NovelToon NovelToon
Married By Accident

Married By Accident

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Teen
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Lisdaa Rustandy

"Baiklah, kalau kamu memang tetap ingin mempertahankan janin itu," ucap Bu Esta dengan tatapan tertuju pada perut Raline yang masih rata. Suaranya terdengar tegas dan tajam, membuat Raline menunduk takut.
"Kai akan menikahi kamu, tapi..." kalimatnya terjeda sejenak, sehingga Raline dan orang tuanya menatap wanita itu, menunggu kelanjutannya. "Setelah anak itu lahir, saya akan mengambilnya dan memberikannya pada orang lain. Kamu boleh terus melanjutkan hidupmu, dan Kai... dia akan melanjutkan studi ke Inggris tanpa harus mempertahankan pernikahannya denganmu."
*****
Cek visual karakternya di Ig @lisdaarustandy

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisdaa Rustandy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Maafkan aku, Tuhan...

Sepeninggal Raline, Kaisar hanya duduk diam tanpa melakukan hal lain. Tatapan matanya kosong menatap danau, seolah keindahan danau tak bisa membuatnya terhibur sama sekali.

Kata-kata Raline masih terngiang jelas di telinganya. Seperti cambuk yang memukul keras kesadarannya.

"Hidup gue udah hancur, Kai..."

"Gue adalah pihak yang paling dirugikan..."

Kaisar menghela napas panjang. Dadanya terasa sesak, seolah ada sesuatu yang menekan dari dalam.

Tangannya terangkat, menyentuh pipinya yang tadi ditampar Raline. Rasa panasnya sudah berkurang, tapi bekasnya masih terasa.

Bukan di kulitnya, tapi di hatinya.

Ia menunduk, kedua tangannya bertumpu di lutut. Pandangannya kosong.

Untuk pertama kalinya sejak semalam… ia benar-benar merasa dirinya adalah orang yang paling pengecut di dunia.

Ia hanya memikirkan dirinya sendiri. Masa depannya. Cita-citanya. Reputasinya.

Tapi ia tak pernah benar-benar memikirkan Raline, yang menjadi korban sebenarnya dalam masalah ini.

Ia tak pernah benar-benar membayangkan bagaimana perasaan gadis itu yang harus menanggung semuanya sendirian. Sementara dirinya hanya memikirkan kepentingan diri sendiri, bahkan menjadi orang yang jahat karena meminta Raline membunuh darah dagingnya sendiri.

Kaisar menelan ludah.

"Tuhan..." gumamnya lirih. "Maafkan aku..."

"Maaf karena aku berniat jahat," ucapnya. "Tapi aku juga bingung, Tuhan. Aku belum siap menerima anak itu sebagai anakku. Dan aku... tidak siap untuk menikahi gadis yang telah aku nodai."

Ia memejamkan mata, mengingat malam itu. Malam yang awalnya terasa hangat dan penuh kedekatan… tapi kini berubah menjadi awal dari kehancuran seseorang.

Bukan dirinya. Tapi Raline.

Ia mengacak rambutnya frustasi.

"Kenapa harus kayak gini…" bisiknya pelan.

Ia membenci situasi ini. Tapi lebih dari itu… ia mulai membenci dirinya sendiri.

Sebagai seorang lelaki, ia tak bisa mengambil keputusan yang benar. Hanya memutuskan berdasarkan apa yang menurutnya lebih "simpel" dan tidak merugikan dirinya saja.

Padahal, tanpa ia sadari hal itu justru merugikan Raline dalam segi apapun. Aborsi bukan hanya bisa menyingkirkan janin yang di kandung oleh gadis itu, tapi juga bisa menghilangkan nyawa Raline sekaligus jika tidak beruntung.

Kepala Kaisar terasa semakin pusing oleh masalah yang masih menggantung. Ia tak tahu apa yang harus dilakukan untuk mengakhiri semua ini.

Apakah dirinya harus benar-benar menikahi Raline?

Tapi... bagaimana dengan Nana?

Saat memikirkan Nana, Kaisar langsung menolak apa yang ada dipikirannya tentang menikahi Raline. Jelas ia tak mau pernikahan itu menghancurkan hubungannya dengan Nana.

Nana sudah menjadi bagian dari hidupnya.

Kaisar tak mau kehilangan kebahagiaan bersamanya hanya karena harus bertanggung jawab pada Raline.

Namun, jika bukan menikahi Raline atau aborsi, lalu apa yang bisa ia lakukan untuk keluar dari masalahnya?

"Ini sulit..." gumamnya sembari menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Kaisar cukup frustasi dengan semua ini. Kepalanya seolah akan meledak saat itu juga.

Danau di depannya tetap tenang. Airnya berkilau terkena pantulan cahaya matahari. Angin berhembus pelan, menggoyangkan permukaan air.

Tapi hatinya tidak setenang itu.

Perasaannya sangat kacau saat ini. Membuatnya ingin berteriak sekeras-kerasnya untuk mengeluarkan beban dalam hatinya.

'Drrrt!'

Ponselnya yang berada di saku bergetar.

Kaisar yang tengah galau sedikit terperanjat. Ia merogoh saku jaket dan mengeluarkan ponselnya.

Nama "Mama" muncul di layar.

Ia menatapnya beberapa detik… lalu mengangkat panggilan itu.

"Halo, Ma."

"Kai, kamu di mana?" tanya ibunya dari seberang telepon.

"Di luar, Ma."

"Pantas saja Mama gak lihat kamu dari pagi. Apa sedang ada kesibukan?" 

Kaisar terdiam sejenak.

"Gak ada. Cuma lagi ngumpul sama temen."

"Yakin?" 

"Kenapa Mama tanya gitu?"

Ibunya menghela napas pelan. "Mama perhatikan dari kemarin, sepertinya kamu sedang memikirkan sesuatu. Bahkan tadi malam saat makan malam pun kamu lebih banyak ngelamun." 

"Sebenarnya ada apa?" tanya ibunya. "Ada masalah yang berat?" 

Pertanyaan itu membuat Kaisar tercekat.

Rupanya gerak geriknya semalam terus diperhatikan oleh ibunya. Dan wanita itu menyadari sesuatu yang tak biasa darinya.

Ada jeda panjang setelah pertanyaan itu. Kaisar diam cukup lama.

Ia ingin menjawab tidak.

Seperti biasa.

Berpura-pura semuanya baik-baik saja.

Tapi entah kenapa… hari ini terasa berbeda.

Hari ini… ia merasa lelah membohongi dirinya sendiri.

"Ma..." ucapnya akhirnya, pelan dan ragu.

"Ada apa, Kai?" tanya ibunya. "Kalau memang ada masalah, ceritakan. Biar Mama tahu, dan mungkin Mama bisa bantu. Mama gak suka lihat kamu melamun seperti tadi malam." 

Kaisar menutup mata.

Dadanya terasa semakin sesak.

Apakah ia harus cerita sekarang pada ibunya?

Tapi bagaimana reaksi wanita itu jika tahu yang sebenarnya?

"Kai," panggil ibunya. "Ada apa?" 

Kaisar menelan ludah.

Untuk sesaat… ia hampir mengatakan semuanya.

Tentang Raline. Tentang kehamilan gadis itu. Tentang ketakutannya. Dan tentang dirinya yang tak siap bertanggung jawab atas perbuatannya.

Tapi…

Ia tidak sanggup.

Ibunya adalah orang yang tegas dan keras terhadap dirinya. Kehidupannya bergantung pada apa yang ditentukan olehnya.

Kaisar anak tunggal, calon penerus keluarga, dan ia harus menuruti semua perintah sang ibu tanpa terkecuali.

Ayahnya sudah meninggal tiga tahun lalu, dan Kaisar harus meneruskan jejak ayahnya. Sehingga, sang ibu ingin dirinya benar-benar persis ayahnya dalam banyak hal. Maka kehidupan Kaisar diatur oleh ibunya.

Jika saja ibunya tahu apa yang telah ia lakukan hingga menyebabkan masalah ini, pasti ibunya akan sangat marah dan mungkin akan memintanya untuk pergi dari Indonesia demi menjaga nama baik keluarganya.

Kaisar kembali nunduk dalam, sementara ponsel masih menempel di telinganya.

"Kai..." panggil sang ibu karena anaknya sejak tadi diam.

"...Iya, Ma," jawabnya lirih.

"Kenapa diam? Kamu kenapa sih?" 

"Aku gak apa-apa, Ma. Udah dulu ya. Aku pulang sebentar lagi." Kaisar buru-buru ingin mengakhiri panggilan.

"Kai, tadi Mama tanya ada apa, kan? Kenapa kamu gak jawab?" 

"Ma, aku sibuk. Bye."

Kaisar memutus sambungan telepon sepihak, tanpa menunggu jawaban dari ibunya.

Setelah itu, ia mematikan daya ponselnya untuk mencegah telepon masuk selama beberapa jam hari ini. Kepalanya penuh dengan Raline. Ia tak bisa berbicara banyak dengan siapapun saat ini.

Ia memasukkan ponselnya ke saku jaket, lalu kembali menatap danau.

Bayangan wajah Raline muncul lagi di pikirannya. Utamanya kalimat terakhir yang terucap dengan linangan air mata…

"Gue bakal bilang bapaknya mati."

Degh!

Hatinya terasa seperti diremas.

Mengingat itu, ia benar-benar merasa kehilangan sesuatu.

Kata-kata itu bukan hanya terasa seperti ancaman baginya, tapi juga seperti doa yang diucapkan Raline untuknya akibat keegoisan yang masih ia pertahankan.

*****

1
Nurul Hilmi
ganteng amat visual kai Thor,,, 😍
Nurul Hilmi
mulai... mulai... kai... lama lama ❤😘
Nurul Hilmi
lanjut Thor.
bacanya Brebes mili
Yantie Narnoe
lanjut...👍
Nurul Hilmi
lanjut thor
Nurul Hilmi
double up Thor
bagus ini cerita😍
Nurul Hilmi
lanjut thor
Nurul Hilmi
lelaki juga kaisar. gentle dan bertanggung jawab
deeRa
Lepas Dari Kai, kamu & anakmu harus bahagia ya Lin... 😊
deeRa
no comment, ikut alur nya saja😊
next ya
falea sezi
cpet cerai kalo. abis lahiran. ortu. kaisar. toxic
Nurul Hilmi
jangan kasih cinta buat kaisar lin. biar die nyesel😄
Lisdaa Rustandy: cinta akan hadir saat waktu terus berjalan. bahkan saya yg menikah tanpa cinta aja sekarang jadi bucin🤣
total 1 replies
Nurul Hilmi
anak jangan dikasih orang lain, tetep raline yang rawat...
deeRa
Ganbatee Lin💪😊
falea sezi
jangan mau pergi jauh dr situ besarin anak sendiri ibunya egois cucu kandung mau di buang dajjal bgt ne orang
deeRa
Nyesek ya jd raline, 🥺
ROSULA DARWATI
kasihan Raline
Melinda Cen
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!