"Kau tidak punya pilihan lain selain menikah dengan ku Embun."ucap Alfaro.
Sementara gadis yang kini tengah menundukkan kepalanya itu tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Hanya karena satu peristiwa yang terjadi di malam kelahirannya gadis itu harus terjebak bersama seorang pria yang tidak pernah ia kenal sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erny Su, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Embun terduduk sambil menangis di atas sofa setelah Alfaro turun ke bawah untuk menemui wanita yang datang bersama dengan dirinya.
Embun tidak tau apa yang terjadi saat ini, yang jelas tidak lama dia mendengar suara mobil sport yang merupakan milik Alfaro pergi meninggalkan rumah.
wanita itu tidak tau bagaimana harus menghadapi pria yang terkadang bersikap lemah lembut terkadang juga bersikap kasar seperti tadi.
Hingga saat ia turun kebawah untuk membereskan meja makan yang tidak tersentuh sedikit pun oleh Alfaro maupun wanita tadi tiba-tiba Alfaro masuk kedalam rumah dan menghampiri Embun.
"Aku lapar."ucap Alfaro.
"Makanan nya sudah dingin biar ku hangatkan dulu."ucap Embun.
"Tidak usah bukankah ini baru kamu masak."ucap Alfaro yang terlihat tidak sabar.
"Baiklah al, tunggu aku ambil nasi."ucap Embun yang akhirnya bergegas tanpa mendengar persetujuan dari Alfaro.
Embun pun langsung mengambil nasi dan membawanya ke hadapan Alfaro yang kini tengah fokus pada ponselnya.
Embun pun menambahkan daging semur dan capcay goreng lalu menghidangkan nya di hadapan Alfaro yang kini meletakkan ponselnya.
"Babe apa yang kamu lakukan seharian bersama Ciko?"ucap Alfaro.
"Hanya mengobrol tidak ada yang lainnya."jawab Embun.
"Ingat jangan keluar rumah tanpa aku mulai saat ini."ucap Alfaro yang kini mulai memakan menu yang ada di piring nya.
"Al bagaimana dengan boutique ku jika aku tidak keluar."ucap Embun.
"Kamu bisa mengatasi semuanya dari rumah"ucap Alfaro tegas.
"Al please."ucap Embun.
"Tidak Embun sayang aku tidak ingin kamu bertemu dengan pria manapun termasuk Ciko."ucap Alfaro.
"Dia adalah paman ku Al."ucap Embun.
"Tidak peduli dia siapa yang jelas aku tidak mengijinkan mu untuk berhubungan dengan nya."ucap Alfaro yang kini kembali memakan makanan nya.
Embun tidak berkata apa-apa lagi dia pun mengambil piring untuk nya, tapi Alfaro langsung menyodorkan sendok yang terisi makanan dari piring nya ke bibir Embun.
"Buka mulutmu babe."ucap Alfaro.
"Tidak Al aku bisa sendiri."ucap Embun yang kini melanjutkan pergerakan nya untuk mengambil nasi dan lauk pauk nya.
Alfaro pun langsung menjatuhkan sendok yang ia pegang saat itu juga hingga membuat Embun kaget dan menghentikan pergerakan nya sambil menatap kearah Alfaro yang kini bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja.
"Al makanannya belum dihabiskan."ucap Embun.
"Kenapa kamu selalu membuat ku kesal akhir-akhir ini?"ucap Alfaro.
"Kita tidak bertemu Al bagaimana bisa berkata seperti itu?"ujar Embun.
"Ya justru itu bahkan kau tidak pernah berinisiatif untuk menghubungi ku, tapi diluar sana kamu sibuk berhubungan dengan pria lain termasuk Ciko."ucap Alfaro yang masih merasa sangat cemburu pada kedekatan mereka.
"Bukankah itu termasuk dalam peraturan yang kamu buat Al bahwa aku tidak boleh menghubungi mu kecuali kamu yang membuat peraturan itu."ucap Embun.
"Persetan dengan itu, kamu itu istriku apa kamu tidak pernah mengkhawatirkan keadaan suamimu yang tidak ada kabar berita selama satu bulan lebih ini."ucap Alfaro.
"Tapi bukankah aku hanya asisten rumah dan kamu juga terlihat baik-baik saja bahkan jauh lebih baik dengan istri baru mu itu."ucap Embun yang kini pergi meninggalkan area meja makan menuju kamar yang ada di lantai bawah tersebut.
Itu adalah kamar yang selama ini Embun persiapkan untuk keadaan seperti ini.
"Mau apa kamu disana babe keluar."ucap Alfaro sambil menggedor-gedor pintu kamar tersebut.
Hingga Alfaro berhasil membuka pintu kamar tersebut dan Embun terlihat meringkuk di atas ranjang berukuran sedang itu dibalik selimut tebal itu.
"Apa yang kamu lakukan disini babe, kamar mu diatas."ucap Alfaro
"Aku hanya pelayan bukan jadi aku harus lebih tau diri."ucap Embun yang kini menutup kepalanya.
"Embun jangan menguji kesabaran ku aku mengatakan hal itu karena aku ingin menyelamatkan mu dari wanita itu."ucap Alfaro.
Embun masih terdiam di tempatnya sampai Alfaro menarik selimut yang dikenakan oleh Embun saat ini, Alfaro melihat Embun tengah menangis dalam diam.
"Maafkan aku babe, aku tidak bisa melihat mu dengan pria lain aku sangat mencintaimu dan aku ingin kita segera memiliki anak sayang."ucap Alfaro.
"Kamu jahat Alfaro, kamu egois aku benci kamu aku benci hiks,,,hiks aku benci."ucap Embun yang kini memukul dada bidang Alfaro meskipun bukan pukulan keras.
Alfaro membawa Embun kedalam dekapannya, sampai Embun tidak lagi menangis Alfaro pun membingkai wajah cantik itu dan perlahan tapi pasti dia mendekatkan wajahnya ke wajah Embun yang perlahan tapi pasti dia pun mengecup bibir ranum tersebut.
"Al mari kita berpisah."ucap Embun yang membuat Alfaro membulatkan matanya dengan cepat.
"Babe jangan bicara seperti itu lagi."ucap Alfaro yang kini menatap tajam kearah Embun.
"Apa yang kamu harapkan dariku Al, aku tidak punya apa-apa?"ucap Embun.
"Aku ingin dirimu itu saja tidak ada alasan lain lagi."ucap Alfaro.
Embun pun kembali dalam dekapan Alfaro yang kini membawa dia kembali ke meja makan karena Alfaro tau Embun belum makan sedikit pun tidak seperti dirinya yang sudah makan setengah porsi miliknya.
"Ayo makan babe, mulai hari ini dan seterusnya aku akan tinggal di sini bersama dengan mu."ucap Alfaro dengan lembut.
"Bagaimana dengan istrimu bukankah kalian sudah menikah?"tanya Embun.
"Istriku saat ini hanya ada kamu jadi jangan pernah berfikir yang aneh-aneh lainnya lagi."ucap Alfaro.
"Hmm..."lirih Embun yang kini mengambil nasi dan lauk pauk yang ada di hadapan nya.
Dia pun mulai makan malam hingga isi piring nya habis."Babe kamu kurusan apa kamu tidak makan dengan benar selama aku tidak ada."ucap Alfaro.
"Aku hanya kurang istirahat belakangan ini Al, banyak costumer yang membuat ku harus lembur tiap malam agar desain baju yang mereka inginkan untuk diselesaikan hari esok nya."ucap Embun.
"Aku sudah memenuhi kebutuhan hidup mu lalu kurang apa lagi hmm.... Kenapa kamu masih ngotot untuk bekerja"ucap Alfaro.
"Kita tidak selamanya bersama Al tolong mengertilah dan aku harus melanjutkan hidup ku."ucap Embun.
"Babe bagaimana kalau aku berubah pikiran."ucap Alfaro.
"Maksudnya?"tanya Embun.
"Bagaimana kalau kita tetap bersama untuk selamanya."balas Alfaro.
Alfaro pun membawa Embun ke lantai atas untuk melanjutkan obrolan nya sekaligus ingin melepas rindu yang selama satu bulan ini ia tahan.
"Al aku tidak bisa melanjutkan kebersamaan kita."ucap Embun.
"Kita lihat saja nanti."ucap Alfaro yang akhirnya menumpahkan segala kegelisahan dari kerinduan yang dia rasakan selama ini."ucap Alfaro.
🪵🪵🪵🪵
Keesokan harinya Alfaro dan Embun kini sudah bersiap untuk jalan-jalan Alfaro ingin menghabiskan waktu bersama.
Alfaro membawa Embun ke pusat perbelanjaan dia yang kini menggunakan masker dan kacamata tidak membiarkan Embun jauh darinya.
Alfaro sepanjang perjalanan merangkul pinggang Embun yang kini menjadi pusat perhatian Ciko yang sedari tadi berada disana bersama klien nya.
"Embun."ucap ujar Ciko yang kini menghadang langkah Alfaro dan Embun.
"Uncle."ucap Embun yang kini ingin melepaskan rangkulan tangan Alfaro yang tidak kunjung terlepas.
"Uncle mencari mu."ucap Ciko yang kini hendak meraih Embun dari tangan pria yang ia tau siapa.
"Uncle maaf dia bos ku."ucap Embun.
"Al lepaskan dia, sudah cukup kamu buat dia sengsara dulu."ucap Ciko.
"Jangan halangi langkah ku atau kau tau konsekuensi nya."ucap Alfaro tegas.
"Dia tangung jawab ku."ucap Ciko.
Alfaro melanjutkan langkahnya dan Embun tidak ia lepaskan barang sedetik pun hingga dia tiba di sebuah salon kecantikan yang sangat ditakuti oleh Embun karena disana pasti ada adegan suntikan atau yang lainnya yang Embun sangat takuti.
"Al aku tidak mau kesini aku pulang saja."ucap Embun yang kini terlihat gemeteran menahan takut.
"Babe kamu kenapa?"ucap Alfaro yang kini menggenggam tangan Embun.
"Aku takut Al aku tidak mau perawatan apapun."ucap Embun.
"Iya tapi kamu takut perawatan kenapa?"tanya Embun.
"Teman ku bilang bahwa perawatan kulit itu menyakitkan, Al apalagi di bagian wajah aku tidak mau."ucap Alfaro.
"Hmm... kemarilah babe, aku ada di sini bersama mu dan tidak akan terasa sakit."ucap Alfaro yang ingin Embun menikmati hidup nya dengan perawatan tubuh yang biasa dilakukan oleh setiap wanita pada umumnya meskipun Embun tidak memiliki kekurangan apapun.
Embun cantik dan memiliki kulit putih dan mulus, tapi Alfaro ingin Embun belajar merawat diri dengan baik.
"Tidak Al jika kamu tidak suka aku yang apa adanya lebih baik kita"ucapan Embun terhenti saat Alfaro menatap tajam kearah nya.
"Baiklah tidak sekarang kamu bisa mulai belajar sedikit demi sedikit lewat perawatan di rumah tapi kita konsultasi dulu dengan dokter agar bisa beli skincare yang cocok untuk kulit mu."ucap Alfaro.
"Tapi Al."ucap Embun lagi.
"Aku janji babe tidak perawatan di sini."ucap Alfaro.
Akhirnya Embun pun masuk ke ruangan dokter di klinik kecantikan tersebut karena Alfaro sudah membuat janji sebelum nya.
Sampai saat dokter spesialis kecantikan itu bertanya pada Alfaro."Al kamu hebat ya satu bulan lalu kamu datang bersama wanita cantik lainnya, dan sekarang pun sudah ganti lagi ada berapa koleksi mu."ucap Alfaro yang kini terlihat kebingungan karena dia baru kali ini kembali ke klinik kecantikan milik teman nya itu.
"Sebulan yang lalu aku di LA, bagaimana bisa aku membawa wanita cantik lainnya sementara wanita ku hanya dia."ucap Alfaro yang juga membuat dokter itu kebingungan.
Tunggu-tunggu tanggal berapa kau ke LA."ucap dokter bernama Galih tersebut.
"Tanggal dua puluh sembilan Januari"ucap Alfaro.
"Tunggu kau perawatan tanggal 30 Januari."ucap dokter yang saat ini terlihat bingung bahkan sampai memperlihatkan rekaman Cctv saat perawatan bersama dengan wanita yang kini tidak pernah mereka kenali sebelum nya.
"Babe aku tidak tau dia siapa apa kau pernah bertemu dengan ku sebelum setelah tanggal keberangkatan ku."ucap Alfaro.
Embun pun hanya terdiam karena dia juga pernah melihat Alfaro datang ke butik nya dan bersikap seolah-olah tidak mengenal dirinya.
"Tidak."ucap Embun.
"Baiklah sekarang tolong periksa jenis kulit wajah dan tubuh istriku dan skincare yang mana yang cocok untuk nya selain yang aku beli waktu itu."ucap Alfaro.
"Baiklah nona bisa kesana lalu duduk menghadap benda itu."ucap Galih.
"Al."ucap Embun yang terlihat takut.
"Aku disini babe jangan takut."ucap Alfaro yang akhirnya menghampiri Embun untuk menemani dia diperiksa oleh Galih yang merupakan dokter kecantikan tersebut.
"Wah ini sih gila sepanjang aku praktek kerja baru kali ini menemukan pasien yang benar-benar memiliki kulit yang benar-benar sehat dari dalam seperti ini, nona apa anda memiliki perawatan khusus?"ucap dokter Galih.
"Tidak ada dok, sejak kecil saya tidak melakukan perawatan apapun."jawab Embun sekena nya.
Dan Alfaro tau itu, jangankan untuk biaya perawatan bahkan dia tidak pernah diberikan uang jajan setiap hari nya saat akan pergi sekolah.
"Saya sarankan agar tidak menggunakan skincare yang dijual sembarangan agar tidak terjadi kerusakan pada sel kulit anda nona. dan sebenarnya yang dibeli waktu itu sudah cocok dan bagus untuk anda."ucap dokter Galih.
"Baiklah jika seperti itu tolong kirimkan skincare yang sama kerumah kami."ucap Alfaro.
"Baiklah tuan Alfaro yang baik hati."ucap dokter itu hingga saat Alfaro pamit pergi meninggalkan klinik tersebut.
Alfaro pun mengajak Embun ke boutique untuk berbelanja pakaian untuk dirinya dan Embun yang kini menatap ke sekeliling ruangan yang terdapat banyak barang branded dan masih banyak lainnya.
"Selamat datang tuan dan nyonya ada yang bisa saya bantu?"ucap pelayan toko tersebut.
"Tolong perlihatkan dress terbaik dan aksesoris wanita lainnya."ucap Alfaro yang kini diangguki oleh pelayan tersebut.
Embun hanya bisa pasrah entah apa yang akan dilakukan oleh pelayan boutique itu.
Alfaro sendiri sibuk dengan ponselnya dan entah sedang apa, dia baru melirik kearah Embun setelah Embun berada di hadapannya untuk minta pendapat Alfaro tentang dress yang kini ia kenakan.
"Terlalu kebuka."ucap Alfaro yang kini menatap kearah Embun yang akhirnya pergi kembali ke ruang ganti yang tersedia di sana.
Alfaro pun kembali fokus pada handphone miliknya dan tidak lama lagi Embun keluar dengan dress bunga-bunga yang kini terlihat sangat indah dan mata Alfaro seakan enggan untuk berkedip.
"Ini jauh lebih baik jangan dilepas lagi ayo pulang."ucap Alfaro yang kini terlihat sangat terburu-buru itu.
"Al tunggu pakaian ku tertinggal di dalam sana."ucap Embun yang kini menghampiri ruang ganti.
Tidak lama Embun pun kembali dan Alfaro langsung merangkul pinggang istrinya itu tanpa peduli dengan tatapan mata orang yang ada di sekitar mereka.
Kini keduanya sudah berada di dalam mobil yang kini melaju entah kemana.
"Al mau kemana lagi kita sekarang kamu buru-buru kalau begitu biar aku turun saja disini agar tidak menggangu waktu mu."ucap Embun.
"Aku memang sedang terburu-buru untuk mencari tempat yang indah untuk kita bersantai."ucap Alfaro.
ajaran dari mana itu ????????