Pernikahan memang idealnya lahir dari persiapan, cinta, dan harapan yang matang. Tapi hidup kadang berjalan di luar rencana bahkan lewat jalan yang tak pernah kita bayangkan sama sekali.
Ketika pernikahan terjadi secara mendadak karena sebuah insiden, rasa bahagia dan sakral itu bercampur dengan kaget, takut, bahkan kebingungan.
Apakah pernikahan dadakan bisa membawa kebahagiaan??
Apakah pernikahan tanpa cinta dan saling mengenal lakan berjalan mudah?
yuk ikuti ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R²_Chair, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AA 10
Alyana menatap langit-langit di kamarnya, waktu masih malam saat dirinya kembali membuka mata.Alyana menoleh ke arah jam dinding,baru jam dua malam.Berarti dirinya baru tidur dua jam, namun rasanya begitu lama.
Alyana menoleh ke arah sampingnya,sosok laki-laki yang beberapa jam lalu sah menjadi suaminya kini sedang terlelap tidur menghadap pada dirinya.
Tak ada bantal guling sebagai sekat di antara keduanya, karena nyatanya Arka sama sekali tidak keberatan jika harus tidur satu kasur dengan Alyana.
Alyana kembali teringat kejadian-kejadian beberapa jam lalu.Airmatanya kembali menetes di kedua ujung matanya yang semakin lama semakin deras hingga terdengar isak lirih dari mulutnya.
Bukannya masih belum menerima pernikahannya ini, tapi justru Alyana bingung harus bersikap bagaimana.Ia bingung dengan tugas barunya sebagai seorang istri.
Alyana bingung bagaimana cara ia menjadi seorang istri yang baik,ia bingung bagaimana masa depannya.Apakah sekolahnya harus putus sampai disini?
Padahal ia begitu semangat ingin menggapai cita-citanya sebagai seorang bidan.
Jika bundanya adalah seorang dokter ahli jantung, maka dirinya begitu tertarik menjadi seorang bidan yang membantu orang-orang melahirkan.Membantu orang lain melahirkan sebuah kehidupan baru rasanya begitu membahagiakan untuk dirinya.Apalagi dirinya bisa menyaksikan perjuangan seorang Ibu melahirkan anak-anaknya, akan menjadi sebuah pengalaman berharga bagi Alyana.
Tanpa Alyan tau,Arka membuka matanya sedikit.Ia merasakan kasur yang sedikit bergoyang membuat tidurnya terganggu.Dan benar saja, ia melihat Alyana terdiam.
Arka masih membiarkan istri kecilnya itu.
"Segitu gak mau nya lo nikah sama gue, sampe terus nangis kaya gitu.Gue tau ini semua bukan kemauan kita, tapi bukan berarti lo kaya gini terus."
Alyana memutuskan untuk bangun,ia langsung pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Arka masih memperhatikan Alyana,begitu pintu kamar mandi tertutup ia langsung menghela nafas panjang.
"Bakal kaya gimana ya hidup gue kedepannya,punya istri bocil.Gak punya ekspektasi tinggi. Otak gue mendadak buntu." Ucap Arka lirih.
Alyana begitu khusyuk melaksanakan sholat malamnya.Pikiran dunianya ia singkirkan, hanya fokus pada sang Pencipta.Pasrah berserah diri pada sang illahi Robbi.
Ia mengusap pelan Al-Quran kecil pemberian sang ayah saat dulu pulang Ibadah Haji.Hatinya bergetar kembali,kilatan kenangan bersama sang ayah kembali berputar.
Saat dirinya belajar mengaji bersama sang ayah.Bahkan sang Ayah juga lah yang mengajarkannya sholat untuk pertama kalinya, begitu dekat dirinya dengan sang Ayah.
"Ayah.. " Lirihnya dalam isak tangis.
Arka terpaku mendengarnya,ada sudut hatinya yang terasa tak nyaman.
"Maafkan Alya Yah, bun.."
Alyana mengusap air matanya kemudian membuka Al-Quran, lantunan ayat suci mulai terdengar.Begitu merdu dan lembut membuat Arka tertegun.Rasanya begitu nyaman dan hangat.
Arka bahkan tanpa sadar tersenyum manis mendengar suara lembut Alyana,hingga setengah jam berlalu. Ia melihat jam menunjukan pukul tiga malam, Arka buru-buru terbangun.
Bukan hanya Alyana, tapi dirinya pun memang sudah terbiasa untuk sholat malam.
Arka buru-buru ke kamar mandi, Alyana yang melihat Arka keluar dari kamar mandi dengan wajah basah. Ia langsung berjalan menuju lemari untuk mengambilkan sarung dan koko yang semalam di berikan sang bunda.
Alyana menyiapkan sejadah untuk Arka, tak peduli salah atau benar. Yang jelas Alyana hanya ingin membantu Arka sebagai sesama umat Allah dalam pikirnya.
Arka melirik Alyana sekilas,ia menghargai usaha Alyana yang mau melayaninya.
Jika tadi Arka yang memperhatikan Alyana secara diam-diam, kini giliran Alyana yang memperhatikan Arka diam-diam.
Ia akui Arka sangatlah tampan dengan wajah perpaduan Arab dan Indonesia.Tubuhnya yang tinggi hampir setara dengan sang Ayah dan mungkin lebih tinggi sedikit Arka di banding sang Ayah.Namun anehnya jantung Alyana sama sekali tidak bergetar melihatnya.
Hingga tak terasa waktu subuh pun tiba,Alyana bingung harus bersikap bagaimana.
"Mau shalat berjamaah? " Tanya Arka saat melihat Alyana yang masih diam.
"Boleh." Jawab Alyana singkat.
Arka mengangguk, keduanya langsung bersiap untuk shalat.Begitu khusyuk dan tenang, seolah di antara keduanya tidak terjadi apa-apa.
Alyana akui,suara Arka saat melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran terdengar fasih dan tenang.Walaupun tidak semerdu suara sang Ayah, namun dari segi makharijul hurufnya begitu jelas.Ia yakin Arka tau tentang ilmu agama.
Alyana jadi penasaran siapa kah sebenarnya Arka dan seperti apa sifat Arka yang sebenarnya.Namun untuk bertanya langsung ia tak berani,biarlah ia cari tau dengan cara lain.
Shalat subuh berjamaah itu akhirnya selesai, tak ada adegan mencium tangan atau kening seperti layaknya suami istri.Hanya ada keheningan di antara keduanya.
Alyana terlebih dahulu beranjak dari duduknya dan kemudian masuk ke dalam kamar ganti untuk berganti pakaian.Rencananya ia akan pergi ke dapur untuk membantu sang nenek dan bunda nya masak.
"Alya pamit mau ke dapur,Assalamu'alaikum" Ucap Alyana tanpa berani memandang sang suami yang sedang duduk di kursi.
"Hm" Jawab singkat Arka.
Selepas kepergian Alyana, Arka memandangi seluruh penjuru kamar Alyana. Semalam ia tidak terlalu memperhatikan kamar sang istri.
Kamar yang sama luasnya dengan kamar miliknya, hanya saja jika di kamarnya di dominasi dengan warna monokrom, berbeda dengan kamar milik Alyana yang berwarna pastel.Di sudut ruangan ada lemari yang berisi berbagai boneka dan juga pernak pernik.
Ada meja rias dan juga meja berlajar serta sebuah rak buku yang begitu penuh dengan deretan buku-buku dan novel.
Arka kemudian berjalan perlahan menyusuri setiap sudut kamar milik Alyana.Beberapa foto menempel rapi di dinding.Ada Alyana bersama orangtua nya dan orang-orang yang tadi ia temui.Namun langkah Arka berhenti tepat di depan sebuah foto yang menarik perhatiannya.
Seorang gadis dengan hijab berwarna beige sedang tersenyum dan di rangkul oleh seorang laki-laki tinggi dan tampan.Keduanya nampak tersenyum manis dan bahagia.
"Dia siapa? " Bisiknya saat memperhatikan foto di depannya. "Apa dia kakanya? Tapi yang gue denger dari bunda, dia anak tunggal.Terus ini siapa? pake rangkul-rangkul segala mana sambil senyum keliatan banget senengnya." Ucap Arka pada dirinya sendiri.
"Ah elah..paan sih Ka, lo kepo banget sama urusan orang.Biarin aja kali, toh lo bukan siapa-siapa nya." Ujar Arka kembali. Seolah ia lupa dengan statusnya sekarang yang sudah menjadi seorang suami dari Alyana.
Entah ia lupa atau memang belum menerima,namun yang Arka tau jika tidak seharusnya ia ikut campur urusan Alyana.
"Cantik juga nih cewe.Umurnya baru 17tahun tapi badannya gak kaya bocil jir.Tapi sekarang gue bisa liat dengan jelas wajah lo cil.Gue akui lo emang cantik lo natural, kalah sama cewe gue yang emang suka make up." Bisik Arka, tanpa sadar ia mengusap pelan wajah Alyana dalam foto tersebut.
...🌻🌻🌻...
Apa yg dilakukan Arka setelah menikah,bahkan dia malu kalau bertemu teman teman nya bahwa dia sdh menikah.Laki kaki model gini buang aja' ditempat sampah gak berharga.
semangat
semoga mereka bisa menyelesaikan masalah dengan baik.