Takamiya Nia, wanita berusia 42 tahun yang bekerja di Perusahaan Fasde tiba-tiba meninggal dalam kondisi tidur di apartemennya tanpa diketahui oleh siapapun.
Begitu Nia terbangun, ia mendapati dirinya menjadi bayi sepasang kekasih di keluarga kerajaan sebagai pewaris tahta kerajaan berikutnya, Kerajaan Thijam.
Dengan pengetahuan ala otaku di masa lalunya dan beberapa pengalaman yang ia miliki bersama kedua orangtuanya, Nia memutuskan untuk memperoleh kesempatan kedua untuk menjalani hidup sesuai dengan keinginannya tanpa ada paksaan maupun umpatan yang memenuhi hati dan pikirannya.
(Peringatan: Karya ini mengandung Dark Shoujo jadi siapkan mental kalian, oke?)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanken, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 9: Pertemuan Antara Kakek dan Cucu
Di pukul 06:45 pagi, tidak ada siapapun di aula makan membuat para maid yang terdapat sepuluh orang bersiap-siap meletakkan jamuan di meja makan yang panjang dengan kain putih diatas meja.
Semuanya adalah sarapan pagi dengan beragam jenis makanan yang lezat dan enak, mulai dari; ayam bakar dengan salad dan tomat dibawah ayam, daging babi cincang yang berwarna hitam karena dibaluri oleh beberapa bumbu pedas dan manis, sayur soup yang berisi wortel, kentang, tomat, dan sawi hijau yang sudah dipotong-potong, roti dengan selai, dan berbagai macam hidangan sarapan pagi lainnya.
Untuk minuman terdapat berbagai macam jenis yang disiapkan oleh Alice yang membantu mereka, para maid. Mulai dari; orange juice, milk, sake, wine, chocolate, clear water, semuanya ada diatas meja yang dihidangkan bersebelahan dengan piring yang terdapat sarapan pagi.
"Sip. Dengan begini, selesai."
Meskipun ia tahu fisiknya lemah, bagi Alice membantu para maid menyiapkan jamuan di meja makan di aula makan merupakan hal benar karena selain ia dapat melatih ketahanan fisik usai berolahraga, ia juga bisa melatih ketangkasan dalam bergerak.
Dengan kata lain, ia melangkah dua kali lipat dibanding sebelumnya. Semuanya berkat usulan dari Annastasia yang menyuruhnya menyiapkan hal tersebut.
"Terimakasih telah membantu kami, Alice-sama."
"Tidak masalah."
Begitu mereka keluar, Alice yang duduk terlebih dahulu di kursi miliknya bersandar sesaat kepalanya di kedua tangannya di meja. Matanya terpejam sesaat untuk menghilangkan kantuk meskipun ia tahu tidak lama setelah ia tidur, para bangsawan akan datang kemari untuk sarapan pagi.
•••••
Eri POV
Kira-kira kenapa Ibu penasaran terhadap gadis berambut pirang yang seusiaku ya?
Padahal setahuku, ia memiliki sikap yang sama sepertiku yang kekanak-kanakan. Tidak ada kelebihan maupun kekurangan, semuanya sama.
Yah, meskipun ada yang membuatku penasaran atas kata-katanya.
Seketika aku teringat atas pembicaraan mereka kemarin saat makan siang.
"Ayah, dengarkan aku, aku ingin kamu mengajarkan aku untuk menjadi kuat."
"Eh... menjadi kuat?"
"Bisakah kau katakan lagi pada Ayah, Sayangku?"
"Aku ingin Ayah melatih fisikku untuk menjadi kuat."
"Bolehkah Ayah tahu alasanmu, Sayang?"
"Ya."
"Aku ingin menjadi kuat agar aku bisa mengemban tugasku mewujudkan keinginan Kakek untuk menjadi penerus tahta kerajaan."
Selagi aku mendengar percakapan aku, aku bertanya-tanya dengan pemikiran gadis yang seumuran denganku.
Apa yang dipikirkannya?! Bukankah ia tahu kalau ia lemah?! Kenapa ia ingin melatih fisik daripada mana?!
Menyudahi ingatan tersebut, aku benar-benar tidak memahami apa yang dipikirkannya.
Bahkan sampai sekarang, aku tidak tahu kenapa ia memikirkan sesuatu yang jauh berbeda dari pemikiran aku. Itu benar-benar rumit untuk mengetahuinya.
Padahal jika ia sama seperti kanak-kanak pada umumnya, mungkin aku bisa bermain dengannya. Tapi mendengar kata-kata serius dari luar aula makan kemarin siang, aku ragu bisa mendekatinya saat ini.
Yah, ini akan menyulitkan diriku untuk saling mengenal satu sama lain dengannya.
"Apa boleh buat. Mungkin lain kali aku akan melakukannya."
Ya, hanya ini yang aku tunggu saat ada kesempatan di lain waktu.
Jikalau bisa, aku juga ingin mengenalmu, gadis berambut pirang. Siapa tahu kita bisa menjadi teman lalu tumbuh besar bersama-sama.
•••••
Selesai sarapan pagi, Alice yang berjalan mengitari lorong di lantai tiga mengusap-usap perutnya yang kenyang dengan sarapan pagi berupa kue manis berwarna coklat yang teksturnya seperti jelly dengan krim diatasnya dan satu buah strawberry diatasnya, membuatnya habis karena menikmati sarapan pagi dengan yang manis-manis yang ditutup dengan teh tawar hangat.
"Yah, untuk saat ini lebih baik jika aku perhatian ke Kakek."
Alice yang terlihat senang dengan jamuan sarapan pagi dari para maid sebelumnya selagi berjalan di lorong dengan beberapa ruangan yang berhadap-hadapan yang diduganya merupakan ruangan kerja para bangsawan, tiba-tiba dikejutkan dengan suara dari salah satu ruangan yang bertuliskan nama "Yamada Edi".
"Tsk... tidak bisa diandalkan! Jika kau tidak bergerak sedikitpun, kau tidak bisa mendekati gadis itu, dasar bodoh!"
"Tapi Ayah... aku tidak ingin mendekatinya karena memanfaat–"
"Aku tidak peduli! Pokoknya kau lakukan saja tugasmu, setelahnya kau bisa serahkan urusan ini pada Ayahmu!"
Dari luar ruangan, Alice mendengar suara pertengkaran yang ia duga berasal dari Keluarga Yamada, keluarga yang berperan penting di Kerajaan Thijam sebagai fondasi yang cukup kukuh, tahu kalau masalah tersebut tentang masalah internal antara ayah dan anak.
"Apa yang ingin Ayah lakukan padanya?"
Didalam ruangan, seorang anak lelaki berambut bald fade berwarna abu-abu, sepasang mata berwarna amber yang terlihat ragu menatap ke ayahnya yang duduk di kursinya di meja kerjanya yang berada didepannya.
"Kau tidak perlu tahu. Pokoknya Ayah ingin melakukan hal baik untukmu dengannya, bukan hal yang buruk."
Mendengar kata-kata ayahnya, pria yang memiliki rambut high and tight berwarna coklat, sepasang mata berwarna coklat muda yang menatap serius pada putranya, Ken, Edi terlihat enggan untuk memberitahu rencananya saat ini.
"Kalau begitu, apakah aku harus mendekatinya sekarang?"
"Terserah padamu. Mau kau dekati sekarang atau nanti, itu urusanmu. Bila kau berhasil melakukannya, Ayah yang akan mengurus sisanya."
Melihat Edi, sang ayah yang memegang keningnya dengan helaan nafas panjang dengan suara pelan membuat Gerald, putranya mengetahui kalau ia tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti perkataan ayahnya saat ini.
"Kira-kira apa yang mereka bicarakan ya?"
Meskipun ada rasa penasaran yang dapat didengarnya dari luar, Alice rasa menahan diri diperlukan agar ia tidak terlibat dalam masalah lain yang membuatnya berakhir seperti kehidupan pertamanya karena ia takut bila kehidupan keduanya berakhir, ada kesempatan ketiga di lain waktu.
"Yah, lupakan saja."
Mengabaikan rasa penasaran yang bisa saja membunuhnya, Alice berjalan dengan langkah tenang agar tidak terdengar suara langkah kakinya oleh orang didalam ruangan yang bertuliskan nama "Yamada Edi" agar ia bisa pergi ke ruangan pribadi kakeknya, Arga.
"Apapun masalah mereka, itu tidak ada kaitannya denganku."
Menegaskan kata-kata ini didalam pikirannya, Alice memiliki tekad untuk tidak mau melakukan kesalahan sedikitpun.
Entah kesalahan seperti di masa lalu maupun yang belum pernah dilakukannya, sebisa mungkin ia menghindari skenario terburuk yang mengarah ke bad ending layaknya otome game yang dimainkannya.
•••••
Alice POV
"Kakek, aku datang!"
Aku yang mendekati kakekku, memeluknya dengan erat di pangkuannya setelah menaiki beberapa anak tangga, meletakkan kepalaku di sandaran pahanya yang duduk di singgasananya.
"Wah, wah... kau benar-benar datang ya, Cucuku Tercinta."
Meskipun aku enggan mengatakan ini pada siapapun, sebenarnya kakekku sangat mencintaiku sebagai cucunya.
Yah, aku tidak tahu kenapa ia mencintaiku sebagai cucunya, tapi aku yakin ia memiliki alasan dibalik hal tersebut.
"Jadi, ada keperluan apa kau kemari, Alice?"
"Tidak ada apa-apa. Aku kemari hanya ingin mengajakmu mengobrol."
"Hahaha... kau selalu mempedulikan aku ya, Cucuku Tercinta."
Hentikan. Aku ini sudah besar jadi kamu tidak perlu menepuk dan mengusap-usap rambutku lagi.
Ingin sekali aku mengatakannya namun aku tahu posisiku jadi aku menahannya agar tidak membuat kesalahan dalam kata-kataku nanti.
"....."
"Ada apa, Alice?"
"Kakek, siapa dia?"
"Ah, dia...."
Pria yang memperhatikan kami, tidak, lebih tepatnya memperhatikan aku membungkuk seolah-olah memahami perkataan kakekku, tersenyum dengan mata sipit yang tetap tertutup.
"Perkenalkan saya, Alice-sama. Nama saya Michiru Gerald, anda bisa memanggil saya Gerald karena saya hanya penasihat."
Penasihat ya.
Entah mengapa kata-katanya tidak bisa ku percaya seolah-olah memiliki makna lain.
Apalagi dengan karakter yang tersenyum dan mata tertutup, aku ragu kalau ia merupakan karakter baik yang selalu mendukung protagonis seperti novel dan komik yang kubaca selama hidup pertamaku di dunia lamaku.
"Kenapa kau terlihat ragu, Cucuku?"
"Ah, tidak..."
Tidak mungkin aku langsung mengatakan bahwa aku meragukannya karena aku tidak bisa buktikan apakah ia berada di pihak baik atau jahat, itu sama seperti menuduhnya.
"Aku hanya penasaran seperti apa matanya."
"....."
Oh, sepertinya ia terkejut dengan perkataan ku.
"Gerald, bisakah kau berikan kami waktu bersama?"
"Tentu saja, Yang Mulia."
Ia membungkuk pada kakek lalu meninggalkan ruangan pribadinya menyisakan aku dengan kakekku.
"Lupakan tentangnya, Alice-ku. Bukankah lebih baik jika kau dengan Kakekmu?"
Ahaha... sepertinya tidak mungkin untukku bisa menahan kecintaannya padaku, cucunya.
Entah seberapa lama aku bisa bertahan dari cintanya padaku, aku hanya berharap aku bisa mendapatkan informasi tentang apa yang kuinginkan darinya.
Semoga saja begitu.
•••••
"Hei Kakek, bolehkah aku tahu berapa banyak perjuangan kakek mengurus kerajaan ini dari para pendahulu?"
"Kenapa ia tiba-tiba menanyakan itu padaku?"
Ada kebingungan terlihat di ekspresi Arga membuatnya bertanya-tanya mengapa cucunya bisa menanyakan sesuatu yang tidak seharusnya dipertanyakan.
Mungkinkah karena kebetulan yang diikuti oleh rasa penasaran? Ataukah karena ambisinya untuk melanjutkan dirinya sebagai penerus tahta? Arga tidak paham sama sekali.
"Kenapa kau bertanya seperti itu, Alice?"
Alice yang terdiam sejenak di pangkuan Arga yang duduk di singgasananya di ruangan pribadinya, ia merenung sesaat lalu menatap Arga dengan wajah ceria layaknya gadis kecil polos.
"Itu karena aku ingin sehebat dan sekuat dirimu, Kakek."
"....."
Tercengang mendengar kata-kata yang polos namun jujur dengan senyum ceria membuat kedua pipi Arga merah merona, tidak menyangka kalau kata-kata Alice benar-benar bisa sejauh itu memikirkan masa depannya.
"Baiklah, Kakek akan menceritakan pencapaian kakek padamu."
"Ya."
Alice yang siap untuk mendengarkan cerita dari Arga, diam selagi menunggu kakeknya menjelaskan padanya, cucunya.
Diluar ruangan pribadi raja, Gerald yang tidak ingin mendengar percakapan antara cucu dan kakek berjalan menjauh dari pintu ganda menuju ke ruang kantornya.
"Benar-benar deh. Bisa-bisanya ia penasaran atas pencapaian mu, Yang Mulia."
Padahal di pandangan Gerald, gadis kecil bernama Alice hanya gadis biasa yang bersikap ceria yang berkata jujur dan polos, tapi rupanya ia tidak seperti demikian.
Malahan Alice lebih seperti gadis yang menyembunyikan tekad dibalik sikap kekanak-kanakan, berpikir lebih dewasa, tidak putus asa maupun menyerah, itulah yang Gerald yakini saat pandangan pertama.
"Yah, semoga saja aku bisa menyaksikan dirimu sebagai penerus tahta nanti, Alice-sama."
Tidak sabar untuk menantikan hari itu tiba, Gerald ingin tahu apakah ia dapat dipakai jasanya lagi sebagai penasihat disisi Alice atau tidak, ia hanya ingin tahu sejauh mana gadis kecil itu bisa memimpin Kerajaan Thijam.
•••••
Alice POV
Aku yang mendengarkan dengan seksama pada perkataan kakekku, ia menjelaskan pencapaian yang ia lakukan selama menjabat sebagai Raja di Kerajaan Thijam, mulai dari;
Di usia 25 Tahun, kakek yang memperoleh gelar sebagai raja di usia muda, memimpin Kerajaan Thijam menjadi lebih baik dari sebelumnya. Para pedagang dan budak yang dijual secara ilegal dibebaskan, bahkan para bandit diburu habis-habisan oleh para ksatria untuk mengatasi kedamaian dan ketenangan melebihi masa jabatan pewaris tahta sebelumnya.
Tak hanya itu, kakek juga memimpin pasukan untuk mengepung markas besar yang dimiliki oleh para bandit yang seringkali menjarah peralatan tempur lalu dijual kembali, melakukan perdagangan manusia, dan seringkali menguasai wilayah tertentu untuk memakmurkan suatu wilayah dibawah kekuasaan mereka dengan pajak tinggi, ia bisa menghadapi mereka dalam jumlah banyak tanpa berkeringat sama sekali.
Di usia 30 Tahun, kakek melakukan kerjasama dengan Kerajaan Akayuki untuk mengalahkan musuh mereka dari Kerajaan Kuroyuki, yang mampu berakhir menang dengan pasukan Kerajaan Akayuki yang menguasai Kerajaan Kuroyuki sekaligus menangkap para tahanan yang selalu berbuat kriminal dengan menjual barang yang didapat dan budak melalui pasar pelelangan.
Beberapa Minggu kemudian, ia menerima julukan dari orang-orang di kerajaannya maupun Kerajaan Akayuki dengan sebutan one-man army karena ia banyak mengalahkan musuh seorang diri dengan class Paladin, membuatnya menerima gelar itu dari Kerajaan Akayuki lalu pulang dengan gelar tersebut.
Di usia 40 Tahun, kakek yang ditinggal mati oleh istrinya yang sudah lebih dari setahun, ia yang hidup sendiri membuat kerajaan lain melakukan sayembara pada wanita manapun untuk meluluhkan hatinya. Tapi bukannya meluluhkan hati Arga, para wanita tersebut ditolak mentah-mentah karena kakek merupakan pria sigma, ia sudah setia pada istrinya tanpa perlu mencari penggantinya untuk menemani kesendiriannya.
Di usia 55 Tahun, ia yang melihat seorang petualang tingkat tinggi, Gold yaitu Gerald, ia mempekerjakannya sebagai penasihatnya agar mewujudkan keinginan dari salah satu Priestess di kerajaannya, Alisha yang memintanya untuk menerima Gerald sebagai penasihatnya yang bertujuan untuk menghilangkan kesepiannya selama ini sejak ditinggalkan oleh istrinya.
"Apa-apaan itu, Kakek?"
"Ahahaha.... bagaimana? Terdengar lucu, bukan?"
"Sulit untuk dipercaya."
"Bagian mana yang sulit dipercaya?"
Aku ingin bilang padanya kalau bagian ia merupakan pria sigma, aku ragu apakah ia benar-benar serius atau bergurau saat ini karena ia selalu bersikap santai padaku.
Kenapa aku meragukan perkataan kakekku? Karena aku tahu kalau kebanyakan para pemimpin kerajaan memiliki banyak istri dan selir mustahil untuk kakekku tidak pernah memilikinya sama sekali karena itu bertentangan dengan aturan tidak tertulis.
Tidak, tunggu dulu.
Dipikirkan dari segi manapun, kurasa itu mungkin masuk akal.
Menurutku, jika ibuku sama seperti kakek maka ada kemungkinan kalau ibuku akan mewariskan sifat kakek saat ini karena dari apa yang kubaca setelah lulus SMA di kehidupan lamaku, kebanyakan dari anak perempuan menuruni sifat ayahnya ketimbang ibunya.
Ya, mungkin saja itu masuk akal.
"Kenapa kau malah diam?"
"Ah, tidak... aku hanya tidak jadi bertanya."
"Kenapa? Mungkinkah kau takut Kakek marah?"
"Bukan itu," bantahku yang mustahil berpikir kalau ia marah padaku. "Lebih tepatnya aku ingin tahu apakah Kakek benar-benar setia pada nenek atau tidak."
"Oh, hanya itu?"
Aku mengangguk padanya selagi ia tetap mengusap-usap rambutku selama aku duduk di pangkuannya.
"Ahahaha... bukankah itu sudah jelas? Kakek malas mencari istri baru karena istri pertama sudah cukup untuk Kakek. Mana mungkin Kakek ingin melupakan momen indah dari kenangan Kakek dengan Nenek, bukan?"
Ya, aku setuju pada perkataan kakek.
Dikarenakan aku pernah membaca buku komik maupun novel bergenre romantis, banyak pasangan yang langgeng dan awet karena setia pada cinta pertamanya melebihi apapun membuat mereka tidak bisa terpisahkan meskipun maut memisahkan mereka di waktu berbeda.
Sebaliknya, bila pasangan tersebut tidak awet maka ada kemungkinan mereka tidak nyaman atau mencari sandaran yang lebih baik daripada orang tersebut yang membuat hubungan mereka retak lalu hancur.
Itulah pemahaman aku sebagai otaku, tidak lebih dari itu.
Itu juga alasanku tidak ingin berpacaran karena aku tidak ingin diriku tergila-gila pada seseorang, aku hanya ingin melakukan apapun yang ku perlukan untuk saat ini tanpa perlu memikirkan hal romantis.
Lagipula aku tidak ingin memiliki genre romantis di kehidupanku, aku hanya ingin kehidupanku memiliki genre aksi, fantasi dan isekai seperti yang kurasakan sekarang.
Yah, meskipun genre aksinya belum kelihatan namun aku akan tetap menunggunya saatnya tiba nanti.
"Ah, benar."
Aku hampir lupa sesuatu.
"Ada apa, Cucuku?"
"Kakek, Kerajaan Akayuki dan Kuroyuki itu apa?"
"Ah, itu...."
Sekilas, ada keraguan di ekspresi kakek yang membuatku berpikir sesuatu terjadi diantara dua kubu di kerajaan mereka.
"Yah, kau bisa anggap keduanya merupakan kerajaan yang dipimpin oleh ras naga."
"Ras naga?!"
"Oh... kau tertarik?"
"Ya."
Bagaimana mungkin aku tidak tertarik? Ini lebih seperti mendengarkan cerita langsung dari kakek akan membuatku ingin tahu apakah aku bisa melakukan hal serupa sepertinya di masa depan atau tidak, aku benar-benar menantikan penjelasannya.
"Kerajaan Akayuki merupakan kerajaan yang dipimpin oleh raja dari ras Akagami no Ryuuki."
"Akagami no Ryuuki?"
"Ya. Kalau tidak salah, Kakek dengar mereka merupakan ras naga merah yang nama ras mereka adalah Akagami no Ryuuki."
Terdiam sejenak, aku mencoba untuk membayangkan bagaimana kerajaan naga merah berada menduga kalau semuanya adalah naga, tanpa ada manusia di sana.
"Jika kau berpikir kalau mereka semua adalah naga, kau salah cucuku."
"Eh... mungkinkah mereka manusia?"
Ia menggelengkan kepala padaku menandakan tebakanku salah.
"Lebih tepatnya mereka merupakan dragonoid, mereka bisa dalam wujud manusia dan wujud naga kapanpun mereka mau."
Tunggu.
Itu artinya mereka....
Aku yang teringat atas komik dan novel yang kubaca, tahu jelas kalau ada ras naga yang bisa berubah wujud dari manusia ke naga tanpa ada batasan sama sekali.
Tapi, siapa sangka aku benar-benar ada di dunia seperti ini.
Aku bersyukur kalau aku terlahir ke dunia ini untuk bisa mengetahui keberadaan mereka nanti.
"Sepertinya kau terlihat senang ya, Alice."
"Ya," aku mengangguk dengan wajah ceria pada kakekku. "Lalu bagaimana dengan Kuroyuki?"
"Kuroyuki merupakan kerajaan yang dipimpin oleh ras Kurogami no Ryuuki, mereka merupakan ras naga hitam yang selalu bertentangan dengan Kerajaan Akayuki."
"Bertentangan? Seperti apa?"
"Yah, Kakek juga tidak tahu. Pokoknya mereka selalu berbeda pendapat antara satu kerajaan dengan kerajaan lain."
Aku mengerti.
Kakek tidak bisa memberitahuku karena takut aku yang masih gadis kecil tidak bisa tidur karena perkataan darinya, membuatku tidak bisa mengatakan apapun selain terdiam di pangkuannya membiarkan tangannya tetap mengelus-elus rambutku dengan lembut.