Sebelah tangan Inara yang hendak membuka pintu tiba - tiba saja langsung terhenti dan melayang di udara. Ketika ia tak sengaja mendengar pembicaraan Brian dengan Melisa - mertuanya.
" Aku akan menikahi Anita ma.."
" Apa maksud kamu Brian? Kamu itu sudah menikah dengan Inara. Kenapa kamu malah ingin menikah dengan wanita tak tahu diri itu."
" Maaf ma. Aku harus segera menikahi Anita. Saat ini dia telah mengandung anaku. Yang berarti penerus dari keluarga Atmaja."
Kedua mata Melisa langsung terbelalak lebar.
Begitu pula dengan kedua mata Inara yang sedari tadi tak sengaja menguping pembicaraan rahasia dari kedua orang yang ada di dalam ruangan sana.
Perih , sakit , dan sesak langsung menyelimuti hati Inara.
Wanita berkulit putih itu tak menyangka. Jika selama ini pria yang selalu ia cintai dan sayangi sepenuh hati . Malah menorehkan luka sebesar ini pada hatinya yang rapuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INNA PUTU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
" Ada apa , kenapa kau terlihat tak tenang begitu? " Ana memegang tangan Inara yang tampak tak diam di atas meja.
Ana sudah mengenal Inara sejak kecil. Jadi ia bisa tahu jika Inara saat ini sedang memiliki beberapa pikiran hingga membuatnya merasa gelisah seperti itu.
Tidak mungkinkan jika gadis itu memikirkan Yohan?
Mengingat kondisi Yohan saat ini sudah aman terkendali di katakan dokter.
" Tante Ana.. Bolehkah aku bercerai dengan Brian? "
" Apa!? " kening Ana berkerut dalam.
Mengingat bagaimana cintanya Inara terhadap pria itu dulu.
Tentu saja ia cukup terkejut akan ucapan yang di keluarkan oleh keponakannya itu.
" Bercerai dengan Brian? Kau serius? " tanya Ana seolah sedang meyakinkan kedua telinganya jika tak salah dengar.
" Ya.. Aku ingin bercerai dengan Brian, tante Ana. Apa hal itu akan berdampak buruk pada keluarga kita? "
Ana terdiam sejenak.
Dengan pikiran yang masih tampak bingung , Ana pun menjawab." Tidak ada. Kecuali kau menyandang status janda nantinya." ucap wanita itu dengan raut wajah setenang mungkin. Meski dalam hati Ana masih bertanya - tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan Inara dan Brian. Yang selama ini ia lihat memiliki hubungan yang baik - baik saja sebagai pasangan suami istri.
" Tidak masalah aku menjadi janda. Yang terpenting aku bisa lepas darinya." tegas Inara yang tak bisa memaafkan pria peselingkuh seperti Brian.
Meski dulunya ia pernah cinta mati terhadap pria itu. Namun perselingkuhan tetap saja tak akan bisa ia maafkan begitu saja.
" Kau benar - benar serius ingin bercerai dari Brian? "
" Ya tentu saja. Apa wajahku saat ini terlihat bercanda dan tak begitu meyakinkan? "
Ana memandang wajah Inara secara lekat.
Wajah lembut gadis itu benar - benar berubah dingin.
Dan hal ini menunjukan ucapan Inara bukanlah sebuah candaan belaka.
Tapi apa...
Apa yang membuat Inara yang terkenal cinta mati dengan Brian , ingin menggugat cerai pria itu?
Ana menggeleng pelan dan berkata. " Apa yang sebenarnya membuatmu ingin bercerai dengan Brian, Inara? "
" Apa sekarang kau telah menyerah mengejar cinta suami yang kau banggakan itu? "
Inara mengeluarkan kekehan kecil dari dalam mulut. Meski sebenarnya dalam hati , gadis itu masih terasa amat sakit akan pengkhianatan yang pria itu lakukan padanya.
Namun Inara sudah tak ingin mengeluarkan air mata lagi untuk pria peselingkuh itu.
Cukup sekali ia menangis bodoh. Dan sekarang ia sudah tak ingin lagi melakukannya.
Ya... Anggap saja jika Tuhan saat ini sedang membuka mata Inara lebar - lebar. Hingga membuat mata hati dan jalan pikiran gadis itu lebih terbuka. Dan bisa melihat sendiri , apabila pria sempurna yang selama ini ia kagumi. Nyatanya tak sebaik dan sesempurna yang ia pikirkan.
___
" Ya.. Bisa di katakan seperti itu. Yang jelas aku ingin berpisah dengannya."
Satu helaan nafas panjang Ana lakukan.
" Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusanmu. Aku akan menyiapkan pengacara terbaik keluarga kita untuk mengurus surat perceraianmu dengan Brian."
" Terima kasih Tante. Kau memang Tante terbaik di dunia yang ku miliki."
" Hey.. Berhentilah memanggilku dengan sebutan tante. Panggil saja aku kakak oke? Aku terlihat sangat tua jika kau terus menerus memanggilku dengan sebutan tante seperti itu. Ditambah lagi aku belum menikah sampai sekarang."
Inara terkekeh kecil kembali. Sembari melihat wajah cemberut Ana yang sungguh lucu untuk ia lihat.
" Bagaimana ya? Kau kan memang tanteku? Sangat terlihat tidak sopan jika aku memanggilmu dengan sebutan kakak."
" Ais.. Persetan dengan ketidak sopanan itu. Umur kita berdua hanya berbeda beberapa tahun. Orang - orang mengira aku telah menjalani operasi plastik karena kau memanggilku dengan sebutan tante setiap hari."
Tawa kecil Inara seketika berubah jadi tawaan lepas.
Bertemu dengan Ana memang selalu berhasil membuat mood buruk wanita itu menjadi jauh lebih baik.
" Oke... Oke... Aku akan melakukannya, asalkan tante mau mentraktirku seumur hidup."
" Ais ... Sejak kapan keponakanku yang lugu ini berubah jadi seorang penjahat ulung hah!? Bisa - bisanya kau meminta traktir seumur hidup dariku, sementara harta kekayaanmu tiga kali lipat lebih banyak dariku." Ana memasang raut wajah kesal.
Tentu saja raut wajah itu hanya bercanda ia keluarkan.
Jangankan mentraktir Inara seumur hidup. Semua harta benda miliknya pun akan secara ikhlas Ana berikan kepada Inara. Mengingat betapa sayangnya Ana kepada Inara. Melebihi jiwa raganya sendiri.
Selain itu, Ana juga sudah berjanji di atas makam kakaknya. Akan menjaga Inara segenap jiwa. Dan tak akan membiarkan satu orang pun di dunia ini menyakiti hati gadis itu.
Jika hal itu sampai terjadi...
Maka bersiaplah..
Bukan hanya Ana. Bahkan seluruh anggota keluarga Revelton pun akan mengambil tindakan tak terduga yang tergolong kejam. Untuk memberikan pelajaran pada seseorang yang berani menyakiti Inara mereka.
Yang bener Naura atau Inara Thoor
ok kita lihat sebadast apa kau Ra