Cover by me
Argantara Putra Bimantara, pria yang tenang dan dingin, terus-menerus dipertemukan dengan Nasya Kayshila—sosok gadis berhijab yang diam-diam mencuri perhatiannya sejak awal pertemuan. Ia mencoba mendekat lewat kebaikan, berharap dikenang walau hanya sekejap. Tapi Nasya? Ia tak pernah mengingatnya. Tak satu pun pertemuan membekas di ingatannya.
Sampai akhirnya Argan sadar, menjadi baik saja tidak cukup. Jika kebaikan terlupakan, maka ia akan menjadi luka kecil dalam hidup Nasya karena rasa sakit lebih sering dikenang daripada rasa manis. Dan dengan begitu... setidaknya, ia tidak akan menjadi asing selamanya.
let's play!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chika cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Americano
Alis Argan tampak berkerut kesal dari kejauhan menatap sosok Nasya yang jauh disana tengah berbincang ria dengan temannya. Setelah momen pelemparan bunga dan berakhir dengan keduanya yang di paksa naik ke atas panggung tadi. Kini keduanya sudah turun dari atas panggung sejak lima belas menit yang lalu.
"Woy, di ajakin ngomong malah diam aja!" tegur teman Argan yang duduk tepat di sampingnya. Masih tidak ada jawaban, malah Argan beralih menatap gelas minumannya dan memutar-mutar minuman tersebut.
"Lo kenapa sih, Gan? Masih kebayang wajah si Nasya Nasya itu?" tanpa pikir panjang salah satu teman Argan ikut nimbrung menunjuk dengan dagu kearah Nasya.
Kali ini Argan merespon dengan senyum smirknya lalu berhenti memutar gelasnya. "Gue mau cerita, Lo pada mau dengerin gue gak?" tanya Argan menatap satu persatu wajah keempat temannya.
Keempatnya mengangguk kompak.
"Cerita aja. Kita dengerin."
Argan menegakkan tubuhnya, membuka salah satu kancing jas yang ia kenakan agar tidak terlalu sesak. "Oke, jadi gini... Gue udah kenal lama sama salah satu cewek, udah sempet kenalan juga dulu waktu gue masih dinas di Magetan." sejenak ia berhenti "tapi... Entah kenapa tu cewek masih tetep gak kenal gue, padahal kita udah lima kali loh ketemu."
Nah ini yang Argan kesalkan sejak tadi. Ini pertemuan kelima mereka, tapi masih tetap tidak ada tanda-tanda bahwa Nasya mengenali dirinya.
Memangnya wajah tampannya ini sesulit itu untuk di kenali?
"Cie... Ternyata temen gue udah gedek. Buktinya udah berani kenalan sama cewek." ucap salah satu teman Argan dengan raut haru setelah mendengar cerita Argan.
Argan merespon dengan berdecak pelan.
"Tapi baru kali ini gue denger ada cewek yang gak inget muka ganteng Lo ini, Gan. Udah lima kali ketemu lagi. Itu otak cewek kapasitasnya berapa gb ya, kira-kira?"
"Hm, bener tu. Udah lima kali ketemu loh ini ya masak tetep gak kenal lo si? Entar Lo salah orang."
"Gak mungkin gue salah orang, udah lima kali loh ini. Dan gue inget dengan jelas wajah tu cewek." jawab Argan jujur seraya matanya menatap Nasya yang jauh disana.
"Lah, terus gimana?"
"Gue suka sama dia." ucapan Argan membuat keempat temannya yang lain langsung membulatkan mata dan menatap Argan dengan raut tak percaya. Argan masih menatap sosok Nasya yang kini tengah tertawa membuatnya semakin terpesona saja dengan gadis cantik plus manis itu.
Kemudian terdengar tawa dari keempat temannya yang pecah begitu saja "Serius? Lo suka sama cewek? Berarti bener kata Lo, Argan kita udah gedek, udah beranjak dewasa. Buktinya dia udah mulai birahi." sahut teman Argan membenarkan salah satu perkataan temannya di awal tadi. Selanjutnya mereka lanjut tertawa lagi.
"Puas ya Lo pada ngetawain gue!"
"Abisnya lo sih. Akhirnya setelah sekian lama ya Allah!"
"Terus mau Lo ini gimana?"
"Gue kepengen dia itu inget gue. Gue udah usaha membuat kesan yang baik buat di ingat dia, tapi tetap aja gue gak pernah di inget sama sekali. Lo semua ada saran?" Argan beralih menatap satu persatu temannya.
Keempat pria itu tampak saling pandang satu sama lain cukup lama, lalu mengangguk.
"Tadikan Lo bilang, Lo udah kasih kesan yang baik buat dia ingat Lo, tapi tetap aja gak ada kesan baik Lo yang di inget dia." ujar teman Argan yang di angguki pria itu.
"Nah, gimana kalau lo buat kesan buruk aja sekalian. Kayak di sekolah dulu, kita selalu di inget guru karena kita murid paling bandel luar biasa di sekolah, kita meninggalkan kesan buruk itu ke semua guru. And see, Lo lihat sendiri mereka ingat kita sampai sekarang."
"Nah, bener itu. Kenapa gak di coba aja."
Sejenak Argan diam memikirkan ucapan rekannya, apa dia benar harus meninggalkan kesan buruk itu pada Nasya agar gadis itu selalu ingat dengan dirinya?
__________________
"Baik, sekian pembahasan kita kali ini. Semoga kalian bisa mendapatkan ilmu yang lebih baik di Jerman nanti dan menjadi penerbang terbaik yang dimiliki angkatan udara Indonesia."
Setelah mendengarkan ucapan marsdya, salah satu panglima berbintang tiga yang berpidato membahas tentang pelatihan ke lima pilot terpilih dan yang akan berlatih di Jerman selama satu tahun kedepan.
Selanjutnya barisan di bubarkan.
"Wah, Lettu Argantara selamat atas terpilihnya jadi salah satu yang di kirim ke sana."
Argan hanya mengangguk saja menanggapi ucapan beberapa rekannya.
Argan merupakan salah satu pilot termudah yang di pilih dan di kirim ke Jerman bulan depan untuk mengikuti pelatihan menerbangkan salah satu pesawat tempur terbaru yang dimiliki Indonesia untuk memperkokoh benteng pertahanan udara.
Setelah kegiatannya selesai Argan mengambil papan skateboard yang ia simpan di dalam lokernya, lalu mulai mengendarainya menuju barak.
Sampai di barak ia langsung di sambut oleh Bimo yang tengah berbaring di salah satu ranjang sambil memainkan ponselnya.
"Wess, ini nih manusia yang dari tadi saya cari." ujar Bimo begitu melihat Argan ia langsung meletakkan ponselnya.
Argan hanya mengedikkan dagunya pertanda ia sedang bertanya 'kenapa?'
"Kamu bener kepilih jadi salah satu pilot yang bakal terbangkan itu pesawat baru." tanya Bimo seraya dagunya menunjuk asal.
Argan mengangguk saja, membuka pakaian flightsuitnya. Menyisakan celana pendek sebatas paha berbahan jersey berwarna hitam serta baju kaos loreng aury dominan biru.
"Wih, asyik dong, Gan. Aku gak ikutan, gak kepilih juga." raut Bimo di buat senelangsa mungkin sok sedih padahal tidak sama sekali, ia bahkan sebaliknya senang karena Argan lah yang terpilih. "Pulang nanti bawa bule Jerman ya, Gan."
"Otak Lo isinya cewek mulu!" gemas Argan menjitak kepala cepak Bimo.
Bimo meringis mengusap kepalanya yang di jitak Argan, tapi tak protes sama sekali "Iya dong, kalau kamu gak mau, bawain buat aku." lalu ia malah terkekeh.
Mendengar kekehan Bimo, Argan hanya berdecak saja.
________________
Seminggu sebelum keberangkatan Argan ke Jerman. Ia menghabiskan waktu di rumah orangtuanya, karena memiliki cuti selama seminggu sebelum keberangkatan.
Menjadikannya sopir dadakan untuk mengantar jemput sang Mama yang bekerja di rumah sakit. Karena papa Saga sedang berada di Medan untuk melihat perkebunan sawit miliknya disana.
Dan siang ini Argan yang masih berada di toko sparepart miliknya harus pergi begitu saja saat sang ibu suri menghubungi meminta di belikan cheese cake di salah satu cafe dan langsung mengantarnya kerumah sakit.
"Ini kan cafenya?" gumamnya melihat Google maps yang menunjukan lokasi cafe yang di katakan sang Mama tadi. Xoxo cafe, itulah yang tertulis di gedung tersebut. Argan langsung menghentikan mobil rush yang di kendarainya di depan cafe tersebut lalu selanjutnya turun dan pergi memasuki cafe.
Baru saja membuka pintu dan melangkah masuk tiba-tiba saja kopi americano dingin membasahi wajah dan juga tubuh Argan yang terbalut kaos putih membuat Argan dan beberapa pengunjung cafe di sana terkejut begitu pula dengan sang tersangka. Yang menutup mulutnya tak menyangka aksinya malah salah sasaran. Argan menatap gadis yang matanya membulat dan membekap mulutnya dengan kedua tangan karena terkejut. Setelahnya Argan mengusap wajahnya yang basah dan menatap tubuhnya yang kini sudah kotor dengan noda kopi yang sekarang menjadi terasa lengket akibat tembus mengenai kulit dadanya. Raut wajah Argan kesalnya bukan main, ia berusaha membersihkan noda kopi yang menempel di bajunya dengan tangan.
"Astagfirullah, Mas maaf, maafin saya. Maaf. Saya ndak ada maksud buat nyiram Mas sumpah Mas, maafin saya." ujar gadis berhijab dengan medok Jawa khasnya penuh penyesalan dan panik luar biasa ia membantu melap tubuh bagian dada Argan dengan tangannya berharap tangan mungilnya itu bisa membersihkan noda kopi pada kaos putih yang Argan kenakan.
"Ta, ambilin handuk di ruangan saya!" teriak gadis lain yang juga ada disana. "Haduh, gimana iki, Sya?" ia juga panik.
Sementara Argan sendiri ia hanya fokus pada tubuhnya sendiri yang sudah kotor dengan kopi. Tidak terlalu fokus akan sekitar.
Ya Tuhan, mimpi apa dia semalam sampai mandi kopi begini.
"Ini semuanya karena kamu! Jangan lagi kembali! Aku udah ndak sudi balik sama cowok kayak kamu! Pergi!" pekik gadis itu mengusir pria yang seharusnya ia siram dengan kopi miliknya namun pria itu malah mengelak dan mengenai pria bertopi mengenakan kaos putih yang baru masuk dan itu adalah Argan.
Pria yang di usir gadis itu pun pergi, gadis itu kembali fokus pada Argan. Temannya yang meminta handuk ke salah satu karyawannya pun memberikan handuk kepada gadis itu untuk membersihkan tubuh Argan.
"Ini Mas di bersihin dulu." gadis itu mengulurkan handuk pada Argan dan seketika kepala Argan langsung menoleh kearah gadis yang membuatnya kesal bukan main.
Mata Argan membulat begitu melihat wajah panik dan bersalah Nasya. Iya, yang menyiram Argan dengan segelas americano dingin itu adalah Nasya.
Pertemuan keenam. Fiks, kalau ini mah jodoh!
"Saya akan ganti rugi Mas, maafin saya." berkali-kali mulut Nasya terus mengucapkan kata maaf.
Dan itu membuat Argan menyeringai, karena lagi Nasya tidak mengingatnya padahal sebulan yang lalu mereka bertemu di acara pernikahan teman Argan. Sungguh kapasitas otak Nasya ternyata sekecil itu sampai tidak dapat mengingatnya.
Oke, Argan akan mengikuti saran yang di berikan teman-temannya malam itu untuk meninggalkan kesan buruk agar kali ini Nasya selalu mengingat dirinya.
Oke, let's try.
"Kamu!" geram Argan menatap wajah Nasya dengan tatapan tajam yang menusuk. Membuat Nasya menelan salivanya susah payah karena raut menyeramkan yang ia lihat dari wajah Argan saat ini.
"Ma-maaf." cicit Nasya ketakutan, belum lagi Argan yang melangkah mendekati Nasya dengan tidak santainya, tanpa memutuskan kontak mata dan tanpa memperdulikan sekitar yang beruntungnya cafe dalam keadaan tidak terlalu ramai pengunjung hanya beberapa saja.
"Ma-maafin sa-saya, Mas." bersamaan dengan langkah kaki Argan yang terus berjalan kearahnya, Nasya otomatis juga langsung berjalan mundur. "Ah!" pekik Nasya begitu tubuhnya mendarat di dinding. Semua orang hanya menyaksikannya saja dengan raut kaget, tapi tidak ada yang berani menegur karena melihat aura menyeramkan yang Argan tunjukkan.
Sementara Argan kembali menyeringai begitu melihat raut panik Nasya. Lantas Argan lanjut mengukung tubuh gadis itu.
"Eh, Mas. Ma-maaf. I-ini Masnya mu-mundur dulu." Nasya berusaha keluar dari kukungan Argan, mendorong dada pria itu dengan tangannya.
Tapi sayang di sayang, tidak semudah itu mendorong tubuh besar Argan. Dan dengan jahilnya Argan malah menambah memblokade jalan Nasya dengan mendaratkan satu tangannya di sisi tubuh gadis itu.
Tak tanggung-tanggung setelahnya Argan sedikit membungkukkan tubuhnya mensejajarkan wajah mereka dan itu membuat Nasya otomatis memejamkan mata begitu erat karena ketakutan.
Nasya merasakan aroma kopi bercampur parfum beraroma Woody yang masuk tanpa izin kedalam Indera penciuman Nasya, belum lagi nafas hangat Argan yang menerpa wajahnya membuat jantung Nasya kian kalang kabut. Nasya yakin jarak mereka tidak lebih dari sejengkal saat ini. Mata Nasya kian mengerat takut.
"Tanggung jawab!"
...Bang Argan udah mulai bergerak guys😆...
Author pinter bahasa Jawanya, tapi masih banyak yang harus diperbaiki dalam penggunaan bahasa Jawanya, apalagi jika berbicara dengan siapa yang diajak bicara ada tingkatannya.
Secara keseluruhan, cerita ini dapat banyak jempol dariku 👍👍👍👍👍👍
kenapa bikin orang nangis dak kelar kelar kakkkkk😥😥👍
bawang mahal,,mana bawang😭😭😥😥
ttp semangat dn terimakadih💞💞☕️🌹