Clarissa Atmaja yang baru kembali dari studinya disambut dengan tanggal pernikahan untuk menikahi laki-laki yang sudah menjadi tunangannya, laki-laki pilihan papanya. Namun, saat kembalinya ia dipertemukan dengan laki-laki yang menggetarkan hatinya, dan membuatnya jatuh cinta.
Angga yang dulunya pria yang hangat, berubah jadi dingin dan tak ingin lagi mengenal dengan yang namanya perempuan karena sakit hati dengan perempuan masa lalunya. Sehingga, membuat orang-orang berpikir dan menganggapnya laki-laki yang tidak normal atau tidak menyukai perempuan. Tetapi, Rissa bertekad untuk mengejar cintanya, dan menaklukkan laki-laki yang ia sukai. Tidak peduli dengan statusnya yang sudah bertunangan, dan tentang isu mengenai laki-laki yang ia sukai.
Mampukah Rissa menaklukkan hati Angga Wijaya atau ia akan menikahi laki-laki pilihan papanya yang sudah menjadi tunangannya?
oh ya kak jika berkenan follow Instagram aku mamika759
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Percepat pernikahan
"Kegiatan saya hari ini apa?" tanya Angga kembali.
"Maaf Pak!" Rissa pun menjelaskan semua rencana kegiatan Angga hari ini.
"Oh.. Ya, berkas yang kemarin tolong kamu kirimkan ke perusahaan Pak Atmaja!" perintah Angga.
"Hah.. saya Pak," Rissa tersentak, lalu menunjuk dirinya sendiri.
Astaga, percuma gue sembunyi. Ujung-ujungnya gue sendiri yang masuk ke dalam kandang.
Batin Rissa.
"Iya, Rafi kan sedang cuti. Jadi, kamu yang gantiin dia mengantarkannya," jawab Angga.
"Ta-tapi Pak...." Rissa menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia memikirkan alasan yang akan ia berikan pada Angga.
"Tapi apa?" Angga menautkan alisnya.
"Sa-saya tidak memiliki kendaraan, untuk kesana," Rissa memberikan alasan yang tak masuk akal.
Be*o Lo Ris! Kenapa Lo kasih alasan yang tak masuk akal begini. Lo kan bisa naik taksi.
Rissa merutuki dirinya sendiri.
Angga menghela nafasnya.
"Kamu bisa pakai mobil kantor," jawab Angga.
"Pak, tapi saya tidak tahu jalan di sini," jawab Rissa kembali. Ia berharap Angga tidak menyuruhnya mengantarkan berkas tersebut, dan menyuruh orang lain.
Angga menggelengkan kepalanya. Inilah yang tidak ia sukai, memiliki sekretaris perempuan.
"Kamu bisa minta diantar supir kantor," jawab Angga yang tak bisa lagi Rissa membantahnya.
"I-iya, Pak. Kalau begitu saya permisi keluar," Rissa pamit keluar ruangan.
Rissa menghela nafas panjang, ia berjalan masuk ke dalam ruangannya. Ia pun mendudukkan bokong di kursinya.
"Astaga, apa yang harus gue lakuin?" gumam Rissa. Ia menyandarkan punggungnya di kursinya.
Rissa pun meneggakkan kembali punggungnya, ia meraih berkas yang akan ia bawa ke perusahaan papanya.
Rissa beranjak dari duduknya, ia meraih tasnya, dan berjalan melangkah Keluar dari ruangannya. Rissa berjalan ke ruangan Angga.
Tok-tok-tok
"Masuk!" Angga menyauti dari dalam ruangannya. Rissa melangkahkan kakinya, dengan membawa handbag-nya di salah satu tangannya, dan salah satu tangannya membawa berkas yang akan ia kirim.
"Pak, saya izin keluar, mengantarkan berkas ke perusahaan Pak Kusuma," Rissa meminta izin, ia takut Angga akan mencarinya.
"Hmm...." jawab Angga yang matanya fokus menatap layar leptopnya.
Ham.. Hem.. ham.. Hem.. Bilang hati-hati kek, gumam hati Rissa.
"Pak, saya permisi!" Rissa pun segera keluar dari ruangan Angga.
***
Rissa berjalan menuju lobby. Ia meminta supir kantor untuk mengantarkan dirinya ke perusahaan papanya.
"Pak.. Bisa tolong antarkan saya, ke perusahaan Atmaja Grup!" pinta Rissa pada salah satu supir perusahaannya.
"Baik Bu, Silahkan masuk, Bu," Sang supir pun membukakan pintu mobil penumpang belakang untuk Rissa.
"Terima kasih, Pak," ucap Rissa tersenyum. Ia segera masuk ke dalam mobil.
Pak supir mengantarkan Rissa ke perusahaan Atmaja Grup, perusahaan papanya.
Ingin rasanya, Rissa tidak mengantarkan berkasnya ke perusahaan papanya. Namun, dirinya masih berpikir, jika ia tidak menyampaikan, sudah jelas perusahaan papanya akan mengalami kerugian besar, begitupun perusahaan tempatnya bekerja. Ia sudah bertekad, dirinya harus profesional. Sudah menjadi resikonya memilih pekerjaan ini. Ia tidak bisa mengelak lagi dengan papanya.
Rissa menatap jalanan yang ia lintasi. Ia kembali memikirkan alasan, jika ia bertemu dengan papanya.
"Bu, kita sudah sampai, Bu," Rissa tersentak dari lamunannya.
"Oh.. iya Pak," Rissa menghela nafas panjang, dan membuangnya perlahan.
Rissa menatap gedung tinggi menjulang yang ada di depannya sebelum ia keluar dari mobilnya.
Rissa pun membuka pintu mobilnya, dan menurunkan kakinya ke aspal. Rissa melangkahkan kakinya berjalan masuk ke kantor papanya.
Banyak pasang mata, melihat Rissa berjalan masuk ke perusahaan papanya. Mereka semua menundukkan kepalanya memberi hormat pada putri pemilik perusahaannya.
Rissa berjalan menuju meja resepsionis.
"Selamat pagi, Mbak Rissa. Ada yang bisa saya bantu?" sapa salah satu resepsionis yang mengenali dirinya.
Rissa tersenyum, "Mbak, saya ke sini, sebagai perwakilan dari perusahaan Wijaya, ingin mengantarkan berkas ini ke Pa.. M-maksud saya ke Pak Kusuma."
Pegawai resepsionis terkejut mendengar penuturan dari putri pemilik tempatnya bekerja.
"Oh.. Mbak, langsung aja, mbak, ke ruangan Bapak," ucap resepsionis yang bernama Dita yang terlihat dari name tag-nya.
"Pak, Kusuma nya ada?" tanya Rissa sedikit terkejut. Dirinya berharap papanya tidak datang ke kantor.
"Iya, Mbak. Silahkan mbak langsung ke sana saja," ucap Dita kembali.
Rissa menghela nafas.
"Terima kasih," ucap Rissa.
Rissa berjalan dengan anggunnya menuju ruangan papanya, dengan menaiki lift khusus. Dirinya sudah terbiasa menggunakan lift khusus.
Ting....
Pintu lift terbuka, ia melangkahkan kakinya dengan begitu malasnya keluar dari lift.
"Rissa...." Rissa menoleh. Matanya membulat sempurna, saat melihat laki-laki yang memanggilnya. Bibirnya seketika bungkam, tak bisa menyauti laki-laki yang ada di hadapannya.
"Sayang, kapan kamu pulang?"
Laki-laki yang menyapanya adalah tunangannya.
Erik hendak memeluk tubuh Rissa. Dengan cepat Rissa menahan tubuh Erik, agar tidak menyentuhnya. Erik yang mendapat penolakan sedikit kecewa.
"Kapan kamu pulang? Kenapa kamu tidak memberi tahu ku?" tanya Erik.
"Erik, aku ada perlu sama Papa. Aku permisi dulu," Rissa tidak menjawab pertanyaan Erik. Ia pun melangkahkan kakinya menuju ruangan papanya.
"Rissa," Erik menangkap pergelangan tangan Rissa. Ia geram, karena Rissa tidak menjawab pertanyaan.
"Rik, tolong lepasin tangan aku! Aku ada perlu sama Papa," ucap Rissa menghempaskan tangannya, dari genggaman tangan Erik.
Walaupun mereka sudah bertunangan beberapa tahun, Rissa tidak pernah mencintai Erik, karena ia tahu Erik, bukan laki-laki yang baik. Erik seorang laki-laki playboy, dan suka bermain wanita.
Rissa pun segera masuk ke ruangan papanya diikuti Erik dibelakangnya.
"Rissa.. Sayang, kapan kamu pulang?" Papa terkejut melihat kedatangan putrinya.
"Sudah dari beberapa Minggu yang lalu, Pa," jawab Rissa.
Papa dan Erik terkejut mendengar jawaban Rissa.
"Beberapa Minggu yang lalu?" papa mengernyitkan dahinya, "Kenapa kamu nggak kembali ke rumah?"
"Maaf Pa, Rissa kemari, ingin mengantarkan berkas dari perusahaan Wijaya," ucap Rissa yang kembali mengejutkan papanya dan juga Erika.
"Perusahaan Wijaya? Kamu berkerja disana?"
"Iya, Pa," jawab Rissa dengan tegas.
"Ini, Pa," Rissa memberikan berkas yang sedari tadi ke papanya.
"Silahkan, papa pelajari kembali, dan Rissa permisi, kembali ke kantor," pamit Rissa pada papanya.
"Rissa tunggu!" panggil papa.
Rissa menoleh, "Iya, Pa."
"Papa ingin bicara dengan mu!"
Rissa melirik jam tangan mewah di pergelangan tangannya, "Maaf Pa, Rissa harus segera kembali, karena Pak Angga sebentar lagi akan mengadakan meeting dengan perusahaan lain, dan Rissa harus segera kembali kesana karena ingin menyiapkan berkas-berkas yang diperlukan," ucap Rissa.
"Rissa...." panggil Papa. Rissa tak mendengarkan panggilan papanya, ia berjalan cepat keluar ruangan papanya.
"Anak itu!"
"Om.. saya ingin pernikahan saya dengan Rissa dipercepat! Kalau tidak...." perkataan Erik terhenti karena pak Kusuma memotong ucapannya.
"Iya, kamu tenang saja! Om akan segera urus pernikahan kalian," ucap Pak Kusuma.