"Aku mau menjadi istrimu, hanya karena itu permintaan terakhir suamiku."
-Anna-
"Akupun mau menikahimu dan mengambil tanggung jawab atas anak itu hanya karena permintaan adikku."
-Niko-
Anna, wanita tunanetra berparas cantik yang sederhana mendapatkan donor mata dari suaminya yang meninggal saat usia pernikahan mereka baru beberapa minggu saja. Sebelum meninggal, suami Anna berwasiat agar Anna bersedia menikah dengan kakaknya, Niko.
Niko adalah pria tampan berhati dingin. Ia memiliki seorang kekasih, namun tidak ada niat untuk segera menikah.
Bagaimana kisah Anna dan Niko dalam menjalani kehidupan rumah tangganya?
Ada peristiwa apa di balik trauma yang di alami oleh Anna?
------------
Cerita ini hanya fiksi, jika ada nama, tempat dan kejadian yang sama, itu hanya kebetulan semata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon el nurmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
penyakit Riko
Happy reading...
Di keheningan malam yang semakin larut, Riko masih terjaga. Tangannya mengusap lembut pucuk kepala istrinya. Dirinya tahu saat berpisah pasti akan tiba. Namun tetap saja berpisah dengan Anna sangat berat dirasakannya.
Sedari kecil, tubuh Riko memang sudah lemah. Ia mengidap Thalasemia. Penyakit yang diturunkan dari gen ayah dan ibunya. Selama ini ia rutin mendapatkan donor darah secara berkala. Namun seiring berjalannya waktu, tubuhnya semakin lemah dengan kulitnya yang mulai menghitam mengganti kulit yang semula terlihat pucat.
Riko kecil pernah mengeluh karena merasa lelah dengan transfusi darah yang selalu di lakukannya. Perlu beberapa labu darah dalam sekali transfusi, belum lagi reaksi dari transfusi itu sendiri membuat Riko enggan melakukannya. Kedua orang tuanya sampai merasa frustasi dalam membujuknya.
Sampai di suatu hari, seorang anak perempuan hadir di rumahnya. Ia bernama Anna, dan ia seorang tunanetra. Mamanya menerima ibu Anna bekerja sebagai balasan atas kejujurannya. Dari cerita yang di dengar dari mamanya, mereka hidup serba kekurangan dan juga terlunta-lunta.
Awalnya ia enggan berteman dengan Anna, namun keceriaan Anna menarik perhatiannya. Ia tidak pernah mendengar Anna mengeluhkan soal kekurangannya. Sekalipun ia sering tersandung atau terjatuh, belum lagi beberapa orang selalu mengolok-olok kekurangannya.
Riko kemudian berteman dengan Anna. Hari-hari di laluinya dengan melihat senyum Anna. Dan itu menjadi motivasinya untuk terus melakukan transfusi darah seperti biasanya. Ingin tetap bersama dan melindungi Anna menjadi penyemangat hidupnya.
Sebuah mukjizat ia bisa bertahan sampai hari ini. Karena menurut dokter Seto, hampir semua organ dalam tubuhnya sudah terkena efek dari penyakitnya. Orang tuanya sudah melakukan segala cara, bahkan menyewa seorang perawat bernama Dea yang dengan telaten mengontrol asupan makanannya sesuai petunjuk dokternya.
Dan saat ini, ia benar-benar sudah menyerah pada penyakitnya. Satu kali transfusi pernah di lewatinya karena Anna tidak mau di tinggalkan olehnya. Dan tentu hal itu berakibat fatal padanya.
Memang selama ini ia tidak jujur pada Anna tentang penyakitnya. Dan menggunakan alasan mengantar Dea belanja saat ia hendak memeriksakan keadaannya atau melakukan transfusi yang memakan waktu berjam-jam lamanya.
Baginya, senyum Anna adalah segalanya. Ia akan lakukan apapun untuk memastikan senyum itu selalu ada.
Riko menatap lembut wanita yang sedang terlelap dengan tangan yang melingkar di pinggangnya. Diusapnya pipi Anna dengan sangat lembut menggunakan punggung tangannya. Air mata yang sedari tadi susah payah di tahannya berderai begitu saja.
Saat ini adalah terakhir kalinya ia bisa menatap wajah Anna sepuasnya. Karena setelah esok tiba, kesempatan itu tidak akan pernah ada.
"Mas,, mas belum tidur? Ini jam berapa?" tanya Anna saat di rasa tangan Riko sedang mengusap-usap wajahnya.
"Jam dua pagi. Kamu tidur lagi ya," pinta Riko pelan.
"Mas kenapa belum tidur? Apa ada yang sakit? Anna harus melakukan apa biar mas bisa tidur?" tanya Anna mulai khawatir.
"Tidak ada yang sakit, Sayang. Tetap seperti ini. Mas suka kalau kamu tidur sambil memeluk mas begini."
Anna bergerak mensejajarkan wajahnya dengan wajah suaminya.
Cup.
Satu kecupan di daratkannya di bibir suaminya. Riko terperangah dengan senyum menghiasi wajahnya.
"Mulai nakal, ya? Lagi dong," godanya.
Tak di sangka, Anna menanggapi godaan suaminya. Ia mengecup Riko berkali-kali sampai pria itu terkekeh dengan ulah istrinya.
"Mas tidur ya! Kan sudah Anna cium, jadi mas harus tidur," pinta Anna.
"Iya, baiklah," sahut Riko meyakinkan Anna.
Anna kembali pada posisinya, tidur sambil memeluk suaminya. Sedangkan Riko tidak berani memejamkan mata, ia takut saat memejamkan mata tidak bisa lagi membukanya.
Keesokan harinya, Anna masih enggan untuk bangun dan turun dari tempat tidur. Bahkan untuk sekedar melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Riko pun ia enggan.
"Mas..."
"Hmm."
"Sudah bangun?"
"Belum," sahut Riko sambil terkekeh pelan.
"Iih, Mas Riko ini," dengus Anna kesal, memukul pelan dada suaminya.
"Kenapa? Kamu malas bangun?"
Anna mengangguk.
"Tapi kamu tetap harus bangun. Ingat, hari ini kamu sudah harus mulai mengikuti pemeriksaan."
Helaan nafas kasar Anna terdengar Riko. Wanita itu seakan berat melepaskan diri darinya.
"Anna, jaga kesehatanmu! Juga janin dalam kandunganmu. Jaga dia demi Masmu ini, ya! Kalau kau sudah pulang ke apartemen kita, aku ingin kau membaca sesuatu yang ada di dalam laci lemari pakaianmu."
"Apa itu, Mas? Apa yang harus Anna baca?" tanya Anna penasaran.
"Surat cinta."
"Mmm? Surat cinta? Dari siapa? Dari kamu, Mas?"
"Iya."
"Kok pakai surat, kan bisa langsung bicara."
"Aku malu kalau di bicarakan langsung."
"Malu? Memangnya Anna ini orang baru dalam hidup kamu, Mas."
"Kan biar romantis," ucap Riko dengan nada menggoda.
"Iih, Mas Riko," sahut Anna tersenyum malu. Riko mengusap lalu mengecup pucuk kepala istrinya.
Setelah beberapa perawat datang dan membujuknya, mau tidak mau Anna menurutinya. Riko menatap dengan matanya yang mulai sayu. Lagi-lagi ia tidak mampu menahan air matanya yang berderai begitu saja.
"Mas, berapa hari sampai semuanya selesai?" tanya Anna malas.
"Mas nggak tahu, Sayang. Kan dokternya bukan aku," sahut Riko sambil menyelipka rambut Anna di belakang telinganya.
"Mas cepat sembuh, ya! Anna ingin mas Riko jadi orang pertama yang Anna lihat," rengek Anna.
"Mas kira kamu ingin melihat ibu saat pertama kali membuka mata nanti."
"Ingin sih, tapi Anna lebih ingin melihat kamu, Mas."
"Baiklah. Tapi mas nggak janji, ya."
Anna tersenyum. Senyum termanis yang pernah dilihat Riko selama ini. Juga akan menjadi senyum terakhir yang tidak mungkin di rindukannya lagi.
Setelah memeluk dan mengecup punggung tangan suaminya, Anna berjalan di temani Dea menuju ruangannya. Senyum tipis terukir di wajahnya.
"Neng Anna pasti sedang bahagia. Karena sebentar lagi Neng Anna akan bisa melihat indahnya dunia," ujar Dea.
"Iya memang, tapi yang membuatku bahagia adalah saat aku membayangkan bisa kemana saja bersama mas Riko. Dia tidak akan bersusah payah menuntun jalanku lagi, iya kan Dea?"
"I, iya, Neng," sahut Dea ragu.
"Oh iya, Dea. Menurutmu mas Riko tampan tidak?" tanya Anna.
"Gimana ya, Neng? Kalau saya bilang tampan, nanti Neng Anna cemburu. Kalau saya bilang tidak, nanti Neng Anna marah."
"Hehe, iya ya. Kenapa saya menanyakan itu sama kamu. Tapi yang pasti, mas Riko adalah pria yang sangat baik. Kamu setuju kan?"
"Iya. Mas Riko memang sangat baik," sahut Dea mengakhiri percakapan mereka.
Dea menuntun Anna memasuki sebuah ruangan dan mendudukannya. Saat Dea bergerak hendak melepaskan genggamannya pada lengan Anna, ia menahannya sambil berkata, "Ini ruangan apa?"
"Ini ruangan Ophthalmologis, dokter spesialis mata," sahut Dea.