NovelToon NovelToon
Di Batas Waktu

Di Batas Waktu

Status: tamat
Genre:Tamat / Keluarga / Romansa
Popularitas:650.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sasa Al Khansa

Menikah sekali seumur hidup adalah mimpi Adel. Namun, gadis berhijab yang memiliki nama lengkap Dandelion Az-Zahra itu harus menerima kenyataan bahwa pernikahannya dengan orang yang pernah ia sukai di masa putih abu itu bukanlah pernikahan impiannya. Karena, Sakha Rafardhan, menikahinya hanya sebatas rasa bakti kepada sang ayah di akhir hayatnya yang ingin melihat putra semata wayangnya menikah. Sementara sang kekasih yang akan ia nikahi justru hilang bak di telan bumi tanpa meninggalkan pesan apapun kepadanya.

" Jangan berharap lebih dari pernikahan ini. Aku terpaksa menikahimu karena Lisa tiba-tiba hilang tanpa kabar. Jika aku telah menemukannya kembali, maka di saat itu pula pernikahan ini berakhir". Sakha

" Sampai waktunya tiba, izinkan aku tetap melaksanakan tugasku sebagai istrimu. Karena apapun alasanmu menikahi ku, aku tetaplah istrimu." Adel

Bagaimana perjalanan mahligai rumah tangga mereka di saat akhirnya Sakha bisa menemukan Lisa?
Benarkah tidak ada cinta untuk Adel?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasa Al Khansa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DBW 29 Curiga

Di Batas Waktu (29)

" Kenapa gak jujur?, padahal aku akan percaya kalau saja mas berkata jujur. Tapi, sekarang aku malah curiga", Adel menghela nafas teringat foto yang di kirimkan seseorang sesaat sebelum Sakha sampai.

Di sebrang sana, seseorang dengan bahagia memandangi ponselnya.

" Ini baru permulaan ", ucapnya menyeringai.

💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞

Makan malam tiba, namun hati Adel tetap gundah. Sakha tak mengatakan apapun tentang yang ia tanyakan. Seolah jawabannya tadi memang benar. Padahal, ia ingin Sakha jujur mengatakan apa yang terjadi.

Raut wajah Adel sungguh terlihat jelas. Sakha dan bahkan Mama Ria menyadarinya.

" Adel sayang, kamu kenapa?", tanya Mama Ria yang melihat Adel hanya mengaduk-aduk makanannya.

" Aku tidak apa-apa, Ma", jawab Adel berbohong.

Adel bukan tidak mau mengatakan apapun. Hanya saja ia ingin suaminya lah yang mengatakannya lebih dulu.

" Kamu ingin makan yang lain, sayang?", Sakha ikut bertanya.

" Tidak", jawabnya singkat.

Tidak ingin suami dan mertuanya terus mengkhawatirkannya, Adel memakan makanannya.

" Aku sudah selesai, aku ke kamar duluan ya, ma. Mau langsung istirahat", Adel pergi meninggalkan meja makan.

" ya sudah istirahatlah.", jawab Mama Ria.

Adel pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi. Sakha yang memang belum selesai makan malamnya hanya melihat kepergian Adel dengan rasa penasaran.

" Kalian bertengkar?", tanya Mama Ria tiba-tiba.

" Nggak, Mah". Jawab Sakha tegas menyangkal.

" Lalu ada apa dengan Adel? Tidak biasanya dia seperti itu",Mama Ria heran.

" Aku juga tidak tahu", jawabnya bingung.

Selesai menghabiskan makannya, Sakha segera menyusul istrinya ke kamar. Tapi, saat ia membuka pintu, ia melihat sang istri yang sudah tidur. Posisinya membelakangi tempat Sakha biasa tidur.

Sakha semakin di buat penasaran, tidak biasanya Adel membelakanginya. Hingga ia teringat pertanyaan Adel ketika ia baru sampai di rumah. Sakha menghela nafas.

Apa Adel curiga kalau aku menyembunyikan sesuatu darinya? . Aku hanya tidak ingin ia berpikiran macam-macam. Batin Sakha.

Perlahan, Sakha membaringkan tubuhnya di samping Adel dengan menghadap ke arah Adel yang memunggunginya. Meletakkan sebelah tangannya ke atas perut Adel.

" Maafkan aku", ucap Sakha lirih. Dengan tangan yang tetap mengelus perut Adel, matanya mulai terpejam.

Maaf untuk apa? Atas ketidakjujuranmu atau kebenaran dari prasangkaku?. Batin Adel.

Adel memang hanya pura-pura tidur. Ia mulai berprasangka buruk. Mengingat foto suami dan mantannya berpelukan. Juga bekas lipstik di kemeja Sakha serta ketidakjujurannya. Ya, bagi yang tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya dan hanya menyimpulkan dari foto itu, pasti berpikiran negatif seperti Adel.

Ingin percaya, tapi rasanya sulit. Pada akhirnya, ia hanya bisa menghela nafas. Memejamkan mata walaupun dalam hati masih bertanya-tanya.

Pagi menjelang, Adel sudah bersiap. Seperti yang sudah di rencanakan ia akan berkumpul bersama dengan Aisyah, Syifa dan Tia di rumah Aisyah. Tentu saja karena Aisyah punya bayi yang masih kecil sehingga suaminya tidak mengizinkan ia keluar membawanya.

" Kamu jadi pergi ke rumah Aisyah?", tanya Mama Ria di sela-sela makannya.

" Iya, Ma. Bi Nur sudah membeli bahan-bahan yang Adel minta kan Ma?", Adel bertanya.

Rencananya di rumah Aisyah nanti, ia dan yang lainnya akan masak menu sederhana sebagai pelengkap nasi liwet. Nostalgia zaman dulu.

" Sudah. Sudah di siapkan", jawab Mama Ria.

Sakha hanya memperhatikan dan tidak ikut dalam obrolan.

Setelah selesai sarapan, mereka segera berangkat. Sakha akan mengantarkan Adel terlebih dahulu sebelum pergi ke kafe.

Di perjalanan, mereka tidak ada yang bicara. Hening. Tidak seperti biasa yang mana mereka selalu memanfaatkan waktu berdua seperti ini untuk mengobrol.

" Sayang, kamu kenapa,?", tanya Sakha akhirnya karena sudah tidak tahan di diamkan.

" Gak papa. Memangnya kenapa?",Adel balik bertanya.

" Mas rasa kamu beda. Apa ada yang kamu sembunyikan?", tanya Sakha lagi.

" Enggak ada", jawab Adel singkat.

Bukannya kamu yang menyembunyikan sesuatu?. Batin Adel.

Mereka pun Dian sejenak. Sakha tak berani lebih memaksa Adel untuk bercerita. Ia rasa waktunya tak tepat.

" Oia, kalau aku makan makanan yang pedas boleh? Biasanya kalau kumpul begini dan masak-masak Aisyah selalu membuat sambal yang cukup pedas. Tapi, rasanya sangat enak apalagi di nasi liwet yang masih panas", Adel baru membayangkan tapi, seolah sudah bisa ia rasakan betapa nikmatnya.

Adel ingat perkataan Sakha yang melarang ia makan makanan yang pedas. Sedangkan ia juga ingin ikut menikmati acara makan-makan nanti tanpa melanggar perintah suaminya. Mungkin terkesan sepele. Tapi, pantang bagi Adel untuk melanggar perintah suami.

Sakha diam sejenak. Ingin melarang, tapi kemudian ia teringat perkataan ibunya.

Sakha, ibu hamil itu selera makannya tidak seperti kita. Itu pengaruh hormon juga. Jangankan ibu hamil, kita saja ketika makanan yang akan kita makan ternyata tidak sesuai ekspektasi, pasti selera makannya tidak sama.

Lain kali penuhi saja keinginannya. Kalau kamu khawatir, batasi saja. Ibu juga pernah hamil dan tahu rasanya gimana. Bukan masalah anaknya akan ileran atau semacamnya. Hanya saja kadang keinginan seperti itu tetap akan masih ada kalau belum terpenuhi

" Boleh, tapi tidak boleh banyak-banyak", jawab Sakha sambil tangan kirinya mengelus kepala Adel.

" Terimakasih, Mas", jawab Adel bahagia.

Sakha ikut tersenyum melihat betapa bahagianya Adel.

Akhirnya mereka sampai di rumah Aisyah dan membantu membawa bahan-bahan masakannya ke dalam rumah Aisyah.

" Nanti kalau sudah selesai, hubungi mas ya. Nanti insya Allah mas jemput", pesan Sakha.

" Iya Insya Allah", jawab Adel sambil mencium tangan suaminya dengan takzim.

Sakha berlalu meninggalkan Adel menuju ke kafe. Sementara Adel kembali masuk ke dalam rumah Aisyah.

Waktu pun berjalan dengan cepat. Masakan yang dari tadi di masak bersama Aisyah dan seorang asisten rumah tangganya pun selesai. Mereka rencananya akan makan di balkon sambil menikmati pemandangan dari atas. Tidak lupa lesehan dengan menggelar tikar.

Tia dan Syifa yang baru sampai pun segera membantu membawa makanan-makanan itu ke atas. Sementara Adel dan Aisyah duduk menunggu di atas tikar yang sudah di gelar. Karena bahaya kalau harus bulak balik ikut membantu yang lainnya. Ya, hitung-hitungan bagi-bagi tugas.

Mereka pun duduk melingkari makanan yang tadi sudah di masak dengan nasi liwet yang masih panas benar-benar menggugah selera.

Ting

Notifikasi pesan di ponsel Adel berbunyi. Adel segera melihatnya. Nomor yang tak di kenal namun masih dari nomor yang kemarin mengirim foto, kembali mengirimkan foto. Foto Sakha bersama seorang perempuan, sepertinya di sebuah kafe. Tapi, bukan kafe milik Sakha. Melihat jam yang tertera di foto itu, itu di ambil beberapa detik yang lalu.

Mas, kamu dimana? Sama siapa? Mas sudah makan siang? tanya Adel via chat. Ia penasaran.

Di sebrang sana Sakha hanya tersenyum membaca pesan dari Adel.

Mas masih di kafe baru mau makan siang. Mas sendiri disini. Sakha

Kafe punya mas? Adel memastikan.

Ya iyalah , Sayang. Terus kafe siapa lagi?. Sakha

Deg

Kenapa kamu harus berbohong? . Batin Adel yang membuatnya semakin curiga.

1
Alivaaaa
aku mampir Thor
syamil mauza
sudah sesuai ko ka,, karena baru talak 1 dan masih dalam masa Iddah
Ijo Popos
Luar biasa
Surati
bagus ceritanya 👍🙏🏻
Itha Tha
dewasa banget Adel
Soraya
suka sama Tari sifatnya nya blak-blakan, Yudi saratnya cuma satu tpi beratnya kyk manggul batu segede gunung ya😄
Soraya
Adel sm saka bodoh dh tau ada lisa lagi ngintai tpi cuma didiemin aja bukannya diparanin
Soraya
gitu saling terbuka biar gak salah paham
Soraya
klo menurutku adel juga gak usah basa basi langsng aja tegur Sakha
Soraya
shaka nyari penyakit knp gak jujur aja
Soraya
👍👍👍
Umi Chomsatur Rochmah
Luar biasa
Soraya
mampir thor
lulu hastianingsih
Lumayan
lulu hastianingsih
Biasa
Memyr 67
sakha goblog. prempuan penipu seperti lisa, diharapkan. kasian adel. dapat suami nggak ada otaknya.
amilia indriyanti
betul Thor ....
Seroja
mengulangnya makin panjang ya, lama-lama mengulangnya setengah part
umi istilatun
Luar biasa
Dewa Rana
morning sickness Thor, bukan morning sick
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!