Pramahita sering menganggap dirinya sebagai gadis yang tak beruntung. Selain sebagai anak tiri yang 'tidak diinginkan', Pramahita juga sering mendapatkan perlakuan semena-mena dari ibu tiri dan kakak tirinya—Loria.
Harapan Pramahita yang selalu ia panjatkan pada sang kuasa hanya satu—agar ia mendapatkan suami yang kelak bisa membuatnya merasa dicintai dan mampu merasakan bagaimana rasanya dihargai kelak oleh belahan jiwanya. Namun alih-alih mendapatkan kebahagiaan dari kesabaran yang ia tabur, Pramahita malah menikah dengan sosok yang bertolak belakang dari apa yang selalu ia harapkan.
Loria, kakak tirinya itu melarikan diri tepat sehari sebelum pernikahan, meninggalkan calon suaminya yang menahan amarah dan juga rasa malu dengan perlakuan yang tidak pantas ia dapatkan. Dengan ancaman serius yang dilontarkan oleh sosok yang seharusnya menjadi kakak iparnya kepada keluarga, Ayah Pramahita memutuskan untuk memilihnya sebagai pengantin pengganti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyelamatan
Hita benar-benar lelah saat pramuniaga menyuruhnya mencoba semua pakaian yang dia sarankan. bahkan Hita rasa ia nyaris mencoba semua pakaian yang ada di toko itu.
Jujur saja, Hita lelah sekali, tapi tak enak hati mengatakannya.
"Wah... yang ini terlihat cocok sekali, Mbak," komentar pramuniaga itu memuji saat Hita keluar dari bilik ganti, mengenakan sebuah dress panjang yang terlihat nyaman.
Warna merah muda dengan rok yang menjuntai menutupi hingga mata kaki, terlihat sopan dan begitu manis saat Hita yang menggunakannya, ditambah lagi dengan perempuan itu yang murah senyum, tamat sudah dunia akan keindahannya.
"Terimakasih," ujar Hita dengan senyum tipis, berputar di hadapan cermin. Ini adalah pakaian terbagus yang pernah ia pakai seumur hidupnya. Sungguh.
"Sepertinya yang ini juga harus diambil," ucap pramuniaga itu untuk ke sekian kalinya.
Ada banyak sekali pakaian yang Hita coba, dan sebagian besar mendapatkan pujian yang membuat hatinya berbunga-bunga.
Apakah ia secantik itu? Hita benar-benar tak bisa membayangkannya.
"Eh, tidak usah," ucap Hita lembut, mengelus tengkuk dengan sedikit tak enak hati. "Sepertinya tadi sudah memilih terlalu banyak," ujarnya.
"Kenapa tidak, Mbak?" pramuniaga itu tersenyum. "Pak Dirga itu orang kaya, putra tengah keluarga Martadinata, segini saja tidak akan membuatnya miskin," katanya.
"Mbak tau Nona Lian? Adik Pak Dirga?"
Hita mengangguk.
"Nona Lian itu sekali berbelanja pasti banyak sekali, dan dia melakukannya setiap bulan," jelas pramuniaga itu, memegang pundak Hita. "Jadi kalau Mbak dibelikan pakaian, sebaiknya manfaatkan saja. Penawaran seperti ini tak datang berkali-kali," ucapnya dengan senyum kecil yang jenaka.
Hita balas tersenyum dan menggeleng. "Begitu, ya? Tapi kalau saya membeli banyak pakaian-pakaian bagus dan mahal seperti ini, saya tidak akan tega menggunakannya di rumah, takut kotor."
Pramuniaga itu mengangguk, menatap Hita dengan tatapan teduh dan ramahnya. "Begitu, sederhana sekali," ucapnya memuji, membuat Hita tak tau harus berucap seperti apa lagi.
Pramuniaga itu menoleh ke sekeliling, seakan-akan memastikan sesuatu sebelum kembali bicara. "Maaf jika lancang, tapi Mbak ini temannya Pak Dirga, ya? Atau mungkin saudara? Saya tidak pernah melihat Mbak sebelumnya," tanyanya dengan suara merendah, nyaris terdengar seperti bisikan.
Hita sontak menegang mendengar pertanyaan sang pramuniaga. Ia lupa bahwa mungkin orang-orang akan bertanya tentang hubungannya dan Dirga.
Pernikahan Dirga dan Loria menjadi topik hangat saat ini, dan mungkin jika orang-orang mendapati Dirga pergi ke mall seperti ini dengannya, mungkin saja orang-orang akan berasumsi aneh-aneh tentang Hita. Menjadi selingkuhan, mungkin?
Hita buru-buru memasang senyum, menyembunyikan ketegangan dan rasa gugup yang merayapinya. "Oh... Saya ini saudara Kak Dirga," bohongnya, "sepupu jauh."
Hita memperhatikan reaksi pramuniaga itu, samar-samar menghela napas lega saat sang pramuniaga terlihat percaya dengan apa yang dikatakannya.
Hita ingat bagaimana Dirga memarahinya tadi dihadapan Pramuniaga, dan tentu saja itu membuat Hita ragu apakah pramuniaga itu percaya atau tidak jika ia sepupu jauh Dirga.
"Oh... sepupu jauh." pramuniaga itu mengangguk.
"Baiklah, kalau begitu saya bungkus pakaian-pakaian Mbak dulu, ya. Nanti mbak bisa menunggu di depan sana," ujar pramuniaga itu ramah, menunjuk sopan ke arah tempat di mana Dirga duduk sebelumnya.
Hita mengangguk, masuk kembali ke bilik ganti untuk melepaskan dress cantik di tubuhnya dan mengganti kembali dengan kaus hitam yang Dirga pinjamkan.
Begitu selesai, Hita keluar dari bilik ganti dan melangkah ke luar toko alih-alih duduk di tempat yang di sediakan.
Hita memandangi orang yang berlalu lalang, tersenyum begitu melihat berbagai pemandangan yang manis—mulai dari keluarga harmonis yang duduk di kursi sembari memakan es krim bersama, hingga sepasang kekasih yang memilih cincin nikah di toko emas.
Hita memperhatikan sejenak, sebelum senyumnya tiba-tiba surut saat menyadari tak terlihatnya keberadaan Dirga yang menemaninya kemari.
"Kak Dirga dimana?" gumamnya, menoleh kesana kemari untuk mencari keberadaan laki-laki tampan berkacamata itu.
"Mbak," panggil pramuniaga tiba-tiba, membuat Hita menoleh dan membalas tersenyum.
"Ini sudah dibayar oleh Pak Dirga." Pramuniaga itu menyerahkan banyak sekali kantung belanja pada Hita, membuat perempuan itu kewalahan.
Meskipun begitu, Hita balas tersenyum dan mengangguk. "Terimakasih," ujarnya, langsung dibalas anggukan oleh sang pramuniaga.
Dirga sudah membayar belanjaan-belanjaan itu di awal, dan sekarang entah di mana laki-laki itu berada.
Hita jelas tak mengenal tempat ini, dan Dirga juga tak mengatakan ke mana dia pergi. Apakah Dirga marah pada Hita soal tadi? Hita benar-benar tak enak hati dibuatnya.
Dengan kantung belanjaan yang memenuhi kedua tangan, Hita melangkah keluar dari toko dan ragu sejenak menentukan arah tujuan.
"Kak Dirga di mana, ya?" gumamnya cemas, teringat pula bahwa ia tak membawa ponselnya. Kalaupun Hita membawanya, ia tak memiliki nomor Dirga ataupun anggota keluarga Martadinata lainnya untuk dihubungi.
Tepat saat Hita melangkah sekali lagi, tiba-tiba...
"Jojo!"
Seruan itu mencuri perhatian seluruh atensi orang-orang di sekitar, termasuk Pramahita.
Hita terbelalak begitu melihat seorang wanita paruh baya berlari tertatih-tatih mengejar trolinya yang lepas kendali.
Tapi sayangnya itu bukan sembarang troli yang hanya berisikan belanjaan rumah tangga, namun juga seorang balita yang menangis terisak-isak di dalamnya.
Kericuhan langsung terjadi melihat hal itu. Ada banyak sekali orang-orang berlari untuk mencegah troli itu menjauh pada permukaan lantai mall yang miring, termasuk juga dengan Hita.
Hita menjatuhkan kantung-kantung belanjaanya begitu ia berlari kencang, posisinya adalah yang paling dekat dengan troli yang meluncur dalam kecepatan yang tak terkendali.
"Jaga di bawah, Mas!"
Terdengar salah satu dari ramainya pengunjung mall menjerit, sontak membuat sekumpulan pria berjaga di bagian bawah, siap menangkap troli yang meluncur.
Semua orang yang berada di mall itu langsung heboh dan berkumpul untuk menyaksikan adegan berbahaya itu, bahkan pengunjung-pengunjung di lantai atas yang juga berdesakkan di tepi untuk melihat kejadian itu.
Suara peluit dari petugas keamanan mengudara, membuat para anggota petugas keamanan itu menyebar dan turut mencoba mengatasi masalah ini.
Hita terbelalak tatkala melihat troli itu meluncur semakin cepat, sebuah kardus kecil membuat troli berbelok tiba-tiba, membuat jeritan kaget mengudara.
Troli itu kini meluncur bebas ke arah salah satu toko yang kosong dan tak terpakai, berdinding kaca yang sedikit rapuh dan retak, yang pasti akan menyakiti anak itu jika troli berhasil menabraknya.
"Awas!" Hita berlari semakin kencang, didorong oleh rasa panik saat troli itu benar-benar meluncur ke arah dinding kaca dan...
BRAK!
Suara kaca pecah terdengar keras, mengudara seperti suara tembakan tatkala Hita menarik tangan anak itu keluar dari troli, membuat anak itu terbanting ke lantai.
Namun sayangnya Hita kewalahan untuk kakinya sendiri hingga ia tergelincir dan secara bersamaan menabrak dinding kaca bersama troli.
"KAK PRAMAHITA!"
Hal yang Hita dengar terakhir adalah jeritan Lian yang begitu familiar, sebelum pandangannya perlahan-lahan memburam dan matanya terpejam sepenuhnya. Tubuh mungilnya terkapar di antara pecahan kaca.
...****************...
Senyum tipis di wajah Dirga menghiasi sepanjang langkahnya keluar dari mall menuju parkiran. Ia akan segera mengetahui di mana Loria berada, dan saat itu tiba ia tak akan membiarkan perempuan itu pergi lagi dari hidupnya.
Tak menunggu lama, kini orang yang ia tunggu-tunggu tengah melangkah ke arahnya.
Wisnu, orang kepercayaan keluarga Martadinata itu melangkah dengan punggung tegap, namun kelelahan terlihat nyata di wajahnya akibat tuntutan untuk mencari Loria siang malam.
"Wisnu," sapa Dirga sembari menepuk pundak laki-laki itu dengan kebanggaan. "Bagaimana? Apa saja yang sudah kau ketahui tentang keberadaan Loria?"
"Cukup banyak, Pak," jawab Wisnu dengan anggukan sopan.
Wisnu merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya yang terlihat cukup kuno karena retakkan pada layar.
Dirga mencondongkan tubuhnya, mencoba melihat apa yang hendak Wisnu tunjukan padanya.
"Ini adalah rekaman Nona Loria saat menaiki taksi, membawa koper beserta barang-barangnya," jelas Wisnu, membuat Dirga menyipitkan mata untuk mengidentifikasi apakah itu benar-benar kekasihnya.
"Itu benar-benar Loria," gumamnya, memperhatikan rekaman vidio itu lekat-lekat.
Terlihat Loria mengenakan dress pendek yang menampakkan kulit pahanya yang mulus, sesuatu yang sudah biasa Dirga lihat dan sentuh setiap hari. Wanita itu juga terlihat memasukkan koper ke dalam taksi, koper familiar yang begitu Dirga kenali. Setiap Loria berlibur, pasti dia menggunakan koper itu.
Namun Dirga merasakan ada yang janggal di dalam vidio itu.
"Hentikan videonya, Wisnu."
Perintah tiba-tiba dari Dirga itu membuat Wisnu langsung mengetuk tombol jeda pada layar, membuat rekaman itu berhenti.
"Ada apa, Pak?" tanya Wisnu sedikit heran begitu video dihentikan.
Alih-alih menjawab, Dirga mengambil alih ponsel di tangan Wisnu dengan dahi berkerut dan mata menyipit.
Jari Dirga bergerak untuk memperbesar layar, tepatnya pada jendela taksi yang gelap namun masih transparan.
"Siapa itu, Nu?" tanya Dirga, menunjuk ke arah bayangan sosok di dalam taksi yang tak Wisnu sadari pada awalnya.
Wisnu mencoba menajamkan penglihatannya, mencoba melihat sosok bayangan di dalam mobil. Cukup jelas itu adalah seorang pria, dilihat dari rambut dan profilnya yang tegas. Siapa dia?
Wisnu menatap Dirga, menggeleng pelan. "Tidak tau, Pak, saya juga baru menyadari bahwa ada orang lain di dalam taksi."
Pikiran Dirga terpacu begitu mengetahui itu. Loria kabur menggunakan taksi, dan sekarang ada sosok pria di dalam taksi yang digunakan Loria untuk kabur.
Segala pikiran-pikiran buruk langsung menghantui Dirga saat itu juga.
Siapakah pria itu? Dan apakah pria itu ada kaitannya dengan kaburnya Loria dari pernikahan?
"Cepat! cepat!"
Suara panik para petugas keamanan sontak membuyarkan pikiran Dirga. Laki-laki itu menoleh, begitu pula dengan Wisnu yang tampak penasaran dan bingung melihat wajah-wajah panik para petugas keamanan itu.
Saat salah seorang pengunjung yang baru saja keluar dari mall melintas, buru-buru Wisnu menghentikan dan bertanya.
"Permisi," ucap Wisnu pelan. "Kalau boleh tau, apa yang terjadi di dalam? kenapa sepertinya para petugas-petugas itu panik sekali?" tanya Wisnu, sementara Dirga masih fokus pada layar dan Loria.
"Ada sebuah insiden di dalam, sebuah troli terlepas bersama dengan seorang anak kecil," ucap pengunjung itu menjelaskan, kengerian terukir di wajah mereka. "Anak itu berhasil di selamatkan, tapi seorang wanita yang tadinya menyelamatkannya malah terluka. Kelihatannya sangat parah, karena dia menabrak dinding kaca," jelas pengunjung itu, langsung pergi setelah Wisnu berterimakasih atas informasi yang diberikan.
"Ada-ada saja," ucap Wisnu pelan, kembali menatap Dirga yang tampak masih berpikir tentang pria misterius dan Loria.
Suara dering ponsel di saku Dirga membuyarkan pikiran laki-laki itu. Dirga mengeluarkan ponselnya, menyipitkan mata begitu melihat nomor tak dikenal tertera di layar.
Dirga menempelkan ponselnya di telinga, mendengarkan sosok di seberang telepon berbicara.
"Kak Dirga..."
Lian. Dirga yakin sekali bahwa itu adalah suara adiknya. Tapi kenapa begitu? kenapa suara gadis itu tak seperti biasanya? Begitu sayu dan... seperti sedang menangis.
"Lian?" panggil Dirga pelan, mengulurkan ponsel Wisnu kembali pada pemiliknya, sementara ia terfokus pada suara sang adik. "Ada apa? Kau lupa membawa kartu kredit Bram?" tanyanya, mencoba untuk bersikap dingin seperti biasa.
Dirga mengenal Lian, gadis itu pasti meminjam ponsel orang lain untuk menghubunginya, mengingat ia menyita ponsel gadis itu tadi.
Setidaknya, Dirga mengira bahwa adik kecilnya itu melupakan kartu kredit lagi dan membujuknya untuk membayar semua belanjaanya.
Dirga semakin heran saat Lian tak menjawab, gadis yang biasanya begitu rewel tampak kesulitan menemukan kata-kata.
Namun, saat Dirga mendengar suara Isak tangis, ia tau bahwa adiknya itu sedang tak baik-baik saja, dan itu memicu gelombang panik di dalam dirinya.
"Lian, ada apa?" desak Dirga, kekhawatiran terukir di wajahnya.
"Kak..." suara Isakan memenuhi telinga. "Kak Pramahita..."
Jantung Dirga berdegup lebih kencang.
"Kak Pramahita pingsan."
Bersambung...
aku ko ga rela dia sama Dirga ending nya kata" itu loh menjijikan
Hita kalau udah pergi atau dekat sama orang lain baru terasa ,,Bram boleh juga Thor biar panas
suka cerita nya biarpun Dirga kasar banget sih rada nyesek
i give coffee 4 u
baru baca novel sperti ini CEO ledhoooooooooo ga ketulungan mulutnya pedes luar biasa macam ibu komplek dihhh najis tralala deh kamu Dirga