Kaniya, seorang wanita muda yang berani, menolak perjodohan yang diatur oleh orang tuanya. Dia kabur dari rumah dan mencari perlindungan di perusahaan tempatnya bekerja. Di sana, dia bertemu dengan atasannya, Agashtya, yang juga kabur dari perjodohan orang tua. Mereka berdua bekerjasama untuk menjaga rahasia masing-masing, tapi suatu malam, mereka tak sengaja tidur bersama.
Beberapa bulan kemudian, mereka berdua terkejut ketika mengetahui bahwa orang yang dijodohkan oleh orang tua mereka tak lain adalah mereka sendiri. Kaniya dan Agashtya harus menghadapi kenyataan bahwa mereka telah jatuh cinta, tapi adakah kesempatan bagi mereka untuk bersama? Dan apa yang terjadi ketika adik mereka, Bintang dan Shanaya, juga saling jatuh cinta satu sama lain?
Kaniya dan Agashtya duduk di ruang kantor, mencoba memahami situasi mereka.
"Apa bapak percaya ini?" tanya Kaniya, suaranya hampir tidak terdengar
Agashtya menggelakkan kepalanya. "Saya tidak tahu apa yang harus dikatakan. Aku tidak pernah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Wilis , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selisih Waktu
Sesuai dengan apa yang telah di rencakan oleh kedua keluarga besar, malam ini mereka akan bertemu di Sky Garden Cafe untuk mempertemukan putra dan putrinya yang akan di jodohkan.
Kaniya malam ini sudah tampil begitu cantik dengan casual dressnya yang berwarna biru muda dan rambut yang sudah di curly bagian bawahnya.
Ia tampak pasrah di mobil yang saat ini dikendarai oleh pak Arya dan disampingnya di dampingi oleh bu Anindika.
"Nanti kamu jaga sikap kamu. Jangan kekanak-kanakan di hadapan mereka paham!" Ujar bu Anindika, tegas mengingatkan Kaniya terus menerus sehingga membuat Kaniya merasa bosan.
Gadis itu menghembuskan nafasnya kasar dan memutar bola matanya jengah, namun menjawab dengan pasrah. "Iya mah..." Jawab Kaniya, pasrah.
Sementara itu disisi lain Agashtya pun juga berpasrah diri saat ini di dalam mobil milik pak Narendra yang tengah melaju membawa mereka sekeluarga menuju lokasi yang telah ditentukan.
"Nak kali ini jangan kecewakan daddy dan mommy ya nak..." Ucap bu Arunika, lembut penuh kasih sembari membelai pucuk kepala Agashtya.
"Ya mom..." Jawab Agashtya, singkat.
Namun tiba-tiba Bintang yang duduk di samping pak Narendra itu pun mengompori kakaknya.
"Yaelah bhai, kalau loe gak mau dijodohin sama itu cewek rugi banget, dia sempurna dan unik banget. Kalau loe gak mau biar buat gue aja..." Ucap Bintang, ringan.
"Diem loe bocah. Mana boleh loe duluan yang nikah, harus gue dulu dong yang kakak siapa disini..." Sahut Agashtya, protes.
Candaan kedua pemuda itu membuat pak Narendra dan bu Arunika tertawa ringan melihat tingkah kedua putranya yang kini sudah tumbuh dewasa.
Antara Bintang dan Kaniya memang belum saling bertemu satu sama lain siang tadi saat Bintang berada di kantor milik Agashtya.
Pasalnya Kaniya tengah sibuk diruangan kerjanya untuk menulis ulang script film yang akan dirilis sekaligus membuat banner pencarian bakat bagi semua kalangan.
*********
Alex yang tidak ikut bersama dengan tuannya kini tengah berada di balkon kamarnya yang letaknya bersebelahan dengan kamar Agashtya dan Bintang.
Alex duduk santai di balkon kamarnya, menyesap gulungan tembakau halus di tangannya dan menyeruput secangkir kopi hitam.
Netranya terpaku pada layar ponselnya, memeriksa setiap kamera CCTV yang terpasang di kantor, apartemen bosnya, dan kediaman keluarga besar Narendra Wijaya.
"Sherly...Sherly...kasihan banget kamu, sudah kehilangan pekerjaan, dituntut mas bos ganti rugi sejumlah kerugian yang kamu gelapkan sekarang viral juga dapet hujatan dari para netizen. Kamu kalau gak jahat cantik tapi sayang kamu jahat..." Gumam Alex, sembari tersenyum kecut.
Kopi hitamnya masih hangat, dan Alex menyeruputnya dengan pelan, menikmati sensasi aroma khas kopi robusta. Ia merasa puas dengan hasil pengecekan CCTV dan sosial medianya hari ini.
Alex memang salah satu dari sedikit pekerja yang diperlakukan dengan sangat baik oleh keluarga Narendra Wijaya.
Pak Narendra dan bu Arunika selalu memastikan bahwa semua pekerja di rumah mereka merasa nyaman dan dihargai.
"Terima kasih, pak...terima kasih, bu..." Gumam Alex, sambil menganggukkan kepala, meskipun tidak ada orang di sekitarnya.
Alex merasa beruntung bisa bekerja di keluarga seperti Narendra Wijaya. Mereka tidak hanya majikan, tapi juga keluarga bagi Alex dan pekerja lainnya.
Tuan India satu ini memang sangat dermawan sekali bagi mereka yang bekerja padanya.
Suatu keberuntungan bukan seorang Kaniya yang akan dijodohkan dengan putra sulung keluarga ini yang tak lain adalah Agashtya.
***********
Keluarga besar Wijaya sudah tiba di cafe lebih awal daripada keluarga Permana. Mereka pun langsung saja mendatangi tempat yang sudah di booking sore tadi.
Agashtya tidak kabur kali ini, dirinya hanya bisa berpasrah diri. Kali ini dirinya ikut duduk bersama keluarganya sembari menunggu kedatangan keluarga gadis yang akan dijodohkan dengannya.
Karena merasa bosan Agashtya berpamitan kepada orang tuanya untuk ke toilet sebentar.
"Dad...mom...aku permisi ke toilet dulu..." Pamit Agashtya, santun.
"Ya, jangan lama-lama..." Sahut pak Narendra, tanpa menoleh yang netranya masih terpaku pada layar tabletnya.
Agashtya tidak menuju toilet, melainkan berbelok ke arah halaman luar cafe. Dikeluarkannya dari saku jasnya sebungkus gulungan tembakau halus yang kemudian ia nyalakan dan mulai disesapnya.
"Huft...apa kabur aja ya? Lagian keluarga cewek itu juga belum datang. Daddy dan mommy juga masih sibuk dengan tablet masing-masing..." Gumam Agashtya, yang pandangannya menatap ke arah kedua orang tuanya yang duduk bersebelahan dengan Bintang.
Tanpa berpikir panjang, Agashtya mengeluarkan ponselnya dari saku jasnya untuk memesan taksi online. Tak perlu sampai menunggu lama, sebuah taksi berwarna biru pun tiba di hadapannya.
Agashtya langsung masuk ke dalam taksi dan memberikan alamat apartemennya kepada sopir. Ia merasa lega bisa kabur dari situasi yang tidak nyaman ini.
Disaat yang bersamaan pula lah mobil pak Arya memasuki area cafe. Kedua mobil itu pun saling bersimpangan satu sama lain. Kedua keluarga itu pun akhirnya saling berbaur satu sama lain.
Usai saling bersambut dengan hangat, kini mereka duduk di kursi masing-masing. Setelah menyadari Agashtya tak kunjung kembali dari toilet, pak Narendra pun mulai curiga dengan pemuda satu itu.
Akhirnya ia pun memerintahkan Bintang untuk mencoba mengecek di toilet, namun hasilnya nihil, tidak ada sosok Agashtya disana maupun di area lain cafe ini.
Hal itu membuat pak Narendra yang semula berekspresi ceria seketika menjadi masam. "Bagaimana?" Tanya pak Narendra, tegas.
Bintang hanya menggeleng pelan, barulah menjawab pertanyaan yang dilontarkan sang ayah. "Gak ada dimana-mana dad, kabur ini sih kayaknya..." Sahut Bintang, datar.
Pak Narendra pun tampak kesal dan mensugar rambutnya kasar, tanda dia frustasi dengan kelakuan putranya itu.
Tanpa basa-basi, ia mengambil benda pipih persegi panjang dari dalam saku jasnya. Ia tekan kontak nomor Agashtya, namun ponselnya tidak aktif. Lebih tepatnya, pemuda itu mematikan data seluler ponselnya.
Hal itu kian membuat pak Narendra geram. Ia mendengus kesal dan meminta maaf pada keluarga besar pak Arya karena sikap putranya yang dianggap kurang ajar itu.
"Aa...pak Arya, mohon maafkan sikap putra saya yang tiba-tiba saja kabur dari rencana pertemuan ini. Tadi dia sudah bersama dengan kami disini, tapi satu jam yang lalu dia berpamitan ke toilet dan akhirnya kabur..." Jelas pak Narendra, cemas.
Pak Arya yang memakluminya itu pun dapat memahami maksud permintaan maaf dari pak Narendra.
"Ya, pak Narendra, tidak apa-apa, toh apa bedanya dengan putri saya yang satu ini saat di pertemuan pertama waktu itu..." Jawab pak Arya, bijaksana.
Pak Arya kali ini membawa kedua putrinya. Ya, Shanaya yang disaat pertemuan pertama keluarga ini memang tengah dalam perjalanan kembali dari Surabaya saat itu.
"Oh, ya, dikarenakan kita sudah terlanjur disini, ya sudah, kita lanjutkan makan malam bersama saja, bagaimana?" Ucap pak Narendra, untuk mencairkan suasana, kebetulan juga pria paruh baya itu juga belum makan saat pulang dari kantornya.
Hal itu disambut dengan hangat oleh pak Arya dan keluarga. Hanya Kaniya yang tampak malas berhadapan dengan keluarga ini kembali.
Berbeda dengan Bintang yang merasakan suatu getaran hati yang tak bisa diutarakannya saat memandang pesona seorang Shanaya. Begitu pula dengan Shanaya yang juga merasakan hal yang sama.
Tak heran apabila ada kedua insan yang saling tersenyum satu sama lain dan saling curi-curi pandang satu sama lain.
Namun, tak sedikitpun ada yang menyadari kedua insan muda mudi itu, dikarenakan terlalu fokus pada pembicaraan mengenai perjodohan antara Agashtya dan Kaniya.
Inilah yang disebut sebagai sebuah pepatah yang mengatakan "Sekali melabuhkan sebuah kapal dua pulau terlampaui" begitulah yang tengah terjadi saat ini.
Dimana niatnya ingin menjodohkan Agashtya dengan Kaniya malah justru anak yang lain juga saling jatuh cinta dengan sendirinya.
Bersambooo....
Notice.
Bhai : Sebuah panggilan untuk kakak laki-laki dalam bahasa India.
Visualnya Pak Baskara Arya Prasetya ya guys yah...
Visualnya Mama Anindika ya guys