Arka adalah pria biasa yang hidupnya selalu penuh kegagalan. Dipecat dari pekerjaan, ditinggalkan pacar, dan hampir kehilangan harapan hidup.
Namun setelah kecelakaan misterius, hidupnya berubah total ketika sebuah Sistem Harem Legendaris muncul di dalam pikirannya.
Sistem itu memberinya misi aneh: bertemu wanita-wanita luar biasa yang akan mengubah takdirnya.
Dari CEO cantik yang dingin, idol terkenal, hacker jenius, hingga pembunuh bayaran misterius—setiap wanita yang mendekatinya membuka kekuatan baru bagi Arka.
Namun semakin banyak wanita yang masuk dalam hidupnya, semakin berbahaya dunia yang harus ia hadapi.
Akankah Arka mampu mengendalikan kekuatan sistem itu… atau justru tenggelam dalam permainan takdir yang lebih besar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wedanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batas yang Dilampaui
Langit di atas Akademi Arclight kini benar-benar berubah menjadi medan pertempuran para raksasa. Energi gelap berputar seperti galaksi kecil yang tidak stabil, memancarkan cahaya hitam ke segala arah. Setiap hembusan angin terasa berat, dipenuhi tekanan sihir yang begitu kuat hingga membuat napas para siswa di bawah terasa sesak.
Bahkan para instruktur yang sudah berpengalaman puluhan tahun pun tidak bisa menyembunyikan ketegangan di wajah mereka.
Ren melayang di udara dengan aura yang terus membesar. Kabut hitam yang mengelilinginya kini tidak lagi terlihat seperti asap biasa, melainkan seperti pusaran hidup yang bergerak mengikuti setiap detak energinya.
Matanya yang biasanya tenang kini dipenuhi kilatan cahaya gelap yang berdenyut perlahan. Ia bisa merasakan kekuatan itu semakin dalam meresap ke dalam dirinya, seolah-olah sesuatu yang telah lama terkunci akhirnya menemukan jalan keluar.
Di hadapannya, Kael berdiri dengan aura yang tidak kalah mengerikan. Energi gelap di sekelilingnya membentuk lapisan seperti api hitam yang menjilat udara. Senyumnya masih ada, tetapi kini ada sesuatu yang lebih dalam di baliknya—kegembiraan yang hampir terlihat seperti kegilaan.
“Ini… lebih dari yang kuharapkan,” kata Kael pelan, suaranya hampir tenggelam dalam suara angin yang berputar di sekitar mereka. “Kamu bukan hanya pewaris… kamu adalah kunci.”
Ren mengerutkan kening sedikit. Kata-kata itu terasa aneh, tetapi ia tidak punya waktu untuk memikirkannya lebih jauh. Energi di dalam tubuhnya terus meningkat, dan ia harus fokus untuk mengendalikannya agar tidak lepas kendali.
Di bawah mereka, pertempuran masih berlangsung, tetapi kini banyak yang mulai berhenti sejenak hanya untuk melihat ke langit. Bahkan anggota Ordo Umbra sendiri terlihat ragu untuk mendekat ke area tepat di bawah Ren dan Kael, karena tekanan energi di sana terlalu besar.
Mira berdiri di antara reruntuhan batu, napasnya sedikit terengah setelah bertarung tanpa henti. Api di tangannya masih menyala, tetapi kini ia hanya menatap ke atas dengan ekspresi campuran antara kagum dan khawatir.
“Kalau ini terus berlanjut…” gumamnya pelan, “seluruh akademi bisa hancur.”
Lilia berdiri tidak jauh darinya, tetap tenang seperti biasa, tetapi matanya menunjukkan keseriusan yang sama. “Energi mereka sudah melewati batas pertarungan normal,” katanya pelan. “Ini sudah seperti pertempuran antara penyihir tingkat bencana.”
Nyra justru terlihat semakin bersemangat. Ia menyandarkan bahunya ke dinding yang retak sambil tersenyum lebar. “Aku tidak peduli soal akademi,” katanya santai. “Aku hanya ingin melihat siapa yang menang.”
Selene berdiri diam, matanya tidak pernah lepas dari Ren. Ia bisa merasakan perubahan yang sangat jelas. Kekuatan Ren tidak hanya meningkat—ia berevolusi.
“Ini bukan lagi kekuatan yang sama seperti sebelumnya,” bisiknya pelan. “Ini… sesuatu yang lebih tua.”
Di langit, Kael akhirnya mengangkat kedua tangannya. Lingkaran sihir raksasa muncul di sekelilingnya, jauh lebih besar dari sebelumnya. Simbol-simbol kuno berputar dengan cepat, memancarkan cahaya merah gelap yang membuat langit terlihat seperti retak.
“Baiklah,” katanya dengan nada penuh antusias. “Mari kita lihat seberapa jauh kamu bisa melangkah.”
Energi hitam mulai berkumpul di seluruh lingkaran sihir itu, membentuk sesuatu yang jauh lebih besar dari serangan sebelumnya. Udara di sekitar mereka bergetar hebat, seolah-olah ruang itu sendiri mulai tidak stabil.
Ren melihat serangan itu dengan fokus penuh. Ia tahu satu hal dengan pasti—jika ia mencoba menahannya dengan kekuatan yang sama seperti sebelumnya, itu tidak akan cukup.
Ia menarik napas panjang.
Di dalam dirinya, ia merasakan sesuatu bergerak lebih dalam lagi. Seperti lapisan lain yang selama ini terkunci, menunggu untuk dibuka.
Namun kali ini… ia tidak menahannya.
Ren menutup matanya sejenak.
Dalam kegelapan itu, ia melihat sosok pria yang sama seperti sebelumnya. Berdiri di tengah kehampaan, dengan aura yang jauh lebih besar dari apa pun yang pernah Ren rasakan.
“Ayah…” bisik Ren tanpa sadar.
Sosok itu tidak menjawab, tetapi mengangkat tangannya perlahan.
Dan untuk pertama kalinya, Ren tidak merasa takut pada kekuatan itu.
Ia menerimanya.
Ren membuka matanya.
Aura di sekelilingnya langsung berubah.
Kabut hitam yang sebelumnya berputar kini meledak menjadi pusaran besar yang menyelimuti seluruh tubuhnya. Cahaya gelap yang keluar darinya jauh lebih terang, hampir seperti bintang hitam yang bersinar di langit.
Selene langsung menyadari perubahan itu.
“Dia… sudah melewati batasnya.”
Kael tertawa keras.
“YA! ITU DIA!”
Ia menurunkan tangannya.
“Umbra Annihilation!”
Energi raksasa itu jatuh dari langit seperti meteor hitam yang siap menghancurkan segalanya.
Ren tidak bergerak mundur.
Ia mengangkat tangannya perlahan.
“Void… Sovereign.”
Suara Ren terdengar berbeda. Lebih dalam. Lebih berat.
Energi hitam di sekelilingnya membentuk sesuatu yang menyerupai sayap besar di belakangnya. Ruang di sekitar tubuhnya mulai terdistorsi, seperti realitas itu sendiri tidak mampu menahan kekuatan yang ia keluarkan.
Ia mendorong tangannya ke depan.
BOOOOOOOM
Dua kekuatan raksasa bertabrakan di langit.
Ledakan yang terjadi jauh lebih besar dari sebelumnya. Cahaya hitam dan merah menyelimuti seluruh langit di atas akademi, menutupi matahari sepenuhnya.
Gelombang kejut menyapu seluruh area, membuat banyak siswa terjatuh ke tanah.
Bahkan para instruktur harus memperkuat pertahanan mereka untuk tetap berdiri.
Bangunan akademi bergetar hebat.
Beberapa jendela pecah.
Debu jatuh dari atap.
Di tengah ledakan itu, waktu seolah berhenti.
Lalu perlahan…
cahaya mulai meredup.
Ketika semuanya kembali terlihat…
Ren masih berdiri di udara.
Namun sesuatu telah berubah.
Aura di sekelilingnya kini jauh lebih stabil, tetapi juga jauh lebih dalam. Seperti lautan gelap yang tidak memiliki dasar.
Di sisi lain, Kael mundur beberapa meter untuk pertama kalinya.
Senyumnya masih ada, tetapi kini ada sesuatu yang baru di matanya.
Kejutan.
“Menarik…” katanya pelan.
Ia menyeka sedikit darah dari sudut bibirnya.
“Sudah lama sekali aku tidak merasakan ini.”
Ren menatapnya dengan tenang.
Namun di dalam dirinya, ia tahu satu hal.
Ia sudah melewati batas.
Dan tidak ada jalan kembali.
Langit di atas mereka masih bergetar.
Pertarungan belum berakhir.
Namun sekarang…
keseimbangannya telah berubah.