NovelToon NovelToon
Teman Tapi Menikah

Teman Tapi Menikah

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:72.1k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Setelah tiga tahun lulus kuliah, Aira merasa hidupnya hanya sebagai beban. Di saat teman-temannya sukses dengan pekerjaannya, Aira harus menerima kenyataan jika hidupnya sangat menyedihkan.

​Di tengah frustrasinya, teman kuliahnya yang paling cuek, tiba-tiba menelepon Aira. Berawal dari obrolan malam dan lamaran yang dikira candaan, teman prianya mendadak muncul di depan rumah Aira bersama keluarga besarnya untuk melamar Aira.

Bagaimana cerita selanjutnya? Apa Aira akan menerima lamaran tersebut? Mengapa pria itu tiba-tiba melamar Aira?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mau Malam Pertama Nggak?

Arsen terkekeh pelan, suara baritonnya yang renyah menggema di dapur yang sunyi itu dan menoleh ke arah Ibu Astri dengan pandangan menghormati.

​"Mboten nopo-nopo, Bu. Saya sendiri sebenarnya tidak keberatan kalau Aira panggil nama saja, sudah terbiasa soalnya," ucap Arsen mencoba menengahi dengan ramah.

​"Ndak bisa begitu, Nak Arsen. Di desa ini adatnya tetap harus dijaga, istri harus hormat sama suaminya, dimulai dari cara memanggil," potong Ibu Astri kukuh, tetap pada pendirian orang tua zaman dulu. Beliau lalu beralih menatap Aira yang masih bungkam.

"Ayo coba sekarang, dipanggil suaminya yang benar, Ibu mau dengar," lanjut Ibu Astri.

​Dada Aira berdegup kencang bagai genderang perang, suasana di dapur bambu itu mendadak terasa berkali-kali lipat lebih menegangkan daripada ujian sidang skripsinya dulu. Ia memberanikan diri mendongak, pasrah menatap sepasang mata tajam Arsen yang kini kian berbinar jenaka, seolah menantangnya untuk patuh pada perintah sang Ibu.

​Aira menelan ludah, membasahi bibirnya yang mendadak kering. "I-iya... Ma-Mas Arsen," lirih Aira, suaranya begitu pelan, nyaris tenggelam oleh suara jangkrik di luar rumah.

​Arsen memiringkan kepalanya sedikit, senyum kemenangan terukir jelas di wajah tampannya yang diterangi lampu kuning temaram.

​"Apa, Ra? Kurang kedengaran," goda Arsen jahil, sengaja mendekatkan telinganya ke arah Aira.

​"Mas Arsen!" ulang Aira sedikit lebih keras, wajahnya sudah matang sempurna seperti kepiting rebus karena menahan malu yang luar biasa, membuat Ibu Astri akhirnya tersenyum puas mendengarnya.

​Makan malam penuh ketegangan batin bagi Aira itu akhirnya selesai juga. Setelah membantu ibunya mencuci piring dan merapikan dapur, Aira berjalan dengan langkah kaku menuju kamarnya. Ketika ia membuka pintu bambu, pemandangan di dalamnya membuat langkah kaki Aira kembali terhenti di ambang pintu.

​Arsen sedang berbaring miring di atas kasur kapuk tipis beralas seprai merah pudar milik Aira. Satu tangan tegapnya digunakan untuk mengganjal kepala, sementara tangan lainnya memegang ponsel dan membaca beberapa dokumen pekerjaan digital yang masuk ke emailnya.

Kaus oblong putih milik Dimas yang ketat itu mencetak jelas lekuk punggung suaminya yang kokoh, kamar berukuran tiga kali tiga meter itu mendadak terasa begitu sempit dan penuh sesak hanya karena keberadaan Arsen di dalamnya.

​Mendengar derit pintu, Arsen menoleh. Ia mematikan layar ponselnya dan meletakkannya di atas meja kayu kecil di sudut kasur lalu mengubah posisinya menjadi duduk tegak, menatap Aira yang masih mematung di dekat pintu.

​"Kenapa berdiri di sana? Masuk, Ra," ucap Arsen.

​Aira menutup pintu bambu di belakangnya dengan perlahan lalu melangkah ragu mendekati kasur, "Kamu... kamu beneran bisa tidur di kasur ginian, Mas?" tanya Aira terbata-bata, lidahnya masih terasa aneh saat memanggil Mas.

"Kasurnya tipis banget, dipannya juga anyaman bambu, kalau kamu gerak sedikit pasti bunyinya berderit," lanjut Aira.

​Arsen tidak menjawab dengan kata-kata, ia justru mengulurkan tangan kanannya dan meraih pergelangan tangan Aira dengan gerakan yang lembut namun pasti lalu menariknya pelan hingga Aira terduduk di tepi kasur, tepat di sebelahnya.

Jarak mereka begitu dekat, hingga Aira bisa mencium sisa aroma sabun mandi cair beraroma pinus pedesaan yang bercampur dengan parfum mahal maskulin milik Arsen yang masih tertinggal samar.

​"Ra," panggil Arsen, suaranya merendah, berubah menjadi sangat serius dan dalam. Tatapan matanya mengunci sepasang manik mata Aira yang masih menyiratkan sisa-sisa kegelisahan.

​"Berhenti mengkhawatirkan hal-hal kecil seperti kasur, kamar mandi atau rumah ini. Aku di sini karena aku memilih untuk di sini, bersamamu. Paham?" ucap Arsen.

​Aira menunduk, menatap jemari besar Arsen yang kini telah menyusup di sela-sela jemarinya, menggenggamnya dengan begitu erat seolah enggan melepaskannya lagi ke dalam kubangan badai kehidupan pedesaan.

​"Paham, Mas," jawab Aira pelan, nyaris berupa bisikan. Jantungnya berdegup begitu kencang sampai ia takut Arsen bisa mendengarnya di dalam keheningan kamar yang sempit ini.

​Arsen tersenyum tipis, kepuasan samar terpancar dari wajahnya saat mendengar panggilan itu meluncur lebih lancar dari bibir istrinya. Ia bergerak mundur dan memosisikan tubuhnya telentang di atas kasur kapuk yang langsung mengeluarkan derit halus, tangannya yang panjang diletakkan di bawah kepala sebagai bantal tambahan.

​"Sini tidur, Ra. Besok kita harus bangun pagi-pagi," ucap Arsen sembari memejamkan mata, membiarkan kelelahan setelah menempuh perjalanan jauh dari Surabaya dan ketegangan akad nikah tadi siang akhirnya mengambil alih kesadarannya.

​Aira ragu-ragu sejenak, lalu perlahan merebahkan tubuhnya di sisi kasur yang tersisa. Ia berbaring dengan posisi miring memunggungi Arsen, tubuhnya ditekuk kaku di tepi ranjang karena takut menyentuh pria itu. Namun, kasur kapuk yang sudah mengempis di bagian tengah secara alami membuat tubuh mereka miring dan bergeser mendekat.

​Tiba-tiba, sebuah lengan kekar terulur dari belakang, melingkar dengan pasti di pinggang Aira. Tubuh Aira menegang seketika saat punggungnya menabrak dada bidang Arsen yang hangat dan kokoh.

​"Mas...," lirih Aira panik.

​"Tidur, Ra. Jangan kaku begitu, nanti badanmu pegal semua besok pagi," gumam Arsen dengan suara serak khas orang yang mulai mengantuk, dekapannya di pinggang Aira justru semakin mengerat dan menarik tubuh wanita itu sepenuhnya ke dalam dekapannya yang aman.

Suasana kamar berukuran tiga kali tiga meter itu mendadak menjelma menjadi ruang kedap udara bagi Aira. Detak jarum jam dinding kuno di luar kamar yang biasanya terdengar konstan, kini tenggelam oleh suara gemuruh di dalam dadanya. Punggungnya yang menempel lekat pada dada bidang Arsen bisa merasakan setiap tarikan napas pria itu yang teratur dan hangat.

​Di tengah keheningan yang begitu pekat, di mana Aira bahkan menahan napasnya agar tidak menimbulkan gerakan sekecil apa pun pada kasur kapuk yang ringkih itu, Arsen tiba-tiba mempererat pelukannya di pinggang Aira. Kepala pria itu sedikit bergeser, membuat deru napasnya berembus hangat tepat di tengkuk Aira yang sensitif.

​"Ra," bisik Arsen, suara baritonnya yang serak khas orang mengantuk terdengar bergetar rendah.

​"I-iya, Mas?" sahut Aira terbata-bata, jemarinya meremas ujung selimut pudar di depannya dengan sangat kuat.

​"Mau malam pertama nggak?"

​Kalimat itu meluncur begitu saja, santai, namun laksana sengatan listrik yang langsung membuat seluruh tubuh Aira menegak kaku. Mata Aira membelalak lebar menatap kegelapan dinding bambu di hadapannya. Wajahnya yang semula sudah hangat kini benar-benar terasa terbakar hebat hingga ke ujung telinga.

​"Ma-Mas Arsen! Ngomong apa sih!" pekik Aira dengan suara tertahan, mencoba memutar tubuhnya untuk melepaskan diri dari dekapan kekar tersebut.

​Bukannya melepaskan, Arsen justru terkekeh pelan. Suara tawa rendah yang renyah itu bergetar di dada bidangnya, menempel langsung pada punggung Aira. Arsen sengaja mengeratkan lengannya dan mengunci pergerakan istrinya dengan gemas, lalu menyembunyikan senyum kemenangannya di balik rambut Aira yang beraroma sampo sasetan sederhana.

​"Cuma nanya, Ra. Kalau kamunya mau, ya aku nggak menolak," goda Arsen lagi, nadanya terdengar begitu jahil, sangat jauh dari citra cowok kulkas Fakultas Teknik yang selama ini melekat padanya.

.

.

.

Bersambung.....

1
Aidil Kenzie Zie
yang nangani Dokter Kandungan malah disuruh periksa lagi di Dokter Kandungan 🤔🤔🤔 mungkin suruh USG kali y🤔🤔🤔
elaretaa: Maaf, salah Kak. Seharusnya dokter umum itu, terus nanti dibawa ke dokter kandungan🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Felycia Fernandez
bukannya tadi di part atas di jelaskan kalau dokter yang keluar dokter wanita spesialis kandungan..
kenapa bisa ada dokter kandungan lagi di dalam..
Felycia Fernandez: semangat revisi kk Thor
total 2 replies
Allfa Rizky
sayang ya Zakia sifatnya plek ketiplek bapaknya
erviana erastus
didunia nyata apa ada suami spti ini? 🤭
erviana erastus
syukurlah semua baik-baik aza
Felycia Fernandez
naaaah bener tebakan ku kemaren, Aira mengalami eklamsia...
Bunga Andthea
sempet deg deg an bacanya
falea sezi
preeklamsia ya 😓
Felycia Fernandez
lho kenapa?? demam kah??
erviana erastus
apa efek anestesi nya sdh hilang dan aira nggak bisa menahan rasa sakit? 🤔
erviana erastus: ho oh
total 2 replies
Felycia Fernandez
jadi ingat waktu kontraksi, sudah sehari 2 malam ngalami kontraksi,tapi mentok di pembukaan 3 terus . akhirnya SC pun dilakukan
Aidil Kenzie Zie
tu si Ibu Ami masih waras nggak mau ganggu Aira 👍🏻
Felycia Fernandez
kesabaran Aira yang punya bapak lucknut dulunya
Felycia Fernandez
lucu 🤣🤣🤣🤣
cari juga la suami kaya...
kalau perlu jadi jalang sekalian
Syifa Fauziah
ulalaaaaaa,,, pagi2 udh gemess liat arsen dan airaa😍🤭.
erviana erastus
omg ternyata adik kandung toh ckckck gila bener .... mau numpang hidup enak sama aira 🤣 nggak waras kek pantes nyusul bpk sama pmnx dipenjara biar rasa
Felycia Fernandez
ternyata darah pak Hilma mengalir deras di tubuh Zakia...
🤣🤣🤣🤣🤣
Felycia Fernandez
Bu Ami beneran sayang Ama Zakia
erviana erastus
licik kek bapakx ckckck 🤬🤬🤬
Felycia Fernandez
ini lagi duo lambe...
mau ikutan juga Bu...
ayo bergosip lagi...
makin sip di tiap warung ...😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!