Seorang pemuda dengan kutukan api di dalam tubuhnya, membuat dirinya dibenci oleh seluruh warga desa.
Padahal di dalam hatinya, Subosito tak ingin melukai siapa pun dengan apinya.
Banyak pendekar yang mengincar kekuatan itu, untuk kepentingan pribadi mereka
Subosito mencoba untuk mengarungi dunia pendekar yang tidak mudah.
Bagaimana kisah perjuangan pemuda api itu dengan kutukan yang dimilikinya?
Ikuti keseruan kisahnya dalam 'Subosito'.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eko yepe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penjinakan Sang Mitos
Angin di puncak Gunung Lawu tiba-tiba berhenti berdesir, seolah alam semesta sedang menahan napas menyaksikan sebuah peristiwa yang hanya terjadi sekali dalam seribu tahun.
Di lereng dekat Telaga Kuning, Subosito berdiri tegak di samping lubang tempat dia baru saja menjalani Tapa Pendem . Tidak ada lagi uap panas yang menyesakkan atau bau hangus yang menyengat. Yang ada hanyalah keheningan yang berwibawa.
Di hadapannya, ratusan obor mengelilingi bukit, menciptakan lingkaran api berjalan naik. Mereka adalah sisa-sisa anggota Padepokan Gagak Hitam yang selamat dari amukan Subosito sebelumnya, bergabung dengan para tentara bayaran yang tergiur oleh sayembara seribu keping emas.
Di barisan paling depan, seorang pria terkulai kelam dengan sebagian wajahnya hancur akibat luka bakar melangkah maju. Dia adalah Ki Guntur Sadis, salah satu petinggi Gagak Hitam yang berhasil lolos saat kekacauan di padepokan.
“Akhirnya kami menemukanmu, pembunuh!” suara Ki Guntur parau, penuh dengan racun kebencian. "Kau pikir dengan bersembunyi di ketiak Resi tua ini kau bisa selamat? Hari ini, kau harus mati ditangan kami!"
Subosito menanggapinya dengan cara yang berbeda. Tidak ada lagi ketakutan, tidak ada lagi amarah yang meluap-luap. Mata jernih, mencerminkan ketenangan telaga yang tak terduga di dalamnya.
“Aku tidak pernah ingin membunuh siapa pun,” ucap Subosito. Suaranya rendah, entah bagaimana, kata-katanya terdengar jelas di telinga setiap orang yang hadir, seolah dia berbicara tepat di samping mereka.
"Kebencian kalian hanya akan memberi makan api yang salah. Pulanglah, selagi Gunung Lawu masih mengizinkan kalian bernapas."
Ki Guntur tertawa terbahak-bahak, sebuah tawa yang kering dan mengerikan. "Kau bicara soal izin? Lihat dirimu! Kau hanya bocah ingusan yang kebetulan memiliki setan di punggungmu. Serang dia! Bawa rantai pengikatnya!"
Puluhan pendekar Gagak Hitam menerjang maju. Mereka melepaskan Rantai Pengikat Dewa, sebuah senjata pusaka yang telah dirajah dengan mantra pengunci energi gaib. Rantai-rantai logam hitam itu melesat di udara, mengincar leher, tangan, dan kaki Subosito.
Resi Bhaskara bersiap menghantamkan tongkatnya ke tanah, namun tangan Subosito terangkat pelan, memberi isyarat agar sang guru tetap diam.
"Biarkan aku, Eyang Resi. Ini adalah ujian pertama bagi janji kami," bisik Subosito.
Saat rantai-rantai itu nyaris menyentuh kulitnya, sesuatu yang luar biasa terjadi. Dari punggung Subosito, cahaya emas murni memancar keluar.
Cahaya itu tidak meledak dengan daya hancur yang kasar, melainkan mengalir lembut seperti sutra yang terbakar. Ini adalah momen Manunggal—penyatuan sempurna antara sukma manusia Subosito dengan kekuatan kuno Garuda Paksi.
Api yang tadinya berwarna merah pekat—lambang amarah dan kerusakan—kini telah bermutasi menjadi api emas yang berkilauan. Api ini tidak membakar udara, justru tampak memurnikannya.
Rantai-rantai hitam yang menyentuh aura emas itu mendadak kehilangan kekuatannya. Mantra yang terukir di logamnya luntur seperti tinta tersiram air.
Rantai-rantai itu jatuh ke tanah, hancur menjadi serpihan karat yang tak berguna. Para penyerang terhenti, terpaku oleh pemandangan di depan mereka. Subosito tidak tampak seperti setan, dia tampak seperti pendaran cahaya matahari yang turun ke bumi.
"Api ini... bukan lagi api neraka," bisik salah seorang pendekar dengan tangan gemetar.
Subosito melangkah maju, setiap langkahnya tidak lagi menghanguskan tanah. Sebaliknya, bunga-bunga liar yang tadinya layu karena hawa panas ritual, mendadak tegak kembali seolah mendapatkan energi baru.
Ki Guntur Sadis yang melihat anak buahnya ragu, menjadi murka. Dia menghunuskan pedang panjangnya yang telah diolesi bisa ular kobra. "Pengecut! Dia hanya menggunakan tipu muslihat cahaya! Aku sendiri yang akan memisahkan kepalanya!"
Ki Guntur melesat dengan ilmu Kanuragan tingkat tinggi. Tubuhnya dibungkus oleh hawa hitam yang pekat, menciptakan ilusi bayangan yang banyak.
Dia menyerang dari sudut buta, mengarahkan pedangnya tepat ke arah jantung Subosito.
Namun, Subosito tidak menghindar, hanya mengangkat tangan kanannya.
Saat ujung pedang Ki Guntur menyentuh telapak tangan Subosito, tidak ada darah yang mengalir. Logam pedang itu justru membara emas, lalu melunak dan melengkung seperti lilin yang dipanaskan.
Dengan gerakan yang sangat tenang, Subosito memegang pergelangan tangan Ki Guntur.
"Kau menggunakan kekuatanmu untuk menindas yang lemah selama puluhan tahun, Ki Guntur," ucap Subosito. "Kau membangun kejayaan di atas tangisan orang-orang seperti keluarga Sekar. Api ini menolak keberadaanmu!"
Tiba-tiba, cahaya emas mengalir dari tangan Subosito masuk ke dalam tubuh Ki Guntur. Pria tua itu menjerit, bukan jeritan kesakitan fisik, melainkan merasakan seluruh energi Kanuragan dan ilmu hitam yang telah dia pupuk selama hidupnya mendadak menguap.
Cahaya murni Garuda Paksi masuk ke dalam pusat cakra Ki Guntur, membasuh dan menghapus semua sisa-sisa energi jahat di sana.
Hanya dalam beberapa embusan napas, Ki Guntur terkulai lemas. Wajah yang tadinya penuh aura mengancam, kini tampak seperti orang tua biasa yang rapuh dan tak berdaya.
Semua ilmu kesaktiannya telah dihilangkan secara permanen. Ki Guntur tidak mati, dirinya tidak lagi memiliki kekuatan untuk melukai siapa pun.
Melihat pemimpin mereka kehilangan seluruh ilmunya hanya dengan satu sentuhan, sisa-sisa anggota Gagak Hitam dan para pemburu bayaran menjatuhkan senjata mereka.
Ketakutan mereka berganti menjadi penghormatan yang penuh kengerian. Mereka menyadari bahwa pemuda di depan mereka bukanlah lagi "Anak Terkutuk" yang bisa diburu, melainkan sosok sakti yang tingkatannya sudah melampaui logika dunia persilatan.
"Pergilah," ujar Subosito sambil melepaskan pegangannya. "Gunakan sisa hidup kalian untuk menebus dosa. Jika kalian kembali ke jalan kegelapan, api emas ini akan selalu menemukan kalian!"
Satu per satu, kerumunan itu membubarkan diri, menghilang ke dalam kegelapan malam Lawu. Ki Guntur Sadis dipapah oleh pengikutnya yang paling setia, meninggalkan puncak itu dalam kehampaan.
Resi Bhaskara melangkah mendekati Subosito, meletakkan tangannya di bahu pemuda itu, merasakan kehangatan yang stabil dan damai.
"Kau telah menjinakkan mitos itu, Subosito. Garuda Paksi kini bukan lagi beban, melainkan bagian dari jiwamu," Resi Bhaskara menatap ke arah lembah yang jauh di bawah sana, di mana lampu-lampu Kadipaten mulai terlihat seperti taburan bintang.
"Namun, kemenangan di puncak gunung ini hanyalah awal," lanjut sang Resi dengan nada serius. "Dunia di bawah sana jauh lebih rumit daripada pedang dan api. Kekuatanmu telah tercium sampai ke telinga para penguasa!"
Subosito menatap gurunya. "Apa maksud Eyang Resi? Aku hanya ingin hidup tenang!"
"Ketenangan adalah milik mereka yang tidak memiliki pedang, Subosito. Kini kau memegang matahari di tanganmu!"
Resi Bhaskara mengambil sebuah gulungan surat yang dibawa oleh seekor burung elang pengantar pesan beberapa saat lalu. "Kadipaten sedang bergejolak. Sang Adipati jatuh sakit karena kutukan yang tak kasat mata, dan para pengkhianat di dalam istana sedang memperebutkan takhta. Ada kekuatan gelap yang lebih besar dari Gagak Hitam yang sedang bermain di sana—sebuah kekuatan yang ingin menggunakan api Garuda Paksi untuk membakar seluruh negeri ini!"
Subosito menarik napas panjang, lalu melihat ke arah punggungnya, ke arah segel emas yang kini berdenyut lembut. Pemuda itu tahu bahwa dirinya tidak bisa lagi kembali menjadi pemuda pencari kayu bakar yang malang.
"Pergilah ke Kadipaten, Nak," perintah Resi Bhaskara. "Bantu mereka yang benar-benar membutuhkan perlindunganmu. Jadilah cahaya bagi mereka yang tersesat di dalam kemelut politik dan haus kekuasaan. Ini adalah jalan kesatria yang harus kau tempuh untuk melunasi hutang nyawa atas kekuatan yang kau miliki!"
Subosito menunduk dalam-dalam, mengambil tas kainnya dan sebuah tongkat kayu pemberian Resi. Dengan pandangan yang tajam, Subosito menatap ke arah barat ke arah pusat pemerintahan yang sedang membara oleh intrik dan pengkhianatan.
Langkah Subosito menuruni Gunung Lawu bukan lagi langkah seorang pelarian, melainkan langkah seorang pembebas. Namun, istana Kadipaten bukanlah hutan yang bisa dibakar atau telaga yang bisa diselami. Di sana, musuh tidak selalu menghunuskan pedang; terkadang mereka tersenyum di balik cawan anggur.
Mampukah Subosito menjaga kemurnian api emasnya di tengah busuknya permainan kekuasaan? Dan siapakah sosok misterius yang menunggu kedatangannya di gerbang Kadipaten dengan membawa rahasia tentang silsilah asli keluarga Subosito?
Ikuti terus kisah perjalanan Subosito.