NovelToon NovelToon
Menjadi Tawanan Monster Tampan

Menjadi Tawanan Monster Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Reinkarnasi / Cintapertama
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ummu_Fikri

Seorang gadis cerdas, tetapi Cupu bertemu tanpa sengaja dengan seorang laki-laki dengan aura tidak biasa. Pertemuan itu adalah awal dari kisah panjang perjalanan cinta mereka. Laki-laki itu menunjukkan sikap tidak sukanya, tetapi dibelakang ia bak bayangan yang terobsesi pada kelinci kecil. Akankah kelinci itu terperangkap, atau justru mencoba kabur dari pengejaran si dominan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu_Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teater Kepemilikan

​Malam itu, penthouse Axel Steel berubah menjadi seperti salon pribadi ala Mr. Steel. Lelaki itu tidak membiarkan Sesilia memilih apa pun untuk acara amal tahunan Global Steel Initiative—sebuah panggung yang ia rancang sendiri untuk memperkenalkan "properti" paling berharganya kepada dunia.

​Sesilia berdiri kaku di tengah ruang rias, dikelilingi oleh lima orang penata gaya terbaik yang didatangkan Axel dari Paris. Di atas meja rias, tergeletak sebuah gaun yang tampak seperti ditenun dari lelehan perak dan serpihan berlian. Gaun itu berwarna Steel Blue, warna yang menjadi simbol kekuasaan Axel.

​"Aku ingin dia tampak tak tersentuh," suara Axel terdengar dari ambang pintu. Pria itu sudah mengenakan tuksedo hitam yang dijahit dengan sangat presisi, memancarkan aura predator yang dominan.

​Sesilia menatap pantulan Axel di cermin. "Kau ingin aku tampak seperti patung pajanganmu, bukan?"

​Axel melangkah mendekat, memberikan isyarat agar para penata gaya menjauh. Ia mengambil sebuah kalung choker yang terbuat dari berlian utuh. Tangannya yang besar dan dingin melingkarkan perhiasan itu di leher gadisnya. Rasanya kalung itu bukan seperti perhiasan, lebih seperti borgol mewah.

​"Aku ingin mereka melihat apa yang tidak bisa mereka miliki, sayang," bisik Axel di telinganya.

"Malam ini, kau bukan hanya tunanganku. Kau adalah pesan tersembunyi. Sebuah peringatan bagi siapa pun yang pernah berpikir untuk mendekatimu."

​Axel mencium lama bahu gadisnya yang terbuka, sebuah kecupan yang sarat akan makna segel kepemilikan.

"Jangan tersenyum pada siapa pun kecuali padaku. Ingat Aturan Nomor 3 dalam kontrak kita."

​Grand Ballroom The Titanium Hotel—properti lain milik Steel Group—dipenuhi oleh elit global. Di sini, udara beraroma parfum ribuan dolar dan konspirasi bisnis. Para rival Axel, mulai dari taipan properti hingga pewaris minyak, berkumpul dengan satu rasa penasaran yang sama. Tentang benarkah Axel Steel yang dingin telah bertekuk lutut pada seorang mahasiswi kedokteran?

​Pintu ballroom terbuka, dan keheningan mendadak melanda ruangan.

​Axel Steel melangkah masuk dengan tangan melingkar posesif di pinggang Sesilia. Sedangkan gadis dalam pelukan sang monster itu berjalan dengan keanggunan yang ia paksa muncul dari rasa bangganya.

Setiap langkahnya terasa seperti berjalan di atas bara api. Gaun peraknya menangkap setiap cahaya lampu kristal, membuatnya tampak bercahaya di tengah kegelapan jas-jas pria di sekelilingnya.

​"Lihat mereka, sayang," bisik Axel tanpa mengalihkan pandangan dari depan. "Mereka melihatmu seperti serigala melihat mangsa. Tapi mereka tahu, mangsa ini sudah ditandai oleh sang singa."

Langkah ​Axel membawa Sesilia menuju lingkaran utama, tempat para rival bisnisnya berkumpul. Di sana berdiri Julian Vane, saingan berat Axel dalam perebutan konsesi tambang di Afrika, yang dulu pernah mencoba mendekati Uni hanya untuk mendapatkan informasi tentang keluarga Steel.

​"Axel, akhirnya kau membawa misteri itu keluar," ucap Julian dengan senyum licik, matanya menatap Sesilia dengan ketertarikan yang provokatif.

"Nona Sesilia, Anda seribu kali lebih cantik daripada yang digambarkan di media."

​Julian mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Sesilia. Namun, sebelum jemari Sesilia sempat bergerak, Axel mempererat rangkulannya di pinggang sang gadis, menariknya lebih rapat ke tubuhnya. Tidak membiarkan siapapun menyentuh properti paling berharga miliknya.

​"Dia bukan untuk disentuh, Julian," ucap Axel, suaranya rendah dan tajam seperti mata pisau. "Dan dia bukan misteri. Dia adalah satu-satunya kenyataan permanen dalam hidupku." Tangannya menyentuh pinggang Sesilia sensual, memamerkan kemesraan pada pria bajingan di depannya.

Aroma permusuhan memenuhi udara. Axel tidak hanya menunjukkan hubungan, ia menunjukkan dominasi teritorial yang tak terbantahkan. Sang monster tidak membiarkan ada celah sedikitpun di antara dirinya dan gadis itu.

​Acara berlanjut ke sesi dansa pembuka. Axel menuntun Sesilia ke tengah lantai dansa. Di bawah sorotan lampu spotlight, monster itu mengunci tubuh sang tikus kecil dalam pelukannya. Tangan kanannya menekan punggung bawahnya dengan kekuatan yang memastikan Sesilia tidak bisa menjauh meski satu senti pun.

​"Kau membuat mereka takut padaku," bisik Sesilia sambil mengikuti langkah dansa Axel yang sempurna.

​"Itu tujuannya, sayang" jawab Axel. Matanya yang kelabu menatap lurus ke dalam mata gadis dalam pelukannya, mengabaikan ratusan kamera yang mengabadikan momen itu. "Aku ingin mereka tahu bahwa mendekatimu berarti menyatakan perang terhadap Steel Group. Aku telah menghabiskan empat tahun untuk membersihkan hama di sekitarmu, dan malam ini adalah pengumuman resminya."

​Axel memutar tubuh Sesilia, lalu menariknya kembali dengan sentakan lembut namun posesif. Di mata publik, itu adalah dansa yang sangat romantis dan penuh gairah. Namun bagi Sesilia, itu adalah demonstrasi kekuatan. Axel sedang menunjukkan pada dunia bahwa ia mengendalikan setiap gerak napas Sesilia.

​"Kau gila, Axel. Kau tidak mencintaiku. Kau hanya terobsesi untuk mengontrol," ucap Sesilia, suaranya bergetar.

​Axel mendekatkan wajahnya, hidung mereka bersentuhan. "Kontrol adalah bentuk cinta yang paling murni, sayangku. Aku menjagamu, aku memastikamu tetap sempurna, dan aku tidak membiarkan satu kuman pun menyentuh kulitmu. Itu lebih dari sekadar cinta picisan yang ditawarkan pria-pria lemah di kampusmu."

​Selama acara berlangsung, Sesilia menyadari betapa kegilaan Axel sudah diluar batas akal sehat. Setiap kali ia pergi ke toilet, dibelakangnya selalu ada dua agen wanita bersetelan jas hitam—Shadow Guard—berdiri di depan pintu, memastikan tidak ada pria atau wanita lain yang mencoba berbicara padanya.

​Bahkan saat Sesilia mengambil gelas sampanye dari pelayan, Axel segera mengambil gelas itu dan menggantinya dengan gelas air mineral yang ia bawa sendiri.

​"Jangan minum apa pun yang tidak berasal dari tanganku, Sesilia," perintah Axel tanpa emosi. "Aku tidak bisa menjamin keamanan minuman di sini."

​Obsesi Axel mencapai puncaknya saat Julian Vane kembali mendekat ketika Axel sedang berbicara dengan seorang menteri. Julian mencoba membisikkan sesuatu pada Sesilia.

​"Nona Sesilia, jika Anda butuh jalan keluar dari sangkar emas yang dibangun Steel ini—"

​Belum sempat Julian menyelesaikan kalimatnya, tangan Axel sudah mencengkeram bahu lelaki itu dengan cengkeraman yang membuat pria itu meringis. Axel muncul entah dari mana, matanya berkilat dengan kegelapan yang mengerikan.

​"Satu kata lagi yang mulut kotormu katakan pada tunanganku, dan aku akan memastikan saham perusahaanmu jatuh ke titik nol sebelum pasar dibuka besok pagi," ancam Axel. Suaranya sangat tenang, namun dipenuhi janji kehancuran.

​Julian mundur, wajahnya pucat. Ia menyadari bahwa Axel Steel tidak sedang bermain-main. Sesilia bukan lagi manusia biasa di mata Axel, ia adalah jantung dari kerajaan bisnisnya yang tidak boleh disentuh oleh siapa pun.

​Di penghujung malam, Axel berdiri di podium untuk memberikan pidato penutup. Ia memegang mikrofon dengan satu tangan, sementara tangan lainnya tetap menggenggam tangan Sesilia, memaksa gadis itu berdiri di sampingnya di depan seluruh audiens paling berpengaruh di negara ini.

​"Malam ini bukan hanya tentang amal," suara Axel bergema dengan otoritas yang menggetarkan.

"Malam ini adalah tentang masa depan Steel Group. Dan masa depan itu berdiri di samping saya."

​Axel menoleh ke arah Sesilia, menatapnya dengan pandangan yang membuat sang gadis seperti tidak mengenakkan sehelai benang pun.

"Gadis di sebelah saya ini adalah dewi keberuntungan, belahan jiwa dan satu-satunya hal yang saya miliki yang tidak bisa dibeli dengan uang. Mulai malam ini, dia adalah Nyonya Steel. Pernikahan kami akan segera menyusul. Nantikan saja."

Kemudian ​Axel sengaja mencium punggung tangan gadis itu. Gerakannya pelan namun pasti, matanya tetap menatap audiens.

Disebelah sana, nampak Julian Vane, tangannya memegang segelas wine. Matanya menampakkan binar aneh.

​Malam itu berakhir dengan Sesilia yang menyadari bahwa ia telah resmi mati sebagai individu yang bebas. Axel telah membawanya ke puncak dunia hanya untuk menunjukkan bahwa tempat itu terlalu tinggi bagi siapa pun untuk membawanya turun.

​Saat mereka kembali ke mobil, Axel menarik Sesilia ke dalam pelukannya di kegelapan kursi belakang.

​"Kau melakukannya dengan baik, Ratuku," bisik Axel, suaranya dipenuhi kepuasan seorang pemenang. "Sekarang seluruh dunia tahu bahwa kau adalah milikku. Dan tidak ada jalan kembali."

​Sesilia menatap jendela mobil yang gelap, menyadari bahwa sangkar emasnya kini telah meluas hingga ke seluruh pelosok negeri. Axel Steel tidak hanya membawanya ke sebuah acara, ia telah mematenkan keberadaannya.

1
partini
baca sinopsisnya penasaran
Lusy Kunut: Stay tune yah kak, supaya rasa penasarannya terobati👍
total 1 replies
merdi Yanto
cuit cuit cuit😍🤣
merdi Yanto
duh🤭
merdi Yanto
Bau-bau mulai berbalas perasaannya Axel
merdi Yanto
/CoolGuy//CoolGuy/
merdi Yanto
Plot twist banget keluarganyaa
merdi Yanto
🤭🤭🤭🤭
bau bau bucin😍😄
merdi Yanto
Suka cerita dari sok benci jadi bucin akut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!