Cerita ini mengisahkan tentang Kaelen, Raja Es Kerajaan Celestial yang hidup terisolasi selama seratus tahun dalam kesendirian dan dingin yang abadi. Hidupnya berubah drastis saat kedatangan Lira, seorang wanita dari dunia luar yang datang meminta bantuannya untuk melawan kekuatan gelap yang mengancam nyawa banyak orang. Seiring berjalannya waktu, terungkap bahwa Lira memiliki kekuatan es yang sama dengan Kaelen, yang mengindikasikan adanya hubungan rahasia antara dirinya dan Kerajaan Celestial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raja Ilusi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25:Kembali Ke Gua Dan Kesiapan Yang Baru
Dua hari berlalu dengan sangat cepat dan sangat menyenangkan di Lembah Bunga. Kaelen dan Lira benar-benar menikmati waktu mereka berdua di sana. Mereka bersantai, mereka mengistirahatkan tubuh dan pikiran mereka, dan mereka semakin dekat dan semakin mencintai satu sama lain.
Namun, mereka tahu bahwa mereka tidak bisa tinggal di sana selamanya. Mereka tahu bahwa mereka harus kembali ke gua, kembali ke Eldric, dan mempersiapkan diri untuk pertarungan terakhir mereka melawan Malakar. Waktu mereka untuk bersantai sudah habis, dan sekarang, waktunya untuk mereka kembali ke kenyataan dan melanjutkan perjalanan mereka menuju takdir mereka.
Pada pagi hari ketiga, setelah membersihkan diri dan sarapan dengan buah-buahan segar yang mereka petik, mereka pun mulai mengemasi barang-barang mereka. Mereka merapikan tenda mereka, dan mereka memastikan bahwa mereka tidak meninggalkan apa pun di sana yang bisa merusak keindahan alam lembah itu.
"Sedih rasanya harus meninggalkan tempat ini, bukan, Yang Mulia?" kata Lira, sambil menatap pemandangan indah lembah itu dengan mata yang sedikit sedih. "Ini adalah tempat yang sangat indah, dan saya sangat menikmati waktu kita di sini."
Kaelen memeluk Lira dengan erat, mencium keningnya dengan lembut. "Aku juga merasa sedih harus meninggalkan tempat ini, Lira. Tapi ingat, kita akan kembali lagi suatu hari nanti. Setelah kita mengalahkan Malakar dan membawa kedamaian kembali ke dunia ini, kita akan kembali ke sini, dan kita akan hidup dengan bahagia dan damai di sini selamanya. Tempat ini akan selalu menjadi tempat yang istimewa bagi kita, tempat di mana kita menyatukan raga dan jiwa kita menjadi satu, dan tempat di mana cinta kita menjadi semakin kuat dan abadi."
Lira tersenyum mendengar kata-kata Kaelen, dan dia mengangguk setuju. "Benar, Yang Mulia. Kita akan kembali lagi. Dan sampai saat itu tiba, kita akan menyimpan kenangan indah ini di dalam hati kita selamanya."
Mereka pun berjalan meninggalkan Lembah Bunga itu, berjalan menuju ke arah gua tempat mereka tinggal bersama Eldric. Perjalanan pulang itu terasa berbeda dengan perjalanan pergi. Saat pergi, mereka merasa lelah dan penat karena latihan yang panjang dan melelahkan. Tapi sekarang, saat pulang, mereka merasa segar, bugar, dan penuh dengan semangat. Mereka merasa bahwa mereka telah mengisi kembali energi mereka, dan mereka merasa siap untuk menghadapi apa pun yang terjadi di depan mereka.
Selama perjalanan pulang, mereka banyak berbicara tentang masa depan mereka, tentang impian mereka, dan tentang rencana mereka setelah mereka mengalahkan Malakar. Mereka merasa sangat bahagia dan sangat optimis. Mereka tahu bahwa perjalanan mereka masih panjang dan masih penuh dengan bahaya, tapi mereka tidak lagi merasa takut atau cemas. Mereka merasa yakin bahwa mereka akan bisa mengalahkan Malakar, dan bahwa mereka akan bisa mencapai kebahagiaan yang mereka impikan.
Setelah berjalan selama beberapa jam, mereka akhirnya sampai di gua tempat mereka tinggal. Saat mereka masuk ke dalam gua, mereka melihat Eldric sedang duduk di dekat api unggun, membaca sebuah buku kuno yang tebal. Eldric melihat mereka masuk, dan dia segera menutup bukunya dan berdiri, menatap mereka dengan senyum yang lebar dan penuh dengan bangga.
"Selamat datang kembali, Kaelen! Selamat datang kembali, Lira!" teriak Eldric, berjalan ke arah mereka dan memeluk mereka berdua dengan erat. "Aku sangat senang melihat kalian kembali. Dan melihat wajah kalian yang segar dan penuh dengan semangat, aku tahu bahwa kalian telah bersantai dengan baik dan bahwa kalian telah mengisi kembali energi kalian. Itu sangat bagus."
"Terima kasih, Tuan Eldric," jawab Kaelen dan Lira secara bersamaan, merasa sangat bahagia dan bersyukur karena memiliki Eldric di sisi mereka. "Kami bersantai dengan sangat baik, Tuan Eldric. Lembah Bunga itu benar-benar tempat yang sangat indah dan sangat menenangkan. Kami merasa jauh lebih segar dan lebih bugar sekarang."
Eldric tersenyum, mengangguk setuju. "Bagus sekali. Aku sangat senang mendengarnya. Kalian memang pantas mendapatkan istirahat yang baik setelah berlatih dengan sangat keras selama ini. Dan sekarang, setelah kalian segar dan bugar, kita bisa mulai mempersiapkan diri untuk perjalanan kita selanjutnya. Kita bisa mulai mempersiapkan diri untuk pertarungan terakhir melawan Malakar."
Kaelen dan Lira saling menatap dengan mata yang penuh dengan tekad dan semangat. Mereka tahu bahwa waktu istirahat mereka sudah habis. Sekarang, waktunya untuk mereka kembali beraksi. Sekarang, waktunya untuk mereka mempersiapkan diri untuk pertarungan yang paling penting dan paling menentukan dalam hidup mereka.
"Kami siap, Tuan Eldric," kata Kaelen dan Lira secara bersamaan, suaranya tegas dan penuh dengan keyakinan. "Kami siap untuk mempersiapkan diri. Kami siap untuk menghadapi Malakar. Dan kami siap untuk mengalahkan dia dan membawa kedamaian kembali ke dunia ini."
Eldric tersenyum bangga melihat mereka. "Aku tahu kalian siap. Aku tahu bahwa kalian adalah orang-orang yang akan menyelamatkan dunia ini. Dan aku akan berada di sini, di sisimu, membimbingmu dan membantumu sampai kalian mencapai tujuan kalian."
Hari itu, Kaelen dan Lira mulai mempersiapkan diri untuk pertarungan terakhir mereka. Mereka tidak lagi berlatih untuk mempelajari hal-hal baru, tapi mereka berlatih untuk mempertajam dan menyempurnakan kekuatan dan keterampilan yang sudah mereka miliki. Mereka berlatih untuk memastikan bahwa mereka bisa menggunakan kekuatan mereka dengan seefektif dan seefisien mungkin saat pertarungan nanti.
Mereka juga mulai mempersiapkan perlengkapan mereka. Mereka memastikan bahwa pedang es mereka dalam kondisi yang baik, mereka memastikan bahwa mereka memiliki cukup makanan dan air untuk perjalanan, dan mereka memastikan bahwa mereka memiliki semua yang dibutuhkan untuk bertahan hidup dan untuk bertarung dalam situasi yang sulit.
Selain itu, mereka juga banyak berbicara dengan Eldric tentang Malakar, tentang kekuatannya, tentang kelemahannya, dan tentang strategi yang terbaik untuk mengalahkan dia. Eldric menceritakan kepada mereka semua yang dia tahu tentang Malakar, semua pengalaman yang dia miliki dengan Malakar selama bertahun-tahun, dan semua nasihat yang dia miliki untuk membantu mereka mengalahkan dia.
Kaelen dan Lira mendengarkan dengan penuh perhatian setiap kata yang diucapkan oleh Eldric. Mereka mencatat setiap hal yang penting, dan mereka mencoba untuk memahami setiap strategi dan setiap nasihat yang diberikan oleh Eldric. Mereka tahu bahwa pengetahuan dan pengalaman Eldric adalah hal yang sangat berharga, dan itu akan membantu mereka untuk mengalahkan Malakar.
Hari-hari dan minggu-minggu berlalu dengan cepat. Kaelen dan Lira terus mempersiapkan diri dengan rajin dan sungguh-sungguh. Mereka menjadi semakin siap, semakin yakin, dan semakin berani. Mereka tahu bahwa saatnya untuk mereka berangkat menuju benteng Malakar dan untuk menghadapi dia sudah semakin dekat. Dan mereka tidak sabar untuk melakukannya.