Raka terlahir dengan tubuh lemah, namun suatu hari ia menemukan sebuah bola berwarna putih didalam hutan terlarang yang ternyata adalah sebuah sistem yang bernama sistem dewa.
sejak saat itulah Raka menjadi seorang ahli bela diri yang akan menggemparkan seluruh daratan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irfan Sajilie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Api jiwa teratai dewa
SLASHHHHHH
Tubuh kepiting hitam yang semula sangat keras hingga gigitan kedua ular tak membekas maupun menusuk daging si kepiting, tiba-tiba terbelah dua hingga membuat kedua ular milik Raka juga ikut terhempas karea imbas dari energi pedang yang dikeluarkan Raka.
''hah hah hah'' Raka terengah-engah, ia merasa seluruh energi didalam tubuhnya terkuras habis tak bersisa.
BRUK
Tubuhnya terbaring keatas tanah, ia menatap keatas yang hanya gelap saja seperti malam padahal hari masih siang. Meskipun ia nampak kelelahan tapi sebuah senyum puas tersungging dibibirnya.
Kedua ular yang terlempar segera menghampiri Raka dengan pelan karena tubuh mereka terasa sangat sakit namun rasa khawatir lebih menguasai mereka.
Pandangan Raka teralihkan pada bola cahaya yang menyerupai matahari lalu beberapa saat kemudian pandangannya terhalang karena kedua ular tengah menatapnya dengan raut khawatir.
''aku tak apa-apa, bagaimana keadaan kalian?'' tanya Raka sambil bangun dari rebahannya dengan perlahan-lahan sebab energinya belum banyak terkumpul.
Kedua ular itu menggeleng seolah-olah mengatakan bahwa mereka baik-baik saja namun Raka tau bahwa keduanya tak baik-baik saja, sangat terlihat dari bibir dan sudut bibir mereka yang gosong.
[Ting selamat tuan rumah berhasil menyelesaikan misi yaitu membantu kedua ular mengalahkan kepiting merah. Selamat tuan rumah mendapatkan tungku langit dan api jiwa teratai dewa]
Seketika tangan kanan Raka terangkat lalu telapak tangannya bersinar dengan terang, keluarlah sebuah tungku kecil sebesar kepala manusia dan sebuah api berbentuk teratai berwarna putih dengan campuran warna biru.
''sangat indah'' puji Raka saat melihat api jiwa teratai dewa melayang didepan matanya.
Tungku langit melayang lalu menapak keatas tanah sedangkan api jiwa teratai dewa melayang masuk kedalam kepala Raka.
Raka yang awalnya mengira tubuhnya akan terasa panas dan kesakitan saat api jiwa teratai dewa memasuki tubuhnya sehingga ia menyiapkan diri dengan menggertakkan giginya, beberapa saat kemudian ia mengernyit heran sebab bukan rasa sakit dan panas yang ia rasakan namun malah sensasi dingin dan nyaman yang ia rasakan.
''wahh ternyata malahan dingin dan nyaman, ku kira bakalan sakit dan panas'' takjub Raka.
[Ting memang seharusnya orang yang akan menyerap api jiwa akan merasakan sakit dan panas yang tak terkira hingga banyak yang akan mati dan jiwanya akan menjadi bagian dari api jiwa, tapi karena tuan ruah memiliki teknik dewa melahap maka tuan rumah tak akan merasakan itu sebab apapun yang diserap tuan rumah maka seratus persen akan berhasil juga tak akan ada serangan balik]
''wahhh ternyata itu juga salah satu keunggulan dari teknik dewa melahap rupanya, benar-benar sangat luar biasa'' kagum Raka.
[Ting karena kepiting merah berubah menjadi kepiting hitam maka tuan rumah mendapatkan hadiah tambahan yaitu kain zirah tingkat legendaris]
''kain zirah? apa itu sistem?'' tanya Raka bingung sebab baru kali ini ia mendengarnya, biasanya ia mendengar baju zirah.
[Ting kain zirah adalah kain yang akan digunakan untuk membuat baju zirah, bentuknya seperti kain biasa namun memiliki kekuatan seperti zirah besi. Kelebihan kain zirah adalah ringan seperti kain biasa dan lebih nyaman untuk dipakai, ia juga akan menjadi tembus pandang setelah terkena kulit selama dibalik kulit masih ada darah yang mengalir]
''wahhh cepat berikan padaku sistem, aku ingin membuatnya menjadi baju zirah'' pinta Raka dengan antusias.
Telapak tangan Raka kembali bersinar lalu keluarlah 100 meter kain zirah hingga membuat Raka senang karena bisa membuatkan baju zirah untuk kedua ularnya.
''bagaimana cara membuatnya menjadi sebuah baju zirah sistem?'' tanya Raka, ia yakin pembuatannya tak akan sama seperti menjahit baju biasa.
[Ting tuan rumah hanya perlu memasukkan kain zirah dan beberapa bahan lainnya kedalam tungku langit lalu bentuklah menjadi barang yang tuan rumah inginkan]
"Ohhh kalau begitu berikan padaku nama-nama bahan lainnya" pinta Raka.
Sebuah layar transparan muncul didepan mata Raka lalu ada beberapa tulisan yang muncul, itu adalah bahan-bahan tambahan untuk pembuatan baju zirah.
"Ohhh ternyata memerlukan teknik formasi juga, berarti baju zirah tak bisa dibuat hari ini karena aku perlu menguasai teknik formasi dulu" angguk Raka.
Karena tak bisa membuat baju zirah sekarang, Raka mulai menarik energi alam untuk mengisi energi didalam tubuhnya sebelum naik keatas.
Meskipun sekarang didalam jurang sangat aman, namun Raka tak menyukainya karena tempatnya gelap dan lembab apalagi sekarang masih tercium bau darah dari kepiting merah.
Lima menit kemudian energi ditubuh Raka sudah hampir terisi separuhnya, ia membelah kepala kepiting merah lalu mengambil intinya.
"Ayo kita pergi" ajak Raka pada kedua ularnya.
Segera kedua ular mengikuti Raka menaiki tebing hingga sampai keatas.
Setelah mereka kembali kedalam gua, Raka segera membuat beberapa pil penyembuh.
KLANG
Tungku langit jatuh keatas lantai gua, Raka segera mengeluarkan beberapa bahan herbal untuk pembuatan pil penyembuh.
Setelah semua bahan siap, Raka mengeluarkan api jiwa teratai dewa ditangannya. Nampak api kecil berwarna biru bercampur putih menari diantara jari-jemarinya.
Ia menerbangkan api jiwa teratai dewa menuju tungku langit sehingga bagian bawah tungku langit menyala.
Segera Raka mulai memasukkan semua bahan herbal lalu membakarnya menjadi cairan yang berwarna-warni mewakili warna masing-masing bahan.
Setelah semuanya menjadi cairan, Raka mencampurkan semuanya.
Beberapa saat kemudian tercium bau harum dari cairan obat sehingga membangunkan kedua ular yang sebelumnya tertidur karena kelelahan akibat pertarungan sebelumnya.
Ssshhhh
Keduanya mendesis, mereka sangat menginginkan sesuatu yang sedang di buat oleh Raka.
"Bersabarlah, sebentar lagi pil obatnya jadi dan kalian bisa memakannya" ucap Raka tersenyum simpul melihat keantusiasan kedua ularnya.
Setelah semua cairan pil obat tercampur, Raka mulai memadatkannya dan membentuknya menjadi beberapa bola kecil.
"Padatkan" ucap Raka.
WUNGGG WUNNGGG WUNGGGG
Terdengar dengungan dari dalam tungku dan beberapa saat kemudian terdengar suara denting sesaat setelah Raka mematikan api jiwa teratai dewa.
KLING KLING KLING
"HUFFFFTTTT" Raka menghela nafas lega, ini adalah pertama kalinya ia membuat pil obat jadi tentu saja akan menguras tenaga.
Kedua ular segera mendekat ke tungku langit sebab api jiwa teratai dewa sudah padam, mereka menatap tungku dengan penuh penasaran dan tak sabar.
Raka juga ikut mendekat lalu membuka tutup tungku, terlihatlah 10 butir pil obat berwarna putih susu. Bentuknya bulat sempurna dan tanpa ada noda sedikitpun.
"Ckckck kualitas legendaris, aku benar-benar sangat berbakat" decak Raka hampir tak percaya.
Seharusnya saat pertama kali peramu obat membuat pil obat maka kebanyakan akan mengalami kegagalan, meskipun berhasil maka pil obat yang dihasilkan akan berkualitas rendah.
Walaupun seorang jenius sekalipun maka mungkin hanya beberapa butir yang bisa menghasilkan kualitas menengah hingga atas namun Raka berhasil membuat sepuluh butir pil penyembuh kualitas legendaris.
Seandainya ada peramu obat lainnya yang mengetahuinya maupun melihatnya maka dijamin mereka akan mati berdiri.