Alea adalah wanita malang yang terpuruk dan hampir gila karena kehilangan bayi dan suaminya dalam satu waktu. Namun di saat itulah ia bertemu dengan seorang wanita asing yang memberikan bayi laki-laki padanya. Tanpa menaruh curiga Alea menerima bayi itu.
Siapa yang sangka jika bayi tersebut akan merubah masa depannya. Sebab bayi laki-laki itu ternyata adalah putra dari seorang konglomerat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon annin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 10 Selamanya Anakku
"Jadi Mike sudah meninggal?"
Alea mengangguk.
"Sekarang kau tinggal di mana?"
"Di apartemen di pinggiran kota."
"Aku turut berduka cita atas meninggalnya Mike. Kalau kau mau kau boleh datang ke rumahku. Rosita pasti senang melihat istri Mike berkunjung."
Alea memaksakan senyum. "Terima kasih, tapi aku masih sibuk mengurus anakku."
"Kalau begitu aku pamit dulu, ini kartu namaku. Kalau kau ada waktu kau bisa datang ke rumahku." Pria itu pamit dan meninggalkan ruang perawatan Shane.
Alea menerima kartu itu, lalu membacanya pelan. "Martin," panggil Alea sebelum pria yang merupakan saudara tiri suaminya itu benar-benar pergi.
Martin berhenti di ambang pintu. Ia menoleh pada Alea.
"Sampaikan salamku pada Rosita," ujar Alea pelan.
Martin mengangguk. Lalu pergi meninggalkan Alea.
Sepeninggal Martin, Alea kembali ke ranjang perawatan Shane. Disentuhnya dahi bayi laki-laki itu, masih panas. Tapi Shane lebih tenang, mungkin karena efek obat. Alea mengambil bangku dan duduk di samping ranjang perawatan. Ia pegang tangan mungil itu dan menggenggam jemari kecil nan putih itu dengan jemarinya. Beberapa kali Alea menciumi punggung tangan sang putra.
"Kau harus sembuh, Shane. Kau harus menemani Ibu sampai kapanpun. Ibu membutuhkanmu," ujar Alea bermonolog.
Shane bukan putra kandungnya, tidak lahir dari rahimnya, tapi melihat bayi itu tergolek lemas tak berdaya membuat sisi di hati Alea terasa pilu.
"Kau anakku, selamanya akan jadi anakku."
***
Pagi hari seorang perawat datang dan meminta Alea untuk menemui petugas administrasi. Sementara itu seorang perawat ijin untuk mengambil sample darah Shane.
Usai menemani Shane ketika diambil sample darahnya, Alea gegas ke ruang administrasi.
"Nyonya Lopez, ini adalah administrasi yang harus Anda selesaikan sebelum kami melakukan tindakan selanjutnya untuk putra Anda," ujar petugas rumah sakit sembari memberikan secarik kertas pada Alea.
Alea menerima kertas tersebut dengan gugup. Wajahnya seketika pias kala melihat nominal yang harus ia bayar untuk pengobatan Shane di rumah sakit ini.
"Maaf, boleh aku bertanya sesuatu."
Petugas itu mengangguk.
"Apa tidak ada yang salah dengan laporan biaya yang tertulis di sini?" Jujur Alea kaget karena jumlah uang yang harus ia bayar terasa sangat besar. Terlebih menurut Alea, bayinya hanya sakit panas biasa.
"Tidak ada yang salah, Nyonya. Semua yang tertulis di sana adalah benar," jawab petugas administrasi.
"Maaf," ujar Alea akhirnya. Wajahnya tertunduk lesu saat meninggalkan tempat administrasi.
Mungkin memang semahal ini biaya berobat di kota. Berbeda jauh dari tempat tinggalnya dulu.
Ia duduk sebentar si kursi tunggu. Kembali menatap nominal yang tertera di kertas yang ia pegang. Otaknya mulai berpikir dari mana ia akan dapat uang sebanyak ini untuk Shane. Sementara ia tak ada lagi tabungan. Pesangon yang ia dapat kemarin pun tak seberapa.
Tatapan Alea turun ke bawah. Di lehernya menggantung kalung dengan liontin cincin bermata biru.
Dipegangnya benda itu. "Ini pasti mahal, bukan?"
Seketika, pikirannya tercerahkan. Ia akan bisa membayar biaya pengobatan Shane.
"Ibumu tidak akan marah 'kan, Shane. Semua demi kau," ujar Alea lirih.
"Ya, pasti tidak akan marah!"
Alea melepas kalungnya. Dengan semangat ia berdiri dan bergegas untuk menemui perawat. Ia harus menitipkan Shane terlebih dulu sebelum pergi ke toko perhiasan.
Saking senang dan bersemangatnya karena telah menemukan jalan keluar untuk biaya putranya, Alea sampai berlari menuju kamar perawatan Shane. Ia seakan lupa jika ini adalah rumah sakit. Sampai ia menabrak seseorang dan tersadar.
Bruk
Alea tak sampai jatuh karena seseorang yang ia tabrak dengan sigap menangkap tubuhnya. Mempertahankannya untuk tetap bisa berdiri meski dengan bantuan tangan pria tersebut sebagai penyangga.
Jantung Alea berdegup kencang dengan kejadian apa yang baru saja terjadi. Meski tak sampai jatuh, tetap saja membuatnya kaget. Lebih kaget lagi saat ia menatap seseorang yang ia tabrak sekaligus orang yang membantu tetap bertahan.
"Ma-maafkan aku, Tuan," ucap Alea gugup.
Pria itu tak lantas melepaskan tangan yang melingkar di pinggang Alea. Ia justru menatap Alea lebih lekat. Membuat jantung Alea berdebar semakin kuat karena ketakutan. Ini kedua kalinya ia bertemu pria ini. Dan skenario takdir mempertemukan mereka dengan kejadian yang sama seperti sebelumnya. Bertabrakan!
Kejadian pertama kali bertemu tentu belum Alea lupakan. Karena pria ini ia kehilangan pekerjaan.
"Tu-tuan ...," panggil Alea lirih.
Tatapan pria itu semakin tajam. "Ya ...."
"Tolong lepaskan saya," pinta Alea takut-takut.
Pria itu tersentak dengan ucapan Alea. "Oh, maaf ...."
Segera pria itu melepaskan tangan yang melingkar di pinggang Alea. Lalu berjongkok tiba-tiba. Membuat Alea kontan mundur selangkah karena pria itu terlalu dekat dengannya.
Pria itu mengambil kalung Alea yang sempat terjatuh saat mereka bertabrakan. Pria yang tak lain adalah Juan, dengan seksama memperhatikan cincin bermata biru yang menjadi liontin kalung milik Alea.
"Louisa," gumamnya lirih. Ia yakin ini milik mendiang istrinya, sebab ia sendiri yang memilih untuk Louisa sebagai cincin pernikahan.
Melihat pria itu terus-terusan terpaku pada kalung miliknya membuat Alea berpikir negatif. Ia pun menyusul untuk berjongkok di depan pria itu.
"Sekali lagi maaf, Tuan. Bisa Anda berikan kalung milik saya."
Juan mendongak. Ia baru menyadari jika wanita yang menabraknya berada sejajar dengannya.
"Ini milikmu?" tanya Juan dengan mengangkat kalung Alea.
Entah kenapa pertanyaan Juan membuatnya takut. Nada pria itu seperti meragukan dirinya sebagai pemilik kalung tersebut.
"Te-tentu, itu milikku," jawab Alea meski jelas sekali terdengar nada gugup di dalamnya.
"Kau yakin?" tanya Juan memastikan.
"A-apa maksud, Tuan?" Alea semakin takut. Mungkin pria ini menyadari harga dari cincin yang menjadi liontin kalung itu. Dan wajah Alea seperti tidak mencerminkan jika ia pantas memiliki cincin semahal itu.
"Apa ini memang milikmu?" tanya Juan lagi.