Zielga Nadine adalah seorang forensik kepolisian yang terkenal karena kecerdasannya dalam memecahkan kasus-kasus tersulit. Kemampuannya membawa banyak penghargaan dan membuat namanya dikenal sebagai salah satu ahli forensik terbaik.
Namun di balik sosoknya yang brilian, Zielga menyimpan masa lalu yang kelam. Semasa SMP, ia mengalami perundungan brutal dan kehilangan harga dirinya berkali-kali. Luka itu tak pernah sembuh—dan menjadi api yang membakar seluruh hidupnya.
Bagaimana jika forensik jenius yang dipercaya semua orang ternyata menyimpan agenda gelap?
Inilah kisah benturan antara dendam yang membara dalam diri Zielga dan upaya polisi mengungkap kebenaran.
Siapa yang akan menang: Zielga, yang bertekad membalas semua rasa sakitnya, atau aparat kepolisian yang tanpa sadar sedang memburu rekan mereka yang paling mereka hormati?
Di atas kertas bertuliskan “Keadilan”, sebuah pertempuran dimulai.
cerita ini hanya fiksi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gdc Hb vl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9
"Kak ziel ada petunjuk dari tetangga yang kami temukan" ucap mika ke arah ziel di sertai dengan davis yang berada di belakangnya.
Dahi ziel berkerut menatap keduanya dengan meminta penjelasan.
"Tetangga bilang kemarin ia melihat korban dan saudaranya bertengkar hebat karena sesuatu!" Ucap davis di dekat mika.
Alis ziel terangkat sedikit mendengar ucapan davis,dia kemudian bertanya "Bisa ceritakan lebih detail kejadian nya".
Mika melangkah maju mendekati ziel, dia kemudian berkata" tetangga bilang, sang kakak perempuan berkunjung ke rumah korban dan tak lama terdengar mereka adu mulut hingga sang kakak pergi dari rumah korban sambil membanting pintu gerbang rumah".
Mendengar hal itu ziel bertanya kembali "apa kita belum memberitahu keluarga korban!?" Mika, davis dan azri menggelengkan kepala pertanda belum.
"Ponsel korban mati, dan kita sedikit menunggu waktu agar mampu membukanya" Ucap azri di samping ziel.
"Kalau begitu, mika kau katakan pada aksa dan yang lainnya untuk membawa mayat ke ruang otopsi, kita juga perlu persetujuan keluarga korban, kalian berdua ikut aku"
"Siap!" Ketiga orang itu segera mengangguk dan memberikan sedikit gerakan hormat pada ziel.
Mereka bertiga kemudian segera keluar sedangkan mika menjalankan tugas yang di berikan oleh ziel.
Saat mereka keluar aska yang sedang mengamati bagian luar rumah korban melihat ziel, azri dan davis ingin pergi sedikit menoleh sebelum melanjutkan pengamatannya kembali, tak berselang lama mika menghampiri aska sambil berkata:
"Kak aska, kak ziel bilang kita perlu memindahkan mayat ke ruang otopsi untuk di periksa"
Kening aska sedikit berkerut "lalu kemana mereka bertiga akan pergi!?" Tanya aska dengan penasaran.
"Ah!, mereka menemukan petunjuk, sambil meminta izin dari keluarga korban agar korban di otopsi" jawab mika dengan nada lembut pada aska.
Aska segera mengangguk pelan mempersilahkan mika melakukan apa yang telah ziel katakan.
***
Di gedung bertingkat tempat yang bisa di bilang apartemen sewaan tiga orang tengah berdiri di depan salah satu rumah apartemen yang berada di lantai 5 dengan bertuliskan nomor 54 di pintu tersebut.
Tok
Tok
Bunyi ketukan pintu terdengar kala ziel mengetuk pintu apartemen tersebut.
Tak berselang lama pintu yang berwarna coklat tersebut terbuka hingga menampilkan sosok laki-laki yang sedikit tua namun masih terlihat tanggung berdiri di hadapan mereka bertiga.
"Siapa kalian" tanya laki-laki itu sambil menatap pengunjung yang berpakaian polisi di hadapan nya.
Ziel mengeluarkan kartu identitas dari sakunya sembari berkata "Kami dari kepolisian kota loves, apa benar ini rumah saudari tiska soyana".
Laki-laki itu mengangguk dan berkata " benar, saya suaminya apa istri saya menyebabkan masalah!?" Dengan gugup laki-laki bertanya.
"Kami akan jelaskan di dalam, pak afdal zakri" jawab ziel dengan nada tegas.
Afdal yang merupakan suami tiska segera mengangguk sambil mempersilahkan mereka masuk kedalam rumahnya.
Setelah di dalam seorang wanita langsung berdiri dari menonton televisi bersama anaknya yang masih kecil ketika melihat ziel dan lainnya masuk menggunakan seragam polisi.
"Sayang ada apa ini!?" Tanya wanita itu dengan bingung, wanita yang berusia 30 tahun dengan seorang anak laki-laki duduk disofa yang berusia 3 tahun.
Ziel segera melangkahkan kakinya berdiri di hadapan wanita itu " apa benar anda yang bernama tiska sayana saudara perempuan dari reza agraha?" Tanya ziel pada wanita tersebut.
Wanita itu menganggukkan kepala sambil berkata "ya itu saya, apa adik saya membuat masalah!?" Jawab tiska.
Ziel menggelengkan kepala " tidak, pagi tadi adik anda di temukan tergeletak tak bernyawa di dalam rumahnya sendiri!?"
Tak
Ketika mendengar hal itu tiska menjatuhkan remote tv yang ia pegang, matanya berkaca-kaca di penuhi dengan air mata. Ia mematung sejenak.
Bibirnya bergetar mencoba mengeluarkan suara dengan jelas "ap...Apa yang kalian katakan!?" Tanya tiska, dunianya seakan berhenti berputar ketika mendengar ucapan ziel tadi.
"Reza agraha di temukan tewas di dalam rumahnya dan anda sekarang telah di tetapkan sebagai tersangka!" Ucap ziel di hadapan tiska mengulang semuanya dengan jelas.
Bruk!
Tiska menjatuhkan dirinya di sofa ketika mendengar ucapan ziel lagi, ia segera menutup mulutnya dengan air mata yang mengalir melalui pipinya.
Afdal yang merupakan suami tiska menghampiri tiska, memegang kedua bahu tiska mencoba menenangkannya.
"Apa kalian tidak salah orang, istriku sangat menyayangi adiknya, ia tak mungkin membunuh adiknya sendiri" ucap afdal sambil menatap ziel dan lainya dengan tatapan kesal.
Davis melangkah maju di dekat ziel "Maaf, apa anda tau istri anda pergi kemana semalam" tanya davis dengan curiga.
"Istri saya semalam izin pergi berkumpul bersama temanya, tapi meskipun begitu ia tak mungkin bohong apalagi sampai membunuh satu-satunya keluarga nya!" Tegas afdal di depan mereka.
"Meskipun begitu kami akan tetap membawa istri anda untuk di interogasi dan di selidiki agar kasus ini bisa kami selesaikan!" Ucap azri yang dari tadi hanya diam, dia kemudian berkata lagi
"Kami meminta dengan sangat sopan pada saudari tiska agar ikut dengan kami, membantu kami untuk menyelidiki kasus, tolong jangan melawan atau kami akan bertindak lebih jauh!" Ucap azri dengan nada sedikit menekan.
Mendengar ucapan azri suami tiska berdiri dengan marah ingin memaki para polisi.
"Kalian!_
" baiklah!" Namun ucapan suami tiska segera berhenti ketika tiska memberikan tanda setuju pada mereka.
"Kalau begitu mari ikut kami nona tiska!" Davis segera memberikan arah pada tiska untuk mengikutinya.
Sebelum pergi tiska berbicara dulu pada suaminya sebentar " tolong jagain Raqil ya aku pergi dulu!" Pinta tiska pada afdal.
"Mau aku temenin" jawab afdal pada tiska.
Tiska menggelengkan kepalanya dan berkata " gak perlu jagain aja ragil ya" jawabnya dengan lembut.
Mendengar hal itu afdal menganggukkan kepala sabil berkata "hati-hati!"
Tiska kemudian pergi berjalan bersebelahan dengan davis sedangkan di belakang ziel dan azri, mereka berjalan bersama melewati lorong apartemen.
"Kak aku rasa dia bukan pelakunya deh!, kakak liat kan reaksinya pas denger adiknya meninggal" Bisik azri pada ziel agar tak terdengar oleh tiska yang ada di depan mereka.
"Ya itu bisa jadi, tapi meskipun begitu kita perlu dia untuk menyelidiki kasusnya lebih lanjut, apalagi kau tau kan terkadang tidak mungkin hanya pendapat, bukan fakta" jawab ziel dengan nada pelan agar ucapannya tak di denar oleh tiska.
Mendengar ucapan tersebut azri mengangguk mengerti hingga tak terasa percakapan mereka telah berakhir saat mereka telah sampai di parkiran.
Mereka kemudian memasuki mobil dengan muatan 4 orang.
Ziel dan davis duduk di depan dengan azri sebagai pengemudi sedang ziel duduk di belakang dengan tiska sebagai penjaga tiska, jika ia memili niat untuk melarikan diri.