NovelToon NovelToon
JEJAK YANG TIDAK SEHARUSNYA ADA

JEJAK YANG TIDAK SEHARUSNYA ADA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Agung Nirwana

Sinopsis:

Liang Chen adalah pengembara yang memilih hidup sederhana dan menjauh dari dunia persilatan. Ia tidak mengejar kekuatan, nama besar, atau kekuasaan—hanya ingin hidup tanpa meninggalkan jejak. Namun sebuah pertemuan dengan seorang pria sekarat menyeretnya pada sebuah warisan berbahaya: sebuah kitab beladiri yang tidak mengajarkan kemenangan, melainkan cara mengakhiri konflik secepat mungkin.

Sejak itu, hidup Liang Chen berubah. Orang-orang mulai memperhatikannya, mengujinya, dan menyebarkan cerita tentangnya. Ia tidak lagi dinilai sebagai orang biasa, melainkan sebagai gangguan terhadap keseimbangan. Setiap keputusan kecil memicu reaksi berantai, setiap pertarungan melahirkan musuh baru yang tidak selalu datang dengan pedang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TUGAS YANG TIDAK DICATAT

Liang Chen tidak langsung menerima penjelasan.

Ia membiarkan wanita itu menuangkan teh sekali lagi, membiarkan aroma pahit naik perlahan. Tempat seperti ini mengajarkan satu hal sederhana: siapa yang tergesa biasanya datang dengan posisi lebih lemah.

“Apa tugasnya?” tanyanya akhirnya.

Wanita itu mendorong sebuah gulungan kecil ke tengah meja. Bukan dokumen resmi. Tidak ada cap. Hanya kertas biasa, dilipat rapi.

“Seorang pria,” katanya. “Namanya Qiu Han.”

Liang Chen membuka gulungan itu. Hanya satu kalimat tertulis di sana:

Jangan biarkan ia meninggalkan wilayah ini.

“Bunuh?” tanya Liang Chen.

“Tidak,” jawab wanita itu cepat. “Jika ia mati, urusan jadi besar.”

“Culik?”

“Lebih buruk,” kata wanita itu. “Orang hilang selalu meninggalkan pertanyaan.”

Liang Chen mengangkat pandangan. “Lalu?”

“Buat dia berhenti,” kata wanita itu. “Dengan caramu sendiri.”

Liang Chen memahami maksudnya. Dunia persilatan penuh dengan metode yang tidak tercatat sebagai kekerasan, tapi hasilnya lebih permanen.

“Siapa dia?” tanya Liang Chen.

“Seorang penghubung,” jawab wanita itu. “Kecil, tapi tahu terlalu banyak. Dan terlalu yakin bisa menjual informasi itu ke tempat yang salah.”

“Kenapa tidak kalian sendiri?” tanya Liang Chen.

Wanita itu tersenyum tipis. “Karena kami sudah terlihat. Dan kau belum.”

Itu jawaban paling jujur yang bisa ia dapatkan.

“Di mana?” tanya Liang Chen.

“Gudang garam lama di tepi sungai,” jawab pria muda di pintu. “Malam ini. Ia akan bertemu seseorang.”

“Orang siapa?”

“Orang yang tidak perlu kau temui,” kata wanita itu. “Itu sebabnya kau di sana.”

Liang Chen melipat kembali gulungan kertas itu dan menyimpannya. Tidak ada tanda persetujuan resmi. Tapi keputusannya sudah terbaca.

“Setelah ini?” tanyanya.

“Kau bebas,” jawab wanita itu. “Setidaknya dari kami.”

Liang Chen berdiri. “Aku tidak suka hutang.”

Wanita itu menatapnya. “Tak ada orang di dunia ini yang benar-benar bebas dari hutang.”

---

Gudang garam itu sudah lama tidak dipakai.

Dinding kayunya lapuk, atapnya bocor di beberapa bagian. Namun letaknya strategis—cukup dekat sungai untuk jalur barang, cukup jauh dari rumah warga untuk menghindari perhatian.

Liang Chen tiba sebelum matahari tenggelam.

Ia tidak masuk. Ia memutari gudang lebih dulu, mencatat jalur masuk, tumpukan peti kosong, dan satu pintu samping yang jarang dipakai. Tidak ada penjaga tetap. Orang yang terlalu percaya diri jarang membayar pengamanan.

Saat gelap turun, Qiu Han datang.

Pria itu kurus, berpakaian rapi, langkahnya cepat tapi tidak panik. Ia membawa tas kecil yang digenggam terlalu erat. Orang seperti ini tidak kuat bertarung, tapi kuat berlari dan berbicara.

Liang Chen menunggu sampai Qiu Han masuk ke gudang.

Ia masuk dari pintu samping.

Qiu Han terkejut saat menyadari ia tidak sendirian. Tangannya bergerak ke tas.

“Jangan,” kata Liang Chen. Suaranya rendah, tidak mengancam.

Qiu Han membeku. Matanya bergerak cepat, menghitung.

“Kau bukan orang mereka,” katanya. Lebih pernyataan daripada pertanyaan.

“Benar,” jawab Liang Chen.

“Kalau begitu kau salah sasaran,” kata Qiu Han cepat. “Aku bisa bayar.”

Liang Chen menggeleng. “Aku tidak datang untuk uang.”

Qiu Han menelan ludah. “Mereka menyuruhmu?”

“Mereka ingin kau tinggal,” jawab Liang Chen. “Di sini.”

Qiu Han tertawa pendek. “Aku tidak melanggar apa pun. Aku hanya bicara.”

“Bicaramu berpindah tempat,” kata Liang Chen. “Dan itu masalah.”

Qiu Han mundur satu langkah. “Aku tidak akan diam.”

Liang Chen menghela napas pendek.

Ia melangkah maju—tidak cepat, tidak lambat. Tangannya bergerak ke pergelangan Qiu Han, memutar dengan sudut yang tepat. Bunyi retak kecil terdengar. Qiu Han berteriak, jatuh berlutut.

Liang Chen tidak berhenti di situ.

Ia menekan bahu, menjatuhkan Qiu Han ke lantai. Satu hentakan ke sisi leher—cukup untuk membuat dunia berputar, tidak cukup untuk mematikan.

“Kau masih bisa berjalan,” kata Liang Chen. “Masih bisa bicara.”

Qiu Han terengah. “Lalu…?”

“Tapi kau tidak akan bepergian,” lanjut Liang Chen. “Dan orang yang ingin membelimu akan menganggapmu beban.”

Ia merobek tali tas Qiu Han, menuangkan isinya ke lantai. Catatan. Nama. Jalur. Tidak ada yang disimpan kembali.

“Jika kau pergi dari wilayah ini,” kata Liang Chen, “aku akan tahu. Dan saat itu, kau tidak akan jatuh.”

Qiu Han gemetar. Ia mengangguk cepat.

Liang Chen berdiri.

Ia tidak membunuh. Ia tidak menculik. Ia mengakhiri kemungkinan.

---

Keesokan paginya, Liang Chen kembali ke jalur pegunungan.

Tidak ada yang mengejarnya. Tidak ada yang menyapanya.

Tapi ia tahu, di tempat-tempat tertentu, namanya dicoret dari satu daftar dan ditulis di daftar lain.

Ia membuka kitab itu saat berhenti makan siang.

Satu kalimat terasa berbeda hari ini:

Konflik tidak selalu diselesaikan dengan darah. Kadang cukup dengan mengubah arah hidup seseorang.

Liang Chen menutup kitab itu.

Ia tidak merasa bangga. Ia tidak merasa bersalah.

Yang ia rasakan hanyalah kepastian dingin:

Ia baru saja mengambil langkah pertama sebagai bagian dari permainan yang lebih besar—meski ia belum tahu papan seperti apa yang sedang ia pijak.

Dan sekali melangkah ke sana, tidak ada jalan kembali ke pinggir.

---

1
Restu Agung Nirwana
Cocok untuk yang suka adegan pertarungan berdarah-darah 🔥🔥
Happy Alone
Kapan Liang Chen baku hantam? Terima Kasih ceritanya.
Restu Agung Nirwana: Bab 20+, mulai lebih bnyk adegan pertarungan 🤭
total 2 replies
Happy Alone
Tuh orang gak kedinginan kali ya tidur dibawah pohon begitu. Terima kasih ceritanya.
Restu Agung Nirwana: hehehe... namanya jg pengembara kak, bisa tdr dmn saja 😄
total 1 replies
Happy Alone
udah aku diduga, hidupnya bakal dipenuhi kemalangan. Terima kasih ceritanya.
Restu Agung Nirwana: Nasib pengembara bebas (Liang Chen) yg gak pny tujuan dan ambisi, cuma mau hidup bebas. Tp tanpa sengaja malah terseret ke dalam konflik dunia persilatan gara-gara di kasih kitab yg blm di ketahui asal-usulnya oleh orang sekarat (Xu Fan). Ya beginilah jdnya 😄
total 1 replies
Happy Alone
Umpan untuk seseorang yang pantas mempelajari kitab. Terima kasih ceritanya.
Restu Agung Nirwana: smoga suka ya... 🙂
total 3 replies
Happy Alone
Sebenernya awal awal baca agak bingung. Maksudnya, si Liang Chen siapa? Xu Fan siapa? mereka ada dimana? terus tuh buku apaan? tapi udahlah. Terima kasih ceritanya.
Restu Agung Nirwana: Trims apresiasinya kak, mohon dukungannya biar gak kendor 😄
total 6 replies
Happy Alone
Liang Chen, dia pria baik yang akan selalu dapat kemalangan. Namanya ada kata Liang, artinya baik hati. Terima kasih ceritanya.
Restu Agung Nirwana: Wow, sampai arti namanya pun di nilai. Terimakasih, semoga suka sama ceritanya 😍
total 1 replies
Happy Alone
Semangat, Terima kasih ceritanya.
Restu Agung Nirwana: Iya, terimakasih mohon dukungannya biar makin semangat nulisnya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!