sekali Aditya...".
"Paman....apa yang paman lihat kedalam sekolah ? aku udah telpon mami, paman yang akan mengantar aku pulang....kita pulang sekarang. aku lapar sekali." Suara Tasya membuyarkan lamunan Aditya
"Pulang ? kamu yakin sayang, teman teman kamu sudah pulang semua?"
Tasya menatap wajah Aditya, jujur dia merasa aneh dengan kehadiran Aditya di depan sekolah. Hal yang tidak pernah di lakukan oleh pamannya dan sekarang, seolah olah dia sedang menuntut seseorang.
"Paman... apakah paman ingin bertemu seseorang di tempat ini" Tanya Tasya dengan suara pelan
"A.. apa ? Oh tidak sayang, pa...paman memang ingin menjemput kamu. Kita pulang sekarang ya.."
Tasya mengangguk, mobil melaju kencang di jalan. Aditya berpikir kenapa ini semua seperti berputar putar di tempat.
Sekarang bukan lagi tentang penyesalan dan ampunan yang Aditya inginkan, tapi Gavin.. Anak itu, darah dagingnya. Aditya tidak ingin penyesalan ini abadi.
.
.
.
Next....
Chelsea kl km ingin anak cerai lah ma Aditya 🤣😁. tp km kn bucin pingin anak biar jd pewaris semua harta.
tp kn orang kaya hrse bisa dong cerai dng Aditya 🤣🤭.