Mina bertemu dengan Nic saat masih duduk di bangku SMA. Gadis itu tidak pernah menyangka akan jatuh cinta kepada sosok Pria yang berumur sepuluh tahun lebih tua darinya. Tak bertepuk sebelah tangan, Nic ternyata juga menaruh hati pada sosoknya yang sederhana.
Namun, saat mereka hampir bersama, sebuah kesalah pahaman membuat Mina memilih menjauh dari kehidupan Nic. Hingga, Tiga tahun kemudian dia harus kembali bertemu dengan Nic dan terjebak dalam ikatan pernikahan.
Jungkir balik kehidupan mereka menjadi cerita tersendiri.
_
_
_
Note :
JANGAN PLAGIAT ATAU TAMBAL SULAM!
INGAT AZAB
Carilah Rezeki yang halal dengan mencari ide sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinasya mahila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10 : Terjebak Perkelahian
"Siapa yang jadian?" tanya Nic penasaran, Ia menatap ke arah Mina penuh tanda tanya.
"Kak Nic tidak usah ikut campur!" cegah Alilea.
Mina hanya memandang datar ke arah Nic dan gadis di depannya. Lengah, sebuah tamparan mendarat di pipi Mina dari Lea. Gadis itu murka, membalas menjambak rambut Lea dengan tangan kirinya, sementara Nic yang akan menghindar tanpa sengaja mendapat tamparan dari Mina. Laki-laki itu terperanga sambil memegang pipi berharganya.
Suasana kacau, dua remaja yang bertengkar di depan gerbang sekolah itu membuat semua orang terperanga, satpam sekolah sampai harus turun tangan karena Kimi dan Nic yang berusaha melerai saja terlihat kuwalahan, bak singa dan macan kedua gadis itu saling cakar, tak peduli dengan sekitar, harga diri musti terdepan.
Pak Tyo sampai harus menyebrang mendekat ke arah tuannya, berusaha mencegah Nic kembali terkena tamparan, tapi sayang baru saja pak Tyo ingin menarik Nicholas menghindar sebuah pukulan dari Lea yang salah sasaran tepat mengenai kepalanya. Limbung, Nic terduduk di trotoar. Pak Tyo langsung panik, Ia tahu bahwa sang tuan pernah mengalami trauma di kepala dan koma karena sebuah peristiwa kecelakaan.
"Anda tidak apa-apa tuan?" tanya Pak Tyo panik.
Mina yang masih sibuk membalas Lea yang sudah ditarik oleh satpam tiba-tiba terdiam, memandang iba Nic yang terduduk seperti seorang gembel penuh belas kasihan.
"Om... om gapapa kan?"
"Gapapa kepalamu, lihat kamu sudah menampar pipiku dan kamu ... " Nic melotot ke arah gadis yang Ia ketahui adalah pacar adik sepupunya."Kamu pikir kepalaku bola kasti?"
"Kak Nic, kakak tidak tahu kan? cewek di depan kakak itu udah ngerebut Gaga dari aku, Gaga mutusin aku gara-gara dia," oceh Alilea.
"Hoi ... aku ga ngerebut Gaga, aku jadian sama dia karena dia udah ga punya hubungan sama siapa-siapa, kalau mau ngomong cari fakta dulu, dasar lambe turah," amuk Mina.
Nicholas terkejut, yang berputar di dalam otaknya sekarang hanyalah tiga kata yang terangkai dalam satu kalimat yaitu Gaga pacar Mina. Ternyata memang benar bahwa para gadis lebih suka dengan cowok yang populer begitu kesimpulan darurat yang dikirim otaknya.
Apakah bangga berpacaran dengan seorang idola? apakah rasanya menang mendapat cowok yang diperebutkan seluruh kaum hawa? Ah... aku tak kalah dari Gaga, bahkan kekayaanku lebih banyak dari dia, tapi memang aku tidak mempunyai banyak pengikut di Instagram, apa hanya karena itu Mina mau menjadi pacar si burung Gagak?
"Tuan anda tidak apa-apa?" Pak Tyo mengguncang tubuh Nic agar tersadar.
Menganggukkan kepalanya, Nic mendapati dua gadis yang terlibat perkelahian sampai menganiaya dirinya tadi sudah di gelandang ke pos satpam.
Sepanjang perjalanan Nic memlih diam, pikirannya melayang, tiba-tiba ia berpikir bahwa dirinya harus realistis. Ia tertawa terbahak-bahak merutuki pikirannya sendiri.
Wah... Nic, sudah gila kah dirimu? come on! masih banyak gadis lain yang rela memberikan segalanya untukmu dibanding gadis ingusan yang masih suka keributan.
"Antar aku ke Garald Club Pak," pinta Nic ke pak Tyo.
"Ini masih sore Tuan."
"Memang kenapa kalau masih sore?"
"Anda tidak sedang patah hati lagi kan?" tanya Pak Tyo.
"Apakah aku kalau patah hati selalu pergi ke club sore-sore?" Nic mengernyitkan dahi seolah lupa dengan kebiasaannya sendiri.
"Iya, bahkan anda juga akan mabuk di siang bolong saat patah hati," beber Pak Tyo.
"Wah memalukan sekali!" tukas Nic yang membuat pak Tyo semakin kebingungan.
*
*
*
*
*
Pukul tujuh malam, Pak Tyo terlihat memapah Nicholas masuk ke dalam rumah, Kali ini entah apa yang merasuki jiwa seorang Nic sampai ia menghabiskan tujuh botol minuman seorang diri.
Seorang wanita terlihat berkacak pinggang di depan pintu, disamping wanita itu terlihat seorang anak kecil berwajah imut yang tengah bersedekap sambil menggeleng-gelengkan kepala seperti burung kutilang, Evan heran mendapati kakak laki-lakinya mabuk seperti itu dan bahkan bukan di malam minggu.
"Halo ibu suri, halo anak Adam," sapa Nic ke sang mama dan adik.
"Evan masuk ke kamar!" perintah sang mama ke anak bungsunya.
"Dasar tidak dewasa," gumam bocah berumur enam tahun itu melihat tingkah kakaknya sambil berpaling untuk menuju ke kamarnya.
"Ah... halo mama Sri, kapan kembali dari pulau seberang?" racau Nic melihat sang mama sudah berada di rumah.
"Sra... Sri.. . Sra... Sri," Wanita itu mendorong kening putra tertuanya sampai kepala Nic menukik ke belakang. "Panggil aku Seri, jangan panggil aku Sri! dasar anak gendeng.
Nyonya besar rumah itu meminta sang sopir untuk pulang dan melepaskan saja Nic yang tengah mabuk. Pak Tyo sedikit menunduk memohon undur diri ke Ibunda Nicholas yang bernama lengkap Sridevi Ramdhani itu.
"Kan nama mama Sri, kenapa jadi Seri?" Nic cekikikan meledek sang mama.
"Dasar anak Adam gubluk," umpatnya sambil melingkarkan lengan ke pinggang sang anak untuk membawanya naik ke kamar. "Kali ini siapa gadis yang membuatmu patah hati? katakan ke mama!"
*
*
*
*
*
Mina menunduk, ia sadar telah melakukan kesalahan, bertengkar dengan anak SMA sebelah sama saja dengan perang, tawuran bisa saja terjadi karena Alilea seorang bintang di sekolahnya, sementara itu Kimi bergidik ngeri, baru kali ini selama bersekolah ia masuk ke ruang bimbingan konseling, meskipun berstatus saksi ia tetap saja ketakutan.
Bu As menatap Mina tak percaya, siswinya yang satu ini benar-benar membuat pusing kepala, jika tidak memikirkan ujian yang tinggal hitungan bulan bisa saja sekolah memberi sanksi tegas untuk mengeluarkan Mina.
"Ibu minta kamu menulis surat pernyataan dan harus dibubuhi tanda tangan kedua orang tuamu isinya kamu berjanji tidak akan berbuat onar sampai ujian nasional, jika sebelum itu kamu berulah dan melanggar peraturan maka dengan terpaksa kamu akan dikeluarkan dari sekolah."
Mina berjalan gontai mengingat ancaman Bu As kepadanya tadi. Ya ... seharusnya Mina sadar bahwa ada konsekwensi dari setiap pilihan, menjadi pacar settingan Gaga membuat dia kaya tapi masalah baru datang menghampirinya.
Mina melirik ponselnya seolah dia sudah tidak bisa berpikir jernih lagi, gadis itu melanggar aturan lagi dengan memakai ponselnya di jam sekolah. Dibacanya pesan dari Nic satu minggu belakangan yang selalu diabaikannya.
Beginikah rasanya jika tidak ada kehadirannya baru terasa?
Mina mengehela napasnya berharap bisa melompat ke empat bulan kedepan, setidaknya dia akan terbebas dari dua hal, ujian nasional dan kontrak pacar settingannya dengan Gaga.
"MINA."
Teriak Kimi memanggil nama sang saudara tiri dari depan pintu kelas, sontak Mina langsung memasukkan ponselnya ke dalam bajunya melalui lubang leher, tempat yang dia pikir paling aman untuk menghindari razia karena jelas tidak mungkin ada yang berani meraba-raba tubuhnya.
"Ih... Kimoci bikin kaget aja," gerutunya.
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
Reader : Hem... pengalaman ya kalau ada razia hengpong ngumpetinnya disitu?
Otor :
...KOMEN yang banyak yes...
...VOTE...
...LIKE ...
...ADD FAVORITE😍...
...MAKASIH SETAMBAK UDANG...
ada dewa anaknya bu dewan,ada aqilla dan adara anaknya bu Erin istrinya raja minyak pak rhoma klo gak salah hihihiiiii