Rasa putus asa menyelimuti Jessica Zhou saat hakim menjatuhkan vonis hukuman mati atas dirinya karena dituduh membunuh kedua orang tuanya demi warisan.
Bandingnya ditolak. Harapan seakan habis.
Hingga kasus itu sampai ke tangan Hakim Li—Adrian Li—yang dijuluki “Hakim Gila” karena ketegasan dan caranya yang tak biasa dalam mencari kebenaran.
Adrian, yang selama ini hanya fokus pada pekerjaannya, dicintai oleh dua wanita: Jessica Zhou dan Holdie Fu. Holdie berambisi tinggi dan berusaha mendapatkan hati pria dingin itu, sementara Jessica memilih memendam perasaannya setelah cintanya ditolak sepuluh tahun lalu.
Kini, nasib Jessica berada di tangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
“Nona Zhou, saya membutuhkan daftar semua orang yang mengenal korban,” ujar Jaksa Wu sambil membuka buku catatannya. “Termasuk kenalan kedua kakak Anda… dan juga paman Anda.”
Jessica yang duduk di hadapannya terdiam sejenak, mencoba mengingat.
“Semua yang mereka kenal kebanyakan adalah sesama pebisnis,” jawabnya perlahan. “Sedangkan pamanku… dia memiliki seorang putra yang sudah koma selama tiga tahun di rumah sakit.”
Ucapan itu membuat Jaksa Wu sedikit mengangkat kepala.
“Hidup pamanku sangat berat,” lanjut Jessica pelan. “Jadi aku percaya… paman tidak mungkin menjadi tersangka.”
Jaksa Wu menyandarkan punggungnya ke kursi. Informasi itu jelas baru baginya.
“Jeff Zhou memiliki seorang putra?” tanyanya dengan nada penasaran.
Jessica mengangguk.
“Iya. Tidak banyak orang yang tahu tentang hal ini. Anak itu adalah putra dari cinta pertamanya. Yang mengetahui hal ini hanya kami sekeluarga. Bahkan orang luar tidak ada yang tahu.”
Jaksa Wu diam mendengarkan.
“Pamanku sengaja menyembunyikannya demi nama baik anaknya,” lanjut Jessica. “Ia tidak ingin orang lain menganggap putranya sebagai anak hasil perselingkuhan. Karena saat itu… pamanku masih berstatus sebagai suami orang.”
Ruangan kembali sunyi beberapa detik.
Jaksa Wu lalu kembali membuka berkasnya.
“Ternyata begitu…” gumamnya pelan.
Kemudian ia menatap Jessica lagi.“Kalau begitu, apa yang terjadi pada putranya sampai dia koma?” tanya Jaksa Wu. “Dan siapa namanya?”
“Namanya JJ Zhou,” jawab Jessica. "Sejak saat itu dia tidak pernah sadar. Pamanku tidak pernah menyerah untuk menyembuhkannya,” lanjutnya lirih. “Walaupun dokter mengatakan kemungkinan dia bangun sangat kecil.”
Jaksa Wu memperhatikan perubahan ekspresi Jessica.
“Dokter bahkan pernah menyarankan agar alat oksigennya dicabut,” kata Jessica lagi dengan suara yang nyaris berbisik. “Daripada terus berharap pada sesuatu yang katanya tidak mungkin terjadi.”
***
Di sisi lain, di rumah orang tua Jessica Zhou—lokasi terjadinya pembunuhan.
Malam membuat rumah itu terasa semakin sunyi. Garis polisi masih terpasang di beberapa sudut ruangan.
Adrian berdiri di dalam ruang tamu dengan sarung tangan hitam menutupi tangannya. Sebuah senter kecil berada di tangannya, menyapu setiap sudut ruangan dengan cahaya tajam.
Lantai yang dulu dipenuhi darah kini sudah dibersihkan, tetapi bayangan kejadian malam itu seolah masih tertinggal di sana.
Ia berjongkok perlahan, memperhatikan lantai, meja, dan posisi perabot.
Setiap detail tidak luput dari pengamatannya.
“Tidak ada tanda perlawanan…” gumam Adrian pelan.
Cahaya senter bergerak ke sofa, lalu ke karpet di dekat meja.
“Jika benar Jessica Zhou yang melakukannya, seharusnya ada perlawanan dari dua orang dewasa.”
Ia berdiri kembali, menghela napas tipis.
“Namun di tempat ini… semuanya terlalu rapi.”
Tatapan Adrian menyipit.
“Sepertinya pelaku bertindak terburu-buru. Tidak merencanakan semuanya dengan sempurna.”
Ia terdiam sejenak, mengingat laporan kasus yang dibacanya.
“Hanya ada satu hal yang ditemukan… pisau di tangan Jessica Zhou.”
Suara Adrian rendah, seolah berbicara pada dirinya sendiri.
Ia lalu menyorotkan senter ke arah kamar Jessica yang berada di lorong.
“Jessica Zhou terbangun… dan semuanya sudah terjadi? Kenapa Jessica bisa terbangun di samping jasad orang tuanya dan bukan di kamar? Terlihat jelas ada yang ingin menjebaknya."
Keningnya berkerut.
“Atau… sebelum kejadian dia sudah dibuat tidak sadar?”
Beberapa kemungkinan mulai tersusun di pikirannya.
“Obat tidur… sepertinya polisi di wilayah ini telah melewatkan sesuatu.”
Tanpa menunda waktu lebih lama, Adrian mengeluarkan ponselnya dari saku jasnya.
Jarinyа sempat berhenti di layar.
Sebuah foto lama muncul.
Seorang gadis dengan senyum cerah menatap lurus ke kamera, seolah tidak pernah mengenal kesedihan.
Beberapa detik kemudian panggilan itu tersambung.
“Hallo, Hakim Li!” sahut Jaksa Wu dari seberang dengan nada hormat.
Adrian melangkah keluar dari rumah itu sambil memandang gelapnya halaman.
“Apakah selama ini Jessica Zhou belum pernah diperiksa oleh dokter?” tanyanya langsung pada inti.
“Belum pernah. Setelah ditemukan di lokasi kejadian dia langsung ditahan,” jawab Jaksa Wu. Suaranya terdengar sedikit heran. “Ada apa, Hakim Li? Apakah ada penemuan baru?”
Adrian berhenti melangkah. Tatapannya tajam menatap tanah di depannya, seolah sedang menyusun sesuatu di pikirannya.
“Kita telah melewatkan sesuatu,” ucapnya perlahan namun tegas.
Di seberang sana Jaksa Wu langsung terdiam, menunggu penjelasan.
Adrian melanjutkan dengan nada perintah yang dingin.
“Lakukan tes toksikologi ulang pada Jessica Zhou. Periksa juga kemungkinan adanya bekas suntikan di tubuhnya.”
Jaksa Wu terkejut. “Suntikan?”
“Jika seseorang membuatnya kehilangan ingatan, kemungkinan besar ada obat yang dimasukkan ke tubuhnya,” kata Adrian. “Kalau sebelumnya dia disuntik, mungkin masih ada bekas jarum.”
Beberapa detik sunyi.
Lalu suara Jaksa Wu kembali terdengar, kali ini lebih serius. “Baik, Hakim Li. Saya akan segera mengaturnya.”
Panggilan itu berakhir.
Adrian menurunkan ponselnya perlahan. Pandangannya kembali tertuju ke rumah yang kini gelap dan sunyi itu.
“Jessica Zhou…” gumamnya pelan.
Semakin ia memikirkan kasus itu, semakin jelas satu hal di benaknya. Ada seseorang yang merancang semua ini dengan sangat rapi.
***
Lampu redup di area parkir penjara wanita memantulkan bayangan panjang mobil yang baru saja berhenti di sana. Mesin mobil masih menyala pelan.
Di dalam mobil, Adrian duduk diam di kursi pengemudi. Ia menyalakan sebatang rokok, lalu menyandarkan kepalanya ke kursi dengan lelah. Asap tipis perlahan memenuhi ruang sempit itu.
Tatapan matanya kosong, namun pikirannya jelas tidak tenang.
“Sepertinya pelakunya telah merencanakannya sejak jauh hari…” gumam Adrian pelan, lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan.
Dari balik kaca depan mobil, gerbang penjara wanita berdiri kokoh dengan penjagaan ketat. Tempat itu dingin, jauh dari kehidupan normal.
Adrian mengembuskan asap rokok perlahan.
Wajah seseorang tiba-tiba muncul dalam ingatannya.
Pertemuannya dengan Jessica Zhou.
Gadis yang dulu selalu tersenyum cerah kini justru berada di balik jeruji, menunggu hukuman mati.
“Sepuluh tahun tidak bertemu…” gumamnya lirih.
Ia menatap ke arah gerbang penjara itu dengan tatapan dalam.
“Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Jessica?”
Beberapa jam kemudian langit mulai terang. Cahaya pagi perlahan menyapu halaman penjara wanita itu. Udara terasa dingin dan sunyi.
Mobil Adrian masih terparkir di tempat yang sama.
Sejak malam tadi ia tidak pergi ke mana pun.
Di dalam mobil, pria itu duduk diam seolah menunggu sesuatu. Matanya tampak lelah, namun pikirannya jelas tidak bisa beristirahat.
Beberapa saat kemudian Adrian akhirnya membuka pintu mobil.
Ia keluar dengan tenang lalu berjalan menuju gerbang penjara.
Dua petugas yang berjaga langsung memperhatikan pria itu.
Langkah Adrian berhenti tepat di depan mereka.
“Aku ingin bertemu dengan Jessica Zhou,” ucapnya datar.
Kedua penjaga itu saling berpandangan sejenak. Salah satu dari mereka terlihat ragu sebelum akhirnya berbicara.
“Tuan… apakah anda sudah membuat janji sebelumnya?” tanyanya hati-hati.
Adrian mengeluarkan kartu identitas dari saku jasnya lalu menunjukkannya.
“Saya tidak punya kebiasaan membuat janji untuk urusan pekerjaan.”
Begitu melihat kartu itu, ekspresi kedua penjaga langsung berubah.
Mereka berdiri lebih tegak.
“Hakim Li…!” salah satu dari mereka terkejut.
“Silakan tunggu sebentar. Kami akan memberi tahu bagian dalam,” katanya cepat.
Adrian hanya mengangguk kecil.
Sementara salah satu penjaga masuk ke dalam, Adrian berdiri diam di depan gerbang besar itu.