NovelToon NovelToon
Istri Kedua Untuk Tuan Duda

Istri Kedua Untuk Tuan Duda

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Ibu Pengganti / Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta / Romansa
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cerita Tina

Willie, seorang pengusaha muda yang sukses, hidupnya hancur seketika ketika sang istri, Vira meninggal secara tragis setelah berusaha membuka kasus pemerkosaan yang melibatkan anak didiknya sendiri.

Kematian Vira bukan kecelakaan biasa. Willie bersumpah akan menuntut balas kepada mereka yang telah merenggut keadilan dan istrinya.

Namun di balik amarah dan tekadnya, ada sosok kecil yang menahannya untuk tidak tenggelam sepenuhnya, putri semata wayangnya, Alia.

Alia berubah menjadi anak yang pendiam dan lemah sejak kepergian ibunya. Tidak ada satu pun yang mampu menenangkannya. Hanya seorang guru TK bernama Tisha, wanita lembut yang tanpa sengaja berhasil mengembalikan tawa Alia.

Merasa berhutang sekaligus membutuhkan kestabilan bagi putrinya, Willie mengambil keputusan untuk melakukan pernikahan kontrak dengan Tisha.

Willie harus memilih tetap melanjutkan dendamnya atau mengobati kehilangan dengan cinta yang tumbuh perlahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerita Tina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ayo Menikah

Sejak beberapa hari lalu, ia sudah memikirkan permintaan Alia agar Tisha tinggal bersama mereka. Di balik tatapan fokusnya ke jalan, pikirannya berkelana jauh menyusuri ribuan kemungkinan.

"Haruskah aku mengajaknya menikah?"

“Wajarkah kalau secepat ini?”

“Apakah dia mau?”

“Kira-kira apa yang akan dia pikirkan kalau aku benar-benar melamarnya nanti?”

Ia menarik napas panjang, menatap jalan di hadapannya. “Atau... mungkin lebih baik kalau kami menikah kontrak saja. Demi menjaga Alia, sampai kondisinya benar-benar stabil. Dan batas waktunya sampai Tisha menemukan calon suami sebenarnya."

Willie tersenyum miris pada pikirannya sendiri. “Ah... apa yang sudah kupikirkan,” gumamnya pelan.

Ia tahu, mengungkapkan niat itu tidak mudah. Terlalu banyak risiko. Tisha mungkin akan menjaga jarak dan yang lebih ia takutkan adalah kalau Tisha juga membuat batas pada Alia.

Dari kursi sebelah, Alia memperhatikan ayahnya yang tampak termenung.

“Pa, apa papa sakit?” tanyanya polos.

Willie tersentak kecil, lalu tersenyum menoleh sekilas. “Ah, tidak sayang. Papa baik-baik saja.”

Alia menatapnya datar sejenak, sebelum kembali memeluk boneka kelincinya. Willie hanya menghela nafas panjang.

Sesampainya di sana, Willie memarkirkan mobilnya di depan rumah bercat krem muda. Suasana halaman rumah itu terasa tenang, dengan deretan pot bunga di sisi teras.

Alia tampak bersemangat begitu mobil berhenti. Ia turun lebih dulu sambil menenteng boneka kelincinya, berlari kecil ke arah pintu pagar.

Willie meraih bungkusan kue dan roti tadi, lalu menyusul langkah kecil putrinya. Ia mengucapkan salam didepan pintu. Suara langkah terdengar dari dalam rumah. Seorang wanita paruh baya membukakan pintu.

“Assalammualaikum, Selamat sore Bu,” sapa Willie sopan sambil tersenyum. “Perkenalkan, saya Willie, ayahnya Alia.”

Wajah wanita itu langsung berubah cerah. “Wa'alaikumsalam. Oh, jadi ini ayahnya Alia,” katanya dengan nada ramah. “Saya Ratna, ibunya Tisha. Silakan masuk.”

Willie menunduk sedikit sebagai tanda hormat sebelum melangkah masuk. Ruang tamu itu terasa nyaman. Ratna memanggil suaminya dan memberi tahu kedatangan Willie.

Tak lama kemudian, seorang pria keluar dari ruang dalam, Bahri ayah Tisha. Willie berdiri dan menjabat tangannya. “Pak, Saya Willie. Terima kasih sudah menerima kami.”

Bahri mengangguk ramah. “Ah, Tisha sering cerita tentang kalian. Alia sopan dan manis sekali. Kami juga senang dia sering main ke sini.”

Willie tersenyum tulus, menatap kedua orangtua itu dengan hormat. “Saya ingin berterima kasih. Sejak istri saya meninggal, Alia sering merasa sepi. Tapi karena Tisha dan sering ke sini, dia jauh lebih ceria. Saya benar-benar berterima kasih karena keluarga Bapak dan Ibu sudah ikut repot menjaga Alia."

Ibu Ratna tersenyum lembut. “Jangan sungkan, Alia cepat membuat orang sayang padanya. Kami senang bisa menemani.”

Tepat saat itu, Tisha muncul "Oh, kalian sudah datang,” ujarnya sambil menatap Willie dan Alia. Ada secercah hangat di matanya. Willie hanya mengangguk, bibirnya menahan senyum kecil.

Tisha kemudian menghidangkan beberapa cangkir teh hangat. lalu duduk di kursi berhadapan dengan Willie.

“Silakan diminum, Pak Willie."

Willie mengangguk dan mengangkat cangkirnya pelan. “Terima kasih, Bu Tisha."

Mereka berbincang ringan tentang pekerjaan, tentang kebun kecil di halaman belakang, dan tentang cuaca yang belakangan sering berubah-ubah.

Tisha sesekali tertawa kecil, sementara Alia duduk di pangkuan Ibunya Tisha. Ratna menepuk lembut bahu Alia. “Alia, pohon anggur yang kamu siram dulu, sekarang sudah berbuah kecil, lho. Mau lihat?” katanya dengan nada riang.

Mata Alia langsung berbinar. “Benarkah, Nek? Mau! Mau lihat!” serunya bersemangat.

Ayah Tisha yang sejak tadi memperhatikan mereka ikut tersenyum, lalu merentangkan tangan. “Ayo, tuan putri, kita lihat buah anggurmu,” ujarnya sambil menggendong Alia di pundaknya.

Alia tertawa riang. Ratna ikut berjalan di belakang mereka, meninggalkan Willie dan Tisha berdua di ruang tamu yang kini terasa lebih tenang.

Willie menatap ke arah jendela, melihat Alia memegang daun anggur sambil tertawa bahagia di bahu pria tua itu. Hatinya hangat bercampur haru.

Ia menunduk, tersenyum tipis ke arah Tisha. “Ternyata… dia lebih suka di sini, ya.”

Tisha menatapnya sejenak, lalu mengangguk. “Orangtua saya memang sangat menyukai anak kecil. Mungkin karena rumah ini sudah lama sepi sejak saya jarang di rumah.”

Willie mengangkat pandangan, menatap wajah Tisha yang lembut. Dalam diam, ia berpikir, mungkin yang membuat Alia bahagia bukan sekadar rumah ini, tapi juga kehangatan orang-orang di dalamnya termasuk gadis yang kini duduk di hadapannya.

***

Tisha merasa canggung hanya berada di ruang tamu itu bersama Willie. Lelaki itupun merasa demikian. Akhirnya mereka memutuskan keluar melihat-lihat kebun kecil milik orang tua Tisha.

Willie tertegun memandangi halaman rumah itu. Jarang ada rumah dengan halaman besar di kota padat seperti ini. Ia lalu menatap ke arah Tisha.

"Maaf Bu Tisha, Kalau boleh tahu kapan Bu Tisha berencana menikah?" tanya Willie tiba-tiba.

Tisha sedikit terkejut mendengarnya, "Ah, saya belum terpikir tentang itu." jawabnya dengan sedikit kikuk.

"Lalu bagaimana dengan pacar anda?" tanya Willie lagi.

Tisha menggeleng, "Tidak ada." jawabnya singkat.

Ada sedikit lega di hati Willie. "Maaf, saya cuma ingin basa-basi saja." ucapnya sambil menggaruk tengkuknya.

Tisha tertawa kecil, ia tak menyangka bahwa Willie sangat kaku dalam memulai obrolan.

Willie ikut tersenyum, ia sadar diri akan hal itu.

Hening sesaat. Suasana kembali terasa canggung. Willie berdehem, lalu berkata. "Bu Tisha, Bagaimana kalau kita menikah saja?"

Tisha terkejut mendengar ajakan nikah tiba-tiba dari Willie. Ia menyeringai, "Basa basi anda terlalu ekstrim ya, Pak Willie." ucapnya sambil terkekeh.

Willie menatapnya dengan lekat. "Untuk ini saya serius Bu Tisha." ujar Willie spontan.

"Kalau anda tidak keberatan, ayo kita menikah saja." ucapnya lagi.

Tisha membeku untuk sesaat, ia mendongak sedikit memandangi wajah Willie yang lebih tinggi darinya lalu Tisha mengibaskan sekilas tangannya di depan wajah Willie.

Namun pria itu tidak bergeming. "Astaga, apa itu benar serius." batin Tisha. Wajahnya langsung memerah.

"Bagaimana?" tanya Willie. Tisha menunduk, ia benar-benar merasa aneh saat itu. Tisha mencubit sisi lengannya sendiri, ia ingin memastikan apa itu adalah mimpi karena ia sempat tertidur siang tadi.

Namun Tisha meringis merasakan cubitannya sendiri. "Ya ampun, ini benar-benar kenyataan." Batinnya lagi.

Willie mengintip ke arah wajah Tisha, "Apa anda baik-baik saja?" tanyanya.

Tisha sontak sadar, "Ah, ini terlalu mendadak. Alangkah baiknya, anda jangan bermain-main dengan obrolan seperti ini."

"Apa saya terlihat seperti main-main?" timpal Willie.

"Kalau pun itu serius, bolehkah saya tahu, apa tujuan anda mengajak saya menikah?" tanya Tisha tegas.

Willie menelan ludahnya. Ia mencoba menjawab dengan hati-hati. "Saya sudah memikirkannya berulangkali, banyak hal yang membuat saya untuk berani seperti ini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!