Hari itu, Alya memberikan hadiah terakhir untuk suaminya.
Bukan harta, bukan pula kenangan. Melainkan kesempatan untuk hidup bersama wanita yang lebih dipilihnya.
Lalu ia pergi, membawa sebuah rahasia yang baru disadari Adrian saat semuanya sudah terlambat.
Follow instagram @Tantye005 untuk info seputar novel🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Topeng cinta
"Lelah banget keliatannya, mas pijat mau?" tawar Adrian yang melihat Alya setengah berbaring di ranjang. Dia mendekat, duduk di samping kaki putih istrinya, memijat pelan.
"Yang pegal tangannya Mas, bukan kaki." Protes Alya dan merentangkan tangan. "Tapi nggak mau dipijat, maunya di peluk, cium saja sama mas," ucapnya dengan nada manja.
Adrian terkekeh, segera memeluk istrinya dan mengelus rambut panjang Alya yang tergerai. Biasanya wanita itu mencepol rambutnya jika sedang bekerja dan hanya Adrian yang bisa menikmati rambut tergerai indahnya.
"Maafin mas Alya. Mas janji nggak akan menyakitimu," bisiknya.
"Kok minta maaf sih? Kan masnya nggak ada salah."
"Banyak."
"Dimaafin kalau gitu." Alya masih tersenyum dibalik punggung suaminya.
Berbeda dengan Adrian yang dipenuhi rasa bersalah mengingat perselingkuhannya dengan Safira. Hubungan terlarang yang sudah dia tutupi hampir satu tahun dari istrinya.
"Mas cinta banget sama kamu," bisik Adrian.
"Iya tau Mas. Kalau nggak cinta mana mungkin menikahi aku meski diancam dikeluarkan dari kartu keluarga papa." Alya terkekeh.
Memang perjuangan mereka saat menikah penuh liku. Bukan karena restu, tetapi papa Adrian mengetes seberapa berani Adrian mengambil keputusan demi menikahi Alya. Dan pada akhirnya keberanian itu tidak berguna karena Adrian berpaling begitu cepat.
***
"Sayang hari ini kayaknya mas lembur. Nanti dijemput sama Adrina ya." Adrian mengecup kening Alya.
"Iya, hati-hati mas. Jangan lupa makan siang dan istirahat kalau merasa lelah banget." Alya melambaikan tangan, sebagai pengantar untuk suaminya.
Padahal yang diharapkan untuk bekerja, tidak sampai ke tempat tujuan. Alih-alih bekerja, Adrian mengujungi apartemen Safira.
Dia langsung masuk ke apartemen dan mencari pemiliknya.
"Terlalu cepat sayang datangnya. Aku belum mandi," sambut Safira manja. Wanita itu hanya memakai kaos oblong kebesaran dan kain tipis dibaliknya. "Kamu sangat merindukanku hm?"
"Kamu tahu semuanya kan? Kamu tahu bahwa aku suami Alya?" tuduh Adrian mencengkeram lengan kecil Safira hingga menimbulkan ringisan.
"Kamu bicara apa sih mas. Aku nggak tau apa-apa. Kemarin aku juga terkejut tahu bahwa kamu adalah suami Alya."
"Kamu nggak bohong?" Tatapan Adrian menyelidik.
"Ngapain aku bohong. Lagian hubungan kita sama perkenalan aku sama dia jauh lebih dulu kita."
"Aku mau kita mengakhiri semua ini Safira," ucap Adrian lirih.
Jelas keputusan itu membuat Safira terkejut. Kelopak mata Safira terbuka lebar, begitu pun mulutnya.
"Mas, are you oke? Segampang itu kamu mengakhiri semuanya?"
"Aku nggak bisa Safira, aku hampir gila memikirkan semua ini. Aku nggak mau Alya tahu. Bagaimana jika senyum cerianya hilang?"
"Lalu bagaimana denganku? Aku mencintaimu Adrian." Mata Safira memerah dan mulai berembun. "Aku juga seorang perempuan."
"Justru karena kamu seorang perempuan, harusnya kamu mengerti bagaimana perasaan Alya jika tahu hubungan kita."
Adrian berlutut dan memeluk Safira yang sudah terduduk di lantai dan menangis sesegukan.
"Kita akhiri semuanya baik-baik ya."
"Nggak bisa Mas, bagaimana dengan bayiku jika kita berpisah?"
"Apa maksudmu?"
"Aku hamil."
Dentuman keras seolah menerjang indera pendengar Adrian. Pengakuan Safira seolah terucap dari kejauhan dan berulang kali diputar.
"Kamu bercanda kan?"
"Untuk apa aku bercanda Adrian." Dan sorot mata Safira menjelaskan segalanya.
Adrian kembali bimbang. Hatinya berteriak pilu mendapati kenyataan seperti ini. Dia bahagia akan memiliki seorang anak, tapi dia sedih dan merasa bersalah anak itu bukan dari Alya.
Niatnya untuk datang mengakhiri segalanya dan memperbaiki hubungannya dengan Alya hancur seketika.
Dia meninggalkan apartemen, menuju kantor dengan perasaan campur aduk dan tidak bisa berpikir jernih. Semuanya terlalu tiba-tiba disaat ia ingin berubah lebih baik lagi.
"Pak Adrian kalau tidak enak badan pulang saja," ujar rekan kerjanya.
"Aman." Adrian menaikkan jempolnya.
Dia bekerja diperusahaan properti ayahnya bukan sebagai CEO, melainkan Arsitek tanpa ada keistimewaan. Ini adalah konsekuensi saat dirinya ditantang ketika menikahi Alya.
Adrian sengaja menyibukkan dirinya dengan desain-desain yang tidak kunjung selesai seperti isi pikiran. Waktu terus berjalan, matahari mulai tenggelam dan ponsel di atas meja di penuhi pesan oleh istrinya.
Sudah jam sepuluh malam mas, memangnya pekerjaanya nggak bisa ditunda dulu?
Mas masih di kantor?
Jangan terlalu keras, aku nggak mau mas sakit.
Mas udah makan malam?
Aku ngantuk, tapi nggak bisa tidur.
Dan pada akhirnya Adrian kalah dengan pendiriannya. Dia meninggalkan pekerjaan dan pulang kerumah untuk menemui Alya.
Setibanya di rumah, dia mendapati Alya tidur di sofa ruang tamu menunggunya. Dadanya bergemuruh, terasa perih dan sakit melihat wajah damai istrinya yang terlelap.
"Maaf, maafkan mas Alya," lirihnya berlutut disamping kursi tepat di depan wajah Alya. "Mas mengkhianatimu, mas mengingkari janji kita. Mas harus bagaimana menghadapimu?"
Buliran bening berhasil membasahi pipi Adrian yang bahkan tidak pernah menangisi apapun sebelumnya.
"Mas udah pulang?" gumam Alya sembari membuka kelopak matanya.
"Udah mas bilang nunggunya dikamar saja." Adrian buru-buru menghapus air matanya dan mengendong Alya yang setengah sadar.
Membawanya ke kamar dan membaringkan di ranjang sangat pelan.
"Mas habis nangis?"
"Nggak sayang."
"Tapi mata mas merah."
"Mengantuk dan kelamaan di depan laptop. Udah lanjut tidurnya, mas mau bersih-bersih badan dulu."
Alya mengangguk, dan kembali memejamkan mata meski mendengar bunyi notifikasi berulang kali di ponsel suaminya. Dia terlalu mengantuk hanya untuk kepo benda pipih Adrian.
Berbeda dengan pemilik ponsel yang buru-buru mengambil benda pipih itu dan menjauh dari kamar tanpa sempat membersihkan diri.
"Biarkan aku berpikir Fira, beri aku waktu," ujar Adrian dengan suara tertahan.
"Jangan terlalu lama mengambil keputusan Adrian, atau aku akan menemui Alya dan mengatakan segalanya."
"Safira!" Tubuh Adrian bergetar karena marah. Dia takut jika Safira benar-benar nekat menemui istrinya dan membeberkan segalanya.
"Aku tidak akan meninggalkanmu, jadi sabarlah. Aku pasti bertanggung jawab selama kamu diam dan menungguku," ucap Adrian lagi dan sambungan telepon terputus.
Dia kembali ke kamar dan menemukan Alya duduk di ranjang dengan lampu menyala, padahal saat Adrian meninggalkan, dia sudah memastikan lampu mati.
"Kenapa Sayang?"
"Udah nggak bisa tidur. Tiba-tiba pengen makan martabak manis."
"Jam segini?" Adrian melirik jarum jam yang telah menunjukkan pukul 23.05.
"Mas capek ya?"
"Nggak sayang. Kita keluar buat cari martabaknya."
Adrian bergegas mengambil jaket tebal dan memasangkan di tubuh Alya. Memastikan istrinya tidak akan kedinginan padahal mereka akan naik mobil.
Dia selalu seperti ini, memberikan segalanya pada Alya. Entah kenapa dia menjalin hubungan bersama Safira dalam keadaan sadar dan waktu cukup lama.
"Makasih ya mas karena selalu menuruti keinginan aku." Alya tersenyum dan memainkan jarinya di sela-sela jari besar milik Adrian. "Mas suami terbaik pokoknya.
.
.
.
Hay-hay jangan lupa tinggalkan jejak sebelum ke bab selanjutnya ya🥰
makin besar kepala aja diaa....
Biarkan Alya dengan kebahagiaan nya