NovelToon NovelToon
Wanita Mantan Narapidana

Wanita Mantan Narapidana

Status: tamat
Genre:Single Mom / Janda / Selingkuh / Bad Boy / Chicklit / Tamat
Popularitas:30.8k
Nilai: 5
Nama Author: moon

Lembayung Senja, namanya begitu indah, namun, tak seindah nasib hidupnya.

Pernikahannya bahagia, tapi rusak setelah seorang wanita hadir diantara dirinya dan sang suami.

Fitnah yang kejam menghampirinya, hingga ia harus berakhir di penjara dengan tuduhan membunuh suaminya sendiri pada malam pertengkaran terakhir mereka.

Kelahiran bayi yang seharusnya menjadi hadiah pernikahannya bersama Restu Singgih suaminya, justru harus di warnai tangis nestapa, karena Lembayung melahirkan bayinya di balik jeruji penjara. Dua puluh tahun berlalu, Lembayung mendekam di penjara atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan.

Setelah bebas, Albiru justru berkata bahwa ia malu memiliki Ibu seorang mantan narapidana.

Akankah Lembayung menemukan kembali kabahagiannya setelah sekian lama menanggung derita tanpa berbuat dosa? Bagaimana Lembayung memperbaiki hubungan dengan Biru yang kini telah sukses? Pembalasan apa yang akan Lembayung lakukan pada orang-orang yang telah mengkhianatinya dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sidang Pertama

#9

Hari terus berganti, kandungan Ayu semakin besar dari waktu ke waktu. Setelah beberapa hari menunggu di dalam sel tahanan, tanpa terasa hari ini persidangan pertama akan berlangsung. 

Keseharian Ayu kini adalah terus mendekatkan diri pada sang pemilik kehidupan, berharap diberi kelapangan hati dan keikhlasan menjalani semua takdir dan ketidakadilan. 

Setitik harapan mulai tumbuh berkat kata-kata penyemangat dari Opsir Yuni. Bahwa Pak Gunawan bukan pengacara kalengan, karena sudah sering menangani kasus demikian. Semoga setelah persidangan nanti, semuanya akan terbuka lebar. 

Hikmah lain dari keberadaan Ayu di lapas saat ini adalah, ia jadi mendapatkan perlakuan istimewa karena sedang mengandung, bayinya mendapatkan pemeriksaan secara rutin. 

Disamping itu, Ayu bisa makan 3 kali sehari dengan tenang, tanpa perlu memikirkan nanti siang makan apa, sore masak apa, dan besok pagi tak ada bahan di dapur untuk diolah menjadi hidangan. Istirahatnya pun jadi teratur, karena tak perlu mengerjakan pekerjaan rumah tangga lainnya, selain mencuci pakaian. 

Setelah mandi dan berpakaian pantas, Ayu pun dibawa pergi menuju lokasi persidangan. Ayu menatap pemandangan di luar pintu penjara, baru ia sadari ternyata sangatlah indah. Hari-hari bahagia diselimuti tawa dan dikelilingi harapan tentang masa depan gemilang. 

“Ternyata di luar itu sangat indah, ya, Bu?” gumam Ayu pada Opsir Yuni yang duduk di sisinya. 

“Kamu senang bisa melihat dunia luar?” balas Opsir Yuni. 

“Iya, Bu. Saya jarang melihat pemandangan kota, karena sehari-hari hanya berkutat di desa. Itu pun hanya, rumah, dapur, sawah, dan juga toko sembako untuk membeli kebutuhan harian rumah.”

Ayu menerawang, teringat bagaimana ia menjalani hari-harinya sebagai seorang istri yang mengurus rumah suaminya. 

“Bersabarlah sedikit lagi, semoga Pak Gunawan bisa membuktikan bahwa kamu tidak bersalah,” ujar Opsir Yuni lembut, tak lupa mengusap kandungan Ayu. 

“Amin, terima kasih, Bu. Karena selama saya di sel tahanan, Ibu sudah sangat baik pada saya.” 

“Itu sudah tugas kami, jadi kamu tak perlu khawatir.”

Beberapa saat kemudian mobil rutan itu pun tiba di pengadilan, matahari mulai terik, dan kedatangan Ayu sudah disambut tatapan dingin penuh kebencian dari Bu Halimah. 

“Masih hidup enak kau, setelah membunuh suami kau!” hardik Bu Halimah dengan suaranya yang lantang. Jika tak di halangi petugas, mungkin wanita itu sudah nekat menjambak dan mencakar menantunya. Karena tumpukan emosi yang terus mengendap sejak putra kesayangannya meninggal dunia. 

“Mak, jangan emosi, biar pengadilan yang memutuskan, Kak Ayu bersalah atau tidak,” kata Karmila menenangkan ibunya. 

Namun dengan kasar, Bu Halimah menepis tangan Karmila dari tubuhnya. Wanita itu berjalan angkuh memasuki ruang sidang. 

Kedatangan Ayu yang diapit dua orang opsir wanita, langsung menarik perhatian semua orang yang turut hadir ingin menyaksikan berlangsungnya sidang. 

Kemudian Ayu didudukkan di sisi Pak Gunawan pengacaranya. Kasus semacam ini baru pertama kali terjadi di desa, jadi para warga berbondong-bondong datang. Ada yang memang ingin tahu, ada yang iba serta tak percaya dengan kondisi Ayu, ada pula yang mulai mencibir wanita itu. 

Setelah hakim datang, sidang pun dimulai, Pak Rudi selaku jaksa penuntut umum berdiri di depan semua orang dan memanggil saksi utama, seorang wanita muda bernama Anjani.

Anjani nampak sedikit gugup saat dia melangkah maju, wajahnya pucat dan tangannya sedikit bergetar. 

“Ceritakan apa yang kamu lihat pada malam itu,” ujar Bapak Rudi dengan suara tegas. 

“Malam itu, saya hanya mengantar Bang Restu pulang, karena almarhum dalam keadaan mabuk.” 

Bu Halimah terbelalak, “Tidak mungkin! Anakku tak mungkin berani menyentuh barang haram!” teriaknya. 

Tok! 

Tok! 

Tok! 

“Tolong tenang di ruang sidang,” tegur Pak Hakim. 

“Mengantar korban, berarti Anda mengenal Pak Restu, sampai memanggilnya dengan panggilan akrab.” Pak Rudi mengisyaratkan tanda kutip dengan menggunakan jari tangannya. 

“Benar, Pak. Almarhum dan saya tetap berteman baik, walau hubungan kami sudah berakhir,” ungkap Jani, yang menjadi catatan bagi hakim dan jaksa. 

Para warga desa yang ada di sana mulai kasak-kusuk, pasca mendengar pengakuan Jani. 

“Silahkan dilanjutkan saudara saksi,” kata Hakim. 

“Apakah korban sering datang ke tempat kerja Anda?” tanya Pak Rudi. 

Anjani menarik nafas kembali, “Beberapa bulan terakhir, iya. Menurut pengakuan almarhum, dia mulai tak nyaman di rumah, karena istrinya banyak menuntut.” 

Bu Halimah mengangguk setuju, sementara Ayu mulai geram dengan Anjani yang tengah bersilat lidah. “Keberatan! Saya rasa keterangan itu tidak relevan dengan kasus ini.” kata Pak Gunawan dengan lantang, ketika melihat mimik wajah Ayu yang tak terima dengan ucapan Anjani. 

“Diterima, silahkan lanjutkan saudara jaksa.” 

“Apa yang terjadi setelah Anda dan korban tiba di rumah?” 

“Tiba di rumah, Bu Ayu langsung memarahi almarhum karena cemburu dengan keberadaan saya. Padahal— saya cuma—” Anjani menjeda ucapannya, karena ia mengusap air mata palsunya. 

“Saya cuma mengantar beliau pulang, tapi Bu Ayu menghadang dengan amarah yang kian meradang. Menghina saya, mengatakan bahwa saya berniat menghancurkan rumah tangganya—”

Ayu berdiri dari kursinya, “Itu tidak benar! Yang sebenarnya saya tidak marah, saya hanya bertanya dengan kapasitas sebagai istri, apa saya salah?!” pekik Ayu mencoba meluruskan ucapan Anjani. Tapi—

Tok! 

Tok! 

Tok! 

“Saudara Ayu, mohon tenang, dan tunggu giliran Anda berbicara.”

“Sabar, Bu. Nanti ada kesempatan Anda berbicara.” Pak Gunawan membantu Ayu kembali duduk di tempatnya. 

Dengan berat hati, Ayu pun kembali duduk. “Silahkan di lanjutkan, saudara saksi.” 

“Di tengah pertengkaran mereka, Bu Ayu tiba-tiba menyambar pisau yang tergeletak di atas meja. Dia mengamuk membabi buta, menebaskan pisau ke arah— saya.” 

“Pak Hakim, dia sedang memutar balikkan fakta! Dialah yang mulai memegang pisau!” 

Anjani berdiri dari tempatnya, ia mengangkat lengannya yang terluka, “Ini adalah bukti, bahwa saya tidak berbohong.” 

“Almarhum yang mencoba menghalangi justru— justru— menjadi korban kebrutalan Bu Ayu.” 

“Tidak!” jerit Ayu sekali lagi, kali ini ia bahkan merasakan perutnya ikut bereaksi, seolah mereka merasakan emosi yang sama. “Aakhh!” pekik Ayu sambil memegangi perutnya. 

“Saya mohon penundaan sidang, karena klien saya tak bisa melanjutkan.” pak Gunawan segera mengambil jalan tengah, agar kliennya tenang terlebih dahulu. Ditambah lagi kondisi kandungannya yang rawan lahir kapan saja. 

Tok! 

Tok! 

Tok! 

Hakim kembali mengetuk palu, tanda penundaan sidang. 

Setelah sidang ditunda, Karmila yang khawatir dengan kondisi kandungan Ayu, langsung keluar, “Mau kemana, Kau?”

“Mau lihat kakak ipar, Mak.” 

“Tak usah, lah, kau peduli dengan wanita itu, dia pembunuh kakak kau.” 

“Mak! Hakim belum memutuskan, jadi Mamak tak berhak melabeli Kak Ayu seolah-olah dia adalah pembunuh!” Geram Karmila pada sikap Bu Halimah. 

“Seandainya terbukti benar?”

“Maaf, Mak. Aku tetap tidak percaya, karena aku percaya pada almarhum Bapak, beliau pasti tak asal pilih menantu, karena wanita itu yang kelak akan melahirkan penerus nasab keluarga kita!” 

 

1
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sekarang baru terasa ya😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
memudar
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Pantes aja desainnya hasil curian semua karena emang otaknya ga mampu😒
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Didikan yg salah 😒
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
setuju 👍🏻
Eva Karmita
ayu kamu harus kuat 😭😭😭😭
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
bagusss
Rahmawati
oke, lanjutttt
Endang Sulistia
Alhamdulillah ya yu...
Bun cie
karya yg bagus👍 cerita ttg ketidakadilan perselingkuhan fitnah dan kasih sayang ibu anak yg dikemas dengan baik.
trims kak thor
Er Ri
tetap lanjut dooonkk😄
Aditya hp/ bunda Lia
disini kekuasaan dan uang mengalahkan segalanya
R⁵
astaghfirullah othor bikin jantungan.. tau2 end wae😓
Patrick Khan
q kira tamat beneran..😁😁ternyata ada lanjutan nyok pindah tempat
DozkyCrazy
kaggettt 😁😁
Esther Lestari
dilanjut di judul yang lain....mampir ah
Siti Siti Saadah
baru di balas anak nya aja udah makjleb. gimana kalau ayu dah beraksi😄
Reni
huaaaaaa meluncur kak
Miranda mengutamakan cinta buta mungkinkah bakal cinta mati sama biru kita tunggu disebelah
Sh
ayoooo.. loyo makan apa ? atau dikasih koyo cabe biar the end sekalian😅😅
Nar Sih
ayu pasti jdi wanita hebat dgn bantuan juga arahan dri madam giana ,org yg sama,,terluka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!