Sheza diculik ketika usianya 7 tahun, dan bibinya meninggal diduga karena telah menyelamatkannya saat itu. Karena dianggap berhutang nyawa, dia benar-benar harus merelakan tempat dan posisinya digantikan sang sepupu Karen. Kedua orang tuanya mengabaikannya, memprioritaskan Karen.
Bahkan tunangannya Alex, juga melakukan hal yang sama. Hingga malam itu, satu minggu sebelum bertunangan, Sheza melihat Alex dan Karen berciuman di villa mereka, villa yang katanya dibeli Alex untuk Sheza.
Sejak saat itu, Sheza sudah tak berharap lagi pada keluarga dan tunangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Di Rumah Sakit
Ketika dia mengemudikan mobilnya menuju ke arah rumah sakit. Dia melihat mobil yang sama di belakangnya terus mengikutinya. Mobil di belakang itu seperti familiar.
Sheza mendengus pelan.
"Mereka mengikuti?" gumamnya bingung.
Tapi, bukankah itu anak buah Jendra. Tidak mungkin juga menyakitinya. Tapi kalau diikuti begitu, bukankah nanti mereka akan melaporkan semuanya pada Paul.
Sheza menghentikan mobilnya di toko kue di dekat rumah sakit. Dia turun dari mobilnya dan masuk ke dalam toko kue itu. Siapa suruh dia punya suami seseorang yang memang pandai menyembunyikan sesuatu darinya. Bukankah semakin lama bersama seseorang, sedikit banyak sifatnya akan membaur. Jadi, Sheza pikir dia akan menipu orang-orang yang mengawasinya itu.
Di dalam toko kue, Sheza segera menghampiri penjaga.
"Mbak, ada pintu samping tidak? saya di ikuti orang!" kata Sheza.
Wajah wanita yang menjaga di kasir itu tampak menegang. Tentu saja dia juga sedikit khawatir. Karena dia juga wanita, melihat ada wanita lain yang terancam. Dia juga simpati sekali tentunya.
"Ada mbak, di sebelah sana! pergilah!" kata wanita penjaga kasir itu.
Sheza tersenyum dan segera pergi ke arah yang di tunjuk oleh wanita penjaga kasir. Dari sana, Sheza berjalan ke rumah sakit.
Begitu sampai di rumah sakit, dia langsung mencari keberadaan dokter Devan.
"Permisi!" sapa Sheza pada resepsionis.
"Iya, ada yang bisa saya bantu?"
"Saya mau cari dokter Devan, kalau mau bikin janji temu, harus ke lantai berapa ya?" tanya Sheza.
"Ke lantai 4 saja mbak, nanti disana ada meja piket perawat. Bisa di tanyakan disana, dimana ruangan dokter Devan"
Sheza mengangguk ramah.
"Terima kasih!"
"Sama-sama"
Sheza menuju ke arah lift menuju ke lantai 4, dia langsung bertanya dimana ruangan Devan dan mengatakan dia sudah membuat janji.
Begitu sampai di depan ruangan dokter Devan. Tanpa mengetuk pintu, Sheza langsung membuka pintu perlahan,
"Tiga tembakan itu untung saja tidak kena bagian vitall. Jika tidak, dia bisa bertemu dewa Yama!"
"Tuan itu sangat kuat, dia tidak mungkin..."
Mata Sheza melebar, dia kenal suara itu. Suara itu milik Vins.
Ceklek
Kedua pria yang ada di dalam ruangan itu, segera menoleh bersama ke arah pintu.
"Nyonya..."
Vins berdiri sangking terkejutnya.
"Dimana dia?" tanya Sheza dengan raut wajah yang benar-benar suram.
Vins menoleh ke arah dokter Devan. Dan dokter Devan juga hanya bisa menelan salivanya susah payah. Kedua orang itu, baik Jendra maupun Sheza, saat menatap dengan tatapan tajam begitu. Dia merasa seperti bisa tenggelam kapan saja.
"Di ruang rawat" jawab dokter Devan.
"Tunjukkan!" kata Sheza.
Caranya mengatakan itu sudah benar-benar seperti memerintah. Benar kata orang, dekat dengan orang galak, bisa ketularan galak. Dekat dengan orang yang suka mengintimidasii bisa ketularan juga mendominasi.
Di ruangan ekskutif, mungkin kalau di hotel ruangan president suite. Dokter Devan membuka pintu ruangan itu.
Sheza masuk mendahului Vins, yang hanya bisa mundur beberapa langkah ketika Sheza mendahuluinya.
"Jendra..."
"Bagaimana hasilnya, apa aku sudah boleh pulang...?"
Ucapan Jendra terjeda ketika dia melihat Sheza di belakang dokter Devan.
"Sayang..."
Sheza mendekati Jendra, Vins dan dokter Devan segera keluar dari ruangan itu. Auranya benar-benar mencekam. Mereka juga tentunya tak mau terlibat dalam masalah rumah tangga Jendra dan Sheza.
"Bagaimana? apa menurutmu bosmu akan disuntik mati istrinya?" tanya dokter Devan.
"Dokter, ucapanmu mengerikan sekali" kata Vins.
"Vins, apa kamu tidak lihat tadi. Tatapan nyonya mu itu, aku merinding dibuatnya!"
Vins menoleh ke arah pintu ruangan rawat itu dengan wajah khawatir.
Sementara di dalam ruangan, Sheza masih memperhatikan Jendra yang tubuhnya di balut beberapa perban. Di lengannya ada, di bagian perut juga ada lilitan perban yang cukup banyak.
"Tiga tembakan? kamu mau jadikan aku janda dengan cepat ya?" tanya Sheza kesal.
Wajah Jendra yang tadinya tegang, takut Sheza menangis tersedu-sedu dan sangat khawatir padanya, langsung terlihat lega. Dia tahu, kalau istrinya bukan wanita lemah.
"Maaf..." kata Jendra sambil merentangkan tangannya minta peluk Sheza.
Sheza segera menghambur dengan hati-hati ke pelukan Jendra. Dia benar-benar ingin menangis. Bayangkan saja! tiga tembakan. Bagaimana Jendra masih bisa hidup dengan semua itu.
Tapi Sheza tahu, jika dirinya menangis. Maka Jendra akan merasa sangat sedih. Lain kali mungkin akan lebih berhati-hati menyembunyikan apapun darinya karena tidak ingin dia sedih. Lagipula Jendra saja kuat, kenapa dia harus lemah. Terlebih lagi, Sheza tidak mau jadi kelemahan Jendra.
Sheza menarik dirinya.
"Sudah makan?" tanya Jendra.
"Kamu tidak marah?" tanya Jendra.
Sheza melebarkan matanya.
"Bagaimana tidak marah? aku tidak bisa tidur tiga hari..."
Jendra kembali meraih Sheza ke pelukannya.
"Maaf, aku baru siuman. Sebelum pingsan aku katakan pada mereka, jangan membuat mu khawatir. Jangan marahi mereka ya!"
"Tidak akan..."
Jendra tersenyum.
"Tidak akan aku lewatkan kesempatan itu!" lanjut Sheza yang membuat Jendra malah terkekeh.
"Apapun yang membuatmu senang, lakukan saja! tidak akan ada yang protes!"
Sheza terdiam, melihat perban di perut suaminya.
"Siapa yang melakukan ini padamu?" tanya Sheza.
Jendra menghela nafas cukup panjang.
"Sheza, banyak yang akan melakukan hal seperti ini padaku. Apa kamu takut?"
Sheza segera menggelengkan kepalanya. Bahkan menyandarkan kepalanya di dada Jendra.
"Tidak, aku tidak takut! aku yakin kamu pasti bisa melindungi ku!"
Jendra mengusap rambut Sheza perlahan.
"Sayang, aku lapar!"
Sheza menarik dirinya lagi.
"Baiklah, tunggu sebentar. Aku akan belikan makanan..."
Sheza baru akan beranjak dari tempat tidur, ketika Jendra kembali menariknya ke pelukannya.
"Bukan ingin makanan, aku ingin memakan mu!"
Jendra meraup bibir Sheza, benar-benar seperti seseorang yang sangat kelaparan.
Ceklek
"Oh ya, lukamu masih basah. Jangan lakukan...!"
Sheza menarik dirinya dan menjauh dari Jendra.
"Aku akan belikan makanan!" katanya yang langsung kabur dari ruangan itu.
Sementara dokter Devan yang datang untuk mengingatkan agar Jendra jangan melakukan gerakan yang akan membuat lukanya terbuka. Kembali menelan salivanya dengan susah payah. Dia merasakan hawa dan tatapan membunuhh yang sangat pekat dari arah tempat tidur pasien.
"Kamu ingin mati!!!" pekik Jendra kesal.
"Aku... aku tidak lihat apapun! hahhh....!" dokter Devan segera kabur dari ruangan itu juga.
***
Bersambung...
Lebih merasa gak enakan seolah-olah punya hutang budi, dan memperlakukan anak sendiri bagai orang lain..
Denial dengan ucapan anak sendiri, dan lebih percaya dengan omongan orang lain.. 🤦🏻♀️
ditendang sambil duduk katanya 😂😂
Sedangkan aku aja pernah ketimpa paksu sewaktu masih berat 88kg, mataku melotot seperti mau keluar.. Astaghfirullah..🤣🤣
Kau orang tua nya..
Kau ibunya, yg seharusnya lebih paham akan karakter anaknya..
Seharusnya kau mencari tau sendiri dulu yg sebenarnya..
Kau bisa menghubungi nya, tanpa harus berkoar-koar dulu dengan siapa²..
Bahkan dengan Karen pun, kau harus menyimpan rahasia & fakta..
Agar kesalahan pahaman yg terjadi ketemu jawabannya..
Agar kau bisa melihat sendiri seperti apa Karen & seperti apa Sheza..
Namun kau berbeda, kau justru memilih buta untuk mencari fakta..
Kini sesal mu pun tiada guna..
Kau pun telah kehilangan putri terbaik mu, dan menantu terkaya..
Rasakan kurma pahit buat kalian semua..
Untuk kau Pras, Karen, dan Nella..
Dan kau Pras, saham mu pada perusahaan akan menyusul kejatuhannya..😏
Bukan kah kau benar² wanita licik & menjijikkan, benar kan..? 🤣🤣
Gak usah merasa jd wanita terzolimi kau sebagai perempuan..
Sebab hanya hati yg kotor, yg hanya melihat mu yg jd korban..
Mereka yg bisa melihat wujud asli mu, pasti tau bahwa kelakuan mu bagai setan..
Memanipulasi, menghasut, bahkan tega playing victim asal terwujud keinginan..
Kau menghalalkan segala cara untuk mencari simpatisan..
Agar terlihat seperti anak baik, padahal akhlaknya bagai siluman.. 😏