Bayu, seorang penyanyi kafe, menemukan cinta sejatinya pada Larasati. Namun, orang tua Laras menolaknya karena statusnya yang sederhana.
Saat berjuang membuktikan diri, Bayu tertabrak mobil di depan Laras dan koma. Jiwanya yang terlepas hanya bisa menyaksikan Laras yang setia menunggunya, sementara hidup terus berjalan tanpa dirinya.
Ketika Bayu sadar dari koma, dunia yang ia tinggalkan tak lagi sama. Yang pertama ia lihat bukanlah senyum bahagia Laras, melainkan pemandangan yang menghantam dadanya—Laras duduk di pelaminan, tetapi bukan dengannya.
Dan yang lebih menyakitkan, bukan hanya kenyataan bahwa Laras telah menikah dengan pria lain, tetapi juga karena pernikahan itu terpaksa demi melunasi hutang keluarga. Laras terjebak dalam ikatan tanpa cinta dan dikhianati suaminya.
Kini, Bayu harus memilih—merebut kembali cintanya atau menyerah pada takdir yang terus memisahkan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Keluarga
Laras berdiri di ambang pintu, membawa kantong plastik berisi makanan yang baru dibelinya di luar rumah sakit. Wajahnya tampak sedikit lelah, tapi matanya tetap penuh kelembutan saat melihat Bayu.
Melihat Laras, Edwin terdiam sesaat. Ia tak pernah terlalu peduli pada wanita sederhana, tapi ada sesuatu dari Laras yang menarik perhatiannya—tatapan matanya yang teduh, wajahnya yang polos tanpa riasan tapi begitu memancar.
Laras mengernyit melihat Edwin. "Anda siapa?" tanyanya dengan nada curiga.
Sebelum Edwin sempat menjawab, suara dingin memotong. "Dia orang brengsek yang bikin Bayu koma."
Boni masuk ke ruangan dengan ekspresi tajam, berdiri di samping Laras. Ia melipat tangan di dada dan menatap Edwin penuh kebencian.
Edwin terkekeh kecil, lalu menatap Boni dengan tatapan meremehkan. "Santai. Gue cuma mau pastiin lo nggak pakai duit gue buat kepentingan pribadi."
Mata Boni berkilat marah. "Lo pikir gue segoblok itu?"
Edwin mengangkat bahu, seolah tidak peduli. Tapi tatapannya sesekali kembali ke Laras, mempelajari ekspresi gadis itu. Entah kenapa, ada sesuatu dalam dirinya yang mendadak ingin tahu lebih banyak tentangnya.
Bayu yang masih terjebak dalam kegelapan mendengar semuanya. Dalam hatinya, ia bersumpah—jika ia bisa bangun, ia akan membalas Edwin.
Suasana di ruangan itu mendadak terasa lebih dingin, meski tidak ada yang berbicara untuk beberapa detik. Laras menatap Edwin dengan waspada, perasaan tak nyaman menyelimutinya saat melihat cara pria itu memandangnya.
Tatapan Edwin terlalu intens, seolah menelanjangi setiap inci wajahnya. Ada binar dalam matanya yang membuat Laras gelisah, sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan, tapi cukup untuk membuat bulu kuduknya berdiri. Tanpa sadar, ibu jari Edwin mengusap bibirnya sendiri—kebiasaan yang hanya muncul saat ia benar-benar tertarik pada seorang wanita.
Boni, yang sejak tadi mengawasi, langsung menyadari gelagat itu. Matanya menyipit, rahangnya mengeras. Ia sudah cukup muak dengan kehadiran Edwin, tapi melihat bagaimana pria brengsek itu menatap Laras membuat darahnya mendidih.
"Jangan pernah lihat dia kayak gitu, Bajingan." Suara Boni rendah, tapi penuh dengan ancaman.
Edwin terkekeh kecil, mengangkat kedua tangan dengan santai. "Santai. Gue cuma mengagumi keindahan yang ada di depan mata. Salah?" Senyumnya miring, bibirnya melengkung dengan arogan.
Boni langsung melangkah maju, berdiri di antara Laras dan Edwin, seolah menjadi tameng. "Jangan sok akrab. Gue nggak peduli lo punya duit sebanyak apa atau lo merasa bisa beli semua yang lo mau, tapi nggak semua hal bisa lo dapatkan, termasuk dia."
Laras masih diam, tapi tubuhnya sedikit bergetar. Tatapan Edwin membuatnya merasa terpojok, dan meskipun Boni berdiri di hadapannya, perasaan tidak nyaman itu masih tersisa.
Edwin justru terlihat semakin tertarik. Ia mendekat sedikit, lalu menatap Boni dengan smirk-nya yang menyebalkan. "Kenapa? Lo cemburu?"
Boni mengertakkan gigi. Ia sudah sangat ingin menghajar wajah sombong itu.
"Keluar!" Suara Laras tiba-tiba terdengar, pelan tapi penuh ketegasan.
Edwin mengangkat alis, seolah terkejut. Ia melirik Laras yang menatapnya dengan tatapan tegas meski ada ketegangan di matanya.
"Aku nggak mau kamu di sini," lanjut Laras. "Bayu nggak butuh orang kayak kamu di sekitarnya."
Senyum Edwin melebar, tapi ada kegelapan yang berkilat di matanya. Ia menatap Laras lebih lama, seolah mengukir wajahnya dalam ingatan.
"Baiklah," gumamnya santai. "Tapi kita pasti ketemu lagi, Cantik."
Dengan langkah ringan, Edwin melangkah keluar, meninggalkan ketegangan yang masih menggantung di udara. Tapi sebelum keluar, ia sempat melirik Boni dengan senyum mengejek. "Jaga baik-baik dia. Gue orang yang pantang menyerah."
Pintu tertutup. Laras akhirnya mengembuskan napas yang sejak tadi tertahan. Boni mengepalkan tangan, hatinya terasa semakin waspada.
Di ranjangnya, Bayu mendengar semuanya. Ia ingin berteriak, ingin bergerak, ingin menarik Laras dari bahaya yang baru saja menyadari kehadirannya. Tapi tubuhnya tetap tak bergerak, terjebak dalam kegelapan yang menyiksanya.
Dan di luar sana, Edwin berjalan dengan senyum puas. Ia menemukan sesuatu yang baru menarik perhatiannya. Dan Edwin selalu mendapatkan apa yang ia inginkan.
Di luar Rumah Sakit – Dalam Mobil Edwin
Edwin duduk di kursi kemudinya, mengetuk-ngetukkan jemarinya di kemudi dengan ekspresi penuh ketertarikan. Matanya masih terbayang wajah gadis yang baru saja ia temui di ruang rawat Bayu. Gadis sederhana, tapi memiliki kecantikan yang tidak bisa diabaikan begitu saja.
Ia merogoh ponselnya, membuka aplikasi pencarian dan mulai mengetik. "Pasien koma, laki-laki, kecelakaan…" gumamnya sambil mengetik lebih lanjut.
Berita tentang Bayu muncul di layar. Edwin menggerakkan ibu jarinya, menggulir berita yang memberitakan tentang seorang pria yang mengalami kecelakaan dan koma. Tidak ada yang terlalu menarik baginya—sampai matanya menangkap sebuah foto.
Sebuah gambar yang diambil saat Bayu masih sehat, berdiri di depan kafe tempatnya bekerja. Dan di sudut foto itu, meski sedikit buram, ada sosok gadis itu.
Edwin menyipitkan mata, memperbesar gambar. "Jadi, lo memang ada hubungannya sama dia…" ia bergumam, matanya menyala dengan rasa ingin tahu yang semakin besar.
Ia menutup aplikasi berita, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Rahangnya mengeras, lalu bibirnya melengkung membentuk smirk khasnya.
"Kalau dia kekasih lo, Bayu… sepertinya gue harus mengambilnya sebagai ganti rugi."
Tangannya meraih kunci mobil, menyalakan mesin, dan dengan ekspresi penuh keyakinan, ia melaju pergi.
Hari ini, Edwin menemukan sesuatu yang lebih menarik daripada sekadar permainan uang.
***
Pagi itu, Laras keluar dari kamarnya dengan pakaian kerja yang rapi. Aroma nasi goreng tercium dari meja makan, tempat kedua orang tuanya dan adiknya sudah duduk menikmati sarapan. Laras menarik napas dalam, berusaha menghilangkan rasa penat setelah malam-malam panjang yang ia habiskan di rumah sakit untuk menjaga Bayu.
Ibunya menoleh begitu melihatnya, meletakkan sendok dengan bunyi yang sedikit nyaring. “Laras, uang belanja habis. Tambahin lagi, ya?”
Laras menghentikan langkahnya. “Kan, baru minggu lalu aku kasih, Bu?”
“Itu kepakai buat bayar kuliah Sherin.” Ibu menepuk tangan putri bungsunya dengan lembut, seolah ingin menunjukkan betapa berjasanya Laras untuk adiknya.
Laras melirik Sherin sekilas. Adiknya terlihat segar, wajahnya dirias tipis, dan—lagi-lagi—memakai baju baru. Laras menelan keinginannya untuk bertanya. Sejak dulu, ia sudah tahu jawabannya.
Dia sendiri tak pernah membeli baju baru. Semua uangnya habis untuk kebutuhan pokok pribadinya, dan selebihnya diberikan kepada ibunya. Hanya ada sedikit tabungan yang ia sembunyikan. Jika orang tuanya tahu, mereka pasti akan meminta lagi.
“Aku juga butuh uang, Bu,” ujar Laras pelan.
Ibunya mendengus. “Buat apa? Kamu pulang malam terus. Kalau bukan kelayapan, berarti lembur, 'kan?”
Laras mengatupkan rahangnya. Ia ingin membela diri, tapi tahu itu tidak ada gunanya.
Tiba-tiba, Sherin berbicara dengan nada ceria. “Oh iya, aku dengar dari temenku, Bayu kecelakaan. Bener nggak, sih?”
Laras menegang. Ia menatap Sherin, lalu ibunya, yang malah terlihat penasaran.
“Kamu masih ketemu Bayu?” suara ayahnya datar, tapi cukup tajam untuk menusuk.
Laras meremas jemarinya. Tentu saja mereka tak tahu. Ia memang sengaja tidak memberitahu mereka.
Ia menarik napas panjang. “Aku berangkat kerja dulu,” katanya sambil meraih tasnya dan melangkah keluar.
Di belakangnya, ibunya masih mengomel soal uang belanja, dan Sherin menggerutu karena pertanyaannya tak dijawab.
Laras tak peduli. Yang ada di pikirannya saat ini hanya satu hal—Bayu.
...🔸🔸🔸...
...Keluarga, harusnya tempat kita berbagi suka dan duka, saling mendukung apapun yang menerpa, tempat kita merasa berharga....
...Namun, jika itu tak kita rasa, apa arti hubungan yang terjalin di dalamnya?...
..."Dhanaa724"...
...🍁💦🍁...
.
To be continued