"Buang mayatnya! Jangan sampai bau busuk anak angkat ini merusak pesta putri kandungku."
Sepuluh tahun menjadi "boneka" sempurna keluarga Lynn, Nerina Aralynn justru mati dikhianati di gudang lembap demi memberi tempat bagi si putri asli, Elysia. Namun, maut memberinya kesempatan kedua. Nerina terbangun di masa lalu, kali ini dengan duri mawar hitam yang mematikan.
Satu per satu kekayaan keluarga Lynn ia preteli. Namun di balik balas dendamnya, Nerina menemukan satu rahasia: Satu-satunya pria yang menangisi kematiannya adalah Ergino Aldrich Leif—kepala pelayan misterius yang aslinya adalah penguasa dunia bawah.
"Aku adalah pedangmu, Nerina. Katakan, siapa yang ingin kau hancurkan lebih dulu?"
Saat sang putri terbuang mulai berkuasa, mampukah ia menuntaskan dendamnya, atau justru terjerat obsesi gelap sang pelayan yang melindunginya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: PERMATA YANG TERTUKAR
"Kamu gila, Nerina! Bagaimana bisa kamu membiarkan Andrew mendampingi Elysia di panggung nanti? Apa kamu sudah tidak punya harga diri lagi sebagai tunangannya?"
Nero Savero Lynn membentak sambil membanting map dokumen ke atas meja makan. Pagi itu, suasana sarapan di kediaman Lynn kembali memanas. Nerina, yang sedang mengoleskan selai ke rotinya dengan sangat tenang, bahkan tidak berkedip.
"Harga diri?" Nerina mendongak, menatap Nero dengan tatapan kosong yang menjengkelkan. "Bukankah ini yang kalian inginkan? Ayah ingin Elysia terlihat sempurna sebagai putri kandung Lynn, dan Andrew ingin menjadi pahlawan bagi gadis yang 'menderita'. Aku hanya memfasilitasi kebahagiaan kalian, Kak."
"Tapi dunia akan menertawakanmu!" Nero menunjuk wajah Nerina. "Mereka akan menganggap kamu adalah tunangan yang disingkirkan!"
"Biarkan saja mereka tertawa," sahut Nerina santai. "Tertawa itu sehat, Kak. Apalagi sebelum badai datang."
"Cukup, Nero!" Elyas Lynn menyela dengan suara beratnya. Ia menatap Nerina dengan selidik. "Nerina, jika kamu benar-benar tidak keberatan, maka persiapan pesta akan tetap berjalan sesuai rencana. Andrew akan mengawal Elysia masuk, dan kamu... kamu bisa masuk bersama Nero."
"Aku punya rencana lain, Ayah," jawab Nerina. Ia melirik Ergino yang berdiri di sudut ruangan dengan posisi tegak sempurna. "Aku akan berangkat sendiri. Ada beberapa urusan bisnis yang harus kuselesaikan sebelum acara dimulai."
"Urusan bisnis apa di hari pesta?" Andrew yang baru saja masuk ke ruang makan menyela dengan nada tidak senang. Ia langsung duduk di sebelah Elysia yang tampak malu-malu. "Jangan mencari alasan untuk kabur karena kamu cemburu pada Elysia, Nerina."
Nerina menaruh pisau rotinya. Denting logam yang beradu dengan piring porselen itu terdengar tajam. "Cemburu? Andrew, jangan terlalu tinggi menilai dirimu sendiri. Aku hanya tidak ingin membuang waktuku untuk gladi resik yang membosankan."
Andrew mendengus, tangannya di bawah meja diam-diam menggenggam tangan Elysia—sebuah pemandangan yang sengaja ia pamerkan pada Nerina. "Elysia butuh bimbinganku. Dia belum terbiasa dengan sorot lampu."
"Tentu," Nerina tersenyum misterius. "Pastikan kamu membimbingnya dengan sangat baik, Andrew. Karena sekali kamera menyorot, tidak ada jalan untuk kembali."
......................
Sore harinya, saat kediaman Lynn sibuk dengan para penata rias, Nerina sedang berada di perpustakaan. Ia tidak sedang bersolek. Ia sedang menatap sebuah kotak beludru hitam yang diletakkan Ergino di hadapannya.
"Ini adalah replika kalung Blue Blood yang diinginkan Elysia," ujar Ergino. Suaranya rendah, nyaris seperti bisikan di tengah keheningan perpustakaan.
Nerina membuka kotak itu. Sebuah permata biru besar berkilau indah, namun bagi mata yang ahli, ada sesuatu yang berbeda. "Dan yang asli?"
"Sudah berada di brankas pribadi Anda di bank, Nona," Ergino memberikan seringai tipis. "Elysia akan mengenakan ini malam ini. Dia akan memamerkannya sebagai 'hadiah pengakuan' dari Tuan Elyas. Dia tidak tahu bahwa di balik permata ini, tertanam mikro-kamera dan sensor yang akan menyiarkan semua percakapannya secara real-time ke server saya."
Nerina mengelus permukaan permata palsu itu. "Kamu sangat teliti, Gino. Tapi bagaimana dengan Andrew?"
"Tuan Fidelis mencoba menyabotase saham Anda di proyek pelabuhan tadi siang," Ergino melangkah mendekat, berdiri di belakang kursi Nerina. "Dia tidak tahu kalau perusahaan yang dia hubungi untuk 'membeli' saham Anda sebenarnya adalah salah satu anak perusahaan Leif Group. Dia baru saja menyerahkan sepuluh persen aset keluarganya kepada saya secara cuma-cuma."
Nerina tertawa rendah. Ia menyandarkan kepalanya ke belakang, menatap wajah Ergino yang kini berada tepat di atasnya. "Kamu benar-benar algojo yang licik, Tuan Leif."
"Hanya untuk Anda, Nerina," Ergino membungkuk, wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Nerina. "Andrew sempat bertanya padaku di lorong tadi. Dia bertanya kenapa aku masih betah melayani 'wanita dingin' sepertimu."
"Lalu apa jawabanmu?"
Ergino mengulurkan tangan, jemarinya membelai bibir Nerina dengan lembut namun posesif. "Aku bilang padanya... melayani mawar hitam jauh lebih menantang daripada menjaga melati plastik yang baunya busuk."
Nerina menarik kerah baju pelayan Ergino, memaksa pria itu semakin mendekat. "Jangan terlalu nakal, Gino. Kita punya pesta untuk dihancurkan."
"Saya sudah tidak sabar melihat wajah mereka," bisik Ergino sebelum akhirnya menjauh saat mendengar langkah kaki Andrew di luar pintu.
"Nerina! Apa yang kamu lakukan di dalam sana? Cepat keluar! Kita sudah hampir terlambat!" Andrew berteriak dari balik pintu.
Nerina keluar dari perpustakaan dengan tenang. Ia sudah berganti pakaian—bukan gaun pastel yang diminta Anora, melainkan gaun sutra hitam legam yang memeluk tubuhnya dengan sempurna. Gaun itu memiliki belahan tinggi di paha dan punggung yang terbuka, membuatnya terlihat seperti dewi kegelapan yang siap memburu.
Andrew terpana melihat penampilan Nerina. "Kenapa... kenapa kamu pakai baju hitam? Aku bilang pakai warna yang senada dengan Elysia!"
"Elysia memakai warna putih, Andrew. Aku tidak ingin orang-orang bingung mana pengantin dan mana 'pengiringnya'," sahut Nerina pedas.
Elysia keluar dari kamarnya dengan gaun putih megah, lengkap dengan kalung permata biru (palsu) di lehernya. Ia tampak sangat cantik, namun saat ia melihat Nerina, matanya berkilat iri.
"Kak Nerina... gaunmu sangat... mencolok," ujar Elysia dengan nada yang dibuat manis.
"Terima kasih, Elysia. Kalungmu juga sangat... bersinar," balas Nerina sambil menatap tepat ke arah permata biru itu. "Pastikan kamu menjaganya baik-baik. Permata seperti itu punya cara tersendiri untuk mengungkap rahasia pemiliknya."
Elysia menyentuh kalungnya dengan gugup. "A-apa maksud Kakak?"
"Hanya sebuah saran," Nerina melirik Ergino yang sudah berdiri di dekat pintu keluar dengan kunci mobil di tangannya. "Ayo berangkat. Aku tidak ingin melewatkan satu detik pun dari malam bersejarah ini."
Saat mereka berjalan menuju mobil, Andrew mencoba menggandeng tangan Nerina, namun Nerina sengaja berjalan lebih cepat dan masuk ke mobil yang dikemudikan Ergino.
"Gino, jalan," perintah Nerina.
Andrew terpaksa masuk ke mobil kedua bersama Elysia dan Nero. Dari kaca spion, Nerina melihat Andrew yang tampak kesal karena diabaikan.
"Nona," panggil Ergino saat mereka sudah di jalan.
"Ya?"
"Andrew baru saja mengirim pesan singkat ke ponsel rahasia Elysia. Dia menulis: 'Sabar sayang, setelah pesta ini, Nerina akan segera disingkirkan'.
Nerina menatap pemandangan kota di luar jendela dengan senyum kemenangan. "Bagus. Biarkan dia bermimpi setinggi mungkin. Karena jatuh dari langit itu jauh lebih menyakitkan daripada jatuh dari tempat tidur."
Malam itu, di bawah kerlip lampu kota, sang mawar hitam sedang menuju panggungnya. Bukan untuk menari, melainkan untuk mengeksekusi.