NovelToon NovelToon
The Abandoned Wife'S Revenge

The Abandoned Wife'S Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Transmigrasi / Single Mom / Mata-mata/Agen / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Mengubah Takdir
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: eka zeya257

Bagi kebanyakan orang, aku adalah penjahatnya. Tapi bagi seseorang, aku adalah pelindungnya.

Clara Agatha, agen pembunuh bayaran kelas kakap di organisasi Blade. Hidupnya yang monoton membuat dia tak memiliki teman di organisasi, sampai pada akhirnya penghianatan dari organisasinya membawa dia ke dalam kematian.

Clara pikir semua sudah selesai, namun dia terbangun di raga orang lain dan menjadi ibu dua anak yang di buang suaminya. Clara tak tahu cara mengurus anak kecil, dia berpikir jika mereka merepotkan.

Namun, pemikiran itu berubah saat kedua anaknya menunjukan kebencian yang begitu besar padanya. Clara merasa aneh, bagaimana bisa anak polos seperti mereka membenci ibunya sendiri? Clara bertekad untuk mencari tahu alasannya, dan menuntut balas pada suami dan juga organisasinya yang telah membuat dia mengalami kejadian menyedihkan seperti itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

"Untuk apa kau menghubungiku lagi, Delvin?" Tanya Aurora dingin.

Terdengar tawa sinis dari balik sambungan telepon. "Jangan marah-marah, aku hanya ingin menanyakan kapan kau kembali?"

"Kembali?" Aurora tertawa. "Kemana? Aku sudah berada di rumahku sekarang."

"Rumahmu? Kau tidak punya rum–"

"Jangan menghubungiku lagi, kita sudah sepakat bercerai jadi urus saja hidupmu." Potong Aurora dan mematikan sambungan telepon secara sepihak.

Helaan napas panjang terdengar, dia tak menyangka jika mantan suaminya akan. Menghubungi dirinya lagi setelah perlakuan buruk padanya selama ini.

"Benar-benar pria tak tahu malu," gumamnya.

Aurora meletakkan ponsel itu ke atas meja dengan gerakan tegas. Jemarinya sempat bergetar sesaat, bukan karena ragu melainkan jijik.

Dia menyandarkan punggungnya ke kursi kerja, menatap langit-langit ruangan yang tinggi dengan lampu gantung kristal. Rumah ini terlalu sunyi untuk sebuah pagi yang seharusnya sibuk, namun justru keheningan itu membantunya berpikir jernih.

Delvin.

Nama itu kini tak lebih dari noda masa lalu.

Aurora meraih map berikutnya, membukanya dengan raut wajah kembali dingin dan fokus. Lembar demi lembar laporan keuangan terhampar di hadapannya. Grafik penurunan. Transaksi mencurigakan. Proyek yang tiba-tiba dihentikan tanpa alasan jelas.

Alis Aurora berkerut.

"Menarik…" gumamnya.

Dia menarik satu dokumen keluar, lalu menindihnya dengan dokumen lain. Tanggalnya sangat berdekatan. Enam bulan sebelum kecelakaan pesawat orang tuanya terjadi. Beberapa dana besar dialihkan ke anak perusahaan yang bahkan tidak pernah dia dengar sebelumnya.

Aurora mendongak. "Jadi Paman Jeremi yang menandatangani dokumen pengalihan ini?"

Aurora terkekeh pelan. Ekspansi darurat. Alasan klasik untuk menguras isi perusahaan tanpa menimbulkan kecurigaan yang signifikan.

"Aku perlu melihat daftar seluruh anak perusahaan yang aktif dua tahun terakhir," gumam Aurora. "Termasuk pemegang saham minoritasnya."

 Aurora kembali menatap dokumen di hadapannya. Potongan-potongan mulai tersusun rapi di kepalanya. Kematian orang tuanya. Pengambilalihan perusahaan. Pengalihan dana. Dan mantan suami yang tiba-tiba muncul kembali.

Tidak ada yang kebetulan di tempat dan situasi yang mencekik seperti ini.

Aurora menutup map itu perlahan, lalu menatap jendela besar di samping meja kerjanya. Taman mawar di luar tampak indah dan tenang, berbanding terbalik dengan badai yang sedang dia persiapkan.

"Ayah, Ibu," gumamnya lirih. "Jika ini memang sabotase… maka aku bersumpah akan menyeret semua yang terlibat ke permukaan dan menghancurkan mereka tanpa sisa."

***

Di sisi lain kota, Delvin duduk membeku di kursi kerjanya.

Ponsel masih tergenggam di tangannya, layar sudah gelap sejak sambungan telepon itu terputus sepihak. Untuk beberapa detik, dia hanya menatap pantulan wajahnya sendiri di layar hitam itu.

Aurora barusan… menutup teleponnya.

Bukan dengan tangisan.

Bukan dengan nada memohon.

Bahkan tanpa sedikit pun keraguan. Ada apa dengan wanita itu?

Delvin menghela napas kasar, lalu meletakkan ponselnya di atas meja kerja dari kaca. Ruang kantor itu cukup luas, berlapis marmer hitam, dengan jendela tinggi menghadap gedung-gedung pencakar langit. Segalanya menunjukkan kekuasaan namun entah kenapa, dadanya terasa sempit.

"Itu bukan Aurora yang kukenal," gumamnya.

Aurora yang dulu akan berusaha menjelaskan. Akan marah dengan nada gemetar. Atau diam, menelan semua perlakuan buruknya. Dan memohon untuk kembali padanya. Tapi wanita yang barusan bicara dengannya… dingin, tegas, dan sama sekali tidak membutuhkan dirinya.

Delvin berdiri, melangkah mendekati jendela. Tangannya menyelip di saku celana, rahangnya mengeras.

"Dia bilang… rumahnya."

Kalimat itu terngiang.

Rumah apa? Aurora tidak punya rumah. Setidaknya, tidak lagi sejak dia mengusirnya dengan alasan yang dia buat sendiri. Atau… jangan-jangan—

Ketukan pintu memecah lamunannya.

"Masuk."

Sekretarisnya melangkah masuk dengan tablet di tangan. "Tuan Delvin, jadwal rapat siang ini dimajukan satu jam. Dan… ada satu laporan lagi."

Delvin berbalik. "Laporan apa?"

"Alverez Group. Saham internalnya mulai bergerak. Ada perubahan struktur kepemilikan yang cukup signifikan sejak pagi tadi."

Alis Delvin terangkat. "Alverez?"

Sekretaris itu mengangguk. "Nama Aurora Alverez tercatat kembali sebagai pemegang hak mayoritas keluarga."

Hening.

Delvin menatap sekretarisnya tanpa berkedip. "Ulangi."

"Aurora Alverez. Pewaris sah. Datanya baru saja diperbarui oleh notaris keluarga, dia telah resmi mengambil kembali gelarnya sebagai pewaris utama Alverez Group."

Dada Delvin berdegup keras. Bukan kaget semata melainkan perasaan yang lebih rumit. Takut. Tertantang. Dan… rumit yang muncul secara mendadak.

Jadi itu sebabnya sikapnya berubah dingin.

Delvin terkekeh kecil, getir. "Menarik sekali."

Dia meraih jasnya, mengenakannya dengan gerakan mantap. Tatapannya mengeras, penuh perhitungan.

"Aurora," gumamnya pelan. "Sepertinya aku telah meremehkanmu."

***

Sementara itu, di kediaman Alverez, sore turun perlahan dengan cahaya keemasan yang menyelinap masuk melalui jendela-jendela tinggi.

Aurora duduk di tepi karpet ruang keluarga, punggungnya bersandar pada sofa beludru. Di hadapannya, Arjuna dan Riven sedang bermain balok kayu. Mereka tidak berisik, tidak tertawa. Gerakan mereka rapi, teratur dan terlalu tenang untuk anak seusia mereka.

Aurora mengamati dari jarak aman.

Tidak mendekat terlalu cepat.

Tidak menyentuh tanpa izin.

Dia belajar dari tatapan mereka bahwa kedekatan bisa menjadi ancaman bagi keduanya.

"Itu menaranya tinggi sekali," ucap Aurora pelan, berusaha masuk tanpa memaksa.

Arjuna tidak menoleh. Tangannya tetap menyusun balok. "Kalau Mommy mendekat, nanti jatuh."

Aurora tersenyum kecil, pahit. "Oh. Baiklah, Mommy duduk di sini saja."

Dia benar-benar tetap di tempatnya.

Riven melirik sekilas, lalu kembali menunduk. Balok kecil di tangannya bergetar sedikit sebelum akhirnya dia meletakkannya dengan hati-hati.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan.

Aurora meraih satu balok yang jatuh agak jauh dari tumpukan, lalu meletakkannya di lantai, dia hanya menggeser pelan ke arah mereka.

"Kalau mau," katanya lembut, "balok ini bisa jadi pintu."

Arjuna berhenti sesaat. Tatapannya menajam ke arah balok itu, lalu ke wajah Aurora. Seperti sedang menimbang jebakan atau ketulusan dari ibunya itu.

Dia akhirnya mengambil balok itu. Tidak berkata apa-apa.

Aurora menahan napas. Bukan karena kecewa melainkan karena itu sudah sebuah kemajuan kecil.

Riven perlahan mendekat satu langkah, lalu duduk lebih dekat ke kakaknya. Tubuhnya masih tegang.

"Mommy tidak marah?" tanyanya lirih, hampir berbisik.

Aurora menoleh. "Tidak. Kenapa aku harus marah?"

"Biasanya Mommy marah kalau kami tidak mendengarkan."

Aurora menggeleng pelan. "Mommy yang dulu mungkin begitu. Mommy yang sekarang… masih belajar."

Arjuna mendengus kecil. "Belajar apa?"

"Belajar menjadi orang dewasa yang tidak menyakiti anaknya sendiri," jawab Aurora jujur.

1
shabiru Al
pendek amat thor,, nungguin nya lama... baru scroll sekali langsung abis aja
shabiru Al
aurora sendiri masih belum bisa menebak siapa mereka,,, apa mungkin pamanya..
Heni Mulyani
lanjut💪
Heni Mulyani
lanjut
shabiru Al
siapa yang menyerang aurora,, apa black spider ?
Warni: Kayaknya suruhan si mantan
total 1 replies
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
bintang⭐⭐⭐⭐⭐ biar lebih semangat up bab nya karena penasaran 🫶
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
idih selain pengen muntah 🤮
shabiru Al
memang benar laki2 spt delvin tdk layak untuk d kenang tpi d buang ke tempat sampah
shabiru Al
akhirnya sidelvin muncul juga,, tpi kok udah mulai muncul lagi pria lain hhhmmm makin menarik...
mustika ikha
uh, siapakah dia, laki2 arogan, dingin, jgn benci2 amatlah mas arogan nnt kamu kepincut ma aurora, buci loh 🤣🤣semangaaaat 💪💪💪
shabiru Al
tdk mudah membuktikan diri bahwa aurora sudah berubah terutama pada riven
Zee✨: udh kepalang sakit hati makanya susah🤭
total 1 replies
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
kenapa ya anak-anak aurora g sekolah
Zee✨: hooh sampe lupa tanggung jawab
total 3 replies
shabiru Al
seru x ya kalo aldric ketemj sama aurora...
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
semangat rora
shabiru Al
ternyata bukan hanya calix tpi aldric pun sama misterius malah berbahaya....
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
lanjut thor
Heni Mulyani
lanjut
shabiru Al
jadi makin penasaran siapa calix sebenarnya ?
Zee✨: ya kan, masih abu2 pokoknya
total 1 replies
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
aurora suka karakter nya
shabiru Al
apa aurora mengenal siapa calix... ?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!