Nyai Seruni, seorang dukun yang menghabiskan masa mudanya menghancurkan kebahagiaan orang lain lewat racun petunduk karena rasa iri, kini terjebak dalam tubuh yang membusuk namun menolak mati. Di ambang sakaratul maut yang abadi, ia harus menyeret tubuhnya yang lumpuh untuk bersujud di kaki para korbannya—orang-orang yang hidupnya ia curi—hanya demi satu hal : izin untuk meninggal dunia.
Assalamualaikum semua, aku datang dengan tulisanku.
Bantu ramaikan dengan Like, komentar dan bagikan jika suka.
Insya Allah besok pagi jika banyak peminat, 😉
Mohon maaf jika ada kesamaan nama dan tempat, 🙏
#cerbung
#cerpen
#ceritahoror
#hobimenulis
Cerita Hantu
Cerita Misteri , Mitos , Sejarah Di Dunia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 : Asap Bunga Kecubung dan Jejak di Hutan Bambu
Suasana di sudut timur Pasar Kidul mendadak riuh mencekam. Para pedagang dan pembeli berhamburan lari menyelamatkan diri, meninggalkan barang dagangan yang berserakan di atas tanah basah. Cairan ungu dari pecahan botol raksasa Nyai Ratih terus menguapkan aroma racun manis yang menyengat udara, membuat beberapa warga yang menghirupnya mengusap mata dengan kepala pening.
Di atas dahan pohon beringin tua, Nyai Ratih berdiri tegak bagaikan bayangan hijau pemikat. Kain selendangnya mengembang ditiup angin, sementara sepasang jarum perak beracun di jemarinya berkilat pendar keperakan di bawah naungan dedaunan rindang.
"Gadis penumbuk soto dan pande besi berkaki kaku..." kekeh Nyai Ratih dingin, suaranya melengking bernada merendahkan. "Kalian merasa menjadi pahlawan karena mengalahkan tua bangkai Mbah Jiwo Suro? Mbah Jiwo hanyalah petarung kasar yang mengandalkan belerang dan darah. Tapi Sekte Kecubung Hitam menguasai benak dan jiwa manusia tanpa perlu mencetuskan pertumpahan darah!"
Marno melangkah maju, memasang kuda-kuda kokoh di depan Sari. Tangan kanannya mencengkeram erat gagang martil besinya yang tebal, memancarkan hawa panas murni dari keteguhan jiwanya sebagai penempa besi.
"Siapa pun kau dan dari mana pun sektenamu berasal," gertak Marno garang, "kami tidak akan membiarkan racunmu merenggut kesadaran warga desa di tanah ini!"
"Bicara besar!" seru Nyai Ratih murka.
Dengan gerak kilat yang anggun namun mematikan, Nyai Ratih mengibaskan kedua tangannya ke depan. Sepuluh batang jarum perak meluncur deras membelah udara, membawa jejak asap ungu berbau Bunga Kecubung Hitam lurus menuju dada Marno dan Sari!
CRANG! CRANG! CRANG!
Marno memutar martil besinya dengan kecepatan tinggi di udara, membentuk perisai angin panas yang menangkis seluruh jarum perak tersebut hingga terpelanting jatuh dan tancap di batang-batang bambu pasar! Jarum-jarum yang menancap itu seketika membuat serat kayu bambu menghitam dan mengelupas seperti terkena air keras.
Di saat yang sama, Si Mbah melompat lincah melintasi dahan-dahan beringin dari arah belakang! Kera hitam itu menjerit nyaring, “Uuk! Uuk-uuk!”, lalu melemparkan serbuk Bunga Kemuning Putih milik Sari tepat ke arah punggung Nyai Ratih!
Nyai Ratih yang menyadari serangan dari belakang dengan gesit memutar tubuhnya di udara. Ia mengibaskan selendang hijaunya untuk memutus sebaran serbuk kemuning tersebut, namun percikan cairan penawar yang dibawa Si Mbah sempat mengenai ujung jubahnya.
PSSSSSSST!
Kain jubah hijau itu menguapkan asap putih dan melubangi kain sutra cantiknya. Nyai Ratih terhuyung mundur, mendarat di atas pagar kayu pasar dengan raut wajah penuh kejengkelan.
"Kera sialan dan penawar murahan!" desis Nyai Ratih gusar. Ia menatap Sari dengan mata menyala murka. "Keturunan Seruni ini rupanya benar-benar membawa Kitab Usada Tengger... Bunga kemuningmu tidak akan berguna jika racunku sudah meresap sampai ke inti otak korban!"
Sari melangkah maju menyejajari Marno, memegang bumbung penawarnya dengan tenang namun penuh kewaspadaan. "Racun Bunga Kecubungmu hanya melumpuhkan pikiran sementara, Nyai! Jika inti herbalnya dibersihkan dengan penawar garam dan akar kemuning murni, kesadaran korban akan kembali sepenuhnya!"
Nyai Ratih menyeringai penuh rahasia. "Kau pikir korbanku hanya lima petani linglung ini, Gadis Soto? Di dalam Hutan Bambu Hitam di timur perbukitan, tiga ratus warga dari berbagai desa sudah berkumpul di bawah pengaruh ajianku! Mereka sedang menggali Candi Tua Ranubaya untuk membangkitkan harta karun yang terkubur ratusan tahun lalu!"
Marno dan Sari tersentak kaget mendengarnya. Jumlah tiga ratus warga yang dikendalikan secara gaib adalah ancaman yang jauh lebih besar dan rumit dibanding serangan fisik musuh mana pun yang pernah mereka hadapi. Jika mereka menyerang secara kasar, warga tak berdosa yang diperalat itu bisa menjadi korban jiwa dalam pertempuran.
"Kau pembohong!" seru Marno.
"Jika kau tidak percaya, datanglah sendiri ke Hutan Bambu Hitam sebelum malam purnama esok tiba!" gelak Nyai Ratih nyaring.
Nyai Ratih merogoh sakunya, lalu meremas sebutir bom asap ungu ke tanah. BOMMM!
Gumpalan asap pekat Bunga Kecubung membumbung tinggi membungkus tubuh Nyai Ratih. Ketika angin menyapu bersih asap ungu tersebut, wanita berselendang hijau itu telah lenyap tanpa jejak, meninggalkan lima petani yang berdiri kaku linglung di tengah pilar-pilar bambu pasar.
Sari segera berlari mendekati lima petani linglung yang berdiri kaku bagaikan patung. Pandangan mata para petani itu kosong, tak merespons suara atau sentuhan fisik sama sekali.
Sari mengambil sebatang bambu penawar, meminumkan beberapa tetes cairan Bunga Kemuning Murni ke mulut masing-masing petani tersebut, lalu mengoleskan sedikit racikan daun mint ke pelipis mereka.
Beberapa saat kemudian, napas para petani itu mulai teratur kembali. Warna pucat di wajah mereka perlahan-lahan mengendur, dan kesadaran mereka kembali meski tubuh mereka masih terasa lemas luar biasa.
"Aku... aku di mana?" gumam salah seorang petani dari Desa Wringin sambil memegang kepalanya yang pening. "Terakhir kali aku ingat... aku meminum ramuan manis di bawah beringin ini..."
Pak Karto RT yang baru saja menyusul bersama beberapa warga Karang Tumpuk menghela napas lega melihat para petani itu selamat.
"Sari, Marno... apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Pak Karto cemas. "Apakah wanita berselendang hijau itu bagian dari sekte baru?"
Sari menatap Marno dengan raut wajah amat serius. "Pak RT, wanita itu bernama Nyai Ratih dari Sekte Kecubung Hitam Kediri. Dia menggunakan ramuan penjerat jiwa untuk mengendalikan ratusan warga desa sekitar dan memaksa mereka menggali peninggalan purba di Hutan Bambu Hitam!"
Pak Karto memucat ketakutan. "Hutan Bambu Hitam? Itu adalah wilayah terlarang di perbatasan timur! Konon di sana terdapat punden tua tempat bersemayamnya penganut ilmu purba Ranubaya!"
Marno memanggul martil besinya kembali ke pundak, matanya menatap tajam ke arah jajaran bukit di timur yang tertutup kabut tipis.
"Kita tidak boleh membiarkan ratusan warga itu terus dikendalikan dan dijadikan tumbal," kata Marno tegas. "Sari, kita harus menyusul ke Hutan Bambu Hitam sebelum malam purnama besok!"
Sari mengangguk mantap. "Kang Marno benar. Tapi bertarung melawan Sekte Kecubung Hitam butuh strategi berbeda. Kita tidak bisa menggunakan kekerasan karena warga yang dikendalikan berada di barisan depan. Kita harus meracik penawar penjerat jiwa dalam jumlah yang sangat banyak!"
Sari memutar tubuhnya menatap Pak Karto RT. "Pak RT, kumpulkan seluruh warga Karang Tumpuk! Kita butuh bantuan untuk memetik seluruh Bunga Kemuning Putih, Garam Murni, dan Akar Kelapa Hijau dari seluruh sudut desa sebelum sore ini!"
Pak Karto mengangguk penuh semangat. "Siap, Sari! Seluruh Karang Tumpuk akan membantumu meracik penawar itu!"
Di bawah naungan matahari sore yang mulai condong ke barat, sebuah persiapan besar dilakukan di halaman rumah panggung Sari. Dapur-dapur penumbukan herbal didirikan, kuali-kuali tembaga raksasa diisi air murni, dan puluhan bumbung bambu disiapkan untuk menampung cairan penawar skala besar.
Sari, Marno, dan Si Mbah bersiap melangkah memasuki wilayah terlarang Hutan Bambu Hitam—memulai perjalanan baru yang menuntut kecerdasan, ketabahan, dan kasih sayang demi membebaskan ratusan jiwa yang terjerat dalam kegelapan Sekte Kecubung Hitam.