Bosan dengan gaya hidup ugal-ugalan, mencoba menyelami jati diri yang mungkin terpendam dalam palung jiwa, merubah penampilan dan tabiat. Dari yang mulanya di tuduh sebagai salah satu ciri tanda kiamat, menjadi seorang ukhti. Baru terjun dalam hal baik langsung ditempa dengan cobaan hidup masa sekolah. Dirundung karena terlalu berbakat, dan penuh cinta, lantas timbul iri dengki teman sebangku yang menjelma bagai dewi nyatanya seorang munafik. Menghasut orang lain untuk membenci Aluna.
Bisakah Aluna mempertahankan kehidupan SMA nya tanpa kembali menjadi tomboy?
Mari ikuti kisahnya. :)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diahps94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Mengiba
Ribuan ucapan duka tersemat, namun tak satupun menguatkan dan bisa membuat ibunya selamat. Aluna melihat Tina dalam kondisi berkabung selama tujuh hari ini. Selama itupun tak pernah masuk sekolah, saat orang-orang sibuk masak untuk acara tahlil, Tina mengurung diri. Sosok anak manja yang ditinggal selamanya amat kehilangan, dipisahkan kematian hingga membuatnya bingung untuk berpijak.
Aluna tak cari muka, dia hanya tak ingin Tina semakin larut dalam luka. Aluna sadar diri, Tina punya teman jauh lebih banyak darinya. Di kelas saja Tina terkenal sebagai salah satu orang yang ucapannya di dengar oleh separuh isi kelas. Tina anak gaul yang kesana kemari untuk tenar dan beken. Namun saat kesedihan melanda tak banyak dari mereka mendekat. Mengirim karangan bunga, dan ucapan duka lewat pesan singkat tak berguna karena tak terbaca dan lewat begitu saja. Berbeda dengan Aluna, meski terus menyeret Bondan dia selalu hadir dan menemani meski tak mengobrol juga dia ada.
"Kita pulang sekarang?" Usai tahlil Bondan menghampiri Aluna di dapur.
"Hem, sudah beres semua juga, sebentar aku pamit ke Tina dulu." Aluna tak banyak membantu, karena pekerjaan dikerjakan ibu-ibu komplek Tina.
Meninggalkan Bondan di area dapur, Aluna mengetuk kamar Tina. "Tina aku pulang."
Kriettt, momen langka Tina membuka pintu setelah beberapa hari mengeram. "Temani aku."
Aluna tak bisa melihat Tina dengan jelas, kamarnya gelap gulita, hanya sorot lampu ruang tengah yang bisa memperjelas penglihatan Aluna akan keberadaan Tina. "Baiklah."
"Bondan mana?" Posisinya Aluna masih di luar pintu kamar Tina.
Aluna menepuk jidat, harusnya ia izin ke Bondan dulu. "Dia di dapur, aku izin Bondan dulu ya soalnya kemari dengan Bondan."
"Tak usah, kau pulang saja aku tak minta ditemani menginap, hanya minta temani mengambil makan." Ungkap Tina.
Aluna menuntun tubuh Tina yang lemah, beberapa hari ini enggan makan dan hanya mengurung diri. Ayahnya dan Ivan tak bisa membujuk Tina, jadilah menunggu sampai anak itu benar-benar ikhlas. Sampai dapur Tina disambut riuh ibu-ibu tetangganya, dilayani apapun maunya. Aluna ingin tinggal lebih lama namun Bondan cerewet. Bondan tak main-main dengan kecerewetannya, telat sedikit dia yang kena marah soalnya.
"Tuhkan aku bilang juga apa, kau segala ramah dengan Tina sih, lihat kina sampe rumah mu saja sudah jam sebelas malam, ini kalau aku pulang sampe jam satu malem ini pasti, sudahlah mending aku menginap di rumah mu saja." Putus Bondan seenaknya.
"Eits tidak bisa, kau pulang sana." Usir Aluna.
"Astagfirullah, kau tak takut apa kalau aku kena begal dan lain sebagainya. Aku takut kenapa-kenapa di jalan." Alibi Bondan.
Kreeekk. "Bukannya masuk, malah berdebat dulu. Ayo masuk dulu Bondan."
"Iya ibu mertua, ini dasarnya Aluna suka tak tahu terimakasih baru sampai sudah di usir." Bondan buru-buru berlindung di belakang Mawar.
"Bercanda saja itu, duduk dulu biar ibu panggil pak RT." Mawar mengambil telpon genggamnya.
"Eh...eh..kita tidak di nikahkan paksa kan Bu karena pulang larut?" Cengir Bondan.
"Nikah gundul mu, masih ingusan banyak tingkah!" Ledek Karin yang ternyata belum tidur dan ikut menunggu kakaknya.
"Eh bocil sana tidur, nanti nggak tinggi loh kalau tidurnya malam-malam." Bondan balas meledek.
"Siapa yang kau panggil bocil hah?" Tantang Karin.
"Hah, bocil emosian, sebelas dua belas dengan Aluna." Kini Bondan membawa-bawa Aluna.
"Iya halo pak RT." Mawar mengisyaratkan anak-anak diam dengan telunjuk di depan bibir.
"Gimana-gimana Bu Mawar?" Balas pak RT di seberang pos ronda.
"Teman anak saya si Bondan ini rumahnya cukup jauh, sudah kemalaman kalau pulang. Takut kenapa-kenapa juga, baiknya bagaimana ya pak?" Mawar meminta solusi.
"Oh begitu Bu, biar nanti nak Bondan menginap di rumah saya saja, tak mungkin tidur di tempat bu Mawar karena semuanya perempuan. Atau kalau tidak mau, bisa di kawal anak-anak yang masih nongkrong." Timpal pak RT.
"Hahaha, mampus. Gih pergi sana." Usir Karin usai telpon di tutup.
Pletak, Bondan menjitak Karin. "Mayan, kosetan maut biar tambah tinggi ya boncel."
"Yakkkk, awas kau kalau kemari ku kencingi." Murka Karin.
"Jorok sekali, ku lempar kau dengan tai kambing." Balas Bondan.
"Iyuhhh, ku racun dengan kentut kak Luna." Karin sengaja menarik Aluna agar Bondan kicep.
Berhasil Bondan tak membalas, langsung pamit ke pos ronda karena sudah di tunggu. Senyum kemenangan terpatri di bibir Karin. Dasarnya mereka tak pernah akur dari awal jumpa. Jadi baik Aluna dan ibunya sudah tak kaget dengan perilaku ajaib keduanya. Kepergian Bondan mengantarkan mereka ke kamar masing-masing. Harusnya Aluna pergi tidur dan bersiap untuk hari esok. Tapi bantinnya gundah. Aluna ak tenang kalau belum dapat kabar baik dari Bondan.
Berlebihan kalau sampai pukul satu, setengah dua belas Bondan sudah sampai rumah. "Halo, aku sudah di rumah."
"Alhamdulillah, yasudah bersih-bersih. Lalu pergi tidur." Tutur Aluna.
"Sepertinya ada yang kurang dari ucapan mu barusan." Balas Bondan.
Aluna memutar kembali apa yang di katakannya barusan, namun tak menemukan celah. "Intinya istirahat lah, besok jangan lupa sekolah."
"Duh perhatiannya, kau juga istirahat. Yang kurang tadi harusnya kau ucap jangan lupa mimpikan aku." Rayu Bondan.
"Mimpi buruk yang ada kalau memimpikan dirimu." Timpal Aluna, lantas mematikan ponsel.
Memegang kedua pipi yang terasa hangat, sepertinya pipinya bersemu. Entahlah, kadang gombalan Bondan yang ceplas-ceplos justru mengena di hati. Meski begitu bukan berarti Aluna cinta dengan Bondan. Dia hanya sedikit tersipu saja.
Pagi menyambut, suasana berkabut cuaca dingin dan begitu lembab. Bahkan ada bintik-bintik air kecil di bulu mata dan bulu tangan. Aluna yang pagi ini diantar ibunya harus berjalan kaki karena sang ibu tak bisa masuk area sekolah. Dari jalan utama setengah kilometer lagi untuk bisa tiba di sekolahnya. Meski cukup dingin, Aluna bersenandung dalam perjalannya seorang diri. Hingga suara klakson mengagetkannya.
Tiiiiiiiiiiiiinnnnnnn. "Woyyyyy, miskin kalau jalan minggir sana, tabrak mampus kau!"
Mengelus dada, dan terus mengabaikan ocehan Eva teman sekelasnya itu. Aluna jalan nyaris kecebur got karena terlalu mepet tepian jalan. Jalan cepat di tikungan, karena Eva sedari tadi tak juga melaju, Aluna takut ada ide nakal di otak Eva. Dalam hatinya merapal doa, agar terhindar dari kedzaliman manusia dengki.
Brakkkkkkk....pyar....
Sudah tahu tikungan malah ada niat jahat, terlibat kecelakaan tunggal, tubuh terpental dan motor hancur. Komplek sekolahan geger, keluar rumah dan kontrakan namun tak ada yang menolong karena jam sibuk. Ada beberapa anak yang tulus ingin menolong namun kena kompor tukang sayur yang mengatakan kalau Eva kualat. Jadilah urung dan Eva terkapar menahan malu. Tak luka parah, makanya orang-orang tak ambil pusing. Dia masih bisa berdiri dan berlari ke arah motornya sendiri.
"Syutt...pchh....pchhh...Aluna tolong aku." Aluna yang berdiri menyaksikan semuanya dimintai tolong.
Otaknya teriak untuk tinggalkan, tapi kaki berkhianat. "Makanya jangan jahat padaku, kena batunya kan."
"Ish, mau nolong tidak sih kenapa berkata begitu." Kesal Eva.
"Malas, tapi wajah mengiba mu membuatku mual, jadi daripada muntah mending ku tolong, kau tak cocok jadi orang tersakiti, kau kan jago menyakiti." Sisi gelap masa tomboi Aluna mencuat.
Eva ingin membalas cacian Aluna, tapi terpotong karena kalimat Aluna. "Minggir biar aku yang dorong."
Aluna mendorong motor Eva sampai parkiran sekolah, sedang Eva memungut spion dan spakbor yang copot. Burhan yang melihat Aluna mendorong motor dari kejauhan lari tunggang-langgang.
"Astagfirullah kenapa motornya neng?" Burhan terfokus pada Aluna tak melihat Eva di belakang Aluna.
"Biasa tes ketahanan." Balas Aluna penuh canda.
"Motor butut geh disenggol dikit juga hambur segala pake tes ketahanan. Sini biar om yang dorong, gadis cantik dilarang susah-susah." Ledek Burhan, lantas berganti peran dengan Aluna.
"Ish mending butut daripada aku tak punya motor." Timpal Aluna.
"Lah motor siapa emang?" Burhan baru ingat kalau Aluna tak pernah naik motor ke sekolah.
"Motor Eva teman sekelas ku." Bisik Aluna.
"Aih, tahu gitu mah buang ke selokan saja neng. Ku pikir punya mu." Ucap Burhan tanpa tahu pemilik motor sakit hati.
Eva meremat spion ditangan, menyerobot di celah antara Burhan dan Aluna. "Minggir biar motor butut ini aku yang bawa."
"Tuh neng Aluna sih tak kabar-kabar orangnya di belakang." Sesal Burhan.
"Padahal mengatai motor butut kan hanya candaan padamu yang tak mudah marah, kalau si Eva mah beuh alamat om kena wajah juteknya tiap waktu ini mah." Lanjut Burhan mengeluh.
"Hayo loh om, yaudah aku masuk dulu ya om, makasih sudah di bantu dorong." Tak lupa mencium tangan Burhan.
Belum sampai kelas, Aluna ke kamar mandi lebih dulu guna membersihkan tangannya yang terkena oli sedikit. Kamar mandi di dekat kelas sebelas yang ia lewati tak seperti kamar mandi yang ia terkunci kala itu. Kamar mandi ini dilengkapi dengan ember jumbo untuk menampung air. Tak ada wastafel, kran hanya di atas ember besar tersebut, jadilah Aluna mengambil gayung untuk mengambil air dari ember.
Byurrr ....glep, Aluna menelan air. Serampangan berburu oksigen, bersyukur bisa bernafas kembali. "Hashhh...hahh..hahhh...apa maksud semua ini?"
"Balasan atas perbuatan gila mu yang membuatku celaka." Culas Eva.
"Hei, kau jatuh sendiri lantas kenapa membuatku seperti ini?" Aluna pikir Eva benar-benar kurang waras.
Eva mencebik. "Kau harus tahu tempat Aluna, jangan bersaing denganku karena aku tak selembut Tina!"
Brakkkk, Eva menutup pintu kamar mandi dengan brutal hingga meninggalkan bunyi nyaring. Aluna tertegun, begini sekali nasibnya, sudah bergelut dengan diri sendiri untuk menolong Eva yang terlihat mengiba, malah sekarang dirinya yang butuh rasa iba orang lain.
Bersambung
mksih author cerita ny sngt menghibur 🙏🙏🥰😍😘🤗
udah kayak rajaaa😂😂