Selena Victoria, siswi SMA 16 tahun yang egois dan kadang menjengkelkan, tapi memiliki hati yang lembut. Hidupnya berubah drastis setelah insiden kopi tumpah ke jaket cowok paling ditakuti di sekolah. Dengan bantuan bestie-nya Rora, juara olimpiade sains dan matematika yang nyentrik, Selena harus menghadapi konsekuensi aksinya dan belajar tentang empati. 😐
baca yuk Novel aku "Noda Kopi di Jaket Abu"!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BOCCI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
weekend yg hancur
Sesampainya di rumah Selena baru saja melepas sepatunya di teras dengan perasaan yang masih sedikit melayang. Bayangan punggung Zeus dan aroma parfum maskulin yang menempel di seragamnya bikin dia senyum-senyum sendiri. Tapi begitu dia memutar knop pintu dan membukanya...
DEG!
Langkah Selena terhenti seketika. Di balik pintu, Mamahnya sudah berdiri tegak dengan tangan bersedekap di dada. Lampu ruang tamu sengaja dimatikan, hanya lampu lorong yang menyala, memberikan efek dramatis ala-ala film horor atau... sidang kasus berat.
"Eh... Mamah? Belum tidur?" tanya Selena dengan suara yang tiba-tiba mencicit.
"Tidur? Gimana Mamah mau tidur kalau anak gadis Mamah pulang jam segini dianter cowok pake motor yang suaranya kayak guntur gitu?" Suara Mamahnya tenang, tapi Selena tahu itu adalah tanda bahaya level tinggi.
"Itu... itu tadi temen, Mah. Namanya Zeus," jawab Selena sambil mencoba menyelusup masuk, tapi Mamahnya tetap menghalangi jalan.
"Zeus? Nama dewa Yunani? Penampilannya nggak kayak anak sekolah biasa, Selena. Jaket kulit, motor mahal... Kamu nggak lagi main sama anak geng motor yang suka tawuran kan?"
Selena menghela napas, dia menarik tangan Mamahnya menuju meja makan. "Mah, dengerin dulu. Dia itu temen sekolah Selena. Ya, emang agak... menonjol sih di sekolah. Tapi dia yang nolongin Selena tadi pas ada urusan di... di klub robot!" Selena terpaksa berbohong sedikit daripada harus bilang dia jadi "babu" mafia.
Mamahnya duduk di kursi meja makan, menatap Selena tajam. "Klub robot sampe jam delapan malem? Terus itu jubah hitam di tas kamu apaan? Kamu habis ikut sekte?"
Selena melirik jubah "superhero" yang menyembul dari tasnya. "Ini... ini properti drama, Mah! Tadi Selena dapet peran jadi pahlawan pembasmi debu."
Mamah Selena memijat pelipisnya. "Selena, dengerin Mamah. Kita ini hidup berdua. Sejak Papah nggak ada, Mamah cuma mau kamu aman. Cowok tadi itu... auranya beda. Mamah nggak mau kamu masuk ke lingkungan yang bahaya."
Selena terdiam. Dia ingin bilang kalau Zeus itu pangeran Mafia Alexandra yang kaya raya, tapi dia takut Mamahnya malah pingsan atau langsung mengurungnya di kamar selamanya.
"Dia baik kok, Mah. Buktinya dia anter Selena sampe depan pintu dengan selamat kan? Tadi juga dia beliin Selena jajanan banyak banget," ucap Selena sambil mengeluarkan sisa bumbu kacang cilok yang masih ada di tasnya.
Mamahnya menghela napas panjang, sorot matanya melembut. "Ya sudah, sana mandi terus tidur. Besok kan weekend, jangan bangun kesiangan lagi. Inget, besok jadwal kita belanja bulanan."
"Siap, Bos Mamah!" Selena mencium pipi Mamahnya kilat lalu mau lari ke kamar.
Mamah Selena yang tadi wajahnya serius, tiba-tiba berubah ekspresinya. Dia menyipitkan mata, menatap Selena dengan tatapan menyelidik yang bikin Selena salah tingkah.
"Tunggu sebentar," ucap Mamahnya sambil melipat tangan di depan dada. "Namanya Zeus, kan? Cowok yang tadi itu, apa cowok yang sama yang bikin kamu marah-marah cuci jaketnya kaya ngetontokin aspal jalanan?"
Selena langsung membeku saat mau meneguk air. "Hah? Marah apaan, Mah?"
"Nggak usah pura-pura lupa," goda Mamahnya dengan senyum jail. "Ingat nggak? Hari Senin kamu bawa jaket abu-abu cowok yg kamu gk sengaja tumpahan kopi terus kata kamu sok berkuasa banget di sekolah"
Mamah Selena tertawa kecil menirukan gaya bicara Selena yang bar-bar. "Masa katanya benci banget, eh tadi pulangnya malah pelukan erat banget di atas motor. Mana dibeliin jajanan lagi. Itu benci apa jatuh cinta, Sel?"
Wajah Selena langsung merah padam, lebih merah dari kuah seblak yang dia makan tadi. "MAMAH! Apaan sih! Itu... itu beda cerita!"
"Beda gimana? Cowoknya sama, kan? Yang punya jaket abu-abu itu?"
"Iya, tapi... tapi itu karena Selena terpaksa, Mah! Selena kan ngerusak jaketnya, jadi harus tanggung jawab. Bukan berarti Selena suka!" bela Selena sambil berusaha menghindar dari tatapan Mamahnya.
Mamahnya mengelus rambut Selena sambil tersenyum penuh arti. "Hati-hati, Sel. Biasanya yang awalnya paling dibenci itu yang akhirnya paling susah dilupain. Apalagi kalau sampe dibawa-bawa jadi superhero segala."
"MAMAAAH! Udah ah, Selena mau mandi!" Selena langsung lari kocar-kacir masuk ke ke atas lalu ke kamarnya dan ke kamar mandi, menutup pintu dengan keras.
Di balik pintu kamar mandi, Selena menyalakan keran air biar suaranya nggak kedengeran. Dia memegang pipinya yang panas. Sial, Mamah pake inget segala lagi pas gue marah-marah, batinnya.
Dia jadi teringat momen pertama kali kopinya tumpah ke jaket Zeus. Waktu itu dia bener-bener pengen hilang dari bumi karena takut liat muka Zeus yang serem. Tapi sekarang? Dia malah ngerasa markas Zeus kayak rumah kedua yang seru karena ada robot dan cilok.
Benci ya? Selena menatap pantulan dirinya di cermin. Gue emang benci sifatnya yang sok ngatur, tapi... kenapa pas dibonceng tadi gue ngerasa aman ya?
5 menit kemudian....
Selesai mandi dan pake baju tidur Selena merebahkan diri. Dia mengecek HP-nya. Tidak ada pesan dari Zeus (ya iyalah, dia kan belum punya nomor Zeus, adanya cuma nomor 'Unknown' tadi siang emang sih nomor zeus itu tapi selena ogah chat).
Tapi tiba-tiba, sebuah notifikasi masuk dari grup kelas yang heboh.
Rora: SEL! LO MASIH HIDUP?! Tadi gue liat Zeus bonceng lo pulang! Satu sekolah bakal geger nanti senin!!!
Selena cuma bisa menutup mukanya dengan bantal. "Duh, bener kata Rora. Hidup tenang gue resmi berakhir gara-gara si Kulkas Mafia itu."
Selena menatap langit-langit kamarnya. Besok weekend, tapi pikirannya malah melayang ke markas Thunder. Dia penasaran, apa yang dilakukan para mafia itu kalau hari libur? Apa mereka latihan nembak, atau malah asyik main biliar sambil makan cilok lagi?
Tanpa sadar, Selena tertidur sambil memeluk helm robotnya, bermimpi tentang pangeran mafia yang berubah jadi robot Gundam raksasa yang menyelamatkannya dari kejaran Damon.
Hari Minggu pagi seharusnya jadi waktu paling damai buat Selena. Rencananya simpel: bangun siang, dengerin lagu robot favoritnya kencang-kencang, dan males-malesan bareng Rora yang pagi-pagi sekali sudah numpang sarapan lagi di rumahnya.
"Lupakan semua beban~ lupakan si kulkas sombong~" Selena bernyanyi dengan suara cempreng sambil memegang sisir sebagai mik.
Rora ikut bergoyang di atas kasur Selena. "Yoi, Sel! Weekend is free! Gak ada hukuman, gak ada yg bikin stress, dan gak ada aura-aura mafia yang bikin merinding!"
Mereka berdua asyik nyanyi duet lagu pop yang lagi viral, sambil lompat-lompat di atas kasur. Selena bener-bener merasa bebas. Dia pikir, karena ini hari libur, dia nggak bakal berurusan sama "urusan dunia bawah" keluarga Alexander.
Tapi, ketenangan itu cuma bertahan sampai...
PIP PIP!
Suara klakson mobil yang sangat kencang dan terdengar sangat mahal berhenti tepat di depan pagar rumah Selena.
Selena dan Rora otomatis berhenti nyanyi. Mereka saling lirik, lalu buru-buru lari ke jendela dan mengintip dari balik gorden.
"Mampus..." bisik Selena.
Di depan rumahnya, terparkir sebuah mobil SUV hitam legam yang mengkilap banget—jenis mobil yang biasanya dipakai pengawal kepresidenan atau... ya, mafia. Kaca jendela mobil itu turun perlahan, menampakkan sosok Axel yang memakai kacamata hitam sambil melambai-lambai.
"Woy, Super-Sel! Bangun! Tugas negara memanggil!" teriak Axel dari luar tanpa rasa malu.
Selena langsung membuka jendela kamarnya dan berteriak, "HEH! MAU NGAPAIN LO DI RUMAH GUE PAGI-PAGI?! PERGI NGGAK?!"
"Gak bisa, Neng! Ini perintah dari Kanjeng Gusti Pangeran Zeus Alexandra ," balas Axel sambil cengengesan. "Katanya ada barang dia yang ketinggalan di tas lo pas lo cosplay kemarin. Lo disuruh ikut kita sekarang ke..."
Belum selesai Axel ngomong, pintu mobil belakang terbuka. Zeus keluar dengan kaos polos hitam dan celana jeans, tapi auranya tetep aja bikin orang satu RT pengen sungkem. Dia menatap ke arah jendela kamar Selena.
"Lima menit. Gak turun, gue yang naik ke atas," ucap Zeus singkat, padat, dan sangat mengancam ketenangan jiwa.
Selena langsung panik setengah mati. "RORA! GIMANA INI?! Mana gue masih pake daster gambar robot rongsokan begini!"
Rora malah sibuk merapikan rambutnya sendiri. "Gue bilang juga apa, Sel! Lo itu udah masuk radar mereka. Udah, buruan ganti baju! Daripada pangeran mafia beneran dobrak pintu rumah lo, ntar Mamah lo pingsan beneran!"
BRAAAKKK!
Suara gebrakan kali ini bukan dari gebrakan meja, tapi suara pintu kamar Selena yang dibuka paksa oleh Mamahnya yang mukanya udah penuh rasa penasaran (dan sedikit senang).
"Selena! Itu cowok yang semalem dateng lagi! Ganteng banget, Sel! Buruan turun, Mamah udah bikinin mereka teh di depan!" teriak Mamahnya semangat.
Selena cuma bisa nepok jidat. "Weekend gue... resmi hancur berkeping-keping."
Bersambung...