"Tinggalkan putraku dan ambil ini! Ingat jangan kau injakkan kaki kotor mu itu di mansion keluarga Xie." Xie Lihua
"Baik Nyonya, saya akan pergi dari sini. Dan ini amplop dari anda, saya bukan seperti apa yang anda pikirkan." Lin Wu
"Shit! Beraninya dia pergi meninggalkanku, lihat saja aku akan menghukumnya dan membawanya kembali ke sisiku." Xie Yanshen
Dua insan yang terpaksa menikah karena sebuah scandal dan juga tuntutan dari Tuan Jin Hao, Ayah Yanshen. Pernikahan yang tak diinginkan itu membawa Lin Wu ke dalam neraka kehidupan. Lihua, Ibu Yanshen begitu membencinya hingga suatu hari dia sukses menyingkirkan Lin Wu.
Tanpa ada seorang pun tahu, bahwa Lin Wu pergi membawa rahasia besar. Dan kepergiannya membuat Yanshen murka.
Akankah Yanshen tahu rahasia besar Lin Wu? Dan berhasilkah Yanshen membawa kembali wanita yang masih sah menjadi istrinya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sagitarius28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MBSK 10
"Daddy ... Daddy ...." Terdengar suara bocah kecil lirih memanggil sosok Ayah yang dirindukannya. Bocah itu tak lain adalah Ji Chan yang masih berbaring dengan mata terpejam. Tanpa dia sadari bahwa apa yang dilakukannya telah mengusik sosok bocah yang ada di sampingnya.
Perlahan Jun Jie membuka matanya, sebelum kemudian dia menoleh ke asal sumber suara. Setelah mengumpulkan kesadaran penuh, bocah laki-laki itu langsung duduk sembari mengguncang pelan tangan saudara kembarnya.
"Ji Chan, hei bangunlah! Ayo bangun!" seru Jun Jie saudara kembar bocah kecil itu yang masih tertidur di atas pembaringan.
Hah ... hah ... hah ....
"Abang ...." Ji Chan tersadar dari alam bawah sadarnya. Bocah kecil itu tak menyangka bila dia bisa bertemu dengan lelaki yang mengklaim dirinya sebagai Ayah biologis mereka.
"Kapan kita bisa bertemu dengan Daddy? Ji Chan ingin tahu siapa Daddy kita hiks ... hiks ... hiks ...."
"Kenapa, hm? Kamu mimpi buruk lagi?" tanya Jun Jie penasaran menatap lekat wajah mungil kembarannya.
Ji Chan mengangguk pelan, membenarkan tebakan sang abang.
"Sudahlah lebih baik kita tidur lagi. Ini masih malam, jangan sampai Mommy tahu kalau kamu mimpi buruk lagi." Jun Jie mengelus lembut pucuk kepala Ji Chan, berusaha menenangkan saudara kembarnya. Kemudian menutup tubuh sang adik dengan selimut hingga sampai batas leher.
"Abang kenapa sih selalu bilang aku mimpi buruk, padahal kan aku bertemu dengan seseorang yang menganggap dirinya sebagai Daddy," sahut Ji Chan tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Jun Jie barusan.
"Iya memang benar kan. Kamu bertemu orang itu di dalam mimpi, jadi belum pasti kalau dia adalah Daddy kita. Memangnya kamu bisa melihat jelas gimana wajah orang itu, hah?" balas Jun Jie yang tidak ingin kalah.
Sementara Ji Chan langsung mengerucutkan bibirnya. Bocah perempuan itu sedikit kesal dengan tanggapan Abangnya yang selalu memutus harapannya.
Jun Jie sendiri mengacuhkan Ji Chan yang sedang komat kamit. Bocah laki-laki itu lebih memilih membaringkan tubuhnya kembali di pembaringan. Bersamaan Jun Jie yang ingin memejamkan mata, tiba-tiba dia kembali mendengar suara cempreng di sampingnya.
"Abang ... Abang belum tidur ya? Ayolah bang, jangan pura-pura lagi. Aku tahu kok kalau Abang belum tidur, iya kan?" panggil Ji Chan sambil melirik ke arah bocah laki-laki yang ada di sampingnya.
Lama menunggu, tidak ada sahutan sama sekali dari Jun Jie. Hingga akhirnya Ji Chan pun mengguncang lengan Abangnya sedikit keras, berharap saudara kembarnya mau bangun.
"Haiiiish, ada apa lagi? Kamu mimpi buruk, mimpi orang itu lagi? Makanya kalau mau tidur itu baca doa jangan lihatin foto orang ganteng aja. Jadinya gini kan." Jun Jie berdecak kesal atas perbuatan saudara kembarnya itu. Mau tak mau dia menyahuti ucapan Ji Chan agar tidak terus berkicau.
"Abang ini, sensi amat sih sama Ji Chan."
"Emang Abang gak kangen apa sama Daddy?" tanya Ji Chan dengan polosnya menatap Jun Jie yang masih memejamkan mata.
"Enggak." Jawabnya dengan singkat.
"Loh emang kenapa? Aku aja kangen sama Daddy. Jujur aja ya bang, aku tuh sebenarnya iri lihat temanku diantar Ayahnya pergi ke sekolah sedangkan aku hanya di antar sama Mommy aja," ungkap Ji Chan dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku ingin sekali bertemu sama Daddy bang, sebentar aja ... gak lama kok. Kira-kira bisa gak ya kita ketemu sama Daddy." Lanjutnya yang mulai terisak.
Jun Jie yang mendengar isak tangis adiknya pun segera membuka mata. Kemudian menoleh menatap sang adik yang sedang menahan tangisnya. Takut bila Jun Jie akan memarahinya karena faktanya bocah laki-laki itu tidak suka keramaian.
"Udah, jangan nangis. Princess gak boleh nangis biar cantiknya gak hilang. Kamu mau kalau nanti gak cantik lagi, hm?" canda Jun Jie pada adiknya sambil mengusap lembut buliran bening di pipi mulus bocah perempuan itu.
Ji Chan pun menggeleng cepat, menanggapi ucapan Abangnya. "Enggak lah bang, aku kan mau cantik seperti cinderella."
"Ya udah kalau gitu kamu harus nurut sama abang. Ayo kita tidur lagi, besok kan kita sekolah," seru Jun Jie pada adiknya kemudian diangguki kepala oleh Ji Chan.
🥕🥕🥕
"Yanshen, kamu darimana aja Nak? Sudah dua minggu ini kamu tidak pulang. Kamu tidur dimana?" cerocos Mommy Lihua ketika melihat putranya datang dalam keadaan mabuk. Beruntung ada Fen Ang yang mengantar lelaki itu pulang ke kediaman keluarga Xie.
"Maaf Tante, Om, apa bisa saya membawanya langsung ke kamar? Tuan sedang dalam pengaruh alkohol. Jadi ... percuma saja anda bertanya, tidak mungkin Tuan Yanshen menjawab pertanyaan anda," sahut Fen Ang memberanikan diri menjawab pertanyaan Ibu dari atasannya.
"Ya, kamu benar Fen Ang. Lebih baik kamu bawa langsung Yanshen ke kamarnya." Daddy Jinhao membenarkan ucapan Fen Ang, sebelum kemudian Daddy Jinhao berjalan duluan menuju lantai atas tempat dimana kamar Yanshen.
Ceklek ....
Setibanya di dalam kamar, Fen Ang langsung membaringkan Yanshen di atas ranjang yang terlihat rapi. Suasana kamar pun begitu sunyi, tidak ada sosok yang dirindukan oleh Yanshen.
Sementara Fen Ang pun pamit undur diri usai menyelesaikan tugasnya.
"Tante, Om ... saya ijin pamit dulu ya, sudah malam." Fen Ang sedikit membungkukkan badannya sebagai tanda hormat pada orangtua atasannya, selaku pemilik dari perusahaan tempat dia bekerja.
"Terima kasih Fen Ang sudah membawa Yanshen pulang kemari," ucap Daddy Jinhao merasa lega setelah melihat kedatangan putranya meskipun dalam keadaan mabuk berat.
"Sama-sama Om. Itu sudah menjadi tugas saya sebagai asisten, mengantar jemput Tuan Yanshen pergi ke kantor dan kemana pun dia pergi," balas Fen Ang sambil tersenyum menundukkan kepalanya.
Perlahan, Daddy Jinhao menepuk pelan punggung Fen Ang sambil berjalan keluar meninggalkan kamar Yanshen. Disinilah mereka berada, berdiri tepat di balik pintu kamar putranya.
"Oh ya, sebenarnya apa yang terjadi pada Yanshen? Apa kamu mengetahui sesuatu?" tanya Daddy Jinhao dengan tatapan penuh intimidasi.
"Mmmm ... sebenarnya tadi ... Tuan Yanshen pergi ke club lagi, Tuan. Seperti biasa Tuan mencari Nyonya, berharap Tuan bisa bertemu di tempat yang sama seperti dulu, saat dia pertama kali bertemu dengan Nyonya," terang Fen Ang sesuai faktanya.
"Maaf Tuan, sepertinya Tuan Yanshen sudah menyadari kesalahannya. Dan tanpa dia sadari kalau dirinya telah jatuh hati pada Nyonya muda." Lanjutnya pelan.
Daddy Jinhao memejamkan matanya sambil menghela napas beratnya, kemudian membuka kembali matanya.
"Semua ini tidak akan pernah terjadi jika saat itu Yanshen mau menerima Lin Wu sebagai istrinya dan tidak terhasut oleh Mommy nya," balas Daddy Jinhao sembari memijit pelipisnya.
"Kalau begitu kamu boleh pulang. Hati-hati di jalan," pesan Daddy Jin Hao pada asisten putranya.
"Baik Tuan. Saya permisi dulu." Fen Ang pun bergegas keluar meninggalkan ruangan mewah itu.
"Daddy ... cepat kesini! Putra kita Dad ...."
"Yanshen, Yanshen ... ini Mommy Nak."
.
.
..
.
🥕Bersambung🥕