Pada kehidupan sebelumnya Ashilla dipaksa menikah dengan seorang pria yang dikabarkan kejam dan diduga sadis namun secara tegas Ashilla melawan keinginan ayahnya itu sehingga ia malah dibebankan hutang yang sangat besar karna sudah dibesarkan oleh keluarga Clinton namun tidak membalas budi.
Bertahun-tahun kemudian saat ia hendak membayar hutang tersebut, ibu tirinya datang dan memaksanya untuk menanggung kesalahan atas putrinya yang menabrak seseorang saat mengendarai mobil dengan ugal-ugalan.
Saat itulah kehidupannya hancur, untungnya waktu kembali berputar pada hari dimana semua tragedi tersebut belum terjadi dan kali ini Ashilla bertekad untuk menikahi pria tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 10 - Pulang dari Pertemuan
Perjamuan pun segera berakhir. Saat hendak pergi, Kanara dan Damian mengangguk sopan ke arah Ashilla.
Sebenarnya, mengingat status keluarga Adam sebagai tuan rumah, mereka tak perlu bersikap sedemikian rendah hati. Namun, perjamuan ini memang berbeda.
Terus terang saja, orang-orang yang hadir membawa serta anak-anak mereka dengan maksud terang-terangan untuk “memilih calon pasangan”, sesuatu yang justru menjatuhkan martabat mereka sendiri. Karena itulah, sikap sopan keluarga Adam masih bisa dimengerti.
Ketika Laura hendak membawa Ashilla pergi, Kanara tiba-tiba bertanya,
“Apakah kamu ingin menginap?”
Laura ikut menatap Ashilla penuh harap.
“Kalau kamu mau, kita bisa pulang besok pagi saja.”
Ashilla segera menggeleng.
“Tidak perlu, Tante. Aku lebih nyaman pulang.”
Padahal Laura hampir saja mengangguk setuju, tetapi semuanya sudah terlambat.
Ia hanya bisa menyalahkan Ashilla dalam hati karena terlalu kaku. Namun, kegelisahan yang tadi memenuhi dadanya kini hampir sepenuhnya tergantikan oleh rasa puas.
Penampilan Ashilla malam ini dengan jelas menunjukkan bahwa pilihan mereka pada Ashilla sebagai calon pasangan Ken pada dasarnya sudah hampir menjadi keputusan final.
Laura tak bisa menahan diri untuk membayangkan hari-hari indah di masa depan, saat ia bisa semakin dekat dengan keluarga Adam.
Sepanjang perjalanan pulang, ia tenggelam dalam kegembiraan, seperti seseorang yang baru saja memenangkan jackpot besar. Bahkan, menurutnya, keuntungan dari menjalin hubungan dengan keluarga Adam jauh lebih berharga dibandingkan hadiah lotre ratusan juta sekalipun.
Ia bahkan sempat berkata ringan di dalam mobil,
“Perjamuan tadi benar-benar lancar, ya.”
Ashilla hanya menjawab singkat,
“Mm.”
Sayangnya, Laura sama sekali tidak mempertanyakan mengapa Ashilla tampak tidak menolak ketika mengetahui bahwa keluarga Clinton berniat menjodohkannya dengan Ken. Ia juga tak menyadari senyum sinis yang sekilas terukir di sudut bibir Ashilla saat menatap keluar jendela.
***
Saat mereka kembali ke kediaman keluarga Clinton, kebetulan semua orang sedang berkumpul di ruang tengah.
Camilla dan Kaison tampak mengerubungi Miller, bersikap manja dan merajuk tentang sesuatu, menciptakan pemandangan ayah dan anak yang tampak akrab dan harmonis.
“Ayah kan sudah janji!” keluh Camilla.
“Iya, Ayah, jangan lupa ya,” tambah Kaison sambil tersenyum.
Namun begitu Ashilla melangkah masuk, suasana seketika menjadi canggung.
Kilasan ketidaksenangan muncul di wajah Miller. Tetapi ketika ia melihat ekspresi bahagia di wajah Laura, matanya justru berbinar.
Ia hendak bertanya, namun segera tersadar dan berkata pada si kembar,
“Baiklah, Ayah sudah berjanji. Sekarang sudah malam, kembali ke kamar dan istirahatlah.”
“Benar ya, Ayah nggak boleh lupa,” ujar Camilla sambil menatap curiga.
Miller terkekeh singkat. “Ayah tidak lupa.”
Lalu ia menoleh ke arah Ashilla, tersenyum tipis.
“Kamu juga pasti lelah. Pergilah mandi dan beristirahat.”
“Baik, ayah,” jawab Ashilla pelan.
Miller tahu alasan Laura membawa Ashilla keluar hari ini. Hanya dari tatapan Laura saja, ia sudah paham bahwa ada kabar penting yang ingin disampaikan.
Ashilla sendiri memperkirakan bahwa besok Camilla dan Kaison akan datang “berunding” dengannya untuk menenangkan situasi. Karena itu, ia merasa perlu menyimpan tenaga, agar esok ia tidak memperlihatkan rasa muak dan kebenciannya di depan keluarga Iain.
Ia berjalan santai mengikuti kedua saudara tirinya. Namun begitu tiba di lantai atas, di sudut yang tak terlihat dari bawah, Camilla tiba-tiba menghadangnya.
“Hei, apa kamu tahu kenapa ibuku membawamu ke pesta itu?” Camilla tak tahan melihat sikap Ashilla yang begitu tenang, lalu sengaja memancingnya.
Ashilla menatapnya sekilas.
“Kalau kamu penasaran, tanya saja langsung pada ibumu.”
Tanpa menunggu reaksi, ia menunduk dan berjalan melewatinya tanpa ekspresi, langsung menuju kamarnya.
“Hei, kamu—!” Camilla makin kesal. “Sombong banget sih!”
Namun Kaison segera menarik lengannya dengan tidak sabar.
“Kenapa sih kamu selalu mengurusi dia? Kalau orang tua dengar, pesta ulang tahun di kapal pesiar kita bisa dibatalkan.”
“Aku nggak percaya Ayah bakal membatalkan pesta cuma gara-gara dia,” bantah Camilla keras kepala.
“Tapi… ya sudahlah!”
Meski begitu, ia tetap menghentakkan kaki kesal dan tak mengejar Ashilla lagi.
Mendengar keributan di belakangnya, Ashilla tak kuasa menahan senyum sinis di sudut bibirnya.
Di keluarga Clinton, orang yang paling sering mencari masalah dengannya adalah Camilla. Sementara Kaison biasanya bersikap acuh tak acuh. Karena itu, di kehidupan sebelumnya, ia tidak terlalu membenci Kaison.
'Tunggu saja Camilla, kali ini aku tidak akan menggantikan kesalahanmu..'