NovelToon NovelToon
Menikah Karena Tekanan Keluarga

Menikah Karena Tekanan Keluarga

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / CEO
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Cut Asmaul Husna

Anya Clarissa, seorang Arsitek Lanskap yang terbiasa menata keteraturan dari kekacauan tanaman, menemukan hidupnya sendiri berantakan. Ibunya, Mama Clarissa, terjerat hutang miliaran setelah ditipu oleh rekan bisnis butiknya. Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran datang dari Keluarga Arkatama, penguasa industri logistik laut yang legendaris.Devan Arkatama, CEO muda yang dingin, angkuh, dan efisien, sedang dalam posisi terhimpit. Sang ayah, Papa Arkatama, mengancam akan mencopot jabatannya dan mengalihkan warisan kepada sepupunya jika Devan tidak segera menikah dan memperbaiki citranya yang dikenal sebagai "Playboy Tak Berperasaan."Pertemuan pertama mereka di sebuah acara peresmian taman kota berakhir dengan bencana. Anya menganggap Devan adalah pria sombong yang tidak menghargai seni, sementara Devan menganggap Anya adalah wanita kelas menengah yang mencoba mencari perhatian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 1 : BENIH KEBENCIAN DI BALIK BETON KOTA

Matahari Jakarta di bulan Juli seolah-olah sedang menunjukkan kekuasaannya. Cahayanya yang terik menyengat kulit, menciptakan uap panas yang keluar dari aspal jalanan yang berlubang. Di tengah hiruk-pikuk suara klakson kendaraan yang terjebak macet dan bisingnya suara mesin pengaduk semen, seorang wanita berdiri tegak dengan tangan di pinggang.

Anya Clarissa, seorang wanita berusia dua puluh lima tahun, sama sekali tidak tampak seperti wanita sosialita yang biasanya menghabiskan siang hari di pusat perbelanjaan ber-AC. Ia mengenakan kemeja flanel kotak-kotak yang lengannya digulung hingga siku, celana kargo berwarna khaki yang sudah terkena noda tanah, dan sepatu bot kulit yang tampak tangguh. Rambut cokelatnya yang indah kini dicepol asal-asalan ke atas, menyisakan beberapa helai yang basah oleh keringat dan menempel di leher jenjangnya.

Anya adalah pemilik Green Soul Landscape Architecture. Bagi orang awam, pekerjaannya mungkin terlihat sederhana—hanya menanam pohon. Namun, bagi Anya, ia adalah seorang seniman yang medianya adalah tanah, air, dan kehidupan. Ia sedang mengerjakan proyek The Emerald Garden, sebuah taman vertikal dan ruang terbuka hijau seluas dua hektar yang akan dibangun tepat di depan gedung pusat Arkatama Shipping Lines. Proyek ini adalah mimpinya, sekaligus beban berat di pundaknya.

"Pak Jono, pastikan drainase di sektor C diperiksa lagi! Saya tidak mau saat hujan pertama datang, taman ini berubah jadi kolam lele!" teriak Anya pada mandornya, suaranya lantang mengalahkan bunyi bising alat berat.

"Siap, Mbak Anya!" balas Pak Jono sambil memberi jempol.

Anya menarik napas panjang, menghirup aroma tanah basah dan debu konstruksi yang baginya lebih menenangkan daripada parfum mahal. Namun, ketenangan itu terusik saat sebuah mobil mewah—sebuah Rolls-Royce Ghost berwarna hitam pekat dengan plat nomor khusus—meluncur pelan dan berhenti tepat di area yang seharusnya bersih dari kendaraan.

"Astaga, siapa lagi ini?" gerutu Anya. Ia tahu benar peraturan keselamatan di sini. Tidak boleh ada kendaraan pribadi yang masuk tanpa izin, apalagi parkir di bawah crane yang sedang bekerja.

Pintu mobil terbuka secara perlahan, menampilkan kemewahan interior kulit berwarna putih dari dalamnya. Seorang pria keluar dari sana. Ia tampak seperti makhluk dari planet lain yang tersesat di lokasi konstruksi yang kotor. Pria itu mengenakan setelan jas custom-made tiga lapis berwarna abu-abu gelap yang melekat sempurna pada tubuh tegapnya. Bahunya lebar, postur tubuhnya tegak, dan wajahnya... wajahnya adalah tipe yang bisa membuat wanita berhenti bernapas. Rahangnya tegas, hidungnya mancung sempurna, dan sepasang mata elang yang tersembunyi di balik kacamata hitam merek Tom Ford.

Itu adalah Devan Arkatama. Sang putra mahkota, CEO Arkatama Shipping Lines, pria yang memegang kunci masa depan proyek Anya.

Devan melangkah keluar, sepatu kulitnya yang mengkilap langsung menyentuh tanah yang belum rata dan berdebu. Ia mengernyitkan dahi, menatap sekeliling dengan tatapan jijik yang sama sekali tidak disembunyikan.

Anya tidak peduli seberapa kaya atau tampannya pria itu. Baginya, keamanan dan integritas kerjanya adalah nomor satu. Dengan langkah tegas yang menghentak tanah, ia menghampiri Devan.

"Tuan, Anda tidak bisa parkir di sini. Ini area konstruksi aktif, bukan lobi hotel bintang lima," tegur Anya tanpa basa-basi.

Devan menurunkan sedikit kacamatanya, menatap Anya dari ujung botnya yang kotor hingga ke ujung kepalanya yang sedikit berantakan. Tatapannya dingin dan menilai, seolah Anya adalah serangga yang mengganggu jalannya.

"Dan kamu siapa? Salah satu buruh di sini?" suara Devan berat, rendah, dan penuh dengan nada superioritas yang menyakitkan telinga.

Anya mendengus, mencoba menahan emosinya. "Saya Anya Clarissa, arsitek utama proyek ini. Dan sebagai arsitek, saya bertanggung jawab atas keamanan setiap orang di area ini, termasuk orang yang merasa dirinya di atas hukum seperti Anda."

Devan melepaskan kacamatanya sepenuhnya, memperlihatkan mata tajam yang seolah bisa menguliti lawan bicaranya. Ia tersenyum miring—sebuah senyuman yang lebih mirip ejekan daripada keramahan.

"Oh, jadi kamu si 'penanam pohon' itu. Papa banyak bercerita tentang idealismu yang... unik. Tapi melihatmu sekarang, kamu lebih terlihat seperti orang yang butuh mandi daripada orang yang bisa dipercaya mengelola dana miliaran dari perusahaan saya."

Darah Anya mendidih. Ia sudah sering menghadapi klien yang sombong, tapi Devan Arkatama berada di level yang berbeda. Pria ini tidak hanya sombong, dia sangat meremehkan.

"Dengar, Tuan Arkatama. Saya bekerja dengan tangan saya, dengan otak saya, dan dengan hati saya. Saya tidak peduli apa pendapat Anda tentang penampilan saya. Tapi jika Anda datang ke sini hanya untuk menghina pekerjaan saya, lebih baik Anda kembali ke kantor Anda yang ber-AC dan membiarkan saya bekerja dalam damai. Proyek ini bukan tentang ego Anda, ini tentang memberikan oksigen untuk kota ini!"

Devan melangkah maju, memperkecil jarak di antara mereka. Aroma parfum oud dan sandalwood yang mahal langsung menyerbu indra penciuman Anya, menciptakan kontras yang aneh dengan bau keringat dan tanah. Devan jauh lebih tinggi darinya, memaksa Anya untuk sedikit mendongak.

"Oksigen?" Devan tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat hambar. "Dunia ini digerakkan oleh uang dan kekuasaan, Nona Anya, bukan oleh pohon-pohon cantikmu. Bagi saya, tanah ini jauh lebih berguna jika dibangun gedung parkir tambahan untuk karyawan saya daripada taman yang hanya akan menjadi tempat sampah bagi masyarakat umum. Saya tidak butuh taman, saya butuh efisiensi."

"Maka Anda adalah orang yang paling malang yang pernah saya temui," balas Anya dengan suara yang lebih tenang namun penuh penekanan. "Anda punya segalanya, tapi Anda tidak punya jiwa. Anda melihat dunia hanya sebagai angka di atas kertas."

Rahang Devan mengeras. Belum pernah ada yang berani menyebutnya 'malang' atau 'tidak punya jiwa'. Selama ini, orang-orang di sekitarnya selalu menjilatnya, memujinya sebagai jenius bisnis yang tanpa celah.

"Jaga bicaramu, Arsitek. Saya adalah orang yang bisa menghentikan pendanaan proyek ini hanya dengan satu telepon. Kamu dan studio kecilmu itu bisa hancur dalam sekejap jika saya mau."

Anya tidak gentar. Ia justru maju satu langkah lagi, hingga dadanya hampir bersentuhan dengan jas Devan. "Silakan. Hancurkan saya jika itu membuat ego Anda merasa lebih besar. Tapi Anda tidak akan pernah bisa membeli integritas saya. Sekarang, pindahkan mobil ini sebelum saya memerintahkan operator backhoe saya untuk menjadikannya rongsokan."

Kedua pasang mata itu beradu, menciptakan percikan api kebencian yang nyata. Devan bisa merasakan kemarahan yang meluap dari wanita kecil di depannya ini, namun di saat yang sama, ada ketertarikan aneh yang menyelinap di pikirannya. Wanita ini berbeda. Dia tidak takut, dia tidak memuja, dan dia sangat menyebalkan.

"Kamu akan menyesali hari ini, Anya Clarissa," bisik Devan dengan nada mengancam yang sangat rendah.

"Saya justru merasa hari saya baru saja menjadi menarik karena melihat seekor elang yang ternyata hanya burung nuri yang suka mengoceh," balas Anya telak.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Devan masuk kembali ke mobilnya. Pintu tertutup dengan bunyi berdebam yang solid. Sopirnya segera memutar balik dan memacu mobil itu meninggalkan lokasi konstruksi, meninggalkan awan debu yang menyelimuti Anya.

Anya berdiri diam, dadanya naik turun karena emosi yang tertahan. Ia memejamkan mata, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang karena amarah.

"Mbak Anya... itu tadi Tuan Devan, kan? Bos besar kita?" tanya Pak Jono dengan wajah khawatir yang muncul dari balik tumpukan batu bata.

"Iya, Pak Jono. Si sombong itu," jawab Anya sambil mengusap debu di celananya.

"Waduh, berani benar Mbak Anya memarahi dia. Kabarnya dia sangat kejam kalau tersinggung."

Anya tersenyum tipis, meski hatinya merasa cemas. "Kadang orang seperti dia perlu diingatkan bahwa mereka masih menginjak bumi yang sama dengan kita, Pak Jono. Ayo, kembali bekerja. Kita punya taman yang harus diselesaikan."

Namun, di balik keberaniannya, Anya tidak tahu bahwa pertemuan ini hanyalah awal dari badai yang sesungguhnya. Ia tidak tahu bahwa saat itu, di dalam mobil mewahnya, Devan sedang menatap profil Anya lewat kaca spion dengan ekspresi yang sulit diartikan.

Bagi Devan, Anya adalah tantangan yang harus ditaklukkan. Bagi Anya, Devan adalah monster yang harus dihindari. Namun takdir, dengan segala selera humornya yang aneh, baru saja mengikat benang merah di antara mereka. Sebuah benang yang akan ditarik paksa oleh ambisi orang tua dan tekanan keluarga yang tidak bisa mereka lawan.

Sore itu, saat matahari mulai terbenam di balik gedung pencakar langit Jakarta, Anya pulang ke rumahnya yang sederhana dengan perasaan lelah yang luar biasa. Ia tidak tahu bahwa di meja makan rumahnya, Mamanya sedang menunggu dengan wajah pucat dan tumpukan surat hutang yang akan mengubah seluruh hidup Anya selamanya.

1
Emily
ada ada aja orang jahat
Emily
😂😂😂jus pare satu ember ...ada aja mama sarah
Emily
Valerie otak kriminal
Emily
memang kampret si valerie
Emily
Valerie Mak lampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!