NovelToon NovelToon
Negosiasi Di Ranjang Musuh

Negosiasi Di Ranjang Musuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Wanita Karir / Penyesalan Suami / Selingkuh / Menikah dengan Musuhku / Romansa
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: chrisytells

​Alicia Valero adalah ratu properti Madrid yang tak tersentuh—hingga ia mencium aroma pengkhianatan di balik kemeja suaminya, Santiago. Alih-alih meratap, Alicia memilih jalur yang lebih panas: balas dendam total. Ia akan merebut kerajaan Solera Luxury Homes dan menghancurkan Santiago.
​Namun, demi memenangkan perang ini, Alicia harus bersekutu dengan iblis: Rafael Montenegro.
​Rafael, pesaing suaminya yang kejam dan memikat, adalah bayangan gelap yang selalu mengincar kehancuran Solera. Ia memiliki tatapan yang menjanjikan dosa dan sentuhan yang bisa membakar segalanya.
​Alicia Valero kini menari di antara dewan direksi yang kejam dan pelukan rahasia yang terlarang. Persekutuan berbahaya ini bukan hanya tentang bisnis, tetapi tentang gairah yang menyala di atas tumpukan pengkhianatan.
​Dalam permainan kekuasaan, siapa yang akan menjadi korban? Apakah Alicia bisa mengendalikan serigala itu, ataukah ia akan menjadi mangsa berikutnya dalam kehancuran yang paling manis dan mematikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chrisytells, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 10 : Kebohongan Cincin dan Bisikan

Dua jam. Itu adalah waktu yang dibutuhkan Alicia Valero dan Rafael Montenegro untuk mengubah kebohongan murahan Isabel menjadi headline romantis yang tak terbantahkan. Ruang konferensi pers, tempat yang sama di mana mereka mengumumkan pengambilalihan CEO yang kejam, kini disulap menjadi panggung pertunangan mendadak.

Alicia mengenakan gaun koktail merah yang menyala, memancarkan gairah yang ia yakini tidak akan bisa dipertanyakan oleh media mana pun. Rafael, di sampingnya, tampak sangat posesif.

Seorang jurnalis segera mengajukan pertanyaan yang paling membakar. “Nyonya Valero, bisakah Anda mengomentari tuduhan dari Nona Isabel Valero (sekarang Dir. Yayasan Bumi Valero) bahwa Anda mengancamnya agar menggugurkan kandungan demi proyek Cielo Alto?”

Alicia tersenyum. Di depan seluruh kamera... itu adalah senyum yang menenangkan, tetapi matanya memancarkan api.

“Saya mengerti drama tabloid memang sangat menarik. Tetapi saya di sini hari ini untuk memperkenalkan fakta yang jauh lebih menarik daripada fiksi murahan yang dilancarkan oleh orang yang putus asa.”

Alicia menoleh ke Rafael. Rafael mengangguk, lalu ia mengambil tangan Alicia, membungkuk sedikit, dan menciumnya. Gerakan itu lambat, posesif, dan sangat publik.

“Saya dan Alicia Valero, bukan hanya mitra bisnis,” ujar Rafael, suaranya dalam dan tegas, menciptakan keheningan total. “Kami adalah masa depan. Kami adalah pasangan yang serius. Dan hari ini, saya bangga mengumumkan bahwa kami telah bertunangan.”

Ia mengeluarkan kotak beludru hitam. Cincin yang bersinar di dalamnya bukanlah berlian biasa; itu adalah cincin warisan keluarga Montenegro, yang dirancang untuk seorang Ratu.

Rafael mengambil cincin itu, menatap mata Alicia, dan menyematkannya di jari manisnya dengan gerakan yang penuh kepemilikan. Kamera berbunyi nyaring.

“Kami tidak mengancam seorang wanita hamil untuk urusan proyek, karena kami sedang sibuk membangun kerajaan kami bersama. Kami tidak punya waktu untuk drama gardenia murahan. Kami hanya punya waktu untuk mempersiapkan masa depan,” tegas Rafael.

Alicia mengangkat tangannya, memamerkan cincin itu. “Jika Isabel benar-benar hamil, saya akan menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat. Tetapi saya berharap dia akan menggunakan kehamilannya—jika itu ada—untuk merenungkan integritasnya, bukan untuk menyebarkan kebohongan kriminal. Kami adalah pasangan yang serius, dan kami akan mengejar jalur hukum terhadap setiap pencemaran nama baik yang dapat merusak aliansi yang kami bangun dengan usaha dan susah payah.”

Pertanyaan-pertanyaan beralih dari tuduhan pemerasan menjadi detail cincin, tanggal pernikahan, dan bagaimana mereka akan menggabungkan dua keluarga kaya raya. Alicia berhasil. Drama murahan Isabel tenggelam di bawah kemewahan dan janji masa depan yang serius.

Setelah konferensi pers selesai, mereka kembali ke suite hotel. Cincin itu terasa dingin dan asing di jari Alicia.

“Kau terlihat sangat meyakinkan, mi reina,” kata Rafael, menutup pintu di belakang mereka, nadanya penuh kepuasan.

“Kau juga. Kau terlihat seperti pria yang akhirnya menemukan mainan yang setara dengannya,” balas Alicia, melepas cincin itu dan meletakkannya di meja.

“Hei,” tegur Rafael, mendekat. “Kenapa kau melepasnya?”

“Karena ini adalah perisai, bukan janji. Kita harus mendiskusikan janji yang sebenarnya, Rafael. Kau bilang, jika ini berhasil, aku mendapat kendali penuh atas Yayasan Palang Merah. Deal?”

“Baiklah... Deal,” jawab Rafael. “Kau mendapat yayasan. Tapi jangan lupakan janji lainnya. Janji yang kau buat saat aku menyematkan cincin itu di depan kamera: Janji bahwa kami... atau kita adalah masa depan. Alicia, kau tidak bisa menipu dunia dengan janji palsu dan kemudian menipu dirimu sendiri.”

Alicia berbalik, menatapnya lekat. Ketegangan emosional mereka kembali memuncak.

“Ini adalah perjanjian bisnis, Rafael. Kau memeras emosi publik; aku memeras kendali darimu. Jangan pernah bicarakan perasaan.”

“Perasaan adalah leverage terbesar, Alicia. Kau sangat bersemangat di ranjang, kau berapi-api saat kau berjuang. Kau bukan robot, kau hanya wanita yang pandai menyembunyikannya. Kau menginginkan kendali atas yayasan itu karena kau ingin membuat perbedaan—bukan hanya laba. Dan perbedaan itu, itulah yang membuatku ingin menikahimu sungguhan.”

Kata-kata itu membuat Alicia terdiam. Ia tidak mengharapkan pengakuan sejujurnya.

“Kau… kau tidak serius, Rafael,” bisik Alicia.

“Aku selalu serius tentang kekuasaan. Dan kau adalah kekuasaan itu. Cincin itu adalah warisan keluarga Montenegro. Aku tidak memberikannya kepada setiap wanita yang membantuku menghancurkan musuh. Pikirkan itu saat kau memakainya lagi.”

Rafael meninggalkannya sendirian di ruang tamu.

Alicia mengambil cincin itu. Itu berat, dingin, dan nyata. Itu bukan hanya prop drama; itu adalah klaim Rafael yang paling serius. Ia merasakan gelombang ketakutan dan gairah yang bercampur. Ia takut pada kedalaman emosi yang ditawarkan Rafael, namun ia menginginkannya.

Alicia memejamkan matanya sejenak, kemudian menghela napas. Ia segera mengalihkan fokusnya dari cincin ke ancaman yang lebih nyata: kebocoran informasi yang digunakan Isabel (dan Santiago).

Alicia duduk di depan komputernya. Ia tidak mempercayai klaim Isabel bahwa ia "mencuri data di ponsel Santiago." Itu terlalu bodoh dan ceroboh. Ia yakin kebocoran itu berasal dari dalam Solera saat Santiago masih menjadi CEO.

Ia memanggil kepala TI Solera, seorang pria yang baru ia pecat dari posisi Wakil Presiden, yang kini hanya menjadi konsultan dengan bayaran tinggi.

“Aku butuh akses ke semua data komunikasi dewan direksi selama enam bulan terakhir, sebelum aku menjadi CEO. Semua email, pesan terenkripsi, cloud drive,” perintah Alicia.

“Itu akan melanggar privasi, Nyonya Valero.”

“Privasi sudah dilanggar saat Solera hampir kehilangan proyek miliaran Euro. Temukan celahnya. Fokus pada empat anggota dewan yang baru saja saya pecat, dan khususnya, pada nama Eduardo, mantan kepala operasional Santiago.”

Dua jam kemudian, Alicia menerima laporan awal. Tidak ada bukti langsung bahwa Eduardo atau anggota dewan lainnya yang baru dipecat mengirim data rahasia ke luar. Mereka hanya mengikuti perintah Santiago.

Tetapi ada satu anomali: Sejumlah besar data Proyek Ibiza diakses dan dipindahkan ke hard drive eksternal dari kantor Alicia sendiri, satu minggu sebelum Santiago secara terbuka menodai proyek itu.

Jantung Alicia mencelos. Itu tidak mungkin. Ia selalu mengamankan sistemnya.

Siapa yang memiliki akses fisik ke kantor Alicia dan memiliki motivasi untuk menyakiti Solera sebelum dia mengambil alih?

Jawabannya terasa pahit di lidah. Hanya Santiago.

Namun, Alicia mengingat sesuatu dari pertemuan dewan: Eduardo, kepala operasional lama, sangat loyal kepada Santiago.

Alicia mengirim pesan kepada kepala TI: “Fokus pada Eduardo. Dia pasti melakukan kesalahan. Cari transfer dana tak terduga dalam enam bulan terakhir.”

Sementara Alicia dan Rafael sibuk memainkan drama pertunangan dan membersihkan Solera, Santiago, yang kini terpojok dan terhina, mulai melancarkan serangan baliknya yang paling berbahaya.

Ia duduk di apartemennya yang suram, di depan laptop tua. Ia tidak punya akses ke data Solera, tetapi ia masih punya koneksi lama.

Santiago menelepon seorang kenalan lamanya, seorang manajer bank swasta di Andorra, Javier.

“Javier. Aku butuh bantuan. Aku tahu kau tidak bisa memberiku data klien, tapi aku butuh informasi. Aku butuh tahu kelemahan Montenegro Group.”

“Rafael Montenegro? Itu terlalu besar, Santiago. Dia bersih,” jawab Javier, gugup.

“Tidak ada yang bersih! Montenegro adalah predator. Pasti ada sesuatu yang dia sembunyikan! Cari jejak transaksi pribadi yang mencurigakan. Cari utang tersembunyi. Rafael tidak pernah membangun kerajaannya hanya dengan uang jujur!” desak Santiago. “Lakukan ini untukku, Javier. Aku akan memberimu sepuluh ribu Euro tunai. Dan ingat, kau berutang padaku setelah kasus Cadiz tiga tahun lalu.”

Javier, yang terpojok oleh ancaman kasus lama, akhirnya setuju.

Setelah menutup telepon, Santiago menyeringai. Ini bukan tentang uang; ini tentang menghancurkan reputasi Rafael—kepercayaan yang menjadi fondasi kekuasaannya. Jika ia bisa menemukan kotoran lama Rafael, pertunangan palsu itu akan runtuh.

Malam itu, Alicia dan Rafael berada di tempat tidur. Mereka lelah, tetapi ketegangan dari hari yang penuh drama pertunangan dan ancaman Isabel membuat mereka sulit tidur.

“Aku melihat tatapan Santiago hari ini,” bisik Alicia, bersandar di dada Rafael. “Dia tidak hanya membenciku, dia membenciku karena aku telah bahagia.”

“Biarkan dia. Dia adalah pria pecundang yang tidak relevan,” balas Rafael.

“Dia masih punya kontak. Aku yakin dia tidak hanya akan mengancam kita; dia mencoba menggali kelemahanmu, Rafael. Di mana kelemahan terbesarmu?”

Rafael mengelus rambut Alicia. “Kelemahan terbesarku sudah kau pegang: Montenegro Group tidak boleh terlihat rapuh. Selama kami terlihat kuat dan bersih, tidak ada yang bisa menyentuh kami. Kami hanya bisa dihancurkan dari dalam.”

Saat itu, ponsel Rafael berdering. Itu adalah pesan terenkripsi dari kepala keamanannya. Rafael membaca pesan itu. Ekspresinya langsung berubah dingin.

“Ada apa?” tanya Alicia, merasakan perubahan suhu.

“Kepala keamananku baru saja melaporkan adanya investigasi non-resmi terhadap beberapa transaksi offshore lama Montenegro Group,” kata Rafael, matanya tajam. “Seseorang yang tahu betul di mana mencari kelemahan kami sedang menggali.”

Alicia duduk tegak. “Santiago.”

“Sudah pasti. Dia tahu di mana letak mayatnya, meskipun dia tidak tahu cara menggalinya,” ujar Rafael.

Tiba-tiba, ponsel Alicia berbunyi. Itu adalah pesan dari kepala TI Solera.

^^^ Nyonya Valero, kami menemukan transfer dana sebesar €200.000 kepada Eduardo (mantan kepala operasional) dari akun yang terdaftar atas nama Yayasan Bumi Valero, 48 jam sebelum kebocoran Proyek Ibiza. Itu adalah uang saku untuknya.^^^

Alicia merasakan pukulan ganda.

“Rafael. Dengar ini. Kebocoran Proyek Ibiza bukan dari Santiago. Itu dari Eduardo, diinstruksikan oleh Santiago, dan dibayar oleh Yayasan yang kau izinkan beroperasi!” kata Alicia, matanya menyala.

“Aku menyadari adanya kebocoran finansial, dan kau menemukan pengkhianatan di rumahmu sendiri. Kita dikepung, Alicia. Kita harus menghentikan Santiago dan kaki tangannya sebelum mereka menemukan sesuatu yang nyata di keuanganku.”

Rafael menarik Alicia, memeluknya dengan erat. Kali ini, sentuhan mereka adalah janji perang yang lebih dalam, janji bahwa mereka akan menghancurkan Santiago sebelum dia menghancurkan mereka.

“Besok, kita akan membuat Santiago menyesal telah lahir ke dunia. Kita akan mengambil alih Yayasan itu sepenuhnya, dan kita akan memburu setiap bayangan dari masa laluku,” bisik Rafael. “Tapi malam ini, pakailah cincin itu. Karena kita akan membutuhkan setiap senjata yang kita miliki, Alicia. Bahkan senjata palsu.”

Alicia mengambil cincin warisan itu dan memakainya. Rasanya tidak lagi dingin. Itu terasa seperti Kendali.

1
🦊 Ara Aurora 🦊
Kk mampir yuk 😁
🦊 Ara Aurora 🦊
Alicia kasihnya 😢😢
(Panda%Sya)💸☘️
Semangat terus ya thor💪
nadinta
oh my god, Alicia. Perempuan mahallll
Ida Susmi Rahayu Bilaadi
cerita bagus gini yg nge like kok cm sdkt ya. minim typo, aq suka. semangat thor 💪💪💪
chrisytells: Makasih, kakak🙏
Harapan aku, makin banyak lagi yg baca karya aku🤗
Kalau boleh aku minta bantu promosi juga, wkwk 🤭😄
Rajin² tinggalkan komentar ya, kak😍
total 1 replies
BiruLotus
lanjut thor
d_midah
Rafael, pilis jangan jadi pria jahat😭
d_midah
jangan gitu dong Rel🥲
Tulisan_nic
Pembalasan yang elegan sekali Alicia,aku suka tipe wanita sepertimu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!